Indonesia
NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15. JIKA TELAT DITEMUKAN

Bab 15. Jika Telat Ditemukan

Salah seorang tenaga medis segera memasang pulse oximeter pada ujung jari Hagia. Angka di layar kecil itu berkedip beberapa kali sebelum akhirnya stabil.

"Tekanan darahnya sedikit turun," ujar dokter perusahaan sambil memeriksa nadi di pergelangan tangan Hagia. "Saturasi oksigen juga sempat menurun, tetapi masih berangsur membaik. Kemungkinan besar karena terlalu lama berada di ruangan tertutup tanpa sirkulasi udara."

Dokter itu menoleh kepada perawat di sampingnya. "Pasang oksigen sebentar."

Perawat segera mengenakan kanula oksigen ke hidung Hagia. Beberapa tarikan napas kemudian, raut wajah wanita itu mulai terlihat lebih segar meski masih menyisakan kelelahan.

"Saya tidak perlu dibawa ke rumah sakit, 'kan, Dok?" tanya Hagia pelan.

Dokter menggeleng. "Untuk sementara tidak. Namun Anda tetap harus beristirahat malam ini. Kalau tadi sedikit saja terlambat ditemukan, kondisinya bisa berbeda."

Kalimat terakhir itu membuat suasana koridor kembali sunyi.

Tak seorang pun berbicara. Tatapan Kalandra perlahan beralih dari wajah Hagia kepada pintu ruang arsip yang masih terbuka di belakang mereka. Daun pintu besi itu tampak berubah bentuk akibat berkali-kali dihantam linggis dan palu godam.

Rahangnya kembali mengeras.

"Kepala keamanan."

"Siap, Pak."

"Tutup akses ke lantai ini."

"Baik, Pak."

"Jangan ada seorang pun memasuki ruang arsip sampai saya mengizinkannya."

"Siap."

Beberapa petugas segera bergerak memasang garis pembatas sementara di sekitar pintu ruang arsip. Yang lain mulai memeriksa kondisi kusen, grendel yang patah, serta panel listrik di sekitar ruangan.

Kalandra memperhatikan semuanya tanpa berkata-kata.

Pikirannya bekerja jauh lebih cepat daripada orang-orang di sekitarnya.

Lampu padam. Ventilasi berhenti. Pintu digrendel dari luar. Tiga kejadian itu tidak mungkin terjadi secara bersamaan hanya karena kebetulan.

"Pak."

Kepala keamanan kembali menghampiri sambil membawa grendel besi yang telah terlepas.

"Penguncinya memang dipasang dari luar. Bekas gesekannya masih baru."

Kalandra menerima grendel itu, mengamatinya beberapa saat, lalu mengembalikannya.

"Jangan disentuh lagi."

"Baik, Pak."

"Simpan sebagai barang bukti."

"Siap."

Dokter yang telah selesai memeriksa Hagia kembali mendekat.

"Kondisinya sudah jauh lebih baik. Namun saya tetap menyarankan beliau tidak bekerja malam ini."

Kalandra mengangguk singkat.

"Tentu."

Ia berjongkok di samping tandu.

"Hagia."

Wanita itu menoleh pelan.

"Masih sanggup berdiri?"

"Saya rasa... bisa."

"Kita tidak akan memaksakannya."

Kalandra mengulurkan tangan.

"Bersandar pada saya."

Hagia sempat ragu beberapa detik, tetapi akhirnya menerima uluran tangan itu. Dengan bantuan Kalandra, ia bangkit perlahan dari tandu. Tubuhnya memang masih terasa lemas, tetapi napasnya kini jauh lebih teratur.

"Terima kasih, Dok."

Dokter mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Besok sebaiknya jangan terlalu memforsir diri."

Hagia belum sempat menjawab ketika Kalandra lebih dulu berbicara.

"Saya pastikan besok dia tetap akan beristirahat sampai saya menyatakan kondisinya benar-benar pulih."

Hagia spontan menoleh.

"Besok ada rapat direksi, Tuan."

"Saya tahu."

"Presentasi Arshaka Mall..."

