Berkali-kali gagal dalam hubungan membuat ia menutup akses bagi siapapun yang mendekati bahkan datang melamarnya. Jika nenek moyangnya berkata pamali terus menerus menolak lamaran karena konon katanya tidak akan mendapatkan jodoh seumur hidup. Peduli apa dia? Toh takdir seorang manusia telah di tentukan jauh sebelum terlahir ke dunia. Begitulah pemikiran gadis pemilik nama Arunika Binar Senja.
Tapi, bagaimana jadinya jika seorang Pria yang ia kenal datang membawa serta seluruh keluarga untuk melamarnya? Tanpa rasa takut untuk di tolak, Pria tersebut justru dengan senang hati dan menerima dengan sabar syarat-syarat yang di ajukan Senja?
Apakah Senja akan kembali memulai kisah dengan Pria itu? Mampukah mereka menjalani sampai batas waktu yang telah ditentukan? Atau justru Senja Kembali gagal dalam hubungan kesekian kalinya ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Nirmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bantuan atau Memanfaatkan?
“Aru!!!”
Oke, lupakan telpon Rafka karena ini juga ulahnya. Harus beralasan apa Sekarang dia? Otaknya buntu.
“Kenapa sih?” Afyah masih bersama kernyitan di keningnya.
“Siapa Rafka itu?” tanya nya langsung to the point. Daye bahkan sudah berkacak pinggang. Persis emak-emak yang mendapati anaknya pacaran atau lebih ke emak yang marah karena salah membelikan bumbu dapur?
“Rafka? siapa lagi itu?” Senja semakin bingung, pertanyaan siapa yang harus di jawab ini? Afyah masih terbingung-bingung sampai sekarang karena pertanyaannya tidak ada yang mengindahkan.
“Daye, kenapa sih? Aku belum tau ini” kenapa kesannya ia paling cengo sendiri di sini?
“Ini, si Rafka Rafka ini nelpon Aru. Bukan telpon biasa tapi Vidcall” Daye merebut Hp Senja yang sudah ma ti.
Mendengar pernyataan Daye semakin bertambah juga lipatan di keningnya, kedua alisnya pun ikut menyatu di tengah “Ya terus kenapa? Vidcall doang mah biasa kali di lakuin orang-orang. Sepupu Aru mungkin”
Daye menggeleng tidak habis pikir, ini pikirannya yang begitu Negative atau justru pikiran Afyah yang kelewat Positive? “Biasa apanya, Yah? Biasa buat orang lain. Lah ini Aru, cewek anti Vidcall sama orang lain apalagi cowo!”
Afyah menatap jengah ke arah Daye, sahabatnya ini kelewat heboh. “Ya sudah si, mana tau Aru sudah berubah”
“Wah ngga normal kamu mah!” Bo do amat! Senja memilih menikmati cake dan jusnya di temani suara debatan mereka.
Daye kembali menatap Senja yang justru asik makan “Ih.. kok malah asik makan sih?” Senja menengok ke Daye dengan sendok masih ia gigit.
“Apa? Kalian masih debat, jadi ku biarkan aja dulu” ucapnya sesaat setelah menarik kembali sendoknya.
“Jadi?” bukan Daye, justru Afyah lah yang memulai sesi intograsi Senja. Gadis itu menghela nafas. Buat apa juga ia menyembunyikan hubungannya dengan Rafka?
“Dia ngelamar aku kemarin, ah bukan kemarin lebih tepatnya dua hari yang lalu. Di hari pertama lebaran, malamnya mereka sekeluarga mendatangi rumah”
Daye menutup mulut speechless, Afyah beraksi biasa saja. Seolah sudah tau “Oh My God, Aru! Ternyata kamu Sudah punya lagi” jerit tertahan Daye, sadar kondisi mereka sekarang ada dimana.
“Noh makan noh yang mau jodohin ke Om” ungkit Afyah lagi. Daye memicingkan mata tak terima.
“Jadi kamu terima pinangannya?” Senja mengangguk, mereka sudah mengerti. Seperti alasannya tadi. Sudah tidak heran bagi mereka.
