Indonesia
NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Menikahi tentara
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: Aturan sebagai Pisau

Sukandar membawa usulan kendaraan ke rapat staf tiga hari kemudian.

Aku, Bram, duduk di ujung meja saat ia membagikan kertas.

"Untuk mencegah salah persepsi masyarakat," katanya, "setiap penggunaan kendaraan nonoperasi perlu persetujuan ganda dari Danyon dan perwira pengawas."

Semua orang tahu perjalanan medis ke Sumberejo adalah pemicunya. Namun usulan itu tidak menyebut nama Laras.

Kepala staf membaca. "Bagaimana keadaan darurat?"

"Klinik boleh mengeluarkan perintah sementara, dilaporkan maksimal dua puluh empat jam."

Aturannya tidak buruk. Niat di belakangnya yang busuk.

"Setuju," kataku.

Sukandar berkedip. Ia mengira aku akan melawan demi mempertahankan keleluasaan.

"Dengan tambahan," lanjutku. "Semua pengajuan dan penolakan tercatat. Perwira pengawas wajib memberi alasan tertulis. Kalau lewat tiga puluh menit tanpa respons untuk kebutuhan medis, persetujuan beralih ke kepala staf."

Kepala staf mengangguk. "Masuk akal."

Usulan disahkan dengan pengaman agar persetujuan ganda tidak berubah menjadi hak veto pribadi.

Aku meminta sekretaris membacakan rumusan terakhir. Kendaraan operasional tetap mengikuti komando misi. Kendaraan kesehatan bisa bergerak berdasarkan keputusan klinis. Perjalanan administratif memakai dua persetujuan. Semua penolakan punya batas waktu dan jalur pengganti.

"Ada keberatan?" tanya kepala staf.

Tidak ada tangan terangkat.

Sukandar mengetuk pulpen sekali, lalu ikut menandatangani. Ia telah membawa pisau ke meja dengan harapan mengarahkannya kepadaku. Aku hanya memasang gagang dan sarung agar pisau itu tidak bisa dipakai sembarangan.

Aturan bukan musuh. Orang yang sengaja menyisakan lubang di dalamnya adalah bahaya.

Setelah rapat, Sukandar menyusulku.

"Kamu ternyata mudah setuju."

"Kalau ada masalah dengan saya, bicara langsung. Jangan pakai aturan untuk menyampaikan sindiran."

Senyumnya tipis. "Kamu terlalu curiga."

"Bagus untuk seorang Danyon."

Kami berpisah tanpa berjabat tangan.

Di kantor, kubuka penilaian jabatan. Masa tugasku memasuki periode evaluasi. Jika ada pelanggaran disiplin, pengadaan bermasalah, atau keluhan warga yang menumpuk, posisi Danyon dapat ditinjau. Sukandar termasuk perwira senior yang paling mungkin mengisi kekosongan sementara.

Jadi sasarannya bukan Laras semata.

Ia ingin membuat setiap bantuanku tampak sebagai penyalahgunaan, lalu mendorongku jatuh dengan bukti kecil yang dikumpulkan sedikit demi sedikit.

Aku mencatat pola: surat ibu susuan, posisi dapur, kendaraan medis, gosip hubungan. Semua mengarah pada satu narasi bahwa aku memakai jabatan demi seorang perempuan.

Aku memanggil kepala staf dan Hendra. Semua keputusan terkait Laras mulai sekarang harus diperiksa silang. Bukan karena ia bersalah, melainkan karena setiap kelonggaran akan dipelintir.

"Jangan beri dia perlakuan lebih ringan," kataku. "Jangan juga lebih berat."

Hendra memahami. "Bagaimana bantuan ke Nala?"

"Program kesehatan lanjut sesuai aturan. Biaya pribadi saya jangan masuk dokumen satuan. Simpan kuitansi terpisah."

"Kalau ada audit?"

"Buka semuanya. Tidak ada yang disembunyikan kecuali identitas pemberi dari penerima, dan itu pun bisa dibuka kepada auditor."

Perlindungan yang tak tahan diperiksa bukan perlindungan. Itu utang yang menunggu meledak.

Aku juga meminta data posisi Danyon sementara jika aku cuti atau dinonaktifkan. Nama Sukandar muncul pertama. Motifnya akhirnya memiliki bentuk utuh.

Cara melawannya bukan berhenti membantu Laras. Caranya memastikan setiap keputusan tetap benar meski namanya dihapus dari dokumen.

***

Aku, Laras, menerima aturan baru dari Ratna di depan dapur.

