Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Pembalasan Pertama
Mentari siang memancar terik di atas bangunan megah restoran Le Grand. Tempat ini masih tampak sesibuk biasanya. Para pelayan berlarian mengantar hidangan kelas atas, sementara Pak Hendra—manajer restoran yang semalam menampar dan memecat Rendy—berdiri di depan pintu masuk dengan dada terbusung sombong, menegur seorang pelayan muda yang tak sengaja menyenggol vas bunga.
"Kerja yang benar! Kamu mau bernasib sama seperti si Rendy sampah itu, hah?!" bentak Pak Hendra, matanya melotot tajam.
"Ingat, di restoran ini, pembeli kaya adalah raja! Orang miskin seperti kalian tidak punya hak untuk bikin kesalahan!"
Pelayan muda itu hanya menunduk ketakutan, menahan tangis. Pak Hendra tersenyum puas, merapikan jas cantiknya sembari membayangkan bonus akhir bulan dari pemilik restoran.
Namun, kesombongannya seketika terhenti saat deretan suara klakson nyaring menggema di area valet parking.
Tiga buah mobil mewah berwarna hitam legam—dikawal dua sepeda motor polisi lalu lintas—berhenti tepat di depan pintu utama Le Grand. Para tamu restoran yang sedang menikmati makan siang sampai menempelkan wajah mereka ke kaca jendela untuk melihat siapa sosok berpengaruh yang datang dengan pengawalan semewah itu.
Seorang pengawal bersetelan jas hitam turun lebih dulu, membukakan pintu penumpang belakang
Rolls-Royce paling depan.
Dari dalam mobil, melangkah keluar seorang pria muda. Pakaian seragam pelayannya yang kemarin lusuh dan basah oleh anggur kini berganti dengan setelan jas eksklusif buatan perancang busana ternama dunia. Jam tangan bernilai miliaran rupiah melingkar anggun di pergelangan tangannya.
Pak Hendra yang berada di ambang pintu mendadak membelalakkan mata. Jantungnya berdegup kencang, seolah mau melompat keluar dari dadanya.
"R-Rendy?!" bisik Pak Hendra, suara tenggorokannya mendadak tercekat. "Tidak mungkin... Ini pasti salah lihat! Pria ini tidak mungkin si pelayan miskin itu!"
Rendy melangkah masuk ke dalam restoran dengan gaya berjalan yang tenang namun sangat mendominasi. Di sampingnya, Pak Irwan berjalan sigap membawa sebuah koper kulit eksklusif, sementara empat pengawal berbadan tegap mengapit di belakang mereka.
Seluruh staf dan pelayan Le Grand terpaku. Mereka mengenali wajah Rendy, tetapi aura dan penampilan pria itu saat ini benar-benar asing dan membuat mereka takut untuk sekadar menyapa.
"Selamat siang, Tuan Muda," sapa seorang pria paruh baya bertubuh agak tambun yang mendadak berlari terengah-engah dari arah kantor lantai dua. Pria itu adalah Tuan Wijaya—pemilik asli restoran Le Grand.
Tuan Wijaya langsung membungkukkan badannya sangat rendah di hadapan Rendy, bahkan tidak menyapa Pak Hendra yang berdiri linglung di sampingnya.
"Apakah seluruh proses akuisisinya sudah selesai, Pak Irwan?" tanya Rendy tanpa menoleh pada pemilik restoran.
"Sudah, Tuan Muda," jawab Pak Irwan tegas sembari membuka koper kulitnya.
"Sepuluh menit yang lalu, Adhitama Group telah membeli seratus persen saham kepemilikan restoran Le Grand secara tunai. Dana akuisisi sebesar lima puluh miliar rupiah sudah ditransfer ke rekening Tuan Wijaya. Mulai detik ini, Anda adalah pemilik tunggal tempat ini."
Kata-kata Pak Irwan bergema di seluruh penjuru restoran yang mendadak hening. Para tamu berbisik-bisik heboh, sementara Pak Hendra merasa seluruh darah di tubuhnya tersedot habis. Wajah manajer itu pucat pasi bagaikan mayat.
"P-Pemilik tunggal...?" gumam Pak Hendra, lututnya gemetar hebat.
Rendy perlahan membalikkan badan, menatap Pak Hendra dengan pandangan dingin nan menusuk. Ia melangkah mendekati manajer yang dulu sangat ia takuti itu.
"Manajer Hendra," panggil Rendy dengan suara berat yang penuh intonasi menekan.
"Kemarin malam, Kamu memotong gaji saya, menampar saya, dan menyuruh saya berlutut meminta maaf pada orang yang telah menyiram saya dengan anggur, bukan?"
Pak Hendra langsung jatuh berlutut di atas lantai marmer, persis di posisi tempat Rendy berlutut kemarin malam. Tangannya gemetar merapatkan jemari, memohon dengan air mata yang mulai menetes.
"T-Tuan... M-Maafkan saya! Saya tidak tahu kalau Tuan adalah Tuan Muda dari Adhitama Group! Saya cuma buta karena uang! Mohon beri saya kesempatan kedua, Tuan!" ratap Pak Hendra histeris.
Rendy menatap manajer yang kini bersimpuh di kakinya tanpa rasa kasihan sedikit pun.
"Dulu kamu bilang, orang miskin tidak punya tempat di restoran ini," ujar Rendy pelan namun tajam. "Sekarang, tempat ini adalah milik saya. Dan kamu... tidak punya tempat lagi di sini."
Rendy melirik Pak Irwan. "Pecat dia detik ini juga. Pastikan dia tidak akan pernah bisa bekerja di industri kuliner atau perhotelan mana pun di negara ini. Masukkan namanya ke dalam daftar hitam Adhitama."
"Baik, Tuan Muda!" tegas Pak Irwan. Dua pengawal langsung maju, mencengkeram lengan Pak Hendra dan menyeretnya keluar dari restoran saat pria itu meraung-raung memohon ampun.
Rendy memandang seluruh staf pelayan yang berdiri tegang.
Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Untuk kalian semua, tingkatkan gaji staf sebesar lima puluh persen mulai bulan ini. Jangan pernah biarkan ada pelanggan arogan yang menginjak-injak harga diri kalian lagi."
Sorak kegembiraan pelan terdengar dari para staf yang menatap Rendy dengan rasa kagum dan hormat yang luar biasa.
Rendy lalu merapikan lengan jasnya, menatap keluar jendela restoran. Pikirannya melayang pada sebuah pesta malam yang akan diadakan besok—pesta penyambutan CEO baru Adhitama Group.
"Pak Irwan," bisik Rendy. "Apakah undangan pesta penyambutan sudah disebarkan?"
"Sudah, Tuan Muda. Keluarga Nona Siska dan Tuan Danang dikabarkan sedang mengusahakan segala cara untuk mendapatkan tiket masuk VIP pesta tersebut," jawab Pak Irwan.
Rendy tersenyum dingin. "Bagus. Biarkan mereka datang. Panggung pembalasan yang sesungguhnya baru saja dimulai."