When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.
Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.
Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Kilatan Baja Dingin dan Senyum di Ujung Maut
Pagi di Obsidian Keep tidak pernah benar-benar disambut oleh cahaya matahari hangat.
Langit di atas benteng batu hitam itu hanya berubah warna dari kelabu pekat menjadi putih keperakan yang pucat.
Angin es dari puncak pegunungan merayap menyusuri celah-celah koridor tebal, membawa derit besi dan aroma tembaga yang samar-samar.
Di dalam ruang kerja pribadi Duke Obsidian, suasana terasa begitu menyesakkan.
Evelyn berdiri tegak di tengah ruangan. Tubuhnya masih terlihat sangat kurus dan ringkih, wajahnya pucat dengan rona kelelahan yang samar di bawah matanya.
Namun, cara berdiri gadis itu begitu tenang. Kedua tangannya tertangkup rapi di depan pinggang, membiarkan jemarinya yang dingin saling menaut halus.
Di seberang meja kayu, Cassian berdiri memunggungi perapian.
"Bicaralah," kata Cassian pendek. Suara baritonnya meluncur datar.
"Saya memberi waktu lima menit sebelum prajurit saya mengawalmu keluar dari wilayah perbatasan ini."
Evelyn menyunggingkan senyum tipis.
"Lima menit sudah lebih dari cukup, Lord Obsidian," sahut Evelyn.
"Saya ke sini bukan buat memohon belas kasihan, dan bukan juga buat pamer nama besar keluarga Rosenberg. Saya hanya ingin menyodorkan satu pertanyaan sederhana."
Cassian mengangkat sebelah alisnya, menatap Evelyn dengan mata yang tak berkedip. "Pertanyaan?"
"Seberapa lama rakyatmu di distrik Selatan dan lembah timur bisa bertahan hidup... kalau pasokan batu pemanas dari Istana terlambat dua minggu lagi akibat badai salju abadi?"
Kata-kata Evelyn terlontar begitu ringkas, namun efeknya langsung memukul keheningan ruangan itu.
Garis rahang Cassian mengeras seketika. Binar matanya yang tadinya dingin mendadak berkilat tajam oleh bahaya.
Dalam satu ketukan detik yang teramat singkat—kecepatan bergerak yang bahkan tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang biasa—Cassian melesat dari balik mejanya!
SRAK!
Langkah kakinya menghentak lantai, mengembuskan angin yang menerpa wajah Evelyn.
Sebelum Evelyn sempat berkedip, bunyi gesekan logam tajam berdenting nyaring membelah udara ruangan!
CRING!
Bilah pedang panjang berbahan baja hitam milik Cassian sudah terhunus! Ujung pedang yang amat tajam dan berkilat dingin itu menempel di atas kulit leher Evelyn!
Hawa dingin dari bilah baja itu langsung meresap ke dalam pori-pori kulit Evelyn, menciptakan sensasi merinding yang menjalar hingga ke tulang punggung.
Satu tekanan kecil saja, maka darah segar dari leher Evelyn pasti bakal membasahi lantai di bawahnya.
Aura membunuh yang begitu menekan dada Evelyn.
Cassian berdiri sangat dekat. Pria tinggi besar itu menundukkan kepalanya, menatap mata ungu milik Evelyn.
"Siapa yang memberimu informasi soal distrik Selatan, gadis kecil?" desis Cassian.
"Mata-mata Istana saja tidak pernah tahu soal krisis logistik di lembah timur. Dari mana seorang putri bangsawan yang cuma mendekam di kamar bisa memegang data internal militer saya?!"
Tekanan ujung pedang itu sedikit merapat, membuat kulit leher Evelyn terdorong halus.
Di sudut ruangan, prajurit penjaga yang berdiri kaku di dekat pintu menahan napas mereka, siap menyaksikan kepala sang tamu melayang.
Namun... reaksi Evelyn di luar dugaan siapa pun di ruangan itu.
Gadis itu sama sekali tidak gemetar ketakutan, tidak mencoba mundur satu senti pun, dan matanya yang berwarna ungu jernih tidak memancarkan sedikit pun kepanikan konyol.
Evelyn justru perlahan mendongakkan kepalanya sedikit.
Sebuah senyuman miring yang begitu manis, angkuh, sekaligus memesona mengembang di wajahnya.
"Lord Obsidian..." bisik Evelyn halus. "Kalau saya memang mata-mata Istana yang berniat menghancurkan wilayahmu... saya nggak bakal bodoh dengan datang sendirian ke kamar kerjamu dalam kondisi fisik yang hampir mati begini."
Cassian menyipitkan matanya, giginya menggeletuk halus seraya mempertahankan posisi pedangnya di leher Evelyn. "Kamu bisa saja dipasang sebagai umpan oleh ayahmu sendiri."
"Ayah saya menyayangi saya lebih dari apa pun di dunia ini, dan sepertinya kamu tahu itu," sela Evelyn cepat.
"Saya tahu soal distrik Selatan bukan dari mata-mata Istana, tapi dari analisis pola alur perdagangan kayu bakar dan pergerakan kereta logistik Obsidian selama tiga bulan terakhir. Data tidak pernah bohong, Duke."
