Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya
Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,
Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.
Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.
Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.
Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Tempat yang Dulu Kupilih
Lalu kedua tangannya mendorong dada Alden kuat.
“Alden!”
Ia mundur satu langkah, napas kacau. Punggung tangannya terangkat refleks, mengusap bibir sendiri.
Mata Alden mengikuti gerakan tangannya. Entah kenapa, ia tidak menyukainya. Ia kembali maju.
Namun kali ini Belvina sudah siap.
Saat Alden hendak menciumnya lagi, tumit sepatu Belvina menghantam punggung kaki pria itu keras.
“Belvina—” geram Alden.
Belvina merapikan rambutnya, masih bernapas cepat.
“Jangan sembarangan menyentuhku.”
Alden menahan sakit, lalu sudut bibirnya malah terangkat.
“Kenapa?” tanyanya rendah. “Takut jatuh cinta lebih dalam?”
Belvina menatap datar.
“Narsis.”
Ia berjalan melewatinya.
“Dan lain kali, aku incar tulang keringmu.”
Alden tidak tahu apakah ia ingin menaklukkan wanita itu… atau benar-benar memilikinya.
Belvina berjalan menuju pintu tanpa menoleh lagi.
Tangannya baru menyentuh gagang saat suara Alden terdengar dari belakang.
“Berhenti.”
Belvina membuka pintu.
“Kau bukan orang yang bisa memberi perintah setelah mencium orang lalu mengeluh karena diinjak.”
Pintu tertutup.
Alden berdiri sendiri di kamar.
Ditinggalkan tepat setelah mencoba mengambil kendali, adalah hal yang belum pernah ia alami seumur hidupnya.
Belvina turun dengan wajah tenang, meski dalam hati masih menggerutu.
"Brengsek. Dia mengambil ciuman pertamaku."
Fransisca langsung bangkit.
“Sudah selesai?”
Belvina mengambil cangkir teh.
“Belum. Putra Bunda sedang belajar ditolak.”
Alena tersedak.
Arsen melirik ke arah tangga, kini benar-benar tertarik.
“Kakak yakin mau cerai sama Kak Alden? Bukannya dulu sampai nekat bunuh diri karena ditolak?”
Belvina menyesap teh tanpa tergesa.
“Itu dulu.” Ia menatap Arsen datar. “Bukan sekarang.”
Fransisca ikut bicara, lebih pelan.
“Alden… menyakitimu?”
“Nggak, Bun.” Belvina menggeleng ringan. “Hanya saja, mungkin kami perlu waktu berdua sebelum memutuskan apa pun.”
Andreas akhirnya angkat suara.
“Jangan mengambil keputusan saat emosi.”
Andreas memutar bibir cangkir dengan ibu jarinya.
“Pernikahan bukan permainan. Ayah berharap kalian bisa menjaganya sampai akhir.”
Fransisca menimpali dengan mata sendu.
“Kami juga sudah berjanji pada orang tuamu sebelum mereka pergi… akan menjagamu seumur hidup kami.”
Tangannya menyentuh punggung tangan Belvina.
“Dan Bunda masih percaya… tidak ada wanita yang lebih cocok mendampingi Alden selain kamu.”
Suara langkah kaki terdengar dari tangga.
Alden turun dengan wajah datar.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari cangkir tehnya, Andreas berkata,
“Sudah selesai jadi anak kecil?”
Alden berhenti.
“Dia istriku.”
Andreas mengangkat wajahnya.
“Kalau harus kau paksa, berarti belum tentu.”
Mata Alden sempat beralih ke Belvina sesaat.
“Ini hanya salah paham, Yah.”
Arsen menyandarkan tubuh ke sofa.
“Atau jangan-jangan Kakak bikin masalah sama Kak Seraphina sampai Kak Belvina muak?”
Sorot Alden langsung tajam.
“Aku tahu batasku.”
***
Malam datang lebih cepat dari biasanya.
Di kamar mandi, Belvina menatap pantulan dirinya di cermin.
Jarinya menyentuh bibirnya sendiri sebentar.
“Menyebalkan.”
Dari sekian hal yang ia bayangkan setelah bereinkarnasi… dicium Alden bukan salah satunya.
Dan yang paling menyebalkan, ia masih bisa mengingat rasanya.
Belvina keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut.
Kamar itu kosong. Alden belum kembali.
Ia berdiri beberapa detik, memandangi ranjang besar di tengah ruangan. Ingatan asing bergerak pelan di kepalanya.
