Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.
Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.
Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.
Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERMAIN API DENGAN CINTA Bab 32: Balikkan Takdir Sang Penguasa
BERMAIN API DENGAN CINTA
Bab 32: Balikkan Takdir Sang Penguasa
Keheningan yang menyergap kamar penthouse VVIP pagi itu terasa jauh lebih mencekam daripada gemuruh badai semalam. Kata-kata Cinta yang meluncur tenang namun tajam bak sembilu membeku di udara, meruntuhkan seluruh wibawa dan dinding keangkuhan yang selama ini dibangun oleh seorang Tuan Maxim.
Pria berusia dua puluh enam tahun itu masih berdiri mematung di tepi ranjang. Setengah tubuh kokohnya yang terekspos tanpa busana atas mendadak menegang sempurna. Sepasang mata hitam yang biasanya memancarkan kilat intimidasi mematikan, kini bergetar samar. Rahangnya mengatup begitu rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang.
Dia tahu. Dia benar-benar sudah tahu semuanya, batin Maxim menjerit frustrasi.
Hantaman kenyataan itu terasa begitu telak hingga membuat dunia Maxim runtuh dalam sekejap. Selama ini, dia merasa menjadi sutradara paling jenius di balik layar. Dia mengira dirinya adalah singa yang sedang bermain-main dengan seekor rubah kecil. Dia tahu Cinta adalah umpan yang dikirim Valen demi misi sepuluh miliar rupiah. Dia tahu Cinta adalah gadis materialistis dari masa SMA-nya yang amnesia. Dia sengaja berpura-pura buta, membiarkan Cinta menari di atas skenarionya, hanya untuk menikmati kepuasan erotis saat melihat wanita manipulatif itu perlahan masuk ke dalam sangkar emasnya.
Namun pagi ini, semua kalkulasi matang itu hancur lebur tanpa sisa akibat kecerobohannya sendiri semalam.
Bukan lagi dirinya yang memegang tali kendali. Rubah kecil di hadapannya ini telah berhasil merenggut cambuk kekuasaan itu dari tangannya. Cinta tidak hanya berhasil membongkar penyamarannya sebagai Ethan akibat panggilan "Kakak Cantik" semalam, tetapi dari kilat mata jeli wanita itu, Maxim tersadar akan satu hal yang jauh lebih mengerikan: Cinta juga sudah tahu bahwa Maxim sebenarnya mengetahui motif busuknya sejak awal.
Ini bukan lagi sekadar rahasia identitas yang bocor. Ini adalah perang pikiran di mana kedua belah pihak telah saling menelanjangi kartu as masing-masing. Mereka berdua tahu bahwa mereka sama-sama sedang bersandiwara.
Gumpalan kepanikan yang teramat pekat—sebuah rasa takut yang belum pernah Maxim rasakan seumur hidupnya—mendadak merayap naik dan mencekik rongga dadanya. Sebagai penguasa bisnis, dia tidak pernah takut kehilangan saham, uang, atau takhta Kencana Property Group. Namun pagi ini, melihat tatapan mata Cinta yang begitu dingin, tenang, dan acuh tak acuh, ketakutan terbesar dalam hidup Maxim mendadak menjadi nyata.
Dia takut Cinta akan mundur. Dia takut wanita manipulatif ini akan merasa permainannya sudah selesai, lalu berbalik arah dan berjalan pergi meninggalkannya selamanya.
Sifat obsesif dan kegilaan kendali Maxim tidak akan pernah bisa menerima kenyataan jika wanita ini hilang dari jangkauan pandangannya. Dia lebih baik dibenci, dia lebih baik dimanipulasi dan dikuras seluruh hartanya, asalkan tubuh dan jiwa Cinta tetap terkunci di dalam dekapannya.
Sementara Maxim tenggelam dalam badai kepanikan mentalnya, Cinta melangkah maju dengan sangat anggun. Ketukan kaki telanjangnya di atas karpet beludru abu-abu tebal terdengar begitu jemawa. Jubah mandi putih yang membungkus tubuh rampingnya sengaja dia biarkan sedikit melonggar, memperlihatkan siluet leher dan bahunya yang putih mulus dengan bekas-bekas kemerahan tanda kepemilikan semalam.
