Indonesia
NovelToon NovelToon
Oh! Mantan Kekasihku

Oh! Mantan Kekasihku

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:676.5k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.

Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fokus Pada Tugasmu

Sentuhan mendadak di pinggangnya itu membuat Hazel menahan napas. Belum sempat ia menapakkan kaki di tanah, Gavin sudah menurunkannya dengan begitu mudah, seolah tubuh Hazel sama sekali tidak memiliki bobot. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah berbatu di area pos, Gavin langsung menarik kembali kedua tangannya dan memasukkannya ke dalam saku celana, kembali ke mode formalnya yang dingin.

​"Terima kasih, Kapten," ujar Hazel lirih sambil merapikan jaket besar milik Gavin yang masih melekat di badannya.

​Gavin hanya mengangguk pelan sekali, "Kembalilah, bersihkan lukamu dan istirahat. Saya harus segera menemui Kepala Desa untuk melaporkan kondisi Pak Joko," ucap Gavin dengan suara bariton yang datar, lalu berbalik dan berjalan tegas menuju ruang komando tanpa menoleh lagi.

​Hazel menatap punggung tegap itu sampai menghilang di balik pintu kayu, ada rasa kehilangan yang aneh saat kehangatan tubuh Gavin menjauh, tetapi Hazel buru-buru menggelengkan kepalanya.

​"Sadar, Hazel. Fokus pada tugasmu," bisik Hazel pada diri sendiri.

​Dengan langkah yang agak pincang, ia berjalan menuju baraknya yang sudah sepi karena para tenaga medis sedang pergi melakukan pelayanan. Aroma cairan antiseptik dan minyak kayu putih membuat pundaknya yang tegang sejak semalam akhirnya bisa sedikit rileks, Hazel pun mendudukkan diri di kursi kayu lalu perlahan melepas sepatu yang dipakainya.

​Dengan telaten, Hazel mengambil kapas dan mulai mengobatinya. ​Saat ia sedang sibuk menempelkan plester kain pada tumitnya, pintu barak medis tiba-tiba terbuka. Sersan Baim masuk dengan membawa sebuah nampan plastik berisi nasi bungkus dan teh hangat yang masih ngepul.

​"Permisi, Dokter Hazel. Kakinya luka, Dok?" tanya Sersan Baim dengan raut wajah khawatir begitu melihat peralatan medis berceceran di lantai.

​Hazel mendongak dan melempar senyum tipis, "Hanya lecet biasa kok, Sersan. Kemarin sepatunya agak kekecilan, ditambah semalam dipakai lari-lari. Ada apa, Sersan?" tanya Hazel.

​Sersan Baim meletakkan nampan tersebut di atas meja, "Ini, Dok, diperintah sama Kapten Gavin. Katanya Dokter Hazel belum makan yang layak dari semalam, Kapten Gavin minta saya mengantar ini ke Dokter Hazel. Jangan lupa dimakan ya, Dok," ujar Sersan Baim sambil terkekeh pelan.

"Iya, Sersan. Terima kasih," ucap Hazel.

"Sama-sama Dok, Kapten Gavin itu kalau perhatian memang agak unik apalagi ke Dok... eh maksud saya ke tim medis," ucap Sersan Baim.

​"Terima kasih banyak, Sersan. Tolong sampaikan juga terima kasih saya kepada Kapten Gavin," jawab Hazel dengan nada suara yang sengaja dibuat sedatar mungkin.

​"Siap, Dok! Kalau begitu saya permisi," pamit Sersan Baim sambil memberi hormat, lalu melangkah keluar.

​Hazel menatap sebungkus nasi hangat di depannya. Di satu sisi, tindakan Gavin yang mengirimkan makanan ini terasa sangat manis. Namun di sisi lain, Hazel merasa seperti sedang dipermainkan oleh harapan palsu.

Sikap Gavin yang kadang sangat pelit bicara lalu tiba-tiba menjadi tamengnya di truk, memeluknya dan sekarang memesankan sarapan, benar-benar membuat emosi Hazel naik-turun seperti roller coaster.

​"Kenapa kamu harus bersikap kayak gini, Gavin? Kalau kamu sudah punya kekasih, tolong jangan bikin perasaanku bingung dan berharap," gumam Hazel pelan.

​Hazel membuka bungkus nasi tersebut dan mulai menyuapnya perlahan, rasa lapar yang sempat tertahan akhirnya tuntas, ditemani kehangatan teh manis yang perlahan mengusir sisa dingin angin perbatasan dari tubuhnya.

Setelah itu, Hazel memutuskan untuk merebahkan diri di atas ranjang lipatnya. Rasa lelah yang teramat sangat setelah terjaga semalaman penuh akhirnya menang dan hanya dalam hitungan menit, Hazel sudah tertidur pulas dengan jaket milik Gavin yang masih melingkari tubuhnya sebagai selimut.

​Waktu berlalu begitu cepat. Ketika Hazel membuka matanya kembali, jam dinding di barak sudah menunjukkan pukul dua siang. Ruangan tersebut kini terasa sedikit gerah karena matahari perbatasan sedang terik-teriknya di luar.

​Hazel bangkit berdiri, meregangkan otot-ototnya yang terasa jauh lebih bertenaga setelah tidur beberapa jam. Kakinya pun sudah tidak terlalu nyeri setelah diobati. Ia memutuskan untuk melepaskan jaket milik Gavin, melipatnya dengan rapi dan berniat mengembalikannya.

​Dengan langkah yang lebih mantap, Hazel berjalan melintasi lapangan tengah pos. Beberapa prajurit yang sedang membersihkan senjata atau bersiap untuk patroli siang menyapanya dengan ramah dan Hazel membalasnya dengan senyuman.

