Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).
Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.
Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Dunia Vanessa runtuh seketika usai menyaksikan konferensi pers megah tersebut. Panik setengah mati karena bayang-bayang penjara kembali mengintai, ia bertindak makin nekat dan kehilangan akal sehat. Lewat telepon, Vanessa menghubungi salah satu oknum bawahan ayahnya yang biasa mengeksekusi bisnis kotor. Dengan nada gemetar dan penuh desakan, ia memerintahkan orang tersebut untuk melonggarkan dan memutuskan saluran rem mobil SUV hitam milik Barra yang terparkir di area privat apartemen. Bagi Vanessa, jika ia harus hancur, maka Barra dan Farra juga harus tiada.
Usai memberikan perintah keji itu, Vanessa bergegas mengemas paspor dan barang-barang berharganya, berniat kabur ke luar negeri sebelum jejaknya terdeteksi. Namun, takdir berkata lain. Baru saja langkah kakinya menyentuh aula bandara internasional, sejumlah petugas kepolisian berpakaian preman bersama tim hukum Saputra Corp sudah berdiri menghadangnya. Tanpa perlawanan, Vanessa langsung diborgol dan diseret ke kantor polisi atas tuduhan melapis pencemaran nama baik, konspirasi kejahatan, dan percobaan pembunuhan.
Sayangnya, kabar penangkapan itu terlambat sampai ke telinga Barra dan Farra. Sore itu, tanpa menyadari bahaya maut yang telah mengintai mobil mereka, Barra mengajak Farra pergi berkencan untuk merayakan bersihnya nama baik sang istri. Senyum manis menghiasi wajah Farra sepanjang perjalanan, menikmati setiap momen bersama suami tercintanya.
Petaka terjadi saat mobil mereka melaju di jalanan menurun menuju arah tempat kencan. Barra yang hendak memperlambat laju kendaraan mendadak tersentak saat pijakan remnya blong total dan tak merespons sama sekali.
"Farra, pegangan erat-erat!" teriak Barra panik, mencoba mengendalikan kemudi yang liar sembari menarik rem tangan, namun laju SUV tersebut sudah terlalu kencang.
Melihat sebuah truk besar dari arah berlawanan dan pembatas jalan yang kian dekat, insting protektif Barra bekerja kilat. Tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri, Barra memutar kemudi sekuat tenaga agar bagian kanan mobil yang paling parah menghantam benturan, sementara posisi duduk Farra terlindungi sepenuhnya.
BRAKKK!
Dentuman keras bergema. SUV hitam itu terguling menghantam pembatas jalan. Farra yang dilindungi dekapan erat dan dekapan tubuh Barra hanya mengalami luka gores ringan serta syok berat. Namun, Barra terkulai tak berdaya dengan tubuh bersimbah darah, menjadi benteng hidup yang menahan seluruh benturan keras demi menyelamatkan istri dan calon anak kembar mereka.
Hari-hari berikutnya menjadi masa-masa paling kelam bagi Farra. Barra dilarikan ke rumah sakit milik keluarganya dan harus menjalani operasi besar akibat pendarahan hebat di kepala serta patah tulang, hingga akhirnya dinyatakan koma.
Berhari-hari lamanya, Farra tak pernah beranjak dari samping ranjang perawatan ICU. Dengan air mata yang terus menetes membasahi pipinya yang pucat, Farra setia menggenggam jemari Barra yang dingin dan dipenuhi selang medis. Ia mengusap lembut jemari suaminya, lalu membawa tangan tegap itu untuk mengelus perutnya yang kian membuncit.
"Barra, bangun... Tolong bangun, Sayang," bisik Farra terisak pelan di tengah kesunyian ruang perawatan. "Si kembar di dalam sini nungguin Papanya... Aku nggak bisa kalau nggak ada kamu. Kamu udah janji mau jaga kita bertiga, kan? Jangan tidur lama-lama, Barra..."
Rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam menggerogoti hati Farra. Setiap detak monitor jantung Barra menjadi satu-satunya penopang harapannya, menantikan keajaiban agar sang suami kembali membuka mata dan merengkuhnya seperti sedia kala.
Farra yang saat itu sedang hamil tidak terlalu peduli akan kesehatan nya dan selalu disamping Barra, karena Farra takut, saat Barra bangun dia tidak ada di samping Barra.