Cinta berhenti tepat dua langkah di hadapan Maxim. Dia mendongak, menantang langsung sepasang manik mata hitam sang CEO yang kini tampak goyah. Sebuah senyuman miring yang penuh dengan kemenangan psikologis yang mutlak terukir indah di bibir ranumnya.
"Kenapa diam, Tuan Maxim?" bisik Cinta, nadanya sengaja dibuat begitu santai namun sarat akan ejekan tajam yang menguliti harga diri pria itu. "Di mana perginya suara bariton berwibawa yang kemarin sore menceramahi saya tentang profesionalisme di pantri? Di mana perginya CEO Kencana Property Group yang dengan sombongnya memerintahkan pengawal untuk menghancurkan saham perusahaan orang di kafe semalam?"
Cinta mencondongkan tubuhnya perlahan, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum black opium-nya kembali menyerbu indra penciuman Maxim, memicu desiran panas yang familier.
"Ataukah... Anda lebih suka saya berbicara dengan Ethan? Pria bertopeng peliharaan saya yang semalam terus-menerus memohon di bawah kendali saya dan mendesah memanggil nama Vera?" cecar Cinta lagi dengan bisikan sedingin es. "Skenario yang Anda susun sangat mengesankan, Tuan. Anda membiarkan saya masuk ke kantor Anda, membiarkan saya mengira saya sedang menjebak pria bodoh demi uang delapan miliar dari istri Anda, padahal Anda sedang menertawakan kebodohan saya dari atas takhta Anda, bukan?"
Maxim meneguk ludahnya yang terasa kering dan getir. Langkah kakinya refleks mundur satu tapak karena terdesak oleh aura dominan Cinta yang baru. Untuk pertama kalinya, sang serigala merasa terpojok oleh domba buruannya sendiri.
"Cinta..." suara Maxim keluar dengan nada yang teramat rendah, serak, dan bergetar hebat. Tidak ada lagi nada perintah yang mutlak. Yang tersisa hanyalah keputusasaan seorang pria yang cemas akan kehilangan dunianya. Kedua tangan kekarnya bergerak impulsif, mencengkeram erat kedua bahu Cinta dengan cengkeraman yang bergetar. "Aku tidak peduli... aku tidak peduli dengan uang delapan miliar itu, atau Valen, atau apa pun misi busuk yang kamu bawa ke kantorku!"
Maxim memajukan wajahnya secepat kilat, menatap lekat-lekat ke dalam mata jeli Cinta dengan pandangan yang dipenuhi oleh obsesi gelap yang menyedihkan.
"Ya, aku tahu semuanya sejak hari pertama kamu melangkah masuk ke gedungku! Aku tahu kamu dikirim oleh Valen! Tapi demi Tuhan, jangan pernah berpikir untuk melangkah mundur dari permainan ini, Cinta!" desis Maxim dengan napas yang memburu pendek, menyalurkan seluruh kepanikan di dadanya lewat tekanan jemarinya di bahu wanita itu. "Kamu ingin memanipulasiku? Lakukan! Kamu ingin uang itu? Aku akan memberikanmu jauh lebih banyak, seratus kali lipat dari apa yang dijanjikan wanita sialan itu padamu! Tapi jangan pernah berani melangkah keluar dari kamar ini dan meninggalkanku..."
Mendengar tawaran uang yang jauh lebih besar dari mulut Maxim, sorak-sorai kemenangan bergemuruh hebat di dalam otak cerdas Cinta. Namun, jauh di lubuk hatinya, rasa sakit hati akibat tamparan keras Valen di kantor siang kemarin masih menyengat batinnya dengan dendam yang membara. Dia tidak akan membiarkan wanita angkuh itu menang begitu saja setelah berani mengotori wajahnya.
Otak manipulatif Cinta langsung merancang sebuah serangan balasan psikologis yang sangat kejam untuk Valen, sekaligus menguji kegilaan obsesi Maxim.