Setiap kali mereka terpaksa menginap di rumah ini, mereka tidur satu kamar. Namun tidak pernah benar-benar bersama.
Alden selalu mengambil selimut sendiri. Bantal sendiri. Lalu tidur di sofa sudut ruangan tanpa banyak bicara.
Sedangkan Belvina lama… selalu pura-pura belum tidur. Menunggu. Berharap pria itu berubah pikiran dan naik ke ranjang.
Kadang memakai piyama yang lebih tipis. Kadang sengaja membuka percakapan. Kadang mencari alasan mendekat.
Tidak pernah berhasil.
Belvina mengembuskan napas pendek.
“Bodoh sekali.”
Entah pada dirinya sekarang yang mewarisi semua ingatan itu… atau pada wanita sebelumnya yang rela menghabiskan harga diri demi sedikit perhatian.
Ia berjalan ke lemari.
Mengambil satu selimut tipis, lalu bantal dari ranjang utama. Semuanya dibawanya ke sofa. Dirapikan tenang. Tanpa ragu. Tanpa emosi.
Malam ini, ia bahkan tak perlu menunggu Alden menjauh. Ia yang menyiapkan jaraknya.
Setelah itu Belvina naik ke ranjang, menarik selimut hingga dada, lalu memejamkan mata.
Di kamar ini… ia tidak berharap apa pun.
Di ruang kerja, Andreas duduk di balik meja besar.
Alden berdiri dekat jendela, tangan di saku celana.
“Belvina sampai nekat bunuh diri agar bisa menikah denganmu.”
Suara Andreas tenang. Justru itu yang membuatnya berat.
“Dia menempel padamu seperti bayangan.”
Ia memutar kepala kee arah Alden.
“Apa yang kau lakukan… sampai wanita seperti itu memilih pergi?”
Jawabannya tak langsung ia dapatkan.
Karena Alden sendiri tidak punya jawaban pasti. Ia mengingat beberapa minggu terakhir. Tatapan Belvina. Nada bicaranya. Cara ia menjauh.
Lalu satu malam muncul di kepalanya.
Ballroom.
Belvina berdebat dengan Seraphina karena cemburu. Ia meninggalkannya. Belvina mengejarnya.
Terjatuh.
Dan setelah itu, semuanya berubah.
Alden mengerutkan dahi tipis. Seolah wanita yang bangun setelah kejadian itu… bukan orang yang sama.
Andreas membaca wajah putranya.
“Kau bahkan tidak tahu kesalahanmu sendiri.”
Alden menatap ayahnya.
“Aku tidak melakukan apa pun.”
Andreas mendecak tipis.
“Itulah masalahmu.”
Andreas menatap putranya cukup lama sebelum bicara lagi.
“Kadang seseorang pergi bukan karena apa yang kita lakukan.”
Ia memberi jeda.
“Tapi karena apa yang terus-menerus tidak kita lakukan.”
Alden tak segera merespons.
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada bentakan.
Andreas menyandarkan tubuh.
“Perlakukan Belvina lebih baik.”
Nada suaranya datar, namun justru karena itu terasa berat.
“Buat dia merasa dicintai.”
Sorot matanya turun sebentar ke meja.
“Anak itu sudah tidak punya siapa-siapa selain keluarga ini.”
Garis rahang Alden mengunci. Ia tak suka mendengar fakta itu. Karena berarti selama ini Belvina bertahan dalam kesepian yang ia biarkan.
Andreas melanjutkan.
“Dan satu hal lagi.”
Alden mengangkat pandangan.
“Soal Seraphina.”
Ekspresi Alden nyaris tak bergerak.
“Dia teman. Rekan bisnis.” Ia berhenti sejenak. “Dan saat semua orang menjauh ketika perusahaan hampir jatuh… dia yang datang membantu.”
Ingatan itu jelas. Investor mundur. Rumor beredar. Andreas di rumah sakit.
Lalu Seraphina datang, menenangkan pasar, meyakinkan investor kembali, dan berdiri di sisi mereka ketika banyak orang menghilang.
Karena itu Alden menghormatinya.
Andreas mengarahkan pandangan penuh ke putranya.
“Kita memang tak melupakan orang yang tidak meninggalkan kita saat krisis.”
Ia mengangguk kecil.
“Tapi entah kenapa… Ayah tak pernah merasa wanita itu baik.”
Kali ini, Alden tidak langsung membela. Karena di sudut pikirannya paling dalam… ia pernah merasakan hal yang sama.
