Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wirly Pena

perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kesempatan

Terdengar suara adzan subuh berkumandang. Aku perlahan membuka mataku. Ternyata semalam aku tertidur di kamar anak-anak.

Kepala ku masih terasa berat dan sedikit pusing. Mungkin karena aku terlalu banyak menangis.

Aku segera bangkit perlahan dari tidurku. Lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

Saat air dingin menyentuh wajahku, entah kenapa terasa begitu menenangkan.

Selesai berwudu, aku kembali kekamar lalu memakai mukena. Ku gelar sajadahku. Kemudian aku menunaikan ibadah sholat dengan kusyuk.

Dalam sujud terakhir, pertahananku kembali runtuh. Aku menangis lagi. Akan kuceritakan semua lelahku, sakitku, kecewaku kepada Sang Pencipta.

"Ya Allah, aku merasa sudah terlalu lelah. Kalau memang aku salah, tunjukkan lah kesalahanku. Kalau aku harus berubah, aku mohon berikan aku kekuatan. Aku hanya ingin rumah tanggaku menjadi tempat untuk pulang yang menenangkan." Doaku kepada Sang Pemilik segalanya.

Setelah perasaan ku mulai kembali tenang. Aku segera bangkit, karena hari sudah mulai terang. Seperti biasa, aku tetap melakukan aktifitasku yang aku lakukan setiap hari. Kembali kedapur untuk menyiapkan sarapan untuk keluargaku.

Aku ingin melupakan kejadian semalam seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Saat aku sedang sibuk mencuci piring, terdengar suara langkah kaki yang berjalan ke arahku. Aku mengenali suara itu, suara langkah kaki Mas Rama. Aku pura-pura tidak tau, aku tetap sibuk mencuci piring. Namun beberapa detik kemudian, Mas Rama berdiri di sampingku.

"Jasmine.. Aku hanya ingin mengatakan kepadamu. Kalau kamu tidak bisa berubah dan intropeksi diri, lebih baik kamu angkat kaki sekarang juga dari rumah ini. Karena kamu sudah bersikap kurang ajar terhadap suami dan ibu mertuamu. Semalam untung Ibuku mengatakan kalau ternyata kamu sudah bersikap kurang ajar kepada beliau." Ucap Mas Rama.

Mataku terpejam. aku menarik napas panjang. Sebenarnya aku sudah tidak mau membahas tentang hal ini lagi. Tapi Mas Rama masih terus saja menyalahkanku. Ku hentikan aktifitasku. Ku arahkan tubuhku menghadap Mas Rama. Aku menatapnya tajam.

"Sepertinya aku selalu salah dimatamu, Mas. Meskipun aku bersikap benar pun, aku yakin Mas Rama akan tetap menyalahkanku. Kalau Mas ingin aku intropeksi diri, seharusnya Mas juga melakukan hal yang sama. Mas harus bisa berpikir apakah Mas sudah menjadi suami dan Ayah yang baik untuk istri dan anak-anakmu. Mas jangan hanya menuntut aku berubah. Tapi coba mas melihat diri sendiri."

Mas Rama menatap tajam ke arahku, terlihat raut wajahnya langsung berubah menahan emosi. Aku sadar kalau perkataanku pasti akan membuatnya marah. Tapi kali ini aku sudah tidak bisa bersabar lagi. Aku melanjutkan ucapanku yang belum ku keluarkan semua.

"Selama ini aku hanya diam,Mas . Selama ini aku hanya bisa mengalah. Karena aku ingi mengejar surga dan ingin rumah tanggaku tetap utuh. Tapi aku hanya manusia biasa. Aku punya hati, aku punya perasaan. Aku punya batas kesabaran. Dan sekarang, Mas Rama sudah keterlaluan. Kalau aku tidak memikirkan Aldi dan juga Aira, mungkin aku sudah meninggalkan mu dari dulu. Mas Rama hanya menganggap ku seorang babu, bukan sebagai seorang istri. Aku memang ingin menjadi istri yang baik, tapi bukan berarti membiarkan diriku terus diinjak-injak."

Suara ku terdengar lantang. Entah dari mana rasa keberanianku muncul. Setidaknya aku tidak mau terus membohongi diriku sendiri. Aku bukan babu, aku seorang istri. Aku berhak di hargai.

"Sekarang aku benar-benar sudah muak denganmu, Jasmine. Terserah kamu mau bagaimana sekarang. Aku sudah tidak peduli. Istri macam apa kamu ini. Semakin tidak berguna." Ucapnya, Suaranya terdengar keras.