Andai mereka tau, terjadi perdebatan panas di malam itu. Tapi cukup keluarga mereka saja yang mengetahui hal itu. Sekalipun mereka berdua adalah sahabat karibnya. Tidak semua harus mereka tau kan?
“Orang nya gimana, Ru? Pasti ganteng kan makanya kamu langsung nerima gitu” Daye sudah mesem-mesem. “Vidcall lagi dong”
Lagi, bola tisu kembali melayang mengenai Daye “Heh, calon laki orang. Cari cowo deh kau sana!”
“Sudah-sudah ayo balik, kalian masih mau nongkrong? Aku mau balik” sangking asik nya bersama, mereka tidak sadar Matahari telah terbenam di gantikan oleh Bulan yang siap menerangi dan memunculkan diri begitu cantik.
“Eh iya ikut balik lah, ayo. Itu oleh-oleh kalian jangan lupa di bawa” tunjuknya pada Paper bag yang di anggurin keberadaannya.
“Oh iya, lupa. Thank youu Daye ye” Senja memeluk pelan Daye lalu mengambil bagiannya. Hal yang sama di lakukan oleh Afyah. Gadis sadis kalau kata Daye, tapi cukup lembut lah.
Mereka berjalan ke luar café barengan hingga akhirnya berpisah ke kendaraan masing-masing, tapi sebelum itu “Bye Senja, Afyah. Kita tunggu kabar baiknya ya, Afyah” soal pengingat, serahkan saja kepada Daye, semua ia ingat dengan jelas tanpa melupakan satu pun part.
***
Hari ini kembali ke aktivitas masing-masing. Masa cuti Bersama Lebaran telah usai, mesti masih meninggalkan vibesnya, selanjutnya akan di jalani seperti hari-hari biasanya.
Senja sudah bersiap sejak pagi sekali, menyiapkan tenaga mengawali hari pertama masuk setelah lebaran. Di kantor pasti mengadakan acara silahturahmi kecil-kecilan. Sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun bagi perusahaan mereka.
Ngomong-ngomong soal Rafka kemarin yang menelpon, malam tadi Pria itu kembali menelponnya. Tak menyia-nyiakan kesempatan Senja melayangkan omelan dan kekesalan karena pria itu menelpon di waktu tidak tepat. Rafka sendiri terkesan menanggapi santai meski ia tetap harus meminta maaf. Tapi kembali lagi, Senja lah yang tidak menginformasi lokasinya pada saat itu.
Tapi namanya perempuan, sudah pasti tidak ingin di salahkan, semua salah harus di limpahkan kepada laki-laki!.
Menjelang siang, Grup sudah ribut yang di ulahin Daye, gadis itu seperti ikan terkapar di daratan. Tidak bisa diam. Sibuk menanyai perkembangan dari Kencan Buta Afyah. Senja sendiri hanya diam, sesekali memantau grupnya.
Di sisi lain Afyah sudah mengomel-ngomel, melangkah memasuki Restaurant pilihan orang tua mereka. Ya, Afyah mengikuti saran kedua temannya, dengan mengiyakan pertemuan dadakan ini, atau dadakan hanya baginya?.
“Permisi kak, meja nomor 08 dimana ya?” malu bertanya sesat di jalan, itu lah yang ada di pikirannya. Dari pada harus mutar-mutar nyari meja, kenapa tidak bertanya langsung?
Entah staf atau waiter yang di depannya, intinya pria di hadapannya sudah membantu mengarahkannya.
Setelah mengucapkan terima kasih Afyah berjalan maju mendekati meja yang sudah ada Pria duduk di sana, ia Yakini itulah pria yang di jodohkan oleh orang tuanya.
“Maaf telat datangnya, sudah lama- kamu?” rasa bersalah nya menguap hilang di gantikan rasa terkejut yang amat sangat terkejut. Apa dia yang salah meja?
Pria yang sedang duduk sambil memainkan hp jenuh ikut terkejut dengan kedatangan seorang gadis berhijab di hadapannya. Gadis yang Ia kenali.
