"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Malam harinya, suasana desa sudah kembali terang benderang setelah listrik dan aliran air kembali normal sejak sore tadi.
"Bar, Qil, malam ini main di rumah Nenek dulu ya. Ayah mau ke rumah Akung Darno sebentar," pamit Abi dengan Akbar dan Aqil di ruang tengah rumah ibunya.
"Nanti Ayah pulang jam berapa?" tanya Akbar.
"Nggak lama kok, cuma sebentar bahas hasil panen kemarin. Jangan nakal, nurut sama Nenek sama Tante Nadia, ya?" pesan Abi lembut sambil mengusap kepala kedua anaknya satu per satu.
"Siap, Ayah! Bawa oleh-oleh ya kalau pulang!" sahut Aqil cengengesan.
"Iya, nanti Ayah belikan makanan," senyum Abi.
Setelah berpamitan pada Bu Marni dan Nadia yang sedang bersantai bersama Arya di ruang tamu.
Sesampainya di halaman rumah Pak Darno, lampu teras tampak menyala terang. Abi melangkah mendekat untuk mengetuk pintu. Namun, sebelum tangannya menyentuh kayu pintu, sosok gadis berparas manis keluar dari dalam membawa sapu.
"Bapak ada, Dek?"
Kayla yang sedang menunduk seketika mendongak. Ia agak heran dan sedikit salah tingkah mendengar panggilan itu. Tumben sekali Abi memanggilnya dengan sebutan Dek, padahal biasanya pria itu selalu menyapanya dengan sebutan Mbak.
"Ada, Mas, lagi di dalam," sahut Kayla cepat,.
"Masuk dulu, Mas, biar saya panggilkan."
"Nggeh, Dek. Matur nuwun," balas Abi sopan sambil melempar senyum tipis, lalu melangkah pelan memasuki ruang tamu rumah Pak Darno.
"Bapak... ada Mas Abi di depan, mau ketemu," panggil Kayla begitu sampai di dapur, mendapati ayahnya sedang menyeduh kopi.
Pak Darno menoleh. "Oh, Abi? Ya sudah, suruh duduk dulu. Ini Bapak bawakan kopi sekalian ke depan."
"Nggèh, Pak," sahut Kayla pelan.
Tak lama kemudian, Pak Darno melangkah ke ruang tamu membawa nampan berisi dua cangkir kopi hitam yang berasap tipis. Abi yang sedang duduk di kursi kayu langsung berdiri sopan menyambut tuan rumah.
"Eh, Mas Abi. Ayo duduk, duduk. Maaf ya rada lama," sapa Pak Darno ramah sambil menaruh cangkir kopi di atas meja.
"Nggeh, Pak Darno, ora papa, Matur nuwun kopinya," balas Abi kembali duduk.
Pak Darno mengambil buku catatan tebal bermotif batik dari bawah meja, lalu membukanya perlahan. "Ini, Mas, catatan pembagian hasil panen padi kita dua hari lalu. Total yang kita setor ke tengkulak kemarin lumayan bagus harganya."
Abi mendekat dan menyimak lembaran angka yang ditunjukkan Pak Darno dengan teliti. Keduanya mulai terlibat obrolan serius mengenai potongan biaya angkut, bagi hasil dengan para pekerja, hingga modal untuk pupuk musim tanam berikutnya.
Sementara itu, Kayla berjalan kembali ke ruang tamu membawa toples berisi keripik pisang. Sambil menaruh toples di meja, matanya sempat mencuri pandang ke arah Abi. Pria itu tampak sangat berwibawa dan dewasa saat sedang bicara serius tentang pekerjaan, sangat berbeda dengan sosok yang panik dikejar janda muda di sungai tadi pagi.
"Diminum kopinya, Mas Abi. Sama ini cuma ada kripik pisang." tutur Kayla lembut sambil merapikan letak toples di meja.
Abi mendongak, tatapannya beradu sejenak dengan mata Kayla sebelum ia melempar senyum hangat.
"Nggeh, Dek Kayla. Matur nuwun ya."
Obrolan mengenai hasil panen pun berlanjut hingga hampir satu jam. Pak Darno menghitung lembaran uang tunai di atas meja, lalu merapikannya sebelum menyerahkannya kepada Abi.
