“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”
Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.
Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbaring di atas kuburan : 32
“Jawab, Mbah!” tuntut wanita duduk di atas tanah berbatu kecil campur pasir. Perasaan Hamima berkecamuk, pikiran kacau. Dia mengkhawatirkan nasib Guntur dan Pujiara.
Kedua buah hati Hamima, tidak ada satupun yang terdengar suaranya. Entah sedang apa mereka di dalam sana. Baik-baik saja, atau sudah terjadi sesuatu.
Balita yang dipanggil Ayu, berlari menembus pohon Kamboja, kakinya tidak menjejak tanah.
Sebelum menabrak dinding kayu dapur simbah, ia memalingkan wajah, menatap sinis dengan sepasang mata kehilangan warna hitamnya.
“Ara, Pujiara!” belum juga mendengar jawaban mbah Nar, Hamima diserang rasa panik lebih besar lagi. Ia merangkak, hanya mampu bergerak sedikit. Badannya kembali lemas.
“Tenangkan dirimu kalau mau mendengar kisah silam!” mbah Nar mengusap noda darah di pipi menggunakan ujung kuntum bunga Kemuning.
Keanehan pun terjadi, bunga itu bersinar dan menyerap noda, membuat warna putihnya menjadi merah.
Hamima yang hanyalah wanita biasa, tentu ketakutan, ia nyaris sesak napas.
Simbah duduk di bangku kayu berhadapan dengan Mima yang masih berlutut di tanah.
Wanita anggun tetap di tempatnya, duduk bersandar pada pohon Kamboja.
“Rosna!” panggil mbah Nar.
Krieeettt ....
Huegg!
Perut Hamima bergejolak, bau amis kental menusuk hidung. 'Berasal dari mana bau menyengat ini?'
Tetangga yang dikenal ramah, penuh perhatian, kini terlihat berbeda. Kedua tangan Rosna mencengkram pinggiran wadah bulat terbuat dari batang kayu dibentuk mangkuk cekung.
“Rosna, anak-anakku baik-baik saja, kan? Guntur, Ara, gak kenapa-kenapa, kan?” Mima mengesot, berusaha meraih kaki wanita jauh berbeda auranya dari keseharian. Namun lagi-lagi hanya berhasil bergerak sedikit.
Sorot mata Rosna berkilat, senyum miringnya menakuti, dan dia berjalan melewati Hamima.
Tanpa melirik siapapun, enggan menjawab pertanyaan seorang ibu yang mencemaskan buah hatinya. Rosna terus maju, lalu berbelok ke sebuah makam paling pinggir.
Mangkuk dimiringkan, air yang tumpah dari wadah, disiram ke pinggiran gundukan tanah — Rosna berkeliling sampai bertemu tempat awal dia berdiri tadi.
Aroma beberapa jenis bunga bercampur dengan bau amis, menguar, menyatu dengan udara. Hamima kembali diserang rasa mual.
“Berbaringlah di atas kuburan itu!” kalimat mbah Nar bukan permintaan, namun titah mutlak.
Mima menggeleng keras, menolak langsung. “Nggak mau! Lepaskan kami, Mbah!”
Hamima meronta-ronta, padahal tidak ada yang menahan tubuhnya, tetapi dia merasa sesuatu tak kasat mata membelit bak rantai kuat.
“Penolakan barusan bisa membahayakan nyawa salah satu anakmu yang terancam mati!” ujar simbah, nada suaranya menggeram.
“Jangan celakai anak-anakku, Mbah! Mereka gak tau apa-apa!” jeritan Hamima hanya terdengar berupa bisikan, tidak sepadan dengan urat-urat leher menyembul saat dia berteriak.
“Terlambat Hamima! Beberapa kali Pujiara nyaris tewas, mirisnya kamu tidak tahu kejadiannya,” Rosna yang menjawab, tanpa menatap Mima.
Antara percaya dan sukar menerima, tetapi disaat kalut, dia masih bisa berpikir, mengingat kejanggalan demi keanehan yang menimpa putrinya.
