Indonesia
NovelToon NovelToon
The Hidden Truth

The Hidden Truth

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:833
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan Lyn

"Ibu..."

Lyn menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca, setelah sekian hari akhirnya bisa melihat wajah itu lagi, wajah yang selama ini ia rindukan.

Elea melirik sekilas ke arah putrinya, yang tampak pucat dan lemah namun masih berusaha tetap tersenyum.

"Tenanglah," ucapnya pelan, suaranya melembut sesaat. "Ibu sudah di sini."

Lalu Elea kembali menatap tajam ke arah Bimo, ekspresinya berubah dingin seketika.

"Lepaskan," desisnya tegas, belati di tangannya semakin menekan ke leher Cakra, membuat setitik darah kembali menetes dari kulitnya yang tergores.

Bimo menatap situasi di hadapannya, keringat dingin membasahi keningnya. Pistolnya masih menempel di kepala Vanesa, matanya bergerak liar antara Elea dan Cakra yang terkulai berdarah.

"Kau tidak akan berani membunuh Tuanku di depan anakmu, bukan?" ucap Bimo, senyum meledek terulas di bibirnya, mencoba menutupi kegugupan yang jelas terlihat di matanya.

Elea menatap Bimo tajam, sudut bibirnya perlahan membentuk senyum dingin.

"Kau pikir aku peduli soal itu?" desisnya rendah. "Putriku sudah cukup dewasa untuk tahu, bahwa kadang kejahatan harus dibayar dengan cara yang setimpal."

Cakra yang masih tertahan dalam cengkeraman Elea mulai panik, suaranya tercekat. "B-Bimo... Turunkan senjatamu..."

"Tuan?!" Bimo menoleh cepat, terkejut mendengar suara ketakutan dari atasannya yang biasanya begitu berwibawa.

"LAKUKAN!" bentak Cakra, matanya melebar penuh ketakutan saat merasakan ujung belati semakin dalam menekan kulitnya.

Bimo ragu sejenak, pandangannya bergantian antara Cakra dan Elea yang masih menatapnya tanpa gentar sedikit pun.

Lyn, yang berdiri tak jauh dari sana, menatap ibunya dengan campuran rasa takjub dan sedikit ngeri. Sosok Elea yang ia kenal selama ini, lembut, penuh kasih sayang, kini berubah menjadi seseorang yang begitu tegas dan tak kenal kompromi, semua demi melindunginya.

"Cepat," desis Elea lagi, kesabarannya mulai menipis. "Aku tidak akan mengulang perintah ini untuk ketiga kalinya."

Dengan enggan, Bimo akhirnya menurunkan pistol, melepaskan cengkeraman pada Vanesa yang langsung terbatuk, menghirup udara dengan rakus.

Anak buah Cakra lain yang menahan Lyn ikut melonggarkan pegangan mereka, menyaksikan situasi dengan waspada.

Namun alih-alih melepaskan Cakra, tatapan Elea justru semakin menggelap. Genggamannya pada belati mengerat, matanya menyala penuh dendam.

"Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja setelah apa yang kau lakukan pada putriku, hah?" desis Elea, suaranya penuh amarah yang belum sepenuhnya reda.

Bimo melotot tak percaya, panik mulai menguasainya. Dengan gerakan cepat, ia kembali mengangkat pistolnya, mencoba mengarahkannya ke Vanesa sekali lagi.

Namun Vanesa lebih sigap. Ia segera melayangkan tendangan keras ke arah Bimo, tepat mengenai dadanya.

BRUK!

Tubuh Bimo terhempas ke belakang, ambruk ke lantai dengan kasar, pistolnya terlempar jauh dari genggamannya.

"Hari ini, kau akan merasakan apa yang putriku rasakan," desis Elea, matanya menyala penuh dendam yang selama ini tertahan.

"Jangan..." Cakra memohon, suaranya nyaris hilang ditelan ketakutan.

Elea mengangkat belatinya lebih tinggi, siap mengakhiri semuanya.

"Ibu!"

Lyn berlari secepat yang kakinya yang masih lemah, langsung memeluk tubuh ibunya dari samping, menahan lengan yang menggenggam belati itu erat-erat.

