Indonesia
NovelToon NovelToon
Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Tamat
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.

Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?

#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Mereka akhirnya pulang. Kali ini Tira yang mengendarai motor, sementara Fahri duduk di belakang dengan tubuh lemas. Tira sengaja memacu motor sedikit lebih cepat. Ia tahu bagaimana rasanya demam. Badan pasti tidak enak, kepala berat, dan yang diinginkan hanya segera sampai rumah, berbaring di tempat yang nyaman, lalu tidur. Karena itu Tira ingin perjalanan mereka cepat selesai.

Namun niat baiknya justru berakhir sebaliknya. Begitu sampai di rumah, Fahri turun dengan wajah semakin pucat. Baru beberapa langkah masuk, ia langsung menutup mulut dan bergegas ke kamar mandi. Tira menyusul dengan panik. Fahri muntah beberapa kali.

“Ya Allah, maaf, ya, Sayang,” ucap Tira sambil mengusap punggungnya. “Maksud aku biar Abang nggak lelah di perjalanan. Malah tambah masuk angin.”

Fahri tidak menjawab. Ia hanya bersandar lemas setelah rasa mualnya mereda.

Tira membantu Fahri ke kamar, mengambilkan air putih, lalu mengganti pakaiannya dengan baju yang lebih nyaman. Ia menyalakan kipas dengan pelan, mengambil termometer, dan mengecek suhu tubuh suaminya. Angkanya membuat Tira semakin cemas.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia harus merawat Fahri dalam keadaan sakit. Selama ini Fahri yang selalu memperhatikannya. Menyiapkan sarapan, menjemputnya pulang, mengingatkan makan, bahkan hal-hal kecil yang sering Tira abaikan. Kini giliran Tira yang menjaga lelaki itu. Ia membuatkan minuman hangat, menyiapkan obat sesuai petunjuk pada kemasannya, lalu duduk di sisi tempat tidur. Setiap beberapa menit tangannya menyentuh dahi Fahri. Panasnya belum juga turun.

Tira merasa bersalah. Ia menatap wajah suaminya yang terbaring lemah. “Harusnya tadi kita langsung ke rumah sakit,” gumamnya.

Fahri membuka mata sebentar. “Jangan nyalahin diri sendiri.”

Tira menggenggam tangannya. “Abang tidur saja.” Malam itu Tira hampir tidak beranjak dari sisi Fahri. Ketika suaminya terbangun, ia memberikan minum. Ketika Fahri kembali mual, Tira segera membantunya. Ia bahkan menyiapkan baskom di dekat tempat tidur agar Fahri tidak perlu berjalan jauh. Semua dilakukan dengan canggung karena ini pertama kalinya ia merawat seseorang yang benar-benar ia cintai dalam keadaan sakit. Namun Tira tidak peduli. Ia hanya ingin Fahri cepat sembuh.

Menjelang tengah malam, Tira masih duduk di samping tempat tidur sambil menggenggam tangan suaminya. Baru saat itu ia menyadari, menjadi istri ternyata bukan hanya tentang menerima perhatian dan kasih sayang. Ada saatnya ia harus menjadi tempat bersandar ketika orang yang dicintainya sedang tidak berdaya. Dan malam itu, Tira ingin Fahri tahu bahwa sebagaimana Fahri selalu ada untuknya, ia juga akan ada untuk Fahri.

***

Dini hari, Fahri terbangun. Demamnya sudah turun, meski tubuhnya masih terasa lemas. Di samping tempat tidur, Tira masih duduk dengan kepala bersandar di tepi kasur. Wajahnya terlihat sangat lelah, matanya sembap karena kurang tidur.

Fahri menatap istrinya beberapa saat sebelum berbisik, “Tidurlah, Sayang.”

Tira menggeleng. “Abang dulu yang tidur.”

Fahri tersenyum lemah. “Abang sudah lebih baik, lagipula dari semalam Abang sudah tidur.”

"Tapi tidurnya nggak nyenyak, kan? Kebangun terus." Tira tetap bertahan di sana. Dalam suasana sunyi itu, tiba-tiba muncul pertanyaan yang sejak lama sebenarnya ingin ia tanyakan. “Bang, boleh tanya sesuatu? Kenapa dulu Abang mau dijodohkan sama aku?”

Fahri diam sebentar. Pandangannya beralih ke langit-langit kamar. “Karena Abang sudah kenal kamu dari dulu.”

Tira mengernyit. Ia tidak merasa punya kenangan khusus bersama Fahri. Namun Fahri justru tersenyum kecil ketika mengingat masa lalu. Bertahun-tahun lalu, ketika mereka masih kecil dan sama-sama pulang kampung ke Solok, Tira pernah melihat Fahri duduk sendirian di dekat rumah neneknya. Saat itu Fahri sudah yatim piatu dan hidup sederhana bersama kakek-neneknya. Kebetulan ia belum makan sejak pagi. Tira yang sedang membawa makanan langsung membagi bekalnya tanpa banyak berpikir. Hanya sebungkus makanan sederhana. Bagi Tira, kejadian itu mungkin sudah lama hilang dari ingatan.

