Indonesia
NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6. Bertemu Lagi

Naira Alesha berdiri di depan pintu kaca sebuah gedung perkantoran sambil memeriksa penampilannya untuk kesekian kalinya. Rambutnya sudah dirapikan. Kemejanya blus putih sederhana yang dipadukan dengan rok hitam. Map berisi sketsa desain berada erat dalam pelukannya.

Ia menarik napas panjang. "Tenang Naira."

Hari ini seharusnya menjadi hari yang menyenangkan. Dinda memberinya kesempatan untuk mempresentasikan beberapa desain kepada salah satu klien besar yang sedang bekerja sama dengan butik.

Bagi Naira, ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa ia tidak hanya pandai menggambar. Ia juga mampu mempertanggungjawabkan hasil karyanya.

Naira melihat jam tangannya. Masih ada sepuluh menit. Ia tersenyum kecil. Kali ini ia tidak boleh terlambat, tidak boleh bertemu pria menyebalkan dari bus kemarin.

Naira langsung menggeleng. "Kenapa juga aku malah ingat dia?"

Ia menghela napas lalu masuk ke dalam gedung. Ruang rapat berada di lantai dua puluh. Begitu pintu lift terbuka, Naira langsung melihat beberapa orang sudah menunggu di depan ruangan. Seorang sekretaris perempuan menghampirinya.

"Permisi, Nona Naira?"

"Iya."

"Saya dari Arsen Group. Silakan ikut saya."

Naira mengangguk. Arsen Group. Nama itu tidak asing. Dinda memang pernah menyebut perusahaan tersebut sebagai salah satu perusahaan besar yang tertarik mengembangkan lini fashion baru.

Naira mengikuti sekretaris itu menuju ruang rapat. Pintu dibuka. "Silakan masuk."

Naira melangkah. Beberapa orang sudah duduk mengelilingi meja panjang. Ia menunduk sopan.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi."

Naira duduk di salah satu kursi yang sudah disediakan. Ia meletakkan map di atas meja, kemudian menunggu. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Seseorang belum datang.

Naira melihat sekretaris yang berdiri di dekat pintu. "Maaf, apakah masih ada yang ditunggu?"

"Iya. Direktur kami."

"Oh."

Naira kembali duduk. Ia tidak tahu kenapa suasana ruangan itu terasa sedikit menegangkan. Mungkin karena ini pertama kalinya ia mempresentasikan desain di depan perusahaan sebesar ini. Tangannya mulai dingin. Naira menarik napas. Ia membuka map. Satu per satu sketsa diperiksa kembali.

Sampai tiba-tiba pintu ruang rapat terbuka. Semua orang berdiri. Naira ikut berdiri.

"Selamat pagi."

Suara pria itu terdengar. Naira langsung membeku. Suara itu... Tidak mungkin. Ia perlahan mengangkat wajah.

Seorang pria masuk dengan jas hitam dan langkah tenang. Rambutnya tertata rapi. Wajahnya dingin. Dan sorot matanya sama persis dengan pria yang kemarin duduk di sebelahnya di dalam bus.

Naira membelalakkan mata. "Dia..."

Mikael juga berhenti sejenak. Matanya langsung tertuju kepada perempuan yang duduk di ujung meja. Perempuan dengan blus putih. Rambut tergerai rapi. Dan tatapan terkejut yang sangat ia kenal.

Mikael menahan tawa. "Ternyata..."

Naira menelan ludah.

Jadi pria ini bekerja di sini? Tidak. Jangan-jangan...

Mikael berjalan menuju kursinya. Ia duduk tepat di seberang Naira. Tatapan mereka bertemu. Naira langsung mengalihkan pandangan. Mikael justru tersenyum tipis.

"Selamat pagi."

Naira menjawab pelan. "Selamat pagi."

Mikael membuka dokumen di depannya, kemudian berkata santai: "Sepertinya kita pernah bertemu."