Nada suara Kalandra tetap datar.

"Presentasi itu tida lebih penting daripada keselamatan orang yang mengerjakannya."

Kalimat itu membuat Hagia terdiam. Beberapa petugas keamanan yang masih berada di sekitar mereka saling berpandangan sesaat sebelum kembali menundukkan kepala, pura-pura sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Kalandra tidak memedulikan reaksi siapa pun.

Tatapannya kembali mengarah ke ruang arsip. Di balik ketenangannya, satu keputusan telah bulat diambil. Malam ini juga, ia akan mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi.

Beberapa menit kemudian, koridor lantai dua puluh delapan mulai kembali lengang. Tim medis lebih dulu meninggalkan lokasi setelah memastikan kondisi Hagia stabil. Garis pembatas telah terpasang mengelilingi ruang arsip, sementara dua petugas keamanan tetap berjaga di depan pintu yang rusak. Tidak seorang pun diizinkan mendekat.

Kalandra berdiri beberapa langkah dari pintu ruang arsip. Pandangannya menyapu setiap sudut koridor yang kini dipenuhi bekas aktivitas penyelamatan. Potongan logam dari grendel yang patah masih tergeletak di lantai, serpihan cat kusen berserakan akibat benturan palu godam, sementara sebuah linggis diletakkan bersandar di dinding setelah tak lagi digunakan.

Ia mengembuskan napas perlahan.

"Hagia."

Wanita itu yang sejak tadi berdiri di samping perawat segera menoleh.

"Kita pulang."

Hagia mengangguk pelan. Baru saja ia hendak melangkah, kepalanya kembali terasa sedikit ringan. Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Kalandra. Tanpa berkata apa-apa, ia memperlambat langkahnya, membiarkan Hagia berjalan di sisi yang sama dengannya menuju lift eksekutif.

Pintu lift terbuka beberapa detik kemudian. Begitu keduanya masuk, pintu kembali menutup rapat, memisahkan mereka dari keramaian kecil yang masih tersisa di lantai dua puluh delapan.

Hening kembali menguasai ruang sempit itu. Pantulan wajah mereka terlihat jelas pada dinding baja mengilap. Wajah Hagia masih tampak pucat, meski warna bibirnya mulai berangsur normal.

Lift baru saja bergerak turun ketika Hagia perlahan menyandarkan tubuhnya pada dinding. Ia mencoba mengatur napas, tetapi beberapa detik kemudian tubuhnya sedikit limbung. Map di pelukannya nyaris terlepas. Refleks, Kalandra melangkah mendekat. Satu tangannya menahan lengan Hagia sebelum wanita itu kehilangan keseimbangan, sementara tangan yang lain mengambil alih map beserta tas kerja yang masih dibawanya.

"Hati-hati."

Singkat, tetapi cukup membuat Hagia mengangkat pandangan.

"Tuan... maaf sudah merepotkan."

"Kalau masih pusing, bersandar saja. Jangan dipaksa berdiri tegak."

Hagia mengangguk pelan. Kali ini ia tidak lagi menolak ketika seluruh barang bawaannya tetap berada di tangan Kalandra.

"Sudah lebih baik, Tuan."

Kalandra tetap mempertahankan tangannya pada lengan Hagia beberapa saat, memastikan wanita itu benar-benar sudah kembali stabil. Setelah melihat napas Hagia mulai teratur, barulah ia melepaskan pegangannya secara perlahan.

Pintu lift terus bergerak turun dalam keheningan. Tidak ada lagi percakapan. Hanya suara mesin lift yang terdengar samar, sementara keduanya berdiri berdampingan hingga akhirnya lift berhenti di area parkir bawah tanah.

"Lain kali jangan menerima pekerjaan di luar tanggung jawabmu tanpa sepengetahuan saya."

Nada bicaranya tenang, tetapi tidak memberi ruang untuk dibantah.

"Saya kira, Pak Danu cuma..."

"Tidak perlu dijelaskan."

Hagia terdiam. Kalandra kembali mengalihkan pandangannya ke depan.

