menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.
akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.
apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JARAK YANG MULAI TERBAYANG
Pagi itu, sebelum melangkah keluar dari kamarnya, Akira berdiri terpaku di depan meja belajar. Di atas permukaan kayu yang dingin itu, terbaring sebundel dokumen tebal yang sejak kemarin menyita seluruh pikirannya: formulir penerimaan beasiswa luar negeri.
Setelah mempertimbangkan segalanya dengan matang memikirkan masa depannya dan merenungkan kembali nasihat penuh hangat dari sang ibu tadi malam Akira akhirnya mengambil keputusan yang sangat sulit. Ia mantap untuk menerima tawaran tersebut.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Akira mengisi bagian demi bagian formulir itu. Kini, hanya tersisa satu hal di lembar terakhir: tanda tangan persetujuan dari orang tua.
Akira membawa map tersebut turun ke lantai bawah. Di dapur, ibunya sedang menyiapkan sarapan. Akira mendekat, lalu mengutarakan keputusannya dengan mantap bahwa ia akan mengambil kesempatan besar ini.
Mendengar hal itu, senyum haru langsung terukir di wajah sang ibu. Air mata kebahagiaan tak terbendung menetes menyusuri pipinya. Ia begitu bangga pada Akira. Tanpa ragu, sang ibu menandatangani lembar persetujuan tersebut dan menyerahkannya kembali kepada Akira. Akira memasukkan seluruh berkas yang telah lengkap itu ke dalam map besar, lalu bergegas berangkat ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, langkah pertama Akira bukan menuju kelasnya, melainkan ke ruang guru. Ia menemui wali kelasnya dan menyerahkan seluruh berkas pendaftaran beasiswa. Wali kelasnya tersenyum lebar, merasa bangga dan sangat senang atas keputusan yang diambil oleh murid berprestasinya itu.
Namun, beban di dada Akira tidak lantas terangkat. Sepanjang hari di sekolah, Akira terus mengabaikan Yuki. Setiap kali ada kesempatan untuk bertemu, Akira memilih untuk menghindar. Rasa bersalah yang teramat besar menyiksanya; ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara menyampaikan kabar perpisahan ini kepada gadis yang sangat dicintainya.
Saat mereka tak sengaja berpapasan di koridor sekolah, Yuki tersenyum dan hendak menyapanya. Namun, Akira berpura-pura sibuk. "Maaf, Yuki, aku ada urusan sebentar," potong Akira cepat sebelum Yuki sempat bersuara, lalu berjalan terburu-buru meninggalkannya.
Yuki berdiri terpaku di koridor. Hatinya diliputi kebingungan dan rasa sesak. Ia mencoba mengingat-ingat kembali, yakin betul bahwa ia tidak melakukan kesalahan apa pun yang bisa membuat Akira mendadak dingin lagi.
Kembali ke kelas, Yuki menceritakan perubahan sikap Akira kepada Nana. Namun, Nana yang tidak tahu-menahu mengenai masalah Akira hanya bisa memberikan dorongan semangat tanpa mampu memberikan solusi.
Melihat Yuki yang tampak lesu dan bingung, Najime berjalan menghampirinya. "Tadi aku melihat Akira keluar dari ruang guru dengan wajah yang agak lesu," ujar Najime pelan. "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi sebaiknya kamu tanyakan langsung padanya."
Kata-kata Najime membuat Yuki makin terdiam. Mengapa Akira dipanggil ke ruang guru? Mengapa raut wajahnya begitu berat?
Saat bel pulang sekolah berbunyi, Yuki tidak langsung pulang. Ia berdiri di depan gerbang sekolah, menanti Akira. Satu per satu siswa berjalan melewatinya, hingga suasana sekolah perlahan mulai sepi, tetapi sosok Akira tak kunjung muncul.
Tak lama kemudian, Akira akhirnya berjalan melintasi gerbang. Saat melihat Yuki, Akira refleks hendak berbalik dan menghindar lagi. Namun kali ini, Yuki tidak membiarkannya lepas. Tanpa berpikir panjang, Yuki berlari maju, langsung menarik kuat tangan Akira, dan membawanya menuju salah satu bangku taman sekolah yang sepi.
"Akira, sebenarnya ada apa?" desak Yuki. Suaranya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis. "Kenapa kamu dipanggil ke ruang guru? Dan kenapa kamu terus-terusan menghindariku?"
Melihat mata Yuki yang sudah basah oleh air mata dan dipenuhi rasa sakit, pertahanan Akira runtuh seketika. Ia tidak tega lagi terus-menerus melukai perasaan gadis di hadapannya.
Akira menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Kemarin aku dipanggil ke ruang guru... Di sana ada wali kelas dan kepala sekolah. Mereka menawarkan sesuatu padaku."
"Sesuatu apa, Akira? Katakan semuanya! Jangan setengah-setengah!" potong Yuki dengan suara terisak, memohon kejujuran.
Akira menatap lurus ke dalam manik mata Yuki yang berkaca-kaca. "Aku... mendapatkan penawaran beasiswa ke luar negeri. Aku sudah membicarakannya dengan ibuku dan beliau sangat mendukungnya. Awalnya aku ragu, tapi setelah memikirkannya baik-baik, aku akhirnya memutuskan untuk menerima beasiswa itu."
Kata-kata itu terucap dari bibir Akira bagai petir di siang bolong. Yuki seketika membeku. Dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar. Kenyataan bahwa mereka akan terpisah oleh jarak yang sangat jauh menghantam dadanya begitu keras, dan tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah seketika.