Dan itu justru yang paling mengganggunya.
Alden hanya berdiri. Tidak menjawab. Ia keluar dari ruang kerja dengan langkah tenang.
Namun isi kepalanya tidak.
Saat membuka pintu kamar, langkahnya berhenti.
Di sofa sudah ada selimut dan bantal tersusun rapi, tanpa kehangatan. Seperti batas yang sudah diputuskan tanpa perlu dibicarakan.
Dulu ia sendiri yang memilih tidur di sana. Malam ini, tempat itu terasa seperti hukuman.
Belvina berbaring di ranjang membelakanginya. Seolah kedatangannya sudah dihitung sejak awal.
Dan tidak penting.
Untuk alasan yang tak ia sukai... pemandangan itu menimbulkan tekanan aneh di dadanya.
Alden melangkah mendekati ranjang.
Belvina baru saja hampir terlelap ketika kasur di sisi sebelahnya turun perlahan.
Matanya langsung terbuka.
...✨“Kadang seseorang pergi bukan karena disakiti, tapi karena terlalu lama tidak dipedulikan.”...
...“Dulu ia sendiri yang memilih sofa itu. Malam ini, tempat yang sama terasa seperti hukuman.”...
...“Ia baru sadar nilai seseorang… saat orang itu berhenti menunggu.”✨...
.
To be continued
Belvina kena jebakannya Seraphina.
Semoga Belvina dan bayi dalam kandungannya selamat
Semua proyek yang belum berjalan juga dihentikan.
Seraphina sudah terlalu lama menikmati hasil kelicikannya. Kini tinggal menunggu kehancurannya.
Sifat jahat Seraphina meronta tak mau kalah.
Semoga perbuatan nekatnya mau mencelakakan Belvina yang sedang mengandung tidak terlaksana.
Seraphina tidak sadar kalau perbuatannya pasti segera diketahui Alden.
Kepala keuangan di perusahaannya terlibat kerja sama dengan Seraphina dengan membocorkan situasi internal perusahaan. Menjual data perusahaan kepada Seraphina.
Licik sekali Seraphina. Bertahun-tahun Alden baru mengetahui perbuatan jahat Seraphina. Bertahun-tahun pula Alden merasa berhutang budi pada Seraphina.
Menjadikan Seraphina sebagai pahlawan penyelamat perusahaan.
Sekarang tinggal penyesalan yang sangat terlambat Alden sadari. Istrinya banyak terluka karena dirinya lebih membela Seraphina.
Orang-orang yang mengawasi Belvina mestinya siaga tidak jauh dari Belvina berada.
Alden sudah memilih Balvina, Seraphina tidak terima.
Jelas Alden akan marah kalau Belvina sampai kenapa-napa. Apalagi karena ulah Seraphina.
Kalimat-kalimat selanjutnya yang terucap dari Alden membuat Seraphina terdiam. Seperti tak percaya.
Seraphina telah meninggalkan ruangan Alden.
Dimas takut Seraphina berbuat nekat.
Alden pun berpikiran sama. Bahkan takut kalau Belvina yang akan jadi sasaran.
Seraphina sudah berada diruang kerja Alden.
Alden tanpa basa basi bicara soal kejadian di klub malam. Tentang foto-foto mereka berdua kepada Belvina.
Seraphina pura-pura terkejut mendengarnya. Dan berkata tidak tahu soal itu.
Tapi tak lama kemudian, pura-pura terkejut itu menjadi benar-benar terkejut.
Masih pura-pura tidak mengerti dengan rekaman yang sudah Alden lihat.
Seraphina mau mengelak apa lagi. Alden mempunyai bukti rekaman.
Kata-kata Belvina terus terngiang di telinganya.
Seraphina menahan amarah.
Seraphina menghubungi seseorang, dengan ponselnya.
Dia menyuruh orang tersebut menjatuhkan Belvina. Tidak peduli dengan Belvina yang diawasi cukup ketat oleh Alden.
Kalau Belvina sudah mode datar, Alden merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Alden baik. Maunya, Belvina terus terang bicara apa yang menjadikan kesal terhadap dirinya. Biar dia tahu kesalahannya.
Omongan Seraphina yang bikin Belvina kesal, ditanyakan pada Alden.
Belvina setelah mendengar penjelasan dari Alden, mestinya sadar kalau omongan Seraphina itu supaya Belvina terpancing kemarahannya.
Kemarahan Ibu hamil bisa membahayakan bayi dalam kandung. Itu yang dikehendaki Seraphina.