Afyah berkali-kali mengecek nomor meja dan pesan Mamanya yang menyampaikan nama restaurant dan nomor meja reservasi. “Sepertinya aku salah meja, atau mama ku typo nomor, aku permisi”
Belum sempat berjalan jauh, Pria itu sudah menyerukan namanya. Si al dia bahkan masih mengingat namanya, padahal jarang bertemu. “Kamu anaknya Om Ghauts?”
Afyah membalikkan badannya “Kok tau? Tunggu, jangan bilang kamu…” Pria itu mengangguk.
Hari sial tidak ada di kalender, tapi ini kesialan seumur hidup. Dari banyaknya Laki-laki di dunia ini kenapa harus dia? “Oke, biar ngga buang-buang waktu. Aku menolak perjodohan ini” ucapnya mantap, tanpa rasa ragu dan tanpa memikirkannya lagi.
Harusnya pria itu mengangguk setuju, ia juga tidak ingin dan tidak mau. Tapi.. “Tolong jangan langsung memutuskan seperti itu” hati dan mulut jauh berbeda pendapat.
“Kau gillla ya? Berharap hubungan konyol ini? Jangan g ila!”
“Duduklah dulu, kita bicarakan dengan kepala dingin” Afyah menolak keras, mengumpati Pria di hadapannya.
“Ngga usah basa-basi. Aku menolak perjodohan ini. Kurang jelas atau gimana?” sorot mata tajam ia sematkan ke arah lawan bicaranya. Dia adalah Afyah, Gadis galak nan sadis kalau kata Daye.
“Jelas, sangat jelas. Tapi aku ngga bisa ngebiarin perjodohan ini gagal, Afyah!” kekehnya tak kalah. “aku butuh bantuanmu, sekali ini saja. Tolong terima perjodohan ini” Afyah tertawa sarkas, ingin rasanya ia melemparkan pot bunga kecil penghias di meja mereka itu ke kepala Pria itu.
“Ngga! Aku ngga mau. Sampai kapanpun ngga mau!”
“Silahkan, tapi jangan salahkan aku jika nanti Mama dan Papa mu marah atau justru murka karena batalnya perjodohan ini” Afyah menggigit bawah bi birnya, apa maksud kalimatnya itu? Jangan bilang kalau… si all!
Pria itu melirik ke Arah Afyah “Sudah mengerti atau harus ku ejakan lagi?”
Afyah menggertakkan gigi geram, kenapa Pria itu menggunakan kekuasaannya ke dia? “Aku lah penyokong oh atau bisa di bilang aku lah yang menyuntikkan dana ke bisnis keluargamu yang hampir hancur itu. Bagaimana kalau detik ini, ku hentikan. Kira-kira apa yang akan kau dapatkan nantinya?”
Afyah benci, benci situasi dan kondisi sekarang. Apa yang telah kedua orang tua nya janjikan pada pria di hadapannya ini? Apa dia justru di jual demi mempertahankan bisnis mereka? Afyah tidak habis pikir jalan pikir kedua orang tuanya.
“Kau memanfaatkan kondisi keluargaku?”
“Tidak ada yang memanfaatkan. Aku hanya meminta bantuanmu, tapi jika kau menolak aku bisa mengubah dari meminta menjadi memanfaatkan seperti maksudmu tadi” lihatlah Pria itu justru dengan santai meminum kopinya.
“Bantuan apa?”
Dia mengangkat kepalanya, memandang Afyah “Duduklah dulu, tidak baik berbicara sambil berdiri” dengan sangat amat terpaksa, Afyah kembali ke kursi depan berhadapan langsung dengan pria kuasa itu.
“Menikahlah denganku, terima perjodohan ini. Buat sandiwara seolah kau mencintaiku” kalimat yang keluar begitu lugas dan terencana membuat Afyah tercengang.
“Kau gillla! Sadar ngga dengan ucapanmu tadi?” ucap Afyah menggebu-gebu, wajahnya yang putih sudah memerah menahan amarah yang siap membuncah.
“Aku sadar, aku juga tidak menyangka bahwa kau lah yang menjadi anak Om Ghauts. So.. tidak mudah bukan buat kita bekerja sama?”
Afyah menggelengkan kepala “Aku ngga bisa, sadar ngga? Kamu tuh mantannya sahabatku, Kamal!”