Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: AME author

menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.

akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.

apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FAJAR BARU DAN SENYUM SENA RIYUMA

Memasuki usia kehamilan minggu ke-39, suasana di rumah Meguro diliputi kesiapsiagaan penuh. Akira telah memindahkan sebagian besar pekerjaannya ke rumah dan mendelegasikan tugas laboratorium secara ketat. Setiap gerak-gerik Yuki selalu berada dalam pantauan penuh sang Profesor.

Malam itu, kota Tokyo diguyur hujan deras. Pukul dua dini hari, ketika seluruh isi rumah terlelap dalam hening, Yuki mendadak terbangun. Sebuah sensasi mulas yang sangat tajam dan belum pernah ia rasakan sebelumnya menjalar dari pinggang hingga ke perut bawahnya. Yuki memegangi perut besarnya, bernapas terengah-engah.

"A-Akira..." cicit Yuki dengan suara bergetar, meremas lengan kemeja tidur suaminya.

Hanya dalam hitungan detik, Akira langsung terbangun sepenuhnya. Tanpa jeda linglung, manik mata hitamnya seketika fokus menatap wajah istrinya yang pucat dan dipenuhi peluh dingin.

"Yuki? Ada apa? Kontraksi?" tanya Akira sigap, langsung bangkit duduk dan memeriksa ritme napas Yuki.

"Sakit sekali, Akira... Dan... airnya pecah," bisik Yuki panik saat merasakan cairan hangat mulai membasahi ranjang mereka.

"Oke, tenang. Jangan panik," ucap Akira dengan suara tenang yang teratur—meski di dalam dadanya, jantung sang Profesor berdegup berkali-kali lipat lebih kencang dari biasanya.

Akira bertindak dengan efisiensi luar biasa. Ia menyelimuti Yuki dengan kain hangat, memandu napas istrinya, lalu mengambil tas persalinan yang sudah siap di dekat pintu. Dalam waktu kurang dari lima menit, Akira sudah memapah Yuki masuk ke dalam mobil dan melaju membelah rintik hujan malam menuju rumah sakit tempat dokter kandungan mereka berpraktik.

Di sepanjang perjalanan, sebelah tangan Akira menggenggam erat jemari Yuki di atas konsol tengah, menyalurkan seluruh kekuatan dan kehangatan yang ia miliki.

Suara roda ranjang dorong berderit nyaring di koridor rumah sakit saat para perawat membawa Yuki menuju ruang bersalin. Akira, yang kini mengenakan pakaian khusus steril, berdiri di samping kepala ranjang Yuki. Ia tidak melepaskan genggaman tangannya sedikit pun, mengusap dahi istrinya yang terus bercucuran keringat.

"Pembukaan sudah lengkap, Nyonya Yuki. Saat kontraksi berikutnya datang, tarik napas dalam dan dorong ya," instruksi Dokter Kandungan dengan tenang.

Yuki mencengkeram jemari Akira dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit yang luar biasa seolah mengepung seluruh tubuhnya.

"Aku... aku tidak kuat, Akira..." tangis Yuki pecah di tengah rasa sakit yang hebat.

Akira membungkuk, menempelkan keningnya ke kening Yuki. Air mata haru dan rasa tak tega menggenang di sudut mata sang Profesor. Ia mencium pipi dan dahi istrinya bertubi-tubi dengan nada suara yang begitu lembut dan penuh bisikan keabadian.

"Kamu bisa, Yuki. Kamu wanita paling kuat yang pernah aku kenal," tutur Akira parau, suaranya bergetar hebat. "Lihat aku, Sayang... Bernapas bersamaku. Aku ada di sini, aku tidak akan ke mana-mana. Kita lakukan ini bersama-sama."

Tatapan mata Akira yang pekat akan cinta dan kepastian seketika memberikan dorongan energi baru bagi Yuki. Yuki mengangguk kuat. Diiringi dorongan napas panjang dan perjuangan hidup mati seorang ibu, suara napas Yuki bergaung di ruang bersalin.

OEEKKK! OEEKKK! OEEKKK!

Tepat pukul empat pagi, tangisan melengking yang nyaring dan jernih memecah seluruh ketegangan di dalam ruangan tersebut.

Dunia seolah berhenti berputar.

Dokter dengan sigap mengangkat seorang bayi kecil yang merah dan bersih. "Selamat, Pak Akira, Nyonya Yuki! Putri kecil kalian lahir dengan sangat sehat dan cantik sempurna!"

Air mata Yuki menetes deras melewati pelipisnya—kali ini sepenuhnya air mata kebahagiaan dan rasa lega yang tak terbayangkan. Akira membeku di tempatnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sosok Profesor yang dingin, rasional, dan selalu mengandalkan logika itu menangis sesenggukan tanpa ditahan.

Dokter meletakkan putri mungil itu di atas dada Yuki untuk melakukan inisiasi menyusu dini (skin-to-skin). Tubuh hangat mungil itu bergerak pelan di atas dada ibunya, seketika menenangkan tangisannya sendiri saat mendengar detak jantung Yuki.