Naira menatapnya. "Maaf tidak pernah pak."

Jawaban itu terlalu cepat. Mikael mengangkat alis. "Tidak?"

"Saya rasa tidak."

"Kamu yakin?"

Naira mengangguk. "Sangat yakin."

Mikael menahan senyum. "Baiklah."

Ia tidak ingin mempermalukannya di depan orang lain. Tetapi ia jelas ingat. Perempuan ini adalah orang yang hampir merebut kursi di dalam bus kemarin, yang terus terbayang di pikirannya sepanjang perjalanan pulang.

Dan ternyata dia adalah desainer bernama Naira Alesha. Desainer yang portofolionya sudah ia lihat dua kali.

Menarik. Sangat menarik.

Rapat dimulai. Seorang pria dari tim Arsen Group menjelaskan konsep proyek yang akan mereka kerjakan. Naira mendengarkan dengan serius.

Ketika gilirannya tiba, ia berdiri dan mulai menjelaskan desainnya. Tangannya sempat gemetar. Namun setelah beberapa menit, rasa gugup itu menghilang. Ia menjelaskan konsep warna, bahan, potongan, hingga alasan di balik setiap rancangan.

Mikael mendengarkan tanpa memotong. Sesekali ia melihat sketsa di depannya. Semakin lama, ekspresinya berubah. Ia mulai memahami mengapa portofolio Naira menarik perhatiannya. Perempuan itu memang berbakat.

Setelah presentasi selesai, salah satu anggota tim bertanya: "Kenapa memilih potongan seperti ini?"

Naira menjawab dengan tenang. "Karena saya ingin pakaian ini terlihat elegan tanpa membuat pemakainya kehilangan kenyamanan."

"Kalau menggunakan bahan berbeda?"

"Saya sudah membuat alternatifnya." Naira membuka halaman lain.

Mikael menatap desain tersebut. Sangat detail. Ia bersandar di kursinya. "Berapa lama kamu membuat semuanya?"

Naira menoleh. "Seminggu."

Mikael sedikit terkejut. "Sendiri?"

"Iya."

"Tanpa bantuan?"

"Iya."

Mikael mengangguk. "Hmm.. Bagus."

Naira menatapnya. Entah kenapa satu kata itu terdengar berbeda ketika keluar dari mulut pria menyebalkan tersebut. "Terima kasih."

Mikael menatap desain lagi, kemudian bertanya: "Bagaimana kalau konsepnya harus dibuat lebih eksklusif?"

Naira langsung menjawab. "Saya bisa lakukan."

"Tapi anggaran terbatas."

"Saya bisa menyesuaikan."

"Waktu hanya dua minggu."

Naira diam sebentar. Lalu mengangguk. "Ok. Saya bisa."

Mikael mengangkat alis. "Kenapa kamu selalu menjawab bisa?"

Naira menatapnya. "Kalau memang bisa, kenapa harus bilang tidak?"

Beberapa orang di ruangan itu saling melirik. Mikael justru tersenyum. "Baik. Kita lihat nanti hasilnya."

Naira kembali duduk. Dalam hati ia menggerutu. Pria ini benar-benar menyebalkan. Kemarin di bus. Hari ini di ruang rapat. Kenapa harus bertemu lagi?

Rapat selesai hampir satu jam kemudian. Orang-orang mulai keluar. Naira membereskan sketsanya. Ia ingin segera pergi. Namun suara Mikael menghentikannya.

"Naira."

Tangannya berhenti. Ia menoleh. "Ya?"

Mikael berdiri beberapa langkah di belakangnya. "Kamu memang tidak mengenaliku?"

Naira menghela napas. "Aku tahu kok."

Mikael tersenyum. "Jadi kamu masih ingat aku?"

"Kamu pria yang duduk di sebelahku di bus kemarin."

"Benar." Mikael berjalan mendekat. "Dan kamu perempuan yang merebut kursiku."