"Ini uang hasil penjualan yang baru panen kemarin, Mas. Nanti ada juga sisa panen berasnya diantar ke rumah Mas Abi sama Bu Marni. Mungkin besok sudah diantar," ujar Pak Darno ramah sambil menyodorkan tumpukan uang tersebut.
Abi menerima uang hasil panen sawahnya itu dengan kedua tangan, lalu menyunggingkan senyum penuh syukur. "Matur nuwun, Pak. Alhamdulillah panen kali ini beres, Pak."
"Ya itu kan berkat Mas Abi juga yang rajin ngurusin sawahnya," puji Pak Darno sambil terkekeh pelan.
Keduanya lalu melanjutkan berbincang-bincang santai, membahas kondisi cuaca desa akhir-akhir ini hingga rencana jadwal tanam untuk musim berikutnya. Di tengah obrolan hangat itu, Pak Darno tiba-tiba melirik ke arah dapur tempat Kayla tadi masuk, lalu menatap Abi sambil tersenyum tipis.
"Kirain ndak kenal lagi sama anak gadis ku, Mas. Sudah lama dia tinggal sama neneknya di kota, baru-baru ini aja balik ke sini," ucap Pak Darno santai.
"Sebelumnya kurang kenal, Pak," sahut Abi jujur. "cuma yaa, gitu pak. Ingat sendiri."
Pak Darno manggut-manggut paham sambil tersenyum maklum. "Oalah, iya... Maklum lah, wong dia dari kecil dibesarkan di rumah neneknya, jarang main ke desa sini. Baru sekarang betah tinggal di rumah."
Merasa urusannya sudah selesai dan hari makin malam, Abi lantas berdiri dari kursinya untuk berpamitan. "Kalau begitu, saya mohon pamit dulu, Pak. Kasihan anak-anak ditinggal di rumah Ibu."
"Oh iya, iya. Salam buat Bu Marni dan anak-anak ya, Mas," ucap Pak Darno ikut berdiri mengantar Abi menuju pintu depan.
Saat melangkah keluar melewati koridor tengah, Abi melihat Kayla sedang merapikan piring di meja makan. Langkah kaki Abi melambat sejenak, lalu ia menyapa dengan suara lembut.
"Saya pamit pulang dulu ya, Dek Kayla."
Kayla yang kaget langsung membalikkan badan. Tatapannya beradu dengan senyum teduh milik Abi.
Setelah Pintu depan tertutup dan langkah kaki Abi menghilang di kegelapan malam, Pak Darno menutup pintu kayu rumahnya rapat-rapat. Ia berbalik sambil memasukkan kunci, lalu melangkah menuju ruang tengah sambil menatap putri tunggalnya yang masih sibuk mengelap meja makan.
Pak Darno berdiri menyandarkan tubuhnya di tepi meja, memperhatikan Kayla yang pura-pura sangat sibuk merapikan toples keripik pisang.
"Bapak perhatikan dari tadi ada yang beda, ya," celetuk Pak Darno tiba-tiba.
Kayla menghentikan gerakannya sejenak, lalu mendongak menatap ayahnya bingung. "Beda kenapa, Pak?"
Pak Darno terkekeh pelan sambil mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja. "Ya beda aja. Tumben dia manggil kamu dek."
"Ya... ya ndak tahu, Pak."
"Tadi Mas Abi cerita, katanya tadi pagi sempat ketemu kamu di sungai pas nyuci baju. Udah ngobrol banyak rupanya?"
Kayla makin salah tingkah, tangannya meremas kain lap lebih erat. "Nggak ngobrol banyak, Pak! Orang tadi pagi cuma sapa-sapaan bentar. Laguna tadi pagi itu Mas Abi lagi ribet dimandikan anak-anaknya, terus... terus digodain Mbak Yanti janda desa sebelah sampai Mas Abi-nya panik kabur."
Mendengar cerita itu, tawa Pak Darno langsung pecah mendengung di ruang tengah. "Hahaha! Ya pantesan wae! Mas Abi itu memang pemalu orangnya, apalagi sama perempuan. Tapi dia itu jantan, pekerja keras, sayang banget sama anak-anaknya. Laki-laki langka zaman sekarang."
"Gimana, Nduk? Ganteng toh Mas Abi? Penurut juga anak-anaknya si Akbar sama Aqil."
"Bapak apaan sih! Malah nanya gitu," sahut Kayla setengah bersungut-sungut.