“Pakaian kotor putrimu, luka gores pada telapak tangan, perut memar — itu ulah Ayu, putriku. Dia mengajak Pujiara menceburkan diri ke dalam sumur,” wanita berwajah pucat pun berbicara mengungkapkan fakta.
“Kenapa harus putriku? Dia masih bayi, gak tahu apa-apa?!” Mima tidak terima.
“Karena hari kelahirannya sama dengan hari kematian kami!” wanita yang tadi berbicara lemah lembut, kini memandang tajam.
“Kalau memang mau menyelamatkan nyawa putrimu. Jalan satu-satunya harus membebaskan sosok yang menghuni loteng hunianmu, Hamima!” mbah Nar berkata tegas.
“Sosok? Maksudnya orang atau apa?” sahutnya tersendat-sendat.
Rosna kehilangan rasa sabar, dia melangkah cepat, menarik kedua tangan Mima, menyeret badannya.
“Lepaskan, Rosna! Lepas!” pemberontakannya sama sekali tidak berarti.
Dalam keadaan panik badannya jadi lemas. Hamima diseret sampai berbaring di atas gundukan tanah berpatok batu nisan bertuliskan nama ‘Arwan Dana’.
Tubuh Hamima tak ada bergerak, hanya kedua bola mata yang bisa berkedip dan suara seperti desau angin.
Kedua tangannya terkulai di sisi badan, diatas batu kecil diambil dari dasar sungai.
“Tolong jangan lakukan ini! Aku mau hidup. Kasihanilah anak-anakku yang masih kecil, butuh ibunya!” air matanya mengalir dari sudut mata.
Dia tidak berdaya, bergerak pun susah. Badannya diikat kencang oleh sesuatu tak tampak.
Mbah Nar berdiri di belakang kepala wanita yang berbaring terlentang, mulutnya bergerak membaca mantra tidak dipahami oleh Hamima.
Rosna memandang lekat sang tetangga, ekspresi sukar ditebak. Dalam genggaman jari tangan kanan, terselip sebuah belati tembaga — ujungnya ternoda warna merah darah.
Sepasang manik Hamima perlahan sayu, dia tidak kuasa menahan kantuk yang datang menyerang.
Lambat laun tubuh kaku lemas, kelopak mata terpejam, dan semua kenangan masa kini terlupakan, pikirannya kosong.
Alam bawah sadarnya dibawah kendali mbah Nar, sukmanya menjelajahi masa silam, ke peristiwa sembilan tahun lalu.
.
.
Flashback.
Bagaikan sedang bermimpi, Hamima terlempar di tempat yang sama, tetapi waktu berbeda dan suasana jauh lebih sunyi.
Tidak ada rumah, hanya barisan kandang sapi, kambing, berjejer di bawah bukit yang dimasa depan berganti fungsi menjadi rumah tinggal Rosna dan tetangga lainnya.
Sore hari ini cuaca sedang mendung, awan hitam menggantung di langit, siap menumpahkan tetesan air ke bumi. Angin berhembus kencang menabrak ranting pohon, menjatuhkan dedaunan kering.
Hunian di atas bukit berdiri kokoh, warna catnya hijau mudah dengan kombinasi warna kayu.
Di teras, seorang wanita memakai dress vintage longgar, bagian lengan mengembang. Dia berdiri seraya mengelus perutnya yang terlihat sedikit membuncit.
“Mbak Arum, gak baik berdiri diluar disaat cuaca sepertinya mau badai,” gadis remaja memiliki kemiripan dengan wanita yang dipanggil Arum, keluar dari dalam rumah sambil menggendong balita berambut hitam lebat.
“Mbak nunggu mas mu pulang, Desita ....”
.
.
Bersambung.
emang laki plin-plan kaya kamu mah pantesnya di buang😂
siap2 galih kamu jadi dudah, eh tapi kan punya istri muda ya, pa dong panggilannya🤔
patut diganti 😆😆😆😆