Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Regret
Beberapa hari berlalu sejak malam kelam di taman tersembunyi itu. Sore menjelang malam, suasana di rooftop atau pelataran atas menara Istana Hikari terasa begitu sejuk ditemani semilir angin yang membawa aroma senja. Di sana, Putri Miyura duduk santai di atas kursi beludru belapis emas, menikmati hidangan teh hangat dan manisan yang disajikan secara khusus oleh pelayan pribadinya.
Aragoto berdiri tegak di sisi sang putri, nampaknya menanti momen yang tepat setelah memastikan tidak ada pengawal lain di sekitar mereka. Dengan suara tenang dan datar yang berusaha menyembunyikan getaran sisa trauma di batinnya, Aragoto menunduk sedikit lalu menyampaikan laporannya.
"Yang Mulia Ratu," ucap Aragoto memulai dengan nada formal. "Saya ingin melaporkan bahwa tugas yang Anda titahkan telah selesai dilaksanakan dengan tuntas."
Miyura yang sedang menyesap cangkir tehnya perlahan menghentikan kegiatannya. Ia meletakkan cangkir porselen itu ke atas piring kecil dengan bunyi dentingan yang halus, lalu mendongakkan kepala untuk menatap lurus ke arah Aragoto. Manik matanya memancarkan kepuasan yang mendalam.
"Oh?" gumam Miyura, sudut bibirnya terangkat membentuk seulas senyuman tipis penuh kemenangan. "Jadi, wanita pengganggu itu sudah disingkirkan dari hadapan kita untuk selamanya?"
"Benar, Yang Mulia," jawab Aragoto singkat, menundukkan pandangannya ke lantai batu, menghindari tatapan tajam sang ratu yang seolah bisa membaca menembus isi hatinya. "Tidak akan ada lagi orang yang berani mengusik ketenangan Anda ataupun mencoba mendekati Pangeran Yoshi dengan cara murahan seperti itu."
Mendengar konfirmasi tersebut, ekspresi wajah Putri Miyura melunak. Senyuman dingin dan angkuh yang biasa ia tunjukkan kepada para bangsawan sirna seketika, digantikan oleh senyuman ramah yang tulus dan manis—sebuah senyuman yang jarang sekali ia berikan kepada siapa pun di dunia ini, kecuali kepada Aragoto.
Miyura berdiri dari kursinya, lalu melangkah pelan mendekati pelayan setianya itu. Ia menatap wajah Aragoto yang masih diselimuti rasa bersalah dengan penuh kelembutan bak seorang adik perempuan yang berterima kasih kepada kakak lelakinya.
"Kerja bagus, Aragoto," puji Miyura dengan suara lembut yang menenangkan. Ia mengangkat tangannya, menepuk pelan pundak Aragoto. "Aku tahu aku tidak pernah salah mempercayaimu. Terima kasih banyak karena selalu membereskan kekacauan ini demi aku."
Sentuhan ringan dan ucapan tulus dari sang ratu itu seketika menghantam batin Aragoto. Seketika itu pula, beban berat, rasa sesak, dan badai rasa bersalah yang selama berhari-hari menghimpit dadanya seakan runtuh seketika. Hatinya yang porak-poranda perlahan merasa jauh lebih tenang, seolah senyuman Miyura adalah satu-satunya obat penawar atas dosa yang baru saja ia perbuat di dunia yang kejam ini.
Aragoto menghela napas lega dalam diam, lalu membungkuk hormat kepada tuannya. "Sudah menjadi kewajiban saya, Yang Mulia."
.
.
.
.
.
.
.
.
Di balik topeng ketenangan dan senyuman yang ia berikan di hadapan sang ratu, benteng pertahanan Aragoto runtuh seketika begitu ia melangkah masuk ke dalam ruang istirahat pelayan yang gelap dan sunyi. Pintu tertutup rapat, mengunci dirinya dari dunia luar.
Kaki Aragoto lemas seketika. Ia tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya, lalu jatuh berlutut di atas lantai batu yang dingin. Tangan kanannya gemetar hebat saat ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebilah belati kecil yang masih menyisakan noda kemerahan yang mulai mengering.
Mata Aragoto menatap tajam pada bilah senjata tersebut. Seketika itu pula, bayangan saat ia menghujamkan pisau itu ke dada Jesslyn dan senyuman tulus di ambang kematian gadis berambut hijau tersebut berputar kembali di kepalanya bagaikan mimpi buruk yang nyata.
Pertahanan terakhirnya hancur. Isak tangis yang selama ini ia tahan mati-matian akhirnya pecah di tengah kegelapan ruangan. Namun, ia tidak bersuara keras; ia hanya menangis sesegukan dalam keheningan, menggigit bibirnya hingga berdarah untuk menahan lolongan rasa sakit yang merobek-robek dadanya. Air matanya menetes deras, membasahi lantai dan bilah pisau di genggamannya.
"Maafkan aku..." gumam Aragoto terbata-bata di antara isak tangisnya yang patah, suaranya terdengar sangat parau, menyayat hati, dan penuh dengan penyesalan yang mendalam. "Maafkan aku, Jesslyn... aku benar-benar minta maaf..."
Aragoto terus merutuki dirinya sendiri, mendekap erat belati berdarah itu ke depan dadanya seolah ia sedang mendekap raga gadis malang yang telah ia renggut nyawanya demi perintah sang ratu.
