Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dari Klinik
Selma duduk di tepi ranjang Aiden sambil memeluknya. Satu lengannya melingkari bahu bocah itu, sedangkan telapak tangannya yang lain bergerak perlahan pada rambut cokelat pendek yang masih lembap oleh keringat.
Aiden telah mengenakan kemeja bersih, tetapi bau ruang bawah tanah seakan belum hilang dari hidungnya. Bau minyak, bahan kimia, bulu busuk, dan darah masih muncul setiap kali ia menarik napas terlalu dalam.
Kemeja yang koyak telah dibawa ke luar kamar. Selma juga membersihkan debu pada wajah Aiden, membasuh dagunya yang memar, serta mengoleskan obat pada kulit lutut dan telapak tangan yang lecet.
Tidak ada luka pada punggungnya. Bekas kuku Dire Mole hanya merobek kain di kanan serta kiri tubuhnya tanpa mencapai kulit, tetapi Aiden terus merasakan tekanan berat di antara kedua tulang belikatnya.
Sesekali tubuhnya tersentak kecil. Pada saat seperti itu, jemarinya akan mencengkeram pakaian Selma dan napasnya berhenti sampai ia menyadari bahwa suara yang terdengar hanya dengung lampu kamar.
Marcus tidak berada di sana untuk menenangkannya. Para pria yang menemukan mereka langsung membawa Marcus menuju klinik, sementara seorang penjaga mengantar Aiden kembali ke kamar agar Dokter Ivana dapat bekerja tanpa diganggu.
Aiden sempat menolak ketika dipisahkan dari ayahnya. Ia baru berhenti meronta setelah melihat banyak darah menetes dari tandu dan mengetahui bahwa setiap gerakannya hanya menghalangi para pria yang berusaha membawanya ke lift.
Sekarang ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di klinik. Tidak ada yang memberitahukan seberapa dalam gigitan pada lengan Marcus atau apa yang dilakukan Dokter Ivana terhadap darah Dire Mole yang mengenai luka tersebut.
Selma menarik selimut sampai menutupi paha Aiden. Udara kamar sebenarnya tidak dingin, tetapi kedua kakinya terus bergetar dan tumitnya sesekali mengetuk rangka ranjang.
“Cobalah minum sedikit lagi.”
Gelas logam berada di meja dekat ranjang. Aiden telah mencoba meneguk air beberapa kali, tetapi tenggorokannya selalu mengencang sebelum air itu dapat ditelan.
Ia menggeleng dan menekan wajah lebih dalam ke bahu Selma. Kain pakaian perempuan itu berbau sabun serta bunga, jauh berbeda dari bau darah yang memenuhi ruang generator.
Selma tidak memaksanya. Ia hanya mempererat pelukan dan terus mengusap belakang kepala Aiden dengan irama lambat.
Koridor di luar kamar dipenuhi langkah kaki yang datang dan pergi. Setiap kali seseorang berlari melewati pintu, Aiden mengangkat wajah karena mengira orang tersebut membawa kabar mengenai Marcus.
Tidak satu pun berhenti di depan kamar. Suara mereka berlalu bersama derit sepatu, perintah pendek, dan bunyi pintu yang dibuka pada ruangan lain.
Aiden masih mengingat saat dua pria menemukannya dekat tangga bawah tanah. Ia hampir tidak dapat berbicara dan hanya mampu menunjuk ke arah lorong sambil terus mengulang nama Marcus.
Kedua pria itu berlari melewatinya bersama beberapa penjaga yang membawa senapan serta tandu. Aiden sempat mencoba mengikuti, tetapi kakinya kehilangan tenaga dan seorang warga harus menggendongnya sampai ke lift.
Aiden memandangi ranjang ayahnya yang kosong. Selimutnya terlipat rapi pada bagian kaki, sedangkan bantal masih menyimpan sedikit lekukan dari kepala Marcus sebelum berangkat bekerja pagi itu.
Bayangan ayahnya terjatuh di sisi generator kembali muncul. Aiden masih dapat melihat cairan gelap dengan kilau hijau mengalir masuk ke luka pada lengannya, bercampur dengan darah merah yang menetes dari sela-sela jari.
