Dikhianati oleh murid kepercayaannya saat mencoba menerobos batas keabadian, Kaisar Dewa Ye Xuan mati dan jiwanya terlempar melewati sungai waktu. Tiga ribu tahun kemudian, ia terbangun di tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama—seorang "sampah" tanpa meridian kultivasi di kota terpencil. Dengan ingatan masa lalunya dan teknik terlarang Seni Sembilan Reinkarnasi Naga, Ye Xuan memulai kembali perjalanannya dari bawah untuk membelah langit, menginjak-injak para jenius sombong, dan menuntut darah dari mereka yang mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Kabut kelabu Puncak Makam Pedang menyambut kedatangan Ye Xuan layaknya tirai yang memisahkan dunia fana dari alam kematian. Begitu ia melangkah melewati perbatasan Zona Tengah dan memastikan tidak ada satu pun mata yang memperhatikannya, langkah santainya yang mengintimidasi mendadak terhenti.
Ye Xuan menancapkan Pedang Besi Bintang ke tanah untuk menopang tubuhnya.
Uhuk!
Mantan Kaisar Dewa itu memuntahkan seteguk darah berwarna merah kehitaman yang langsung mendidihkan bebatuan di bawah kakinya. Wajahnya yang sebelumnya setenang air telaga, kini seputih kertas. Retakan halus di lengan kanannya yang terkena benturan langsung tadi mulai merembeskan darah dengan lebih deras, memperlihatkan jaringan otot yang berkedut kesakitan.
"Kekuatan Alam Inti Emas... meskipun hanya sekilas, fondasi fana ini benar-benar tidak sanggup menelannya mentah-mentah," gumam Ye Xuan dengan napas sedikit tersengal.
Ia duduk bersila di tengah badai pedang, mengabaikan angin tajam yang menyapu wajahnya. Kesadarannya langsung menyelam ke dalam tubuh. Kondisinya jauh dari kata baik.
Meskipun Tubuh Fisik Tirani Naga berhasil mencegah tulangnya remuk, gelombang kejut dari Qi Inti Emas milik Zhao Ying telah menyusup ke dalam organ dalamnya. Sembilan meridian utama yang baru saja ia bangun susah payah kini dipenuhi retakan rambut. Dantiannya bergejolak hebat, dan benih Qi Naga Primordial tampak meredup karena kehabisan tenaga untuk menahan invasi energi luar.
Inilah harga yang harus dibayar. Melompati dua ranah besar—dari Alam Kondensasi Qi hingga menahan serangan Alam Inti Emas—adalah tindakan yang melanggar hukum alam semesta. Jika Zhao Ying menggunakan lima puluh persen lebih kekuatannya, Ye Xuan terpaksa harus membakar esensi jiwanya, sebuah langkah putus asa yang akan mematikan potensinya seumur hidup.
"Aku terlalu memaksakan diri," Ye Xuan tertawa sumbang, mengejek dirinya sendiri. "Kalkulasiku masih didasarkan pada ketahanan Tubuh Dewa masa laluku. Wadah fana ini hanyalah sebuah cangkir retak; menuangkan lautan ke dalamnya hanya akan menghancurkannya."
Ye Xuan menutup matanya. Selama tiga hari tiga malam berturut-turut, ia tidak bergeser satu inci pun dari posisinya. Ia menggunakan esensi dari Rumput Tulang Pedang yang ia rampas dari Zhao Ming dan sisa-sisa Pil Pemulihan Qi tingkat rendah untuk menstabilkan luka dalamnya.
Badai elemen logam di Puncak Makam Pedang, yang sebelumnya menjadi alat penempaan, kini justru memperparah rasa sakit di meridiannya. Tubuhnya kelebihan energi Yang (panas/keras) dan elemen logam. Untuk memperbaiki retakan di meridiannya dan menyeimbangkan kultivasinya, ia tidak lagi membutuhkan tempaan brutal, melainkan energi Yin (dingin/lembut) atau elemen kayu dan air murni untuk merekatkan kembali fondasinya.