"Kamu asisten pribadi saya, ucapnya pelan. "Dan juga istri saya."

Hagia menatap pria di sampingnya.

"Saya bertanggung jawab atas keduanya."

Tidak ada nada berlebihan dalam ucapan itu. Justru karena disampaikan dengan begitu datar, kalimat tersebut terasa jauh lebih kuat.

Lift berhenti di area parkir bawah tanah. Mereka berjalan keluar tanpa tergesa. Mobil Kalandra telah terparkir di tempat biasa tanpa sopir yang menunggu seperti ketika ia belum memutuskan untuk menyetir sendiri. Pria itu langsung membukakan pintu penumpang lebih dahulu. Setelah memastikan Hagia duduk dengan nyaman, Kalandra memutari bagian depan mobil, lalu mengambil tempat di balik kemudi.

Mesin menyala pelan. Perlahan meninggalkan area parkir Arshaka Group menuju jalan utama yang mulai lengang. Tidak ada lagi pembicaraan sepanjang perjalanan. Sesekali Kalandra melirik ke arah kursi penumpang. Hagia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi sambil memejamkan mata, bukan karena tertidur, melainkan mengistirahatkan tubuh yang masih menyimpan sisa kelelahan.

Melihat itu, Kalandra tanpa sadar menurunkan kecepatan mobil. Biasanya ia tidak pernah menyukai perjalanan yang lambat. Namun, malam itu ia khawatir jika guncangan sekecil apa pun akan mengganggu wanita di sampingnya.

Lampu-lampu kota silih berganti melewati kaca depan. Jalanan yang biasanya terasa begitu singkat malam ini justru dipenuhi keheningan yang aneh, seolah masing-masing sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Hagia kembali mengingat saat pintu ruang arsip tidak dapat dibuka. Ingatan tentang ruangan yang gelap, udara yang semakin pengap, hingga suara benturan keras dari balik pintu masih terasa begitu nyata.

Sementara itu, benak Kalandra dipenuhi pertanyaan yang sama sekali berbeda. Siapa yang sebenarnya sedang bermain? Tatapannya tetap lurus ke depan. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Namun, jauh di balik ketenangan wajahnya, sebuah keputusan telah diambil. Untuk sementara, semuanya akan terlihat berjalan seperti biasa. 

Rapat direksi esok pagi tetap akan dilaksanakan. Aktivitas perusahaan tetap berlangsung sebagaimana mestinya. Tidak akan ada kemarahan yang dipertontonkan, tidak ada tuduhan yang dilontarkan, apalagi keputusan tergesa-gesa yang justru memberi kesempatan kepada orang yang bersalah untuk menghapus jejaknya.

Next--->

1
alfian Agel
bagus
🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ ⏤͟͟͞R
baru sempet mampir Mbu🙏
semoga bukunya sukses
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ternyata pernah ngalamin kekurung diruangan juga Kalandra, tapi dia terkurung apa di kurung mamanya ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
apakah yang terjadi dengan Hagia disengaja 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
syukurlah Hagia gak kenapa napa
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semoga saja Hagia selamat 🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
cepat tolongin Hagia Kalandra 😔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Hagia terkurung dia ruang arsip 🤔
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
makan pun yang dibahas soal kerjaan dan harga diri, apa orang kaya kalau makan selalu begitu ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
kan kan benar Kalandra dah curiga 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
sepertinya Kalandra mulai curiga 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ini apa maksudnya ya , apa sebenarnya dia sudah tau siapa Hagia 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semangat Hagia, semoga berhasil mengerjakan tantangan itu💪
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gimana ya rasanya jadi Hagia,
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
wah gimana reaksi mereka kalau tau orang yang mereka cari berada dalam ruangan yang sama mereka 🤔🤭
sunshine wings
bagus ceritanya.. 👍👍👍👍👍
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Angga Gati
ah dgantung....lanjut kal👍
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gak papa terlambat Hagia🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
studio itu ternyata peninggalan mendiang ibunya Hagia, kirain ibunya masih ada 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Kalandra sama Hagia sama² terdesak 🤭🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!