"Ibu... jangan," isak Lyn, air matanya kembali mengalir deras. "Kalau Ibu melakukan ini, kita sama saja dengan mereka."

Elea membeku, napasnya masih memburu menahan amarah yang membuncah. "Lyn, dia yang..."

"Aku tahu, Bu," potong Lyn cepat, memeluk lebih erat, wajahnya terbenam di lengan ibunya. "Tapi aku nggak mau Ibu jadi pembunuh karena aku."

Tangan Elea gemetar, belatinya masih tergenggam erat, tapi tatapannya mulai goyah saat menatap wajah putrinya yang penuh air mata.

"Tapi Nak... dia dan putrinya sudah membuat Ibu kehilanganmu," ucap Elea lirih, suaranya bergetar menahan air mata yang mulai menggenang.

Lyn mendongak, menatap wajah ibunya lekat-lekat. "Aku tahu, Bu. Tapi membunuhnya sekarang nggak akan mengembalikan waktu yang hilang. Aku cuma mau dia mempertanggungjawabkan semua yang sudah dia lakukan, bukan mati begitu saja tanpa merasakan konsekuensinya."

Elea terdiam sejenak, menatap wajah putrinya yang basah oleh air mata namun tetap teguh. Entah sejak kapan, gadis kecilnya ini tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih kuat dari yang ia kira.

"Kalau Ibu bunuh dia sekarang," lanjut Lyn pelan, "semuanya selesai terlalu cepat. Dia harus hidup dengan rasa bersalah, dengan konsekuensi hukum, dengan kehilangan semua yang dia banggakan. Itu jauh lebih berarti daripada kematian instan."

Elea menghela napas panjang, perlahan menurunkan belatinya sepenuhnya. Amarah yang membara masih ada, tapi kini tertata oleh kata-kata bijak putrinya sendiri.

"Baiklah," ucapnya akhirnya. Ia menatap tajam ke arah Cakra yang masih terkulai ketakutan.

"Dengarkan itu," desis Elea, suaranya dingin. "Anakku masih punya hati untuk tidak membunuhmu, sangat berbeda jauh dengan kelakuan putrimu."

Ia mencengkeram kerah baju Cakra erat-erat, menariknya mendekat hingga wajah mereka nyaris bersentuhan.

"Sekarang pilih," desisnya tajam, matanya menatap lurus ke dalam mata Cakra yang dipenuhi ketakutan. "Kau mati di sini sekarang, atau kau bertanggung jawab atas semua yang sudah kau dan putrimu lakukan."

Cakra, dengan wajah pucat, mengangguk pelan. "A-Aku akan bertanggung jawab."

"Bagus," desis Elea dingin, akhirnya melepaskan cengkeramannya.

Cakra langsung ambruk ke lantai, terengah-engah, matanya masih dipenuhi ketakutan yang belum sepenuhnya reda.

Elea berbalik, merengkuh putrinya dalam pelukan hangat.

"Maafin Ibu, Nak. Ibu tidak mempercayaimu," ucap Elea, suaranya bergetar penuh haru.

"Ibu nggak perlu minta maaf," jawab Lyn lembut, memeluk erat tubuh ibunya. "Ibu udah di sini sekarang. Itu yang paling penting."

1
Anne Rukpaida
smngat lyn 💪
Nona Jmn: Terima kasih
total 1 replies
Anne Rukpaida
akhirnya lyn ketemu juga 😇
Nona Jmn: Akhirnya🫰😁...
Ikutin terus yah... masih ada plot twist kebelakangnya🤭
total 1 replies
Anne Rukpaida
critanya luar biasa keren 😎
Nona Jmn: Terima kasih🫰🫰
total 1 replies
Anne Rukpaida
smangat ka, jadi smkin penasaran ma jln ceritanya asal muasal ortunya Lyn bisa punya keahlian bela diri gitu🔥
Nona Jmn: Sabar yah🤭🤭😁😁
total 1 replies
Anne Rukpaida
ceritanya bkin deg²n 🔥 smangat ka
Nona Jmn: Terima kasih kak😊😊🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!