Naira langsung membalas. "Justru kamu yang merebut kursiku."

Mikael tertawa. "Masih diperdebatkan?"

"Karena memang begitu."

Mikael mengangguk. "Baiklah. Anggap saja kita seri."

Naira mengangkat mapnya. "Ok. Saya harus pergi."

"Tunggu dulu Naira."

Naira berhenti. "Ada apa lagi?"

Mikael menatapnya. "Namamu Naira Alesha?"

"Iya."

Mikael tersenyum kecil. "Aku Mikael Arsen."

Naira terdiam. Nama itu terasa familiar. Sangat familiar. Kemudian ia teringat sesuatu. "Arsen?"

"Iya."

"Arsen Group?"

Mikael mengangguk. Naira membelalakkan mata. "Jadi kamu..."

"Direkturnya."

Naira langsung terdiam. Ya Tuhan. Pria menyebalkan dari bus ternyata direktur perusahaan yang sedang menangani proyeknya.

Mikael melihat ekspresi wajah Naira. "Kenapa?"

"Tidak."

"Kamu terlihat kaget."

"Saya memang kaget."

"Kenapa?"

Naira menggeleng. "Tidak apa-apa."

Mikael tersenyum. "Dan satu lagi."

Naira menatapnya. "Ya?"

"Aku sahabat Ravian."

Naira membeku. Untuk beberapa detik, ia tidak bisa berkata-kata. "Ravian?"

Mikael mengangguk. "Ravian Elvano."

Jantung Naira berdetak lebih cepat. Tentu saja. Bagaimana mungkin ia tidak mengenal nama itu? Ravian adalah cinta pertamanya. Pria yang baru beberapa hari lalu menghancurkan hatinya.

Dan sekarang... Pria menyebalkan yang dua hari terakhir membuatnya kesal ternyata adalah sahabat Ravian.

Naira berusaha menjaga ekspresinya. "Oh." Hanya itu yang bisa keluar.

Mikael memperhatikannya. "Kamu mengenal Ravian?"

Naira tersenyum tipis. "Iya."

"Seberapa dekat?"

Naira terdiam. Pertanyaan sederhana itu terasa terlalu berat. "Ravian temanku."

Mikael mengangguk. "Teman lama?"

"Iya."

Mikael tidak bertanya lagi. Ia hanya tersenyum. "Berarti dunia memang kecil."

Naira mengangguk. "Ya sangat kecil."

Ia kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia mendengar suara Mikael.

"Naira."

Ia menoleh. Mikael berdiri dengan kedua tangan di saku celana. "Besok jangan terlambat."

Naira mengernyit. "Saya tidak pernah terlambat."

Mikael tersenyum. "Kemarin di bus kamu hampir terlambat."

"Itu bukan salah saya."

"Baiklah."

Naira mendengus. "Selamat siang, Pak Mikael."

"Selamat siang, Nona Galak."

Naira langsung menoleh tajam. Mikael tertawa. Ia benar-benar menikmatinya.

Naira keluar dari ruangan dengan wajah kesal. Begitu pintu tertutup, Mikael masih tersenyum. Ia mengambil map berisi desain Naira. Sekarang semuanya menjadi jauh lebih menarik.

Ternyata perempuan yang membuatnya penasaran bukan sekadar desainer berbakat. Dia adalah teman lama Ravian. Dan entah kenapa... Mikael ingin tahu lebih banyak tentang dirinya.

Sementara di luar ruangan, Naira berjalan menuju lift sambil menggerutu. "Pak Mikael..." Ia menekan tombol lift. "Pria paling menyebalkan."

Pintu lift terbuka. Naira masuk. Namun tepat sebelum pintu tertutup, sudut bibirnya tanpa sadar terangkat sedikit. Bagaimanapun juga... pertemuan mereka hari ini tidak seburuk yang ia kira.

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!