Evelyn mengambil risiko gila. Jemarinya perlahan terangkat, mengusap permukaan dingin pedang itu, lalu dengan perlahan... Evelyn menggeser ujung tajam pedang itu dua senti menjauh dari lehernya sendiri!
Aksi nekat itu membuat para penjaga di belakang sampai membelalakkan mata syok!
Belum pernah ada satu orang pun dalam sejarah kerajaan yang berani menyentuh senjata milik sang "Monster dari Utara" saat pria itu sedang memegang pedangnya dalam amarah!
Cassian sendiri tersentak kecil. Mata pria itu memperhatikan jemari Evelyn yang menggeser pedangnya, lalu beralih menatap wajah cantik gadis di depannya. Ada kejutan yang tersembunyi di balik raut dingin Cassian.
"Keberanianmu ini... sungguh kelewatan, Evelyn von Rosenberg," gertak Cassian, namun tekanan pada gagang pedangnya perlahan mengendur.
"Ini bukan cuma soal keberanian, Cassian," bisik Evelyn, menyebut nama pria itu tanpa gelar formal. Intonasi suaranya mendadak terasa begitu intim dan memikat.
"Ini soal fakta kalau kita berdua sama-sama butuh hal yang ada di tangan masing-masing."
Evelyn memajukan badannya.
"Kamu butuh kristal Luminite dari Asteria buat menyalakan tungku pemanas raksasa di distrik Selatan sebelum rakyatmu mati membeku," terang Evelyn.
"Dan aku... aku butuh setangkai bunga Frost-Blooded Amaryllis di rumah kaca sihirmu buat menyembuhkan alur mana di dadaku ini."
Cassian menatap bibir Evelyn yang berucap lancar, lalu beralih menatap dada gadis itu yang naik turun secara tidak teratur akibat menahan napas.
Pria itu bisa mendengar detak jantung Evelyn yang begitu cepat—bukan karena takut pada pedangnya, melainkan karena tubuh gadis itu sedang berjuang keras melawan rasa sakit fisiknya sendiri.
"Bagaimana kalau saya memilih buat menolak?" tanya Cassian, suaranya melunak sedikit walau masih terasa kaku dan berat.
"Bagaimana kalau saya memilih buat merebut paksa seluruh tambang Asteria menggunakan pasukan zirah hitam saya?"
Evelyn tertawa pelan—sebuah tawa kecil yang renyah dan terdengar begitu mengejek gertakan pria di depannya.
"Coba saja kalau kamu mau memicu perang saudara di tengah musim dingin," balas Evelyn santai.
"Julian Rosenberg bakal membakar seluruh dokumen pemetaan jalan tambang itu sebelum pasukanmu sempat menyentuh gerbang perbatasan. Tanpa peta dari Asteria... tambang itu hanya gua es kosong yang nggak berguna buatmu."
Cassian berdiri terpaku. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun memimpin wilayah pertempuran Utara yang keras, sang Duke dibuat membisu oleh seorang gadis muda yang fisiknya sangat lemah.
Taktik Evelyn benar-benar mengunci seluruh sudut pergerakan Cassian.
SRAK!
Dengan satu gerakan, Cassian memutar pergelangan tangannya dan menyarungkan kembali pedang baja hitamnya ke dalam sarung kulit di pinggangnya.
Cassian melangkah mundur, merapikan gulungan lengan kemejanya seraya menatap Evelyn dari atas ke bawah.
"Kamu hampir mati di perbatasan cuma buat memamerkan taktik gila ini..." gumam Cassian rendah, menggelengkan kepalanya pelan dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Evelyn menghela napas panjang yang lega, mengusap lehernya yang sempat merasakan dinginnya baja tadi dengan jemarinya. Senyum kemenangannya mengembang di wajahnya.
"Taktik gila ini yang bakal menyelamatkan rakyatmu, Lord Obsidian," sahut Evelyn riang, memiringkan kepalanya.
"Jadi... apakah lima menit saya sudah habis, atau kita bisa mulai mendiskusikan perjanjian aliansi yang sebenarnya di atas meja?"
Cassian menatap gadis berambut perak itu selama beberapa detik. Bibir tipis sang Duke Utara yang terkenal kaku dan tak pernah tersenyum itu... perlahan terangkat tipis di sudutnya, membentuk sebuah sunggingan senyum miring yang penuh intrik.
"Marsha!" panggil Cassian dengan suara baritonnya yang menggelegar halus ke arah luar.
Pintu kamar terdorong terbuka, dan kepala pelayan tua itu masuk dengan wajah tegang.
"Saya di sini, Lord Cassian."
"Bawa teh merah hangat dan siapkan kursi di dekat perapian ini," perintah Cassian tanpa mengalihkan pandangannya dari Evelyn.
"Tamu kita... bakal berada di ruangan ini sedikit lebih lama dari perkiraan."
"Baik, Lord Duke!" jawab Marsha terkejut, buru-buru mundur keluar untuk menjalankan perintah yang tak biasa itu.
Cassian melangkah kembali ke balik meja kayunya, menarik sebuah kursi lalu memberi isyarat tangan pada Evelyn untuk duduk di hadapannya.
"Duduklah, Putri Evelyn," kata Cassian.
"Mari kita lihat... seberapa jauh ide-ide gilamu bisa mengubah takdir wilayah Utara ini."
Evelyn melangkah mendekati kursi yang disediakan.
semangat nulisnya 💪