“Bibi Selma...”
Suara Aiden tidak lebih keras daripada bisikan. Selma menunduk agar dapat mendengarnya tanpa meminta Aiden mengulang.
“Apa darah makhluk itu bisa membunuh Dad?”
Tangan Selma berhenti sesaat pada rambutnya. Aiden merasakan jeda tersebut, meskipun perempuan itu segera melanjutkan usapan yang sama.
“Dokter Ivana sedang merawatnya. Kita tunggu sampai dia atau Paman Dmitri datang membawa kabar.”
Selma tidak mengatakan bahwa Marcus pasti selamat. Ketiadaan janji itu membuat perut Aiden mengeras, tetapi ia tidak bertanya lagi.
Suara langkah cepat mendekat dari ujung koridor. Kali ini langkah tersebut berhenti tepat di depan kamar, lalu pintu terbuka sebelum siapa pun sempat mengetuk.
Robin masuk sambil berlari. Rambut pirangnya terlepas dari ikatan dan bergerak tidak beraturan di sekitar wajah yang memerah karena terburu-buru.
“Aiden!”
Ia hampir tersandung pada kaki ranjang ketika melintasi kamar. Buku yang dibawanya dijatuhkan begitu saja ke lantai, lalu kedua lengannya langsung melingkari tubuh Aiden.
Selma melepaskan pelukannya dan bergeser agar Robin mendapat tempat. Tubuh Robin membentur dada Aiden cukup keras hingga membuatnya terhuyung ke belakang, tetapi Aiden tidak berusaha menjauh.
Aiden dapat merasakan jantung Robin berdegup cepat melalui pakaian mereka. Rambut pirang gadis itu menyentuh pipinya dan membawa aroma bunga dari taman yang masih melekat pada helaian rambutnya.
“Aiden, kau tidak apa-apa? Apa kau terluka? Bagaimana dengan ayahmu?”
Pertanyaan Robin keluar tanpa jeda. Kedua tangannya bergerak dari bahu menuju lengan Aiden, seolah ia perlu memeriksa sendiri apakah ada bagian tubuhnya yang hilang.
“Robin, biarkan Aiden menenangkan diri lebih dahulu.”
Selma meletakkan satu tangan pada punggung Robin. Sentuhannya lembut, tetapi cukup untuk membuat gadis itu menyadari betapa kuat dirinya memeluk Aiden.
Robin segera mengendurkan kedua lengannya. Ia mundur setengah langkah, walaupun tangannya tetap menggenggam pergelangan Aiden.
“Aku baik-baik saja.”
Suara Aiden masih gemetar dan tidak terdengar meyakinkan. Robin memperhatikan memar pada dagunya serta obat yang dioleskan di telapak tangannya, dan tatapannya membuat Aiden merasa jawaban itu tidak dipercaya.
“Dire Mole itu tidak menggigitku.”
Aiden menambahkan penjelasan tersebut karena wajah Robin belum berubah. Ia tidak mengatakan bahwa kepala hewan itu sempat berada begitu dekat dengan telinganya hingga gigi-giginya terdengar saling beradu.
Robin duduk di sisi lain ranjang. Jarak di antara mereka sangat dekat sampai lututnya menyentuh lutut Aiden di bawah selimut.
“Aku mendengar orang-orang bilang kau ditemukan di ruang generator bersama empat Dire Mole.”
Aiden menunduk kepada tangan mereka. Jemari Robin masih melingkari pergelangannya, hangat dan sedikit berkeringat.
“Dad membunuh semuanya.”
Saat mengucapkannya, Aiden kembali mendengar jeritan Marcus ketika gigi Dire Mole menembus lengannya. Dadanya mengecil dan napasnya mulai bergerak lebih cepat.
Selma segera duduk lebih rapat di sisi Aiden. Tangannya kembali diletakkan pada bahu bocah itu, lalu menekannya dengan lembut agar Aiden menyadari keberadaan mereka.
“Lihat aku, Aiden. Kau berada di kamar dan pintunya sudah tertutup.”
Aiden memaksa pandangannya beralih dari tangan Robin menuju wajah Selma. Ia menarik napas melalui hidung, menahannya, lalu melepaskannya dengan gemetar seperti yang diajarkan perempuan tersebut sejak dibawa kembali.