Topeng sedingin es di wajah Cinta mendadak mencair, digantikan oleh ekspresi wajah yang tiba-tiba melembut dengan sangat manis. Dengan gerakan yang teramat anggun dan sensual, Cinta melepaskan cengkeraman tangan Maxim di bahunya. Dia merangkak naik ke atas ranjang King Size yang berantakan, lalu tanpa ragu duduk tepat di atas tubuh tegap Maxim, mengunci pergerakan sang penguasa di bawah kungkungan rampingnya.
Jemari lentik Cinta bergerak nakal, menyingkirkan selimut satin putih yang menutupi dada bidang Maxim. Di sana, di atas kulit tan yang kokoh itu, terpampang jelas beberapa guratan merah keunguan—tanda kepemilikan intim yang sengaja Cinta tinggalkan dengan liar sepanjang malam tadi.
Cinta merogoh ponsel rahasianya dari saku jubah mandi dengan gerakan santai. Di bawah tatapan mata Maxim yang membelalak terkejut, Cinta mengarahkan kamera ponselnya ke bawah. Dia sengaja memotret ujung jari telunjuknya sendiri yang tengah menyentuh lembut guratan merah di dada bidang Maxim.
Tanpa membuang waktu, Cinta mengetik nomor kontak Valen dan mengirimkan foto intim tersebut.
"Apa yang kamu lakukan, Cinta...?" gumam Maxim dengan suara bariton yang tertahan di tenggorokan. Napasnya mendadak kembali memburu berat. Kungkungan tubuh Cinta di atas perutnya serta sentuhan jemari dingin wanita itu di dadanya murni memicu gairah iblis di dalam tubuhnya untuk kembali terpancing naik ke permukaan.
"Memberi pelajaran pada istrimu yang angkuh itu," sahut Cinta dengan senyuman miring yang penuh intrik kejam. Sepasang mata jelinya berkilat puas melihat reaksi terengah Maxim. "Dan tentu saja... agar dia segera melunasi sisa bayaranku. Kemarilah, kita selfie bersama."
Cinta menurunkan tubuh rampingnya, sengaja menyandarkan kepala cantiknya di atas dada bidang Maxim yang terbuka lebar, membiarkan rambut hitam panjangnya terserak di atas kulit sang CEO. Dengan sudut kamera yang pas, Cinta memotret keintiman mereka berdua yang tampak begitu erotis pasca pergulatan semalam. Wajah tampan Maxim yang tanpa topeng terlihat jelas di dalam bidikan layar ponsel.
Cinta mengetikkan sebaris kalimat pesan teks yang sangat tajam di bawah foto tersebut sebelum menekan tombol kirim:
“Jangan lupa sisa uangku... suamimu sekarang sudah menjadi milikku sepenuhnya.”
Dari posisi wajahnya yang sangat dekat, Maxim sempat membaca dengan jelas deretan kalimat pesan teks yang dikirimkan Cinta kepada Valen. Namun, alih-alih marah karena privasinya diusik atau takut skandalnya terbongkar oleh istri sahnya, sepasang mata hitam Maxim justru berkilat dengan kepuasan erotis yang sangat pekat.
Sebuah seringai dominan perlahan terukir di wajah tampannya. Jantungnya berdegup kencang, mengirimkan desiran panas yang aneh. Entah mengapa, ada rasa senang yang luar biasa membuncah di dalam dadanya saat mendengar dirinya diklaim secara mutlak sebagai hak milik oleh wanita manipulatif yang sangat dia inginkan ini. Harga dirinya yang dulu terabaikan saat SMA kini terbayar lunas.
"Jika aku sudah menjadi milikmu..." bisik Maxim serak, kedua tangan kekarnya mendadak naik, mencengkeram pinggang Cinta dengan sentakan yang super kuat hingga tubuh mereka kembali melekat tanpa jarak di atas ranjang. "Maka bersiaplah untuk tidak pernah kulepaskan lagi, Kakak Cantik."