Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - Mendadak Mati Listrik
Keheningan dingin di antara mereka mendadak pecah oleh sebuah bunyi klek yang menggema dari dinding kamar.
Dalam hitungan milidetik, seluruh cahaya lampu hotel padam total. Kegelapan pekat langsung menyelimuti ruangan, menelan seluruh bayangan dan menyisakan kegelapan absolut tanpa celah.
"Aaaaghh!"
Sebuah jeritan histeris lolos dari tenggorokan Nayla. Sebelum Tristan sempat mencerna apa yang terjadi, sebuah tubuh hangat langsung menubruk dadanya dengan kencang. Nayla menyergap tubuh Tristan, melingkarkan kedua lengannya di leher pria itu begitu erat seolah-olah Tristan adalah satu-satunya pegangan di tengah badai. Tubuh sekretarisnya itu gemetaran hebat, napasnya memburu dan tersengal-sengal persis di ceruk leher Tristan.
Tristan tersentak kaget. Kecepatan reaksi Nayla yang berbalik seratus delapan puluh derajat, dari wanita tegas penuh kendali menjadi sosok yang sangat rentan, membuat otak sang CEO sempat membeku.
"Nayla? Nayla, tenang..." bisik Tristan bingung.
Namun, Nayla justru semakin mengeratkan pelukannya. Wajahnya terbenam sepenuhnya di dada bidang Tristan, menghirup aroma maskulin pria itu guna mencari perlindungan. "Jangan pergi... tolong jangan tinggalkan saya, Pak... gelap sekali," cicit Nayla dengan suara bergetar yang hampir tenggelam dalam kepanikan.
Tristan mengembuskan napas panjang. Sepasang tangannya yang semula menggantung kaku di udara akhirnya mendarat di punggung Nayla. Ia membalas pelukan itu dengan lembut, merengkuh pinggang Nayla dan mengelus punggung wanita itu guna menyalurkan rasa aman. Senjata dan benteng pertahanan yang tadi mereka bangun mati-matian hancur begitu saja, digantikan oleh kehangatan dua tubuh yang saling menempel rapat di tengah kegelapan pekat.
Waktu seolah merambat lambat. Satu menit, dua menit, hingga lima menit berlalu, namun belum ada tanda-tanda cahaya akan kembali menerangi kamar.
Tristan mulai merasa ada yang aneh. Dahi dan alisnya berkerut heran. Bagaimana mungkin hotel berbintang lima dengan standar internasional mengalami pemadaman listrik yang begitu lama tanpa ada generator cadangan yang menyala dalam hitungan detik?
"Nayla," panggil Tristan pelan, tangannya masih bergerak teratur mengelus punggung wanita di pelukannya. "Sebentar, ya. Saya mau ambil ponsel di saku celana atau menyeberang ke meja untuk menelepon receptionist. Ini aneh sekali—"
"Jangan!" potong Nayla cepat. Ia makin memperketat cengkeraman tangannya di kemeja belakang Tristan, menyandarkan berat tubuhnya sepenuhnya pada sang CEO. "Jangan bergerak ke mana-mana... tolong. Saya tidak berani sendiri di kegelapan begini."
Tristan mendesah pelan. Ia bisa merasakan detak jantung Nayla yang berdegup liar di dadanya, berpadu dengan guncangan halus dari bahu wanita itu. Nayla benar-benar ketakutan, bukan sedang bersikap drama atau berpura-pura.
"Baiklah, saya tidak akan ke mana-mana," bisik Tristan menenangkan.
Dengan sangat perlahan dan hati-hati, Tristan membimbing langkah Nayla yang gemetar dalam kegelapan. Ia bergerak mundur pelan-pelan sampai bagian belakang lututnya menyentuh pinggiran sofa empuk di sudut kamar. Tristan duduk terlebih dahulu, lalu menarik Nayla untuk ikut duduk di sampingnya, atau lebih tepatnya, berada di dalam pangkuan dan pelukannya.
Di atas sofa dalam pekatnya malam, hasrat pria dewasa dalam diri Tristan kembali memuncak. Kontak fisik yang sedemikian intim, aroma tubuh Nayla yang makin pekat terhirup, dan kehangatan kulit wanita itu yang menempel di tubuhnya bagaikan siksaan manis yang membakar alur pikirannya. Ibu jarinya secara tidak sadar mengelus pinggang halus Nayla. Niat untuk menyatukan bibir mereka kembali terlintas begitu kuat di kepalanya.
Namun, Tristan dengan cepat menahan dirinya sendiri. Ia memejamkan mata erat-erat, meredam gejolak di dadanya. Pria itu sadar betul, dia tidak boleh menjadi pria picik yang memanfaatkan kepanikan dan ketakutan seorang wanita hanya demi memuaskan dorongan libido sesaat. Jika dia melakukan hal itu sekarang, dirinya hanya akan membuktikan tuduhan Nayla sebelumnya, bahwa dia cuma pria kesepian yang haus gairah.