Setelah berbicara seperti itu Mas Rama langsung pergi meninggalkanku. Aku hanya diam berdiri mematung. Untuk kesekian kalinya ada rasa lega, namum ada rasa sedikit penyesalan. Niatku ingin mempertahankan rumah tangga, tapi malah yang aku perbuat semakin memperkeruh keadaan.

Tanpa berpikir panjang aku mengejar Mas Rama. Entah kenapa hatiku di liputi rasa bersalah. Kata-kataku mungkin terlalu keras. Bagaimanapun aku masih mencintai Mas Rama, aku tidak ingin kehilangan rumah tanggaku.

Ketika sampai dikamar, kulihat Mas Rama sedang duduk di tepi tempat tidur. Tangannya tampak sibuk memainkan ponsel. Aku berjalan mendekat ke arahnya.

"Mas Rama, setidaknya ayo kita berbicara secara baik-baik. Kita bisa selesaikan ini dengan kepala dingin." Ucapku lirih.

"Sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan. Sudah cukup, Jasmine. Bagi ku, kamu itu sudah tidak layak di sebut sebagai seorang istri yang baik. Bukan hanya kepada kau bersikap kurang ajar, tapi kau sudah menyakiti hati Ibuku." Ucap Mas Rama sambil menatapku dingin.

"Aku khilaf, Mas. Aku minta maaf. Aku mohon maafkan aku." Ucapku dengan suara bergetar.

Mas Rama berdiri dari duduk nya , ia ingin melangkah pergi. Namun, langsung kuraih lengannya. Tanpa sadar, aku langsung duduk bersimpuh di hadapan Suamiku. Air mataku mulai mengalir.

"Mas aku mohon maafkan aku. Jangan hancurkan keluarga kita, kasian Aldi dan Aira. Aku akan mencoba memperbaiki semuanya." Ucapku.

Suaraku pecah. Aku rela merendahkan diriku saat ini. Aku begitu takut kehilangan keluargaku. Aku tidak mau kedua anakku harus menerima kenyataan bahwa kedua orangtuanya tidak lagi bersama.

"Sebenarnya aku sudah muak denganmu, Jasmine. Tapi baiklah, aku masih berbaik hati kepadamu. Aku akan memberikanmu kesempatan. Manfaat kan sebaik mungkin kesempatan yang sudah aku berikan ini. Jangan sampai aku menjatuhkan talak kedua kepadamu. Aku tidak main-main, Jasmine." Ucap Mas Rama yang langsung menghempaskan tanganku, kemudian berlalu pergi meninggalkanku.

Air mataku mengalir deras tanpa bisa kuhentikan. Mas Rama memberikan ku kesempatan. Kata itu harus nya bisa membuat hatiku merasa lega. Tapi entah kenapa, kata itu terdengar seperti sebuah hukuman.

Tak berapa lama, Ibu mertuaku datang. Tatapannya langsung tertuju kepadaku yang masih duduk bersimpuh di lantai.

"Jasmine...Jasmine. Sungguh kasian sekali nasibmu. Sepertinya memang kamu tidak pernah di ajarkan orang tuamu bagaimana menjadi istri yang baik. Kalau Ibu jadi Rama, pasti Ibu sudah menceraikanmu. Dari pada kamu terus membuat dosa kepada suamimu, lebih baik kamu pulang saja ke rumah orang tuamu. Ibu yakin, Rama pasti mau memulangkanmu. Karena disini pun kamu sudah tidak berguna." Ucap Ibu mertuaku panjang lebar.

Mendengar ucapan Ibu mertuaku, perasaanku menjadi semakin cemas . Aku takut jika benar Mas Rama menceraikanku, apa yang harus aku lakukan. Bagaimana nasib aldi dan Aira. Aku tidak punya penghasilan sendiri. Bahkan aku tidak tau harus memulai dari mana, jika suatu hari aku harus berdiri sendiri.

...****************...

Terimakasih sudah membaca..

Maaf jika ada banyak kesalahan dalam penulisan 🙏

Jangan lupa follow, yaa

1
partini
habis masuk lobang si jalang masuk lobang istri,,apa ga takut jas banyak penyakit takut kena penyakit kelamin
Wirly Pena: Ikuti terus episode selanjutnya ya kak 😄
total 1 replies
Anonim
Lemah banget jadi cewe ,
Wirly Pena: jangan lupa, ikutin terus ceritanya, ya kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!