Begitu sampai di depan pintu ruang komando, Hazel menarik napas panjang untuk menata hatinya sebelum mengetuk pintu tersebut.

​Tok! Tok! Tok!

​"Masuk," terdengar suara berat Gavin dari dalam.

​Hazel membuka pintu perlahan. Di dalam ruangan yang didominasi oleh peta taktis perbatasan dan tumpukan berkas logistik itu, Gavin sedang duduk di belakang meja kerjanya, menggunakan kaus yang tampak sedikit ketat hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang tegap.

Sementara kacamata berbingkai hitam bertengger di hidungnya, sebuah pemandangan baru yang belum pernah Hazel lihat sebelumnya, di mana Gavin tampaknya sedang sibuk memeriksa laporan.

​Gavin mendongak lalu melepaskan kacamatanya begitu melihat siapa yang datang, tatapannya langsung turun ke arah tangan Hazel yang sedang memeluk jaket miliknya.

​"Saya mau mengembalikan jaket ini, Kapten. Terima kasih banyak untuk bantuannya selama perjalanan tadi," ucap Hazel dengan nada formal, ia melangkah mendekat dan meletakkan lipatan jaket itu di sudut meja kerja Gavin.

​Gavin menatap jaketnya lalu beralih menatap mata Hazel, "Bagaimana kakimu?" tanya Gavin tanpa basa-basi dan mengabaikan ucapan terima kasih Hazel.

​"Sudah jauh lebih baik sudah saya obati dan beri plester," jawab Hazel dan berusaha tetap terdengar profesional.

"Kalau tidak ada keperluan lagi, saya permisi kembali ke klinik untuk memeriksa persediaan obat," pamit Hazel.

​Namun, baru saja Hazel hendak membalikkan badan, suara Gavin kembali menghentikannya. "Hazel, tunggu,"

​Hazel mematung, setiap Gavin memanggilnya tanpa embel-embel Dokter, selalu berhasil membuat benteng pertahanan yang sudah Hazel bangun dengan susah payah goyah dalam sekejap. Hazel berbalik lambat, menatap Gavin yang kini sudah bangkit berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan memutari meja hingga jarak mereka kini hanya tersisa dua langkah.

Gavin berdiri tepat di depan Hazel, tanpa kacamata yang tadi membingkai wajahnya, sorot mata elangnya terasa jauh lebih intens dan mengintimidasi. Keheningan di dalam ruang komando itu mendadak terasa begitu pekat, hanya menyisakan suara detik jam dinding dan deru napas mereka yang saling berkejaran.

​Gavin menatap Hazel dari ujung kepala sampai ujung kaki, memastikan dengan matanya sendiri kalau wanita di depannya ini benar-benar sudah merasa lebih baik setelah beristirahat.

​"Duduk dulu," perintah Gavin pelan, tapi tetap terdengar seperti sebuah instruksi yang tidak bisa ditolak, ia menunjuk ke arah kursi kayu di depan mejanya.

​Hazel sempat ragu, tapi pada akhirnya ia memilih menurut. Ia mendudukkan dirinya dengan posisi tegap, merapatkan kedua tangannya di atas pangkuan untuk menyembunyikan rasa gugup yang mendadak menyerang.

​Gavin tidak kembali ke kursi kerjanya, melainkan bersandar di pinggiran meja, melipat kedua tangannya di depan dada sambil terus menatap Hazel.

​"Soal perempuan yang di rumah sakit semalam...," Gavin membuka suara, memulai pembahasan yang sejak tadi mengganggu pikirannya.

.

.

.

Bersambung.....

1
Marunov_25
Apa dokter Hazel itu terlalu kurus banget ya sampe gampang jatuh 🤭
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ikutan happy hihi
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
akhirnya jd bestie ya 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
wajar sih, ibu mana ga sakit hati suami sm anak nya di rendahin kayak gt 🥲
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
jangan lupa sungkem sm Jenderal Bayu sebagai pembuka jalan restu nya wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
nah ini namanya kalo jodoh emang ga bakalan kemana 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
wkwk yg satu gengsi nya setinggi burj kalifa yg satu rasa ga enakannya sedalam palung mariana 😆
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kalian niat gasih jd mantan 🫵🏻 mantan apa yg satu masih mencoba meluruskan salah paham yg satu denial kalo ga cemburu 😑 dah lah putus nya remedial 👊🏻
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
eh kenape lu, pertanyaan lu agak aneh ya kan udah beberapa hari di lewati bersama kenapa nanya begini seolah olah baru pertama ketemu aja 🤣
LIANI LA BUNGA YANI
😍😍😍😍😍😍😍😍😍
LIANI LA BUNGA YANI
❤️❤️❤️❤️❤️❤️😍
LIANI LA BUNGA YANI
😭😭😭🥹🥹isgh
Dyta Kusnani
bijak bgt dokter ine
Edy Kurnia
gak jelas ini cerita.
total empat tahun kaliik di perbatasan.
Dyta Kusnani
lamanyaa 2thn lagi, umurnya aja udh 31thn
Dyta Kusnani
trs trsan mau jatuh TPI ga JD jatuh KRNA lengan kekar Gavin yg nangkep hahaha
Elysabeth Panjaitan
ok
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bingung banget tujuan dia nyuruh anak nya jd dokter ape kalo ngatur cuti seminggu 🥲 ibu nya paham gasih resiko pekerjaan dokter 😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok bisa sih anak nya gak stress punya ibu kayak gini 🙂 aku yg baca doang aja udah stress, pengen minggat 😩
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
buset, ni orang regulasi emosi nya kayak bocah tk ga keturutan makan es krim 😩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!