Diceraikan saat hamil dan dibiarkan mati, Clarissa bangkit dalam tubuh Elena—gadis bangsawan super kaya.
Kini Clarissa menguasai dunia, membuang status wanita tertindas, dan naik ke puncak tertinggi. Saat sang mantan suami datang merangkak memohon ampun di kakinya, Elena tersenyum sinis:
"Mantan suami, lihatlah aku sekarang! Kamu bahkan tidak pantas menyentuh ujung gaunku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Mahkamah Kuno
Pagi hari di distrik barat Ibu Kota diselimuti oleh kabut tebal musim gugur yang menambah kesan dingin dan angker pada Istana Tua Obsidian. Bangunan kuno berasitektur gotik itu telah berdiri selama lebih dari seabad, menjadi simbol kemurnian darah dan kekuasaan absolut adat keluarga besar Obsidian. Hari ini, pintu gerbang kayu ek raksasa istana terbuka lebar, memperlihatkan aula sidang utama yang sudah dipenuhi oleh para tetua adat yang mengenakan jubah kebesaran berwarna ungu tua berlapis sulaman emas.
Di atas altar tertinggi mahkamah adat, Nyonya Besar Victoria duduk di kursi ketua dewan dengan wajah yang angkuh dan rahang yang mengeras rapat. Di bawah altar, Lady Cynthia berdiri di samping kursi Lord Malakai dengan senyuman kelicikan yang tak lagi disembunyikan. Mereka semua telah bersiap dengan dokumen akta leluhur kuno yang akan digunakan sebagai kartu as untuk menjebak dan membekukan seluruh aset personal Duke Xavier di Ibu Kota.
"Tepat pukul sembilan pagi, Sidang Mahkamah Adat Tertinggi resmi dibuka!" suara Victoria melengking tinggi, memecah keheningan aula yang mencekam. Dia memukulkan palu kayu antik ke atas meja batu sebanyak tiga kali. "Agenda sidang hari ini adalah mengadili kelancangan Duke Xavier yang telah menunjuk seorang wanita janda dengan silsilah cacat dari Secilia City sebagai permaisuri, tanpa adanya persetujuan tertulis dari tujuh tetua Dewan Utama!"
Victoria menatap tajam ke arah pintu masuk aula yang masih tertutup rapat. "Berdasarkan hukum adat leluhur yang mengikat, jika dalam waktu lima menit penggugat tidak hadir, maka mahkamah memiliki hak absolut untuk menjatuhkan hukuman pembekuan sementara atas seluruh aset warisan personal milik Xavier di bawah yurisdiksi Ibu Kota!"
Brak!
Tepat sebelum kata-kata Victoria selesai, pintu ganda kayu ek raksasa di ujung aula dihantam terbuka dari luar dengan satu sentakan yang luar biasa keras. Bunyi deman pintu itu bergema di sepanjang dinding batu, seketika membungkam seluruh keriuhan di dalam mahkamah adat dalam sekejap mata.
Atmosfer di dalam aula kuno yang pengap langsung berubah menjadi sedingin es kutub saat belasan pengawal bertubuh tegap dengan setelah jas hitam formal dan pin berlian hitam di kerah mereka melangkah masuk dengan derap langkah kaki yang konstan dan disiplin, membuat barisan barikade kokoh di kanan dan kiri jalur utama.
Di tengah-tengah barisan pengawal elite tersebut, Elena von Obsidian melangkah masuk dengan keanggunan seorang ratu mutlak yang sedang berjalan menuju takhtanya. Pagi itu, dia tampil sangat memukau dan berwibawa dengan mengenakan setelan blazer formal berwarna putih salju, kontras dengan rambut peraknya yang panjang berkilau indah ditiup angin pagi. Sepasang mata safir birunya yang jernih menatap lurus ke arah altar dewan dengan ketenangan mutlak, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau terintimidasi oleh jajaran jubah ungu para tetua kolot di atas sana.
Tepat di samping Elena, Duke Xavier melangkah dengan wibawa seorang kaisar bayangan yang tak tertandingi. Pria jangkung itu mengenakan setelan jas formal hitam kustom tiga potong yang sangat rapi. Aura dominasi yang melekat pada tubuh tegap sang Duke begitu pekat, membuat beberapa tetua adat di barisan depan refleks menundukkan kepala mereka karena ketakutan. Tangan kokoh Xavier melingkar sangat posesif di pinggang ramping Elena, menegaskan kepada seluruh isi mahkamah tentang siapa pelindung mutlak dari sang wanita perak.
"Xavier! Elena! Berani sekali kalian melangkah masuk ke dalam ruang suci ini tanpa mengenakan jubah penghormatan adat?!" bentak Victoria sembari berdiri dari kursi ketuanya, menunjuk tepat ke arah wajah menantu keponakannya dengan jari yang gemetar karena marah.
Elena menghentikan langkah kakinya tepat tiga langkah di depan altar mahkamah. Cincin pernikahan berlian hitam berbentuk mahkota kecil di jari manis tangan kanannya berkilau tajam di bawah pantulan cahaya temaram lampu dinding istana. Sebuah senyuman sinis yang teramat tipis namun mematikan terukir sempurna di bibir merahnya.