Pada fajar hari keempat, Ye Xuan akhirnya membuka mata. Luka luarnya telah mengering, namun luka dalamnya menahan kultivasinya agar tidak bisa naik satu tingkat pun dari Bintang Enam. Jika ia memaksakan diri menyerap Qi sekarang, meridiannya akan meledak.
"Sudah saatnya menagih janji sang Patriark."
Ye Xuan bangkit perlahan. Ia tidak membawa Pedang Besi Bintang, membiarkannya tertancap di Zona Tengah gunung. Dengan jubah biru luar yang masih sedikit koyak, ia berjalan menuruni Puncak Makam Pedang menuju pusat jantung sekte—Paviliun Pusaka.
Paviliun Pusaka Sekte Pedang Azure adalah bangunan raksasa berbentuk pagoda sembilan tingkat yang memancarkan pendaran cahaya spiritual hijau zamrud. Tempat ini dijaga ketat oleh formasi perlindungan tingkat tinggi dan para murid inti yang berpatroli bergantian.
Kehadiran Ye Xuan di pelataran paviliun segera mengundang tatapan waspada dan penuh bisik-bisik dari para murid yang berlalu-lalang. Kabar tentang pemuda Bintang Enam yang menahan serangan Penatua Zhao Ying telah menyebar seperti api liar, mengubahnya menjadi sosok legenda hidup sekaligus monster yang ditakuti.
Ye Xuan mengabaikan tatapan mereka dan melangkah langsung ke pintu utama. Di sana, seorang pria tua kurus berpakaian abu-abu sedang duduk tertidur di kursi rotan, memegang sapu lidi yang sudah botak.
Namun, Ye Xuan tahu, pria tua ini adalah seorang ahli Alam Jiwa Baru Lahir yang menyembunyikan kekuatannya—tetua pelindung sejati paviliun ini.
Saat Ye Xuan berjarak tiga langkah, pria tua itu membuka satu matanya yang keruh.
"Murid luar tidak diizinkan masuk ke Paviliun Pusaka, apalagi tanpa didampingi penatua pembimbing," suara pria tua itu terdengar serak, namun mengandung getaran yang membuat udara di sekitar Ye Xuan menjadi berat.
Tanpa banyak bicara, Ye Xuan mengeluarkan Medali Ungu Keemasan yang diberikan oleh Patriark dan melemparkannya santai ke pangkuan pria tua tersebut.
Mata keruh pria tua itu seketika membelalak. Ia buru-buru duduk tegak, memeriksa medali itu dengan saksama. "Pengecualian Sekte... Medali Akses Mutlak?"
Pria tua itu mendongak menatap Ye Xuan. Tatapannya menajam, seolah memindai seluruh tubuh pemuda itu. Sesaat kemudian, sudut bibir pria tua itu melengkung membentuk senyum penuh arti.
"Jadi kau adalah monster kecil dari Kota Awan Merah yang membuat Zhao Ying kehilangan muka," kekeh sang tetua, melemparkan kembali medali itu kepada Ye Xuan. "Banyak yang mengira kau kebal senjata tajam dan memiliki fisik abadi. Namun mataku yang tua ini melihat meridian yang retak parah dan fondasi yang nyaris runtuh. Kau menahan rasa sakit yang akan membuat kultivator Pembentukan Fondasi menjerit bunuh diri. Nyalimu benar-benar sebesar langit, Anak Muda."
Ye Xuan menyimpan medalinya tanpa membantah. "Mata Senior cukup tajam. Karena itulah aku di sini. Untuk memperbaiki cangkir yang retak."
Tetua itu tertawa pelan, menyingkir dari pintu. "Masuklah. Lantai satu hingga enam berisi teknik bela diri dan senjata tingkat fana hingga tingkat bumi. Lantai tujuh dan delapan berisi pil dan material langka. Lantai sembilan... kurasa kau belum butuh melihatnya. Pilihlah dengan bijak, Patriark hanya mengizinkanmu mengambil maksimal tiga barang."
Ye Xuan mengangguk singkat lalu melangkah masuk ke dalam pagoda.