Bagi Fahri, ternyata tidak. “Abang ingat kamu datang waktu itu,” katanya pelan. “Kamu kasih makanan ke Abang karena melihat Abang belum makan.” Tira mulai mengingat samar-samar. Seorang anak laki-laki yang lebih pendiam dari anak-anak lain. Wajahnya kurus dan duduk sendirian. “Sejak saat itu Abang ingat kamu.” Fahri tersenyum. “Setiap pulang kampung, Abang selalu berharap kamu juga pulang. Kalau dengar kamu datang, Abang senang, meski setelah itu kita tak pernah bertegur sapa.”

Tira langsung menunduk. Pipinya perlahan memerah. Selama ini ia mengira Fahri menerima perjodohan itu karena permintaan ayahnya atau sekadar merasa cocok setelah mereka dewasa. Ternyata jauh sebelum mereka menikah, bahkan sebelum Tira mengenal arti cinta, Fahri sudah menyimpan satu kenangan kecil tentang dirinya. “Jadi…” Tira memainkan ujung selimut, malu sendiri. “Abang suka sama aku dari kecil?”

Fahri tertawa pelan karena melihat wajah istrinya yang semakin merah. “Bukan begitu. Waktu kecil belum tahu namanya suka.”

Tira semakin salah tingkah. Ia buru-buru membetulkan selimut Fahri. “Sudah, jangan banyak ngomong. Abang masih sakit.” Fahri tersenyum. Untuk pertama kalinya malam itu, Tira merasa lelahnya sedikit terbayar. Ia menatap suaminya yang kembali memejamkan mata. Dulu, ia pernah berpikir cinta harus dimulai dengan bertahun-tahun bersama. Ternyata bisa juga dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana, sebungkus makanan yang diberikan seorang anak kecil kepada anak lain yang sedang kelaparan, lalu kenangan itu disimpan diam-diam sampai mereka dewasa.

***

Tira menatap Fahri yang kembali terlelap. Entah kenapa, setelah mendengar cerita itu, pikirannya sempat melayang jauh. Dalam hati ia membayangkan, seandainya sejak dulu Fahri datang dan melamarnya, mungkin ia tidak perlu melewati delapan tahun yang begitu melelahkan bersama Dimas. Tidak perlu menunggu kepastian yang tidak pernah datang. Tidak perlu menangis, kecewa, atau merasakan sakit ketika akhirnya menyadari bahwa hubungan yang ia pertahankan selama itu ternyata tidak membawanya ke mana-mana.

Namun Tira buru-buru menghapus pikiran itu. Ia menggeleng kecil, lalu menarik napas. “Astaghfirullah,” bisiknya.

Tidak baik terus berandai-andai tentang masa lalu. Semua sudah menjadi ketetapan Allah. Salahnya sendiri dulu tidak sabar menunggu jodoh yang halal. Ia terlalu sibuk mempertahankan sesuatu yang ia kira cinta sejati, sampai tidak melihat bahwa mungkin Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik.

Delapan tahun bersama Dimas ternyata bukan jaminan bahwa lelaki itu adalah jodohnya. Lama bukan berarti tepat. Janji manis bukan berarti kepastian. Dan cinta yang membuatnya terus menunggu tanpa arah, kini ia sadari bukanlah cinta yang ingin ia bawa sampai tua.

Tira melirik Fahri. Lelaki itu masih tertidur dengan wajah lelah, tetapi justru di sanalah hatinya terasa tenang. Ia tidak ingin lagi membandingkan. Tidak ingin lagi menghitung berapa tahun yang terbuang. Masa lalu biarlah menjadi pelajaran. Sekarang ia hanya ingin menjaga apa yang sudah Allah titipkan kepadanya. Suaminya. Rumahnya. Kehidupan barunya. Tira tersenyum kecil, lalu menarik selimut Fahri sampai menutupi bahunya. “Yang penting sekarang Abang sudah jadi jodohku,” bisiknya pelan. Kali ini ia tidak ingin berandai-andai lagi.

1
Sriza Juniarti
sad😭😭
Sheety Saqdiyah
Bagus ceritanya. Mohon maaf, tp percakapannya kurang banyak, uraiannya terlalu panjang, jadi alurnya terkesan lama. Terimakasih..
Ana Akhwat
Full Drama ikan terbang juga ini cerita
Ana Akhwat
Terlalu berbelit-belit ceritanya
Desi Eliza Zayadi
ceritanya bagus, kalau boleh ngasih saran, coba setiap bab jangan mengulang kata² yg sama, terkesan monoton, coba sedikit di persingkat,mungkin lebih menarik🙏🙏🙏💪💪💪
Fitria: Terimakasih masukannya Kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!