"Ruang suci, Nyonya Besar Victoria?" Elena bersuara, dan nadanya yang merdu, jernih, namun dipenuhi oleh penekanan dingin yang luar biasa tajam seketika memotong seluruh keangkuhan Victoria dalam sekejap mata. "Saya rasa Anda dan para tetua kolot di ruangan ini terlalu lama hidup di dalam tempurung adat hingga lupa memeriksa dokumen kepemilikan aset properti nasional tepat pukul tujuh pagi tadi."
Elena memberikan isyarat kecil dengan jemari lentiknya kepada pengacara senior Obsidian Group yang berdiri setia di belakangnya. Sang pengacara segera melangkah maju, membuka sebuah koper kulit eksklusif, lalu melemparkan sebuah map dokumen resmi berstempel emas murni dari Kementerian Kebudayaan dan Agraria Nasional tepat ke atas meja batu di hadapan wajah Victoria.
"Silakan baca dengan mata tua Anda yang berdarah itu, Nyonya Besar Victoria," ucap Elena dengan nada suara yang sangat tenang namun sarat akan penekanan yang mencekik seluruh pasokan udara di dada para tetua. "Dua jam yang lalu, Aethelgard Holdings milik saya telah resmi membeli secara tunai dan melunasi seluruh sertifikat hak milik atas tanah, bangunan, hingga hak kelola sejarah dari Istana Tua Obsidian ini dari pemerintah pusat."
Elena melangkah naik satu anak tangga altar, membiarkan aura mengintimidasinya menekan langsung mental Victoria yang kini mulai gemetar hebat.
"Jadi, secara hukum komersial dan hukum tata ruang negara yang sah... saat ini Anda sedang menggelar sidang bodoh ini di atas properti pribadi milik saya, Nyonya Besar Victoria," bisik Elena dengan nada suara yang sedingin es kutub namun dipenuhi oleh kemenangan mutlak. "Dan berdasarkan hak kepemilikan mutlak tersebut... saya baru saja menandatangani surat perintah pengosongan fisik darurat atas seluruh area bangunan istana ini."
Mendengar penjelasan hukum finansial yang luar biasa dahsyat dan tak terduga itu, wajah Victoria seketika berubah menjadi seputih kain kafan. Palu kayu antik di tangannya terlepas, jatuh ke atas meja batu dengan bunyi klik yang hancur. Tubuh tuanya gemetar hebat, matanya terbelalak lebar karena syok yang luar biasa dahsyat. Dia tidak pernah menyangka bahwa Elena akan menggunakan skema akuisisi tanah negara untuk meruntuhkan fondasi terakhir dari mahkamah adat mereka.
"T-Tidak... ini tidak mungkin! Ini adalah tanah leluhur keluarga Obsidian! Pemerintah tidak berhak menjualnya!" raung Victoria dengan suara parau yang kehilangan seluruh otoritas bangsawannya.
"Pemerintah berhak menjualnya saat faksi perbankan kuno Anda gagal membayar pajak hak guna bangunan selama lima tahun berturut-turut akibat kelalaian manajemen likuiditas kalian, Nyonya Victoria," Elena menatap seluruh dewan tetua dari posisi berdiri yang sangat anggun dengan pandangan penuh penghinaan yang teramat dalam. "Jadi, silakan ketuk palu adat Anda sekarang juga untuk membekukan aset Xavier. Mari kita saksikan bersama, seberapa kuat jubah ungu Anda bisa melindungi tubuh tua kalian saat pasukan pengawal elite suasbuku menyeret Anda semua keluar ke jalanan sebagai gelandangan tanpa rumah dalam waktu lima menit dari sekarang."
Keheningan yang luar biasa menakutkan menyelimuti seluruh aula Istana Tua Obsidian. Tidak ada satu pun tetua adat atau pengawal militer ungu yang berani mengangkat suara atau bergerak seujung kuku pun; mereka semua berdiri membeku dalam kekalahan mutlak yang sangat mematikan di bawah kaki sang permaisuri perak.
Xavier melangkah maju, mempererat pelukan posesifnya pada pinggang ramping Elena di hadapan seluruh dewan tetua yang kini menundukkan kepala mereka pasrah demi menyelamatkan sisa hidup mereka.
"Singkirkan seluruh manusia kolot ini dari properti milik istriku sekarang juga," perintah Xavier dingin kepada para pengawal elite berjas hitam. "Kemas sisa barang-barang mereka dan pastikan nama Victoria dan Cynthia masuk ke dalam daftar cekal permanen dari seluruh distrik finansial Ibu Kota."
"Baik, Duke!"
Cynthia menangis histeris sembari membuang kipas emasnya yang telah patah, sementara Victoria diseret keluar dari kursi ketuanya dengan tubuh yang lemas dan wajah tertunduk dalam-dalam akibat kehancuran ego bangsawan murninya yang telah compang-camping di bawah kaki Elena.
Setelah pembersihan mahkamah kuno itu selesai, keheningan yang damai kembali menyelimuti Istana Tua. Elena mengembuskan napas pelan, membiarkan tubuhnya bersandar pada dada bidang Xavier yang terasa sangat hangat dan kokoh. Sumbu pertempuran di Ibu Kota telah resmi dimenangkan dengan kemenangan mutlak yang sangat bersih, dan takhta sang permaisuri perak kini berdiri semakin kokoh di puncak tertinggi dunia finansial tanpa ada satu pun celah yang bