Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.20 Mengumumkan perjodohan Ana dan Eldrick
Lagi-lagi Lily hanya tersenyum kecil.
Dia ingin tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
Lily berbalik.
Dia mulai mengambil makanan.
Lily menyantap makanan di hadapannya dengan santai.
Dia tidak tahu sampai kapan dia akan merasakan ketenangan itu.
Sementara Eldrick terus menoleh kepada sang istri. Pria itu terlihat begitu khawatir.
"Apa kamu baik-baik saja? "Grace menoleh kepada Lily.
"Aku baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir."Jawab Lily tersenyum kecil.
Jauh di dalam hatinya, Lily merasa begitu kesulitan .Lily berusaha bersikap tenang di hadapan sahabatnya.
"Nyonya Morley. Salah satu tamu undangan bertanya. Apa hubungan anda dengan keluarga Colins? Kami melihat kalian begitu akrab."
Semua para tamu undangan melihat ke arah panggung. Pertanyaan yang di ajukan oleh pembawa acara mewakili seluruh tamu undangan.
Termasuk dengan Lily dan Grace.
Tangan Lily perlahan-lahan meletakkan piringnya. Detak jantungnya berdetak tidak karuan.
Lily melihat nyonya Morley menoleh kepada Ana. Tatapan wanita tua itu menunjukkan segalanya.
"Kami seperti saudara. "
Semua tamu undangan bertepuk tangan.
Nyonya Morley mulai memegang tangan Ana.
"Aku ingin cucu nyonya Colins menjadi menantuku. Di hari spesial ku ini. Aku mengumumkan perjodohan Eldrick dan Ana."
Para tamu undangan saling memandang.
Tidak sedikit dari mereka yang terkejut dengan peryataan itu.
Lily yang berada di samping meja menghela nafas kasar.
Dia tidak menyangka akan melihat hal ini. Lily menoleh kepada suaminya. Begitu juga dengan Eldrick.
Eldrick melangkahkan kakinya mendekatinya. Lagi-lagi Lily menggelengkan kepalanya.
Melihat hal itu. Langkah Eldrick terhenti. Semua mata memandang ke arahnya. Hal itu yang membuat Lily menginginkan suaminya tetap di tempatnya.
Lily memandang suaminya sendu.
Mery sendiri mendekati putranya. Dia menyadari sikap putranya.
"Jangan membuat keributan Eldrick."Bisik Mery.
Eldrick menoleh kepada mamahnya. Melihat tatapan sendu mamahnya. Eldrick tidak berdaya.
Di atas panggung Ana dan mamahnya tersenyum puas. Mereka sangat yakin jika Eldrick akan menikah dengan Ana.
"Sejak kapan anda rencanakan perjodohan ini?"Pembawa acara kembali bertanya.
"Aku dan nyonya Colins sudah lama merencanakan hal ini. Kami tidak ingin hubungan kami terputus sampai kami meninggal. Maka dari itu kami ingin cucu kami menikah."Ujar nyonya Morley.
Semua para tamu undangan setuju dengan nyonya Morley. Menjaga hubungan sangat baik.
Melihat tanggapan orang-orang membuat nyonya Morley tenang.
Dia menoleh kepada cucunya.
Nyonya Morley bisa merasakan tatapan dingin cucunya. Meski begitu nyonya Morley tidak peduli. Justru wanita tua itu terlihat menantang cucunya.
Nyonya Morley tersenyum menatap ke arah Eldrick. Melihat tatapan neneknya. Tangan Eldrick mengepal kuat, Wajahnya memerah. Terlihat jelas jika pria itu sedang berusaha mengendalikan dirinya.
Alex mendekat.
Dia menepuk pundak saudaranya.
"Jangan melawannya di depan umum. Aku berpihak kepada mu."Ujar Alex tersenyum kecil.
Eldrick tidak menanggapi ucapan Alex.
Tapi pria itu memilih tidak menanggapi neneknya. Itu artinya dia mendengarkan ucapan adiknya.
Di sisi lain, nyonya Morley memanfaat situasi ini untuk menekan Eldrick.
"Eldrick, kemarilah nak. Nenek yakin jika kamu mau mendengar nenek. Nenek sama sekali tidak memandang status. Hanya saja nenek ingin kamu bahagia. Ana adalah wanita yang lembut dan baik hati. Kamu tidak keberatan bukan?"
Nyonya Morley memandang ke arah Eldrick. Begitu juga dengan para tamu undangan. Mereka sangat penasaran dengan respon Eldrick.
Mereka mengenal Eldrick adalah laki-laki yang tidak pernah tertarik dengan perempuan mana pun dan juga dingin.
Tidak ada yang berani mendekatinya. Termasuk dengan karyawan wanitanya. Semua orang sudah tahu hal itu.
"Cucu nyonya Colins sangat beruntung."Ujar salah satu karyawan.
Ana dan mamahnya semakin berbangga hati.
"Ana, Eldrick akan menjadi milik mu."Bisik mamah Ana.
"Mah, jangan ribut. Nanti nyonya Morley mendengar mu."
"Maaf sayang. Mamah hanya begitu senang."
"Ana juga mah. Tapi kita harus tenang."
Nyonya Morley yang ada di atas panggung menoleh kepada Lily. Nyonya Morley menatap Lily dengan tatapan meremehkan.
"Tidak akan ku biarkan kamu bersama dengan Eldrick. Memangnya kenapa jika kalian sudah menikah? Akan aku buat kalian bercerai." Batin nyonya Morley.
Lily menatap nyonya Morley.
Detik berikutnya, Lily menoleh kepada Grace.
"Mau pulang bersama ku?"
Grace tersenyum kecil.
"Ayo."
Grace menggandeng tangan Lily meninggalkan aula itu. Sementara itu, Eldrick yang melihat kepergian Lily merasakan hancur. Dia benar-benar merasa tidak berguna.
Alex mendekat.
"Serahkan semuanya kepada ku."Bisik Alex.
Sementara itu, Lily dan Grace sudah masuk ke dalam mobil taksi. Lily menghembuskan nafas berat.
Netranya memandang ke arah luar jendela.
"Aku mengerti apa yang kamu rasakan Lily. Nyonya Morley mempermalukan mu di depan umum. Tapi satu hal yang tidak ku mengerti. Kenapa nyonya Morley melakukan hal itu. Aku melihat nyonya Morley sepertinya tidak menyukai mu. Dan aku rasa ada hal lain."
Grace menoleh kepada Lily.
"Jangan di pikirkan. Kita akan ke mana?"
"Mau ke rumah ku?"
Lily dengan cepat mengangguk.
"Ayo. Tuan kita ke alamat ini."
"Baik nona-nona."
Malam itu, mobil taksi itu melaju dengan kecepatan sedang menuju ke apartemen Grace. Sesekali Grace menoleh kepada Lily yang tidak banyak bicara.
"Nona-nona kita sudah tiba."Ujar sang sopir.
"Terimah kasih tuan."
Lily dan Grace turun dari mobil.
Kedua wanita itu sama sekali tidak menyadari jika ada seseorang yang sedang mengikuti mereka berdua.
Lily dan Grace berjalan masuk ke dalam apartemen. Lagi-lagi Lily menghembuskan nafas kasar.
"Kamu baik-baik saja? Aku rasa kamu memiliki masalah Lily."
"Aku baik-baik saja."
Mendengar hal itu, Grace hanya tersenyum kecil. Dia menarik tangan Lily masuk ke dalam apartemen miliknya.
"Duduklah, aku akan ganti pakaian."
Grace berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Baiklah. Aku tunggu di sini." Jawab Lily.
"Kamu mau ganti pakaian? Aku bisa memberikan salah satu pakaian."Teriak Grace dalam kamar.
"Apa ada yang cocok untuk ku?" Jawab Lily sedikit berteriak.
"Ada."
"Oke. Bawakan satu untuk ku."
Beberapa menit kemudian.
Grace kembali dengan membawa sepasang pakaian untuk Lily.
"Ganti pakaian mu di kamar."
"Khm."
Lily melangkah masuk ke dalam kamar Grace. Hanya beberapa menit, dia kembali dengan pakaian santai yang melekat di tubuhnya.
"Cocok untuk mu." Grace mengangkat kedua jempolnya.
"Mau bir."
Grace menawarkan minuman beralkohol kepada Lily. Dia tahu jika suasana hati sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja saat ini.
"Tidak. Kamu punya mie instan?"
"Tentu saja. Aku punya."
"Kita masak mie saja."
"Aku kira kamu tidak makan mie. Bentuk tubuhmu sangat indah Lily."
Lily hanya tersenyum kecil mendengarnya.
Kedua wanita itu melangkah ke dapur..
Ting..ton..
Langkah kaki Lily dan Grace terhenti.
"Siapa?"
"Aku tidak tahu. Aku akan melihatnya."
Grace melangkahkan kakinya membuka pintu.