"Mulai hari ini, semua orang nonpersonel yang masuk dapur wajib mencatat nama, jam, dan tujuan," katanya. "Termasuk kamu kalau datang di luar jadwal."

Aku membaca lembar itu. "Saya personel kontrak tetap dapur."

"Tapi juga ibu susuan. Supaya nggak ada lagi akses istimewa."

"Baik. Kalau saya datang untuk menyusui Sena, saya nggak masuk area produksi. Kalau bekerja, jadwal saya sudah tercatat. Kalau di luar jadwal, saya isi buku."

Ratna tidak menyangka aku menyetujui.

"Ada masalah?" tanyaku.

"Nggak. Saya cuma ingin aturan berlaku."

"Saya juga. Tolong Ibu isi kalau masuk untuk inspeksi Persit."

Darman meletakkan buku di meja dekat pintu. "Semua orang tanpa kecuali. Termasuk tamu perwira."

Ia membuat tiga kolom tambahan: area yang dimasuki, pendamping, dan bahan yang disentuh. Hendra memeriksa lalu menyetujui sebagai prosedur keamanan pangan, bukan aturan sosial.

"Kalau Bu Ratna hanya berdiri di pintu?" tanya pembantu dapur.

"Nggak perlu catat," jawabku. "Kalau masuk melewati garis hijau, catat. Aturannya berdasarkan area, bukan orang."

Ratna melangkah satu kaki melewati garis hijau untuk menyerahkan lembar. Darman menggeser buku kepadanya.

"Nama, jam, tujuan."

Beberapa orang menahan tawa. Ratna terpaksa menulis: `Ratna, 10.12, menyerahkan aturan.`

Aku tidak mengejek. Tanda tangannya sudah cukup berbicara.

Sukandar tak akan lagi bisa masuk, membuka panci, lalu mendekatiku tanpa jejak.

Ratna menyadari aturan yang dibawanya justru menjadi pagar bagiku. Ia pergi dengan bibir kaku.

Siang itu kurir dari Korem datang membawa amplop besar. Darman membukanya di depan tim.

"Lomba keterampilan dapur tingkat Korem," bacanya. "Setiap satuan mengirim dua orang. Bahan utama diundi di tempat. Waktu sembilan puluh menit, tiga hidangan, penilaian rasa, teknik, kebersihan, dan pemanfaatan bahan."

Ruang dapur langsung ramai.

"Pemenang dapat sertifikat, uang pembinaan, dan kesempatan ikut pelatihan kota," lanjutnya.

Darman menatapku. "Kamu ikut."

"Saya baru resmi bekerja beberapa hari."

"Justru hasil jamuan yang membuat undangan ini datang."

"Peserta kedua?"

"Saya. Bahu saya nggak kuat kerja pisau cepat, jadi kamu pegang masak utama. Saya bantu persiapan dan waktu."

Aku membaca aturan. Tidak ada menu yang bisa dihafal karena bahan diundi. Kami harus melatih teknik dasar, saus serbaguna, pembagian waktu, dan pemanfaatan sisa.

Daftar bahan kemungkinan mencakup ikan air tawar, ayam, umbi, labu, sayur daun, dan bahan yang sering dianggap murah. Aku menyusun matriks, bukan resep: protein bisa dibagi daging, tulang, kulit; sayur bisa menjadi hidangan utama, kuah, atau garnish; satu bumbu dasar harus berubah menjadi beberapa rasa tanpa terasa sama.

"Boleh bawa bumbu sendiri?"

"Bumbu dasar yang dinyatakan saat registrasi boleh," baca Darman. "Bahan utama nggak boleh."

"Kita buat satu bumbu fermentasi ringan, satu minyak bawang-jahe, dan satu bubuk rempah. Semua komposisi dilaporkan."

"Latihan berapa hari?"

"Sampai tangan kita bisa bergerak meski undian buruk."

Darman tersenyum. Kompetisi itu bukan sekadar hadiah. Kemenangan eksternal akan membuat posisi kerjaku lebih sulit digoyang oleh gosip internal.

"Daftar pesertanya kapan?"

"Besok."

Darman mengangkat pulpen di atas formulir.

"Nama siapa yang kutulis?"

Pulpen itu menggantung di atas kolom peserta. Di luar dapur, suara orang masih memperdebatkan kendaraan dan jabatan. Di dalam, ada satu kesempatan agar kemampuanku dinilai oleh orang yang tidak tahu gosip kompleks.

Aku mengambil formulir dari tangan Darman.

"Tulis Larasati," kataku. "Kalau mereka mau menguji apakah saya pantas berdiri di dapur ini, kita beri jawaban di tempat yang punya juri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!