Maka Tristan memilih untuk tetap diam. Ia hanya merengkuh tubuh Nayla lebih erat, menenggelamkan dagunya di atas kepala wanita itu, membiarkan detik demi detik berlalu dalam keheningan yang sarat akan proteksi.
Hampir lima belas menit berlalu sebelum akhirnya terdengar bunyi denting nyaring dari sistem pendingin udara.
Cklek!
Seketika itu juga, sederet lampu sorot dan downlight di plafon kamar menyala terang benderang, menyiram seluruh sudut ruangan dengan cahaya kuning hangat yang menyilaukan mata.
Dampak dari terang yang mendadak itu membuat Nayla tersentak. Ia tersadar penuh dari kondisi histerisnya. Dalam hitungan detik, begitu menyadari posisinya yang sedang duduk di pangkuan Tristan dengan tangan melingkar erat di leher pria itu, Nayla langsung melepaskan pelukannya dengan panik dan melompat berdiri dari sofa.
"A-astaga..." gumam Nayla seraya mundur dua langkah.
Wajah cantik sekretarisnya itu kini memerah padam bagaikan buah tomat yang matang sempurna. Rona merah itu merambat cepat dari pipi hingga ke ujung telinganya. Nayla buru-buru menunduk, sibuk merapikan kemeja dan rambutnya yang agak berantakan, sama sekali tidak berani menatap mata Tristan karena rasa malu yang membumbung tinggi.
Tristan menyandarkan punggungnya di sofa, menyilangkan satu kakinya santai. Sebuah tawa renyah yang tertahan akhirnya lolos dari bibir sang CEO. Matanya berkilat penuh kemenangan tatkala melihat perubahan sikap wanita yang beberapa menit lalu bicara sangat berani di depannya.
"Wah, luar biasa ya," cibir Tristan dengan nada terkekeh geli. "Tadi ada wanita yang sok-sokan menolak dengan sangat tegas... bilang tidak mau ini-itu kalau aku belum jatuh cinta. Tapi begitu lampu mati sedikit saja, langsung menubruk dan memelukku erat sekali seperti tidak mau dilepas."
Nayla mengangkat kepalanya, mencoba membalas tatapan Tristan meski wajahnya masih membara kencang. Ia mengibaskan tangannya di udara guna mengusir canggung.
"Itu... itu beda cerita, Pak!" sahut Nayla cepat dengan nada membela diri. "Itu situasi darurat! Saya terpaksa memeluk Anda karena tidak ada pegangan lain di ruangan ini!"
"Terpaksa?" goda Tristan, menyunggingkan senyum miring yang sangat langka terlihat di wajah dinginnya. "Tapi pelukannya kencang sekali. Aku sampai hampir kehabisan napas."
Nayla menggigit bibir bawahnya, merutuki keteledorannya sendiri. "Saya memang takut kegelapan sejak kecil, Pak Tristan. Dari dulu... saya tidak pernah bisa tidur kalau lampunya dimatikan total. Harus ada cahaya."
Tristan menghentikan godaannya. Rasa penasarannya tergelitik. Pria itu menegakkan duduknya, menatap Nayla dengan pandangan yang lebih serius. "Kenapa? Ada trauma masa lalu?"
Nayla mendadak bungkam. Matanya berkedip pelan, memancarkan sekilas rasa sakit yang melintas cepat sebelum akhirnya tertutup kembali oleh topeng ketenangannya. Ia mengalihkan pandangan ke arah jendela kamar, enggan menyelami pertanyaan itu lebih jauh.
"Bukan hal penting yang harus disampaikan ke atasan, Pak," jawab Nayla singkat, memotong topik itu secara halus namun tegas.
Belum sempat Tristan mengejar alasannya, suara dering nyaring dari telepon genggam di atas meja nakas memecah ketegangan yang belum tuntas di antara mereka.
Kringgg... Kringgg...
Nayla menarik napas panjang, merasa terselamatkan oleh bunyi tersebut. Ia melangkah cepat menuju meja dan mengangkat gagang telepon kamar.
"Ya, halo?" ucap Nayla dengan suara yang sudah kembali profesional.
"Selamat malam, Ibu Nayla. Kami dari pihak manajemen hotel ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang terjadi beberapa saat lalu," suara petugas receptionist terdengar sangat sopan dari seberang saluran. "Terjadi kendala teknis pada panel listrik utama gedung dan sistem generator otomatis kami sempat mengalami komplikasi sistem. Saat ini seluruh aliran listrik sudah kembali normal."
"Ah... begitu. Ya, tidak apa-apa. Terima kasih atas konfirmasinya," jawab Nayla pelan sebelum meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya.
Ia membalikkan badan, mendapati Tristan kini sudah berdiri dari sofa dan sedang merapikan lengan kemejanya. Suasana di dalam kamar itu kembali dipenuhi ketegangan yang berbeda, bukan lagi soal kegelapan, melainkan sisa-sisa gairah dan batasan tegas yang sempat terucap di antara mereka.