Ia langsung mengabaikan lantai satu hingga enam. Teknik bela diri? Tidak ada teknik di dunia bawah ini yang bisa melampaui ingatannya. Senjata? Pedang Besi Bintang Jatuh yang ia temukan jauh lebih berharga dari semua artefak di lantai bawah ini.
Langkahnya stabil menuju lantai tujuh—ruang material dan herbal langka.
Berbeda dengan lantai bawah yang ramai, lantai tujuh sangat sunyi. Udara dipenuhi aroma obat yang sangat pekat. Berbagai kotak giok melayang di udara, dilindungi oleh gelembung formasi.
Ye Xuan berjalan menyusuri rak-rak tersebut. Ia melihat Pil Pengumpul Fondasi tingkat menengah, Ginseng Darah Seribu Tahun, dan Buah Api Surgawi. Semuanya adalah harta karun yang akan memicu pertumpahan darah di dunia luar. Namun, Ye Xuan hanya meliriknya sekilas dan melewatinya. Tubuhnya saat ini tidak membutuhkan suplemen penambah Qi brutal semacam itu.
Langkahnya terhenti di sudut paling gelap dan berdebu di lantai tujuh. Di sana, terdapat sebuah meja batu berisi barang-barang yang tidak bisa diidentifikasi oleh para alkemis sekte, dilabeli sebagai "Material Tak Dikenal".
Pandangan Ye Xuan terkunci pada sebuah bongkahan hitam berlendir seukuran kepalan tangan. Benda itu terlihat seperti batu lumpur busuk dan memancarkan hawa dingin yang agak tidak nyaman.
"Mereka mengklasifikasikan ini sebagai sampah?" Ye Xuan menggelengkan kepalanya pelan. "Benar-benar sekumpulan orang buta."
Dengan Medali Ungu Keemasannya, ia menonaktifkan formasi di sekitar batu tersebut dan mengambilnya. Hawa dingin yang menusuk tulang langsung meresap ke kulit telapak tangannya, namun Ye Xuan justru mendesah lega.
Ini bukan batu lumpur. Ini adalah getah fosil dari Pohon Bintang Dingin yang telah membeku selama ribuan tahun, sebuah pusaka elemen air dan Yin tingkat bumi kelas atas. Di mata alkemis biasa, ini hanyalah benda beracun yang membekukan aliran Qi. Namun di tangan pemilik Seni Sembilan Reinkarnasi Naga, benda ini adalah lem paling sempurna untuk menyatukan kembali meridian yang retak akibat luapan elemen Yang.
"Dengan ini, aku tidak hanya bisa memperbaiki retakan meridianku, tapi juga menyelaraskan fondasi Qi Naga Primordial agar tubuh fana ini tidak hancur saat menembus Alam Pembentukan Fondasi," kalkulasi Ye Xuan.
Ia tidak serakah. Ia tahu tubuhnya hanya sanggup memproses satu material sekuat ini dalam sebulan ke depan. Mengambil lebih banyak barang hanya akan menarik perhatian tak perlu dari para tetua lain yang sedang mengawasinya dalam bayang-bayang.
Ye Xuan berbalik dan berjalan keluar dari Paviliun Pusaka, hanya membawa satu bongkahan hitam busuk di tangannya. Saat pria tua penjaga pintu melihat barang yang diambil Ye Xuan, alisnya berkerut bingung, namun ia tidak bertanya apa-apa.
Melangkah kembali ke udara luar, Ye Xuan menatap langit sekte yang cerah. Ambisinya untuk segera menginjak-injak seluruh jenius sekte harus ditahan sejenak. Sang kaisar harus menelan keangkuhannya untuk sementara waktu, menutup diri, dan memperbaiki fondasinya.
"Biarkan anjing-anjing itu mengira aku terluka parah dan bersembunyi ketakutan," gumam Ye Xuan tersenyum tipis. "Saat cangkir fana ini telah kutambal sempurna... aku akan menelan seluruh lautan sekte ini tanpa menyisakan setetes pun."
meLawan maka akan ada patriark yang baru
preeeeeetttttttt