Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Yang Tidak Asing.
Beberapa hari berlalu sejak William mulai menjalankan tugasnya di rumah sakit. Berbeda dari perkiraan banyak orang, laki-laki itu benar-benar menjalankan apa yang diperintahkan ayahnya. Hampir setiap hari William terlihat berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain. Ia mengikuti rapat, mempelajari laporan, berbicara dengan kepala bagian, bahkan sesekali turun langsung melihat pelayanan pasien.
Azmira yang awalnya menganggap keberadaan William hanya akan mengganggu pekerjaannya perlahan mulai terbiasa.
Meskipun tetap saja... Pria itu masih menyebalkan.
Pagi itu Azmira baru saja selesai memeriksa pasien terakhir ketika Tania masuk ke ruangannya.
"Mira."
Azmira yang sedang menulis catatan pasien menoleh. "Iya?"
"Pak Dokter kepala minta kamu ke ruang rapat."
Azmira mengernyit. "Kenapa?"
"Nggak tahu."
Tania kemudian tersenyum jahil. "Tapi katanya William juga ada."
Azmira langsung menatapnya. "Terus kenapa kamu tersenyum begitu?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Tania."
"Iya, iya. Aku diam."
Azmira menghela napas. Ia merapikan beberapa catatan, kemudian berdiri.
"Kalau begitu aku ke sana dulu."
"Semangat."
Azmira menatap Tania dengan kesal sebelum akhirnya keluar dari ruangan, entah kenapa rekan kerjanya itu selalu iseng, padahal ia tidak mau ada gosip apapun di rumah sakit ini yang mengenai dirinya.
"Ah, dasar Tania," gumam Azmira.
☘️☘️☘️☘️
Beberapa menit kemudian. Ruang rapat sudah dipenuhi beberapa orang ketika Azmira tiba, ia mengambil kursi paling belakang. tidak berselang lama kepala rumah sakit duduk di bagian depan bersama beberapa kepala bagian.
William juga berada di sana. Begitu melihat Azmira masuk, pria itu hanya mengangkat dagu sedikit, entah kenapa melihat perempuan dewasa itu hatinya selalu menghangat.
"Dokter."
Azmira membalas singkat. "Pak William."
Ia kemudian memilih duduk di salah satu kursi kosong. Tidak lama kemudian, kepala rumah sakit mulai membuka pembicaraan.
"Beberapa minggu ke depan rumah sakit kita akan menjalankan program kerja sama dengan salah satu perusahaan besar."
Beberapa orang mulai memperhatikan dengan serius, tak ada dari mereka yang sibuk sendiri ataupun fokus dengan handphone-nya dan semua mata tertuju ke depan.
"Perusahaan tersebut memiliki ribuan karyawan dan membutuhkan layanan kesehatan untuk pemeriksaan berkala."
Azmira mendengarkan dengan saksama, sesekali tangannya mencatat bagian yang terpenting dari rapat tersebut.
"Programnya meliputi medical check-up, pemeriksaan kesehatan rutin, serta beberapa layanan rujukan."
Salah seorang kepala bagian mengangguk, lalu mencoba untuk menimpali ucapan kepala rumah sakit tersebut. "Perusahaannya siapa, Pak?"
Pria itu membuka sebuah berkas. "Mahardika Group."
Suasana ruangan tetap tenang. Namun William langsung mengambil dokumen yang berada di hadapannya.
"Saya yang akan menangani koordinasinya."
Azmira melirik sebentar ke arah pria itu, Wiliam benar-benar serius jika sudah seperti ini tak terlihat sedikitpun tampang menyebalkannya itu.
Dan tidak lama kemudian. Kepala rumah sakit mengangguk. "Betul. Karena itu saya ingin kamu ikut terlibat langsung."
William mengangguk. "Baik."
Kemudian kepala rumah sakit menatap Azmira.
"Dokter Azmira, kami juga membutuhkan beberapa dokter untuk program pemeriksaan tersebut."
Azmira mengangguk. "Baik, Dok."
"Kamu termasuk salah satunya."
"Baik."
William kemudian membuka dokumen di tangannya. "Untuk tahap pertama, pemeriksaan akan dilakukan di kantor pusat Mahardika Group."
Azmira mencatat sesuatu. "Berapa banyak karyawan?"
"Kurang lebih dua ratus orang untuk tahap awal."
Azmira mengangkat wajah. "Dua ratus?"
William mengangguk. "Ya."
"Dan pemeriksaannya dalam satu hari?"
"Rencananya begitu."
Azmira mengerutkan kening. "Kalau begitu waktunya harus diatur."
William menatapnya. "Kenapa?"