Akira merangkul Yuki dan putri kecil mereka sekaligus. Jemari kekarnya yang bergetar menyentuh perlahan jemari mungil putri cantiknya yang mengepal erat.

"Terima kasih, Yuki... Terima kasih banyak sudah berjuang demi keluarga kita," bisik Akira parau, mencium bibir dan kening istrinya dengan rasa cinta yang kian bertambah tak terhingga.

"Dia sangat cantik, Akira... bibir dan matanya mirip sekali denganmu," cicit Yuki lemas namun tersenyum sangat manis, mengusap pipi lembut putri kecil mereka.

"Dia memiliki senyumanmu yang paling indah, Yuki," balas Akira penuh keharuan.

Beberapa jam kemudian, suasana pagi di kamar rawat inap rumah sakit terasa begitu tenang dan hangat. Sinar matahari pagi menerobos tipis melalui jendela kaca, membingkai Yuki yang sedang berbaring rileks di atas ranjang dengan putri kecilnya yang terlelap pulas di dalam boks bayi transparan di sampingnya.

Akira berdiri di sudut ruangan, memegang ponsel di telinganya. Begitu sambungan telepon terhubung, suara sang Profesor yang biasanya dingin dan datar kini terdengar bergetar hebat oleh rasa haru yang tak bisa ia sembunyikan.

"Mama... Yuki sudah melahirkan," ucap Akira dengan napas yang memburu penuh rasa syukur. "Bayi kami perempuan, Ma... Dia lahir sehat dan sangat cantik."

Di seberang telepon, suara Mama Akira seketika memekik bahagia diiringi tangis haru yang pecah. "Ya Tuhan, Akira! Putri kecil? Cucu Mama perempuan? Mama dan Ibu Yuki akan langsung berangkat ke rumah sakit sekarang juga!"

Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, pintu kamar rawat inap terbuka. Mama Akira dan Ibu Yuki melangkah masuk dengan terburu-buru, diikuti oleh Yasiro, Nana, dan Ren kecil yang membawa sebuket bunga dan balon berwarna merah muda.

"Yuki!" seru Ibu Yuki seraya memeluk putrinya dengan kehati-hatian ekstra, air mata bahagia menetes melintasi pipi. "Terima kasih banyak ya, Sayang... Kamu sudah berjuang begitu luar biasa."

Nana langsung menghampiri boks bayi, menutupi mulutnya dengan kedua tangan karena tak sanggup menahan gemas. "Ya ampun, Akira, Yuki... Dia cantik banget! Pipinya merah, bulu matanya lentik persis Yuki!"

Yasiro menepuk bahu Akira dengan keras, tertawa bangga seraya merangkul sahabatnya itu. "Selamat, Bro! Akhirnya resmi jadi Girl Dad! Siap-siap saja ya, Profesor dingin bakal dibuat berlutut sama putri kecilnya sendiri nanti!"

Ren kecil berjingjit di samping boks bayi, matanya yang bulat menatap sosok mungil di dalamnya dengan rasa takjub yang polos. "Papa... adik bayinya kecil banget, kayak boneka," cicit Ren pelan, membuat semua orang di ruangan itu tertawa hangat.

Mama Akira mengusap lembut kepala cucu pertamanya, lalu menoleh ke arah Akira dan Yuki. "Jadi... siapa nama putri cantik kalian ini, Nak?"

Akira melangkah mendekat ke samping ranjang Yuki, meraih jemari istrinya dan menggenggamnya erat. Yuki mendongak menatap suaminya dengan senyuman yang sangat manis, mengangguk pelan memberi isyarat.

"Nama putri kami adalah Sena Riyuma," ucap Akira mantap dengan suara dalam yang sarat akan makna mendalam.

"Sena Riyuma..." ulang Nana pelan, meresapi keindahan nama tersebut. "Nama yang indah sekali. Apa artinya, Akira?"

Akira menatap lembut putri kecilnya yang kini mulai menggeliat halus. "Sena berarti kilau cahaya atau berkah yang membimbing dalam kegelapan, sedangkan Riyuma bermakna kebenaran dan keindahan yang bertumbuh dengan jujur. Kami berharap Sena akan tumbuh menjadi putri yang tidak hanya cantik, tetapi juga menjadi cahaya kebahagiaan dan penuntun kebaikan bagi semua orang di sekitarnya."

Ibu Yuki dan Mama Akira mengusap air mata haru mereka mendengar penjelasan tulus dari Akira.

"Sena... Halo, Sena-chan," sapa Ren polos sambil melambaikan tangan kecilnya di depan boks bayi. Seolah mendengar sapaan itu, bibir mungil Sena Riyuma tersenyum tipis dalam tidurnya.

Canda tawa, pelukan hangat, dan kebahagiaan yang meluap-luap memenuhi seluruh sudut ruangan pagi itu. Dengan hadirnya Sena Riyuma di tengah-tengah mereka, sebuah babak kehidupan baru yang penuh dengan cinta, tawa, dan kehangatan resmi dimulai untuk keluarga kecil Akira dan Yuki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!