Yuki tidak lagi sanggup menahan rasa sesak yang menghujam dadanya. Bahunya berguncang hebat, dan isakan pelan yang sangat memilukan terdengar memecah keheningan sore di sudut sekolah itu. Setiap tetes air mata yang jatuh melintasi pipinya seolah menjadi cermin dari keputusasaan yang tiba-tiba datang menghampiri.
"Luar negeri...?" bisik Yuki di sela isakannya. Suaranya terdengar begitu rapuh, hampir tenggelam oleh hembusan angin sore. Ia mendongak, berusaha mencari kebohongan atau candaan di mata Akira, tetapi yang ditemukannya hanyalah keseriusan dan penyesalan yang mendalam. "Kenapa... kenapa baru bilang sekarang, Akira? Kenapa kamu menyembunyikan hal sebesar ini dariku?"
Akira mematung di tempatnya berdiri. Melihat gadis yang sangat dicintainya menangis sesenggukan karena keputusannya sendiri membuat dadanya terasa teremas.
"Maafkan aku, Yuki," tutur Akira lirih, suaranya parau menahan emosi yang bergolak di tenggorokannya. "Aku sangat takut. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya padamu tanpa membuatmu terluka seperti ini. Setiap kali aku melihat wajahmu, membayangkan kita harus terpisah ribuan kilometer... aku merasa seperti orang jahat."
"Tapi dengan diam dan menghindariku seharian ini, kamu justru membuatku jauh lebih sakit!" potong Yuki dengan nada tinggi yang bergetar. "Kemarin... kemarin sore kita baru saja saling jujur tentang perasaan kita di taman. Aku merasa menjadi orang paling bahagia di dunia karena akhirnya aku tahu kamu membalas perasaanku. Tapi kenapa hanya dalam hitungan jam, kamu mendadak melempar kenyataan kalau kamu akan pergi jauh?"
Akira menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Aku tahu aku salah. Aku pengecut karena memilih lari dan bersembunyi di balik kesibukanku. Tapi percaya padaku, Yuki, keputusan ini sama sekali tidak mudah bagiku. Semalaman aku tidak bisa tidur. Aku menatap surat beasiswa itu berjam-jam, memikirkan apakah aku harus melepas pendaftaran ini demi tetap berada di sisimu."
Yuki menyapu air matanya kasar menggunakan punggung tangannya. "Lalu kenapa kamu tetap mengambilnya? Kalau itu begitu sulit bagimu, kenapa kamu tidak membicarakannya dulu denganku sebelum kamu menyerahkan berkas itu ke ruang guru?"
"Karena ini demi masa depan kita, Yuki," jawab Akira pelan namun jujur. Ia akhirnya memberanikan diri menatap Yuki kembali. "Ibu sangat mengharapkan kesempatan ini. Beliau sudah bekerja keras, dan saat melihat beliau menangis haru saat menandatangani berkas itu pagi tadi, aku tahu aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Kalau aku menolaknya hanya karena takut berpisah, aku tahu aku akan menyesalinya di masa depan."
Kata-kata Akira menghantam Yuki bagai gelombang dingin. Kebenaran di balik ucapan Akira begitu telak hingga Yuki tak mampu menyanggahnya. Ia paham betul betapa gigihnya Akira dalam belajar, betapa besarnya rasa hormat Akira pada ibunya.
Keheningan kembali melingkupi mereka berdua. Angin sore berhembus sedikit lebih kencang, menerbangkan dedaunan kering di sekitar bangku taman. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan warna jingga kemerahan yang temaram.
"Berapa lama...?" tanya Yuki akhirnya, suaranya terdengar sangat lesu dan pasrah.
Akira menelan ludah sebelum menjawab, "Empat tahun. Program sarjana penuh."
"Empat tahun..." ulang Yuki pelan. "Negara mana?"
"Swiss," balas Akira pendek. "Pemberangkatan dilakukan dua bulan setelah kelulusan kita."
Yuki menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku, menatap langit sore yang perlahan menggelap. "Bagaimana dengan kita, Akira? Apakah... apakah ini artinya janji-janji kita akan berakhir?"
Jantung Akira berdegup kencang mendengar pertanyaan itu. Tanpa berpikir panjang lagi, ia melangkah mendekat dan langsung berlutut di depan bangku Yuki. Akira meraih kedua tangan Yuki yang dingin dan menggenggamnya erat-erat, menolak untuk melepaskannya.
"Tidak, Yuki. Tolong jangan katakan itu," tegas Akira, matanya memancarkan keseriusan yang luar biasa. "Aku mencintaimu. Perasaanku padamu tidak berubah sedikit pun, dan tidak akan berubah hanya karena jarak. Aku tahu ini akan sangat berat, tapi aku tidak mau kita menyerah sebelum mencoba."
Yuki menatap genggaman tangan Akira yang begitu hangat di tangannya.
"Aku janji akan selalu memberimu kabar, aku akan menemuimu setiap ada libur semester, dan aku akan bekerja keras agar bisa cepat menyelesaikan studiku," lanjut Akira dengan suara bergetar, memohon penuh harap. "Aku hanya butuh kamu mempercayaiku, Yuki. Bisakah kamu menungguku? Aku sudah berjanji kepada mu aku akan menjadi seseorang yang layak berada di samping mu."
Yuki menatap mata Akira yang kini dipenuhi binar keputusasaan dan cinta yang mendalam. Isakan Yuki perlahan mulai mereda, berganti dengan helaan napas panjang yang sarat akan beban berat.
Yuki tidak langsung menjawab. Ia meremas balik tangan Akira yang menggenggamnya erat, membiarkan keheningan sore menjadi saksi awal dari perjuangan berat yang harus mereka hadapi bersama.