"Karena kalau dua ratus orang diperiksa dalam waktu bersamaan, pelayanan bisa berantakan."
Beberapa orang di ruangan langsung terdiam. Memang benar apa yang dikatakan oleh dokter mudah itu karena 200 orang bukan jumlah yang sedikit.
sementara William menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Jadi menurut Dokter?"
Azmira membuka catatannya. "Harus dibagi beberapa sesi."
William menatapnya. "Berapa?"
"Minimal tiga."
"Kenapa tiga?"
"Supaya pasien tidak menumpuk."
William mengangguk perlahan. "Masuk akal."
Azmira sedikit terkejut. Ia mengira William akan membantah. Namun laki-laki itu justru mencatat usulannya dengan baik.
"Baik. Kita gunakan tiga sesi."
Kepala rumah sakit tersenyum. "Nah, itu yang saya harapkan. Kalian berdua bisa bekerja sama."
Azmira dan William saling menatap bingung namun beberapa detik kemudian keduanya sama-sama mengalihkan pandangan.
Rapat selesai hampir satu jam kemudian. Azmira keluar dari ruangan sambil membawa catatannya. Dan baru beberapa langkah, William menyusul.
"Dokter."
Azmira berhenti. "Iya?"
"Kita perlu membahas teknis pemeriksaan."
Azmira mengangguk. "Kapan?"
"Besok."
"Jam berapa?"
"Jam sembilan."
Azmira berpikir sebentar.
"Saya ada jadwal pasien."
"Setelah itu?"
"Saya bisa jam sebelas."
William mengangguk. "Baik."
Azmira hendak pergi, tetapi William kembali memanggilnya. "Dokter."
Azmira menoleh kembali. "Apa lagi?"
William tersenyum tipis. "Terima kasih sudah membantu."
Azmira terdiam.bKemudian ia mengangguk kecil. "Sama-sama."
Ia kembali berjalan akan tetapi suara pria itu membuat langkah Azmira terhenti kembali.
"Dan Dokter..."
Azmira menoleh dengan wajah mulai tidak sabar, ada rasa kesal juga dongkol karena William tidak benar-benar membuatnya meninggalkan ruangan itu.
"Apa?"
"Jangan terlalu serius."
Azmira mengernyit. "Kenapa?"
"Kalau terus seperti itu, nanti cepat tua."
Azmira menatapnya tidak percaya. "Pak William."
"Iya?"
"Saya baru dua puluh lima."
William tersenyum. "Saya tahu."
"Kalau begitu jangan bicara sembarangan."
William terkekeh pelan entah kenapa melihat muka masam Azmira membuat hidupnya sedikit lebih berwarna.
"Baik, Dokter."
Azmira menggeleng sambil melanjutkan langkah. Dari kejauhan, Tania yang kebetulan melihat interaksi mereka hanya bisa menahan senyum.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sore harinya, William dan Azmira kembali duduk berhadapan di ruang rapat kecil. Di atas meja terdapat beberapa dokumen kerja sama. William membuka salah satunya.
"Mahardika Group meminta rumah sakit menyediakan dokter untuk pemeriksaan kesehatan karyawan."
Azmira membaca dokumen tersebut. "Kalau begitu kita perlu menyiapkan tim."
William mengangguk. "Saya sudah menyiapkan daftar awal."
Azmira melihatnya. "Bagus."
William tersenyum. "Pertama kalinya Anda memuji saya."
"Saya cuma bilang bagus."
"Itu sudah termasuk pujian."
Azmira mendengus. Mereka kembali membahas pekerjaan. Tidak ada yang menyadari bahwa kerja sama sederhana tersebut perlahan akan membawa mereka ke sebuah keluarga yang memiliki sejarah panjang. Keluarga yang suatu hari nanti akan bersinggungan dengan kehidupan Azmira.
Dan tanpa Azmira sadari... nama Mahardika baru saja menjadi bagian kecil dari kehidupannya.
☘️☘️☘️☘️
Sementara di tempat lain, sebuah mobil berhenti di depan gedung megah bertuliskan:
MAHARDIKA GROUP. Seorang pria turun dari dalamnya. Ia menyerahkan beberapa dokumen kepada asistennya.
"Pastikan kerja sama dengan rumah sakit itu berjalan lancar."
"Baik, Pak."
Pria itu kemudian berjalan masuk ke dalam gedung tanpa mengetahui bahwa salah satu dokter yang akan datang ke perusahaannya dalam beberapa hari mendatang... adalah seorang perempuan yang kelak akan membuat kehidupan keluarganya berubah.
Azmira Shafitri.
Bersambung ....
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