Suara lain terdengar di depan pintu. Kali ini tidak ada langkah berlari, hanya pijakan berat yang berhenti sebelum seseorang mengetuk dua kali.
Selma menoleh dan mempersilakan orang itu masuk. Pintu terbuka, memperlihatkan Dmitri yang hampir memenuhi ambang dengan tubuhnya.
Pria itu masih mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung sampai siku. Rambut cokelat terangnya sedikit berantakan, sementara keringat mengering pada sisi wajah dan lehernya.
Dmitri tampak baru kembali dari suatu tempat di bawah gedung. Debu menutupi sepatu serta ujung celananya, dan noda gelap terlihat pada salah satu lengannya.
Aiden menegakkan tubuh. Gerakan mendadak tersebut membuat selimut melorot dari pangkuannya dan telapak tangannya yang lecet menekan kasur.
Selma berdiri dari tepi ranjang. Ia berjalan dua langkah mendekati suaminya, tetapi berhenti sebelum menghalangi pandangan Aiden.
“Bagaimana keadaan Marcus?”
Dmitri menarik napas panjang. Tatapannya sempat bergerak ke arah pintu yang masih terbuka sebelum ia menutupnya sendiri.
“Dokter Ivana memberinya obat agar dia tertidur. Rasa sakitnya terlalu berat untuk dibiarkan.”
Tenggorokan Aiden langsung mengencang. Kata sakit mengembalikan suara jeritan Marcus ke dalam kepalanya, lebih jelas daripada sebelumnya.
Ia teringat bagaimana tubuh ayahnya tersentak ketika Dire Mole mengguncang lengan yang digigit. Marcus tidak pernah menjerit seperti itu, bahkan saat pelipisnya pecah dalam perkelahian dengan Ewan di Haven.
Aiden menarik kedua kaki ke atas ranjang dan memeluk lututnya. Meski Dmitri berdiri di hadapannya, sebagian pikirannya masih tertinggal di lantai ruang generator bersama darah yang terus keluar dari sela-sela jari Marcus.
Dmitri baru memandang Aiden setelah kalimat tersebut terucap. Mulutnya menutup rapat dan garis keras pada wajahnya berubah ketika melihat ketakutan bocah itu.
“Maaf. Seharusnya aku memilih kata yang lebih baik.”
Aiden menggeser tubuh ke tepi ranjang. Kakinya menyentuh lantai, tetapi Selma menahan bahunya agar ia tidak buru-buru berdiri.
“Apakah Dad akan baik-baik saja?”
Dmitri tidak langsung menjawab. Ia mendekat sampai berada beberapa langkah dari ranjang, kemudian merendahkan tubuh agar wajahnya tidak terlalu tinggi dari Aiden.
“Aku yakin dia akan melewati ini. Ivana adalah dokter terbaik yang kami miliki, dan dia dibantu semua orang yang dibutuhkannya.”
Aiden mencari keraguan pada wajah pamannya. Dmitri menatap lurus kepadanya, tetapi rahangnya masih mengeras dan kedua tangannya mengepal longgar di atas lutut.
“Kenapa aku tidak boleh menemuinya?”
“Karena dokter sedang membersihkan lukanya. Mereka juga harus memastikan tidak ada sisa darah Dire Mole yang tertinggal di dalamnya.”
Aiden membayangkan lengan Marcus dibuka untuk mengeluarkan cairan hijau tersebut. Bayangan itu membuat rasa mual naik sampai ke tenggorokannya dan memaksanya menelan berulang kali.
Robin kembali menggenggam tangannya. Gadis itu tidak mengatakan apa pun, tetapi kuku-kukunya menekan kulit Aiden ketika mendengar penjelasan Dmitri.
Dmitri melihat tangan mereka, lalu mengembalikan pandangannya kepada Aiden. Ia menurunkan satu lutut ke lantai agar dapat berbicara tanpa harus membungkuk.
“Aku sudah mengirim beberapa kelompok penjaga ke ruang bawah tanah. Mereka akan memeriksa setiap lorong dan membunuh Dire Mole lain yang masih bersembunyi di sana.”