"Kenapa... kenapa harus aku yang melakukan ini?" ratap Aragoto lirih, memejamkan matanya rapat-rapat saat bayangan kata-kata terakhir Jesslyn—aku sama sekali tidak membencimu—kembali terngiang di kepalanya. "Aku adalah monster... pembunuh berdarah dingin yang membunuh orang tak bersalah demi kepuasan takhta..."
Di dalam ruangan yang gelap gulita dan tanpa saksi itu, Aragoto terus bersimpuh seorang diri, membiarkan rasa bersalah dan penyesalan yang amat kelam menghancurkan sisa kewarasannya, menyadari bahwa ketenangan semu yang ia dapatkan dari senyuman Miyura harus dibayar dengan harga jiwa yang telah ia cederai selamanya.
.
.
Di tengah isak tangis Aragoto yang memilukan di lantai ruang istirahat yang gelap, tiba-tiba terdengar suara deritan engsel pintu yang perlahan terbuka dari luar. Nyonya Martha menyembulkan kepalanya, berniat mencari sang pemuda, namun langkahnya langsung terhenti seketika saat matanya menangkap pemandangan yang menyayat hati di hadapannya.
Aragoto terduduk lemas di atas lantai batu dengan tubuh bergetar hebat, kedua tangannya menggenggam erat sebilah belati berlumuran darah kering, sementara air mata terus mengalir deras membasahi pipinya.
Martha terdiam seribu bahasa. Ia tidak langsung menghardik ataupun berteriak ketakutan. Sebagai seseorang yang telah lama hidup di istana dan mengetahui rahasia besar di balik darah yang mengalir dalam keluarga kerajaan, Martha langsung memahami segalanya. Ia tahu betul bahwa Aragoto tidak melakukannya atas dasar kebencian pribadi; pemuda itu terpaksa melakukan tindakan keji tersebut semata-mata karena rantai takdir dan perintah mutlak yang membelenggunya sebagai bayangan sang Ratu.
Melihat kehancuran mental yang dialami anak angkatnya, hati Martha bagaikan diiris sembilu. Tanpa memedulikan belati bernoda darah di tangan Aragoto, wanita paruh baya itu melangkah cepat mendekati pemuda tersebut.
Aragoto yang menyadari kehadiran seseorang langsung mendongakkan kepalanya, wajahnya pucat pasi dengan mata yang sembab. Dengan napas tersengal-sengal dan suara yang nyaris tak berbentuk, ia mencoba menjelaskan pembelaan diri di sela-sela isakannya.
"I-Ibu... dengarkan aku..." suara Aragoto terbata-bata, jemarinya yang gemetar menunjuk ke arah belati di genggamannya dengan penuh keputusasaan. "Aku... aku tidak punya pilihan lain. Ratu... Putri Miyura memerintahkanku untuk melenyapkannya. Aku harus melakukannya, Ibu... tapi... tapi rasanya sakit sekali! Aku merasa telah menjadi monster!"
Martha tidak membiarkan Aragoto terus menyiksa dirinya sendiri. Wanita itu langsung berlutut di lantai yang dingin, lalu merengkuh tubuh Aragoto yang gemetar ke dalam dekapannya yang hangat dan penuh keibuan. Ia mendekap erat kepala sang pemuda ke dadanya, menenggelamkan isak tangis Aragoto, sementara tangannya dengan lembut mengusap-usap punggung yang sarat akan beban berat itu.
"Sstt... tenanglah, Nak. Tenanglah, Aragoto..." bisik Martha sangat lembut, suaranya sendiri bergetar menahan air mata yang mendesak keluar. "Ibu tahu... Ibu tahu semuanya. Kau tidak perlu menjelaskan apa pun lagi. Ibu tahu kau terpaksa melakukan ini semua."
Aragoto memejamkan matanya erat-erat, mencengkeram jas Martha selayaknya orang yang tenggelam mencari pegangan. "Ibu... aku kotor... tanganku sudah ternoda darah orang tidak bersalah..."
Martha mengecup puncak kepala Aragoto penuh kasih sayang, membiarkan air matanya sendiri menetes ke bahu pemuda itu. Di tengah dekapan hangat tersebut, Martha merasa bahwa inilah saatnya—waktu yang selama ini ia takutkan namun rasanya sudah tidak bisa lagi disembunyikan di tengah kehancuran batin sang anak.
"Maafkan Ibu, Aragoto..." bisik Martha lirih, suaranya terdengar begitu rapuh dan penuh penyesalan yang mendalam.
Aragoto sedikit merenggangkan dekapannya, menatap bingung ke arah wajah ibu angkatnya dengan mata yang basah. "Maksud... maksud Ibu apa? Kenapa Ibu yang meminta maaf?"
Martha menangkup wajah Aragoto dengan kedua telapak tangannya yang hangat, menghapus sisa air mata di pipi pemuda itu dengan ibu jarinya. Ia menatap lekat-lekat manik mata Aragoto, mengumpulkan seluruh keberanian di dalam hatinya untuk mengatakan sebuah kebenaran besar yang selama ini terkunci rapat di balik dinding istana.
"Ibu meminta maaf karena selama ini membiarkanmu hidup dalam kebohongan dan memikul takdir yang begitu kejam tanpa pernah melindungimu," ucap Martha dengan suara bergetar pelan. "Dan ada satu hal... satu rahasia besar yang harus kau ketahui, Aragoto. Rahasia tentang siapa dirimu sebenarnya, dan siapa wanita yang telah melahirkanmu ke dunia ini..."
Ruangan gelap itu mendapatinya diliputi keheningan yang mencekam, manakala Martha bersiap menguak tabir gelap asal-usul Aragoto di tengah dekapan penuh air mata dan penyesalan.