Aiden teringat pada percabangan gelap yang dilewatinya saat mencari pertolongan. Koridor tersebut terasa tidak memiliki ujung, dan suara teriakannya sendiri terus kembali dari arah yang berbeda.
“Apa mereka akan aman?”
“Mereka pergi dalam kelompok dan membawa perlindungan yang cukup. Tidak seorang pun diperbolehkan turun sendirian sampai seluruh bagian bawah gedung dinyatakan bersih.”
Dmitri mengatakan kalimat itu dengan suara tegas. Namun, ia tidak segera berdiri dan pandangannya justru beralih kepada Selma.
Dahi Selma ikut berkerut. Dmitri mengusap janggut tipis di dagunya dan menunda ucapan berikutnya.
“Masih ada sesuatu?”
Dmitri mengembuskan napas melalui hidung. Ia memandang Aiden sekali lagi sebelum akhirnya berbicara.
“Kami menemukan induknya.”
Aiden membeku. Punggungnya kembali merasakan berat tubuh besar yang menindihnya di lantai, disertai napas busuk pada sisi wajah.
“Marcus sudah membunuhnya.”
Cahaya hijau di bawah kulit Dire Mole muncul dalam ingatan Aiden. Ia ingat garis-garis terang pada lehernya, gigi yang menembus lengan Marcus, dan darah berkilau yang menyembur setelah pistol meletus.
“Yang besar itu induknya?”
Dmitri mengangguk kecil. Gerakannya cukup untuk membuat tangan Aiden mulai gemetar lagi di dalam genggaman Robin.
“Para penjaga menemukan sarangnya tidak jauh dari generator. Ada sisa makanan, kabel, dan jejak yang menunjukkan hewan-hewan itu sudah berada di sana cukup lama.”
Selma melipat kedua lengannya di depan tubuh. Wajahnya kehilangan sisa kelembutan yang tadi digunakan untuk menenangkan Aiden.
“Bagaimana mereka bisa masuk ke bagian bawah Empire?”
“Mereka menggali dari saluran lama di bawah salah satu ruangan. Lubangnya tersembunyi di belakang pipa yang sudah tidak digunakan, jadi tidak ada yang melihatnya dari koridor.”
Dmitri bangkit dari posisi berlutut. Ia berjalan menuju jendela meskipun yang terlihat di baliknya hanya dinding bangunan di seberang.
“Kami sudah menemukan jalan masuknya dan menempatkan penjaga di sana. Lubang itu akan ditutup setelah tim terakhir selesai melakukan penyisiran.”
Aiden mengusap kedua lengannya. Bulu-bulu halus pada kulitnya kembali berdiri ketika membayangkan hewan lain merangkak melalui lubang tersebut pada malam hari.
“Kalau induknya sudah mati, kenapa para penjaga masih mencari?”
Dmitri tidak segera berbalik. Kedua tangannya diletakkan pada pinggang dan bahunya mengembang ketika menarik napas.
“Kami masih mencari alphanya.”
Selma memandang suaminya tanpa berkata-kata. Ketegangan pada wajahnya membuat Aiden memahami bahwa nama tersebut bukan sekadar sebutan untuk Dire Mole lain.
Aiden melihat kembali ukuran makhluk yang telah menindih tubuhnya. Dire Mole itu hampir dua kali lebih besar daripada ketiga hewan lain, dan Marcus harus bergulat untuk melepaskan gigitannya.
“Itu bukan yang terbesar?”
Dmitri akhirnya berbalik. Tatapannya turun kepada Aiden dan bertahan di sana beberapa saat.
“Bukan. Alpha Dire Mole berukuran lebih besar daripada induknya.”
Jemari Robin menegang pada tangan Aiden. Dari balik dinding kamar, dengung mesin Empire terdengar terus bekerja, rendah dan jauh, sementara Aiden membayangkan sesuatu yang lebih besar masih bergerak di salah satu lorong gelap di bawah kaki mereka.
Getaran generator merambat melalui lantai dan naik ke rangka ranjang. Aiden segera mengangkat kedua telapak kakinya dari lantai, seakan sentuhan tersebut dapat membawakan suara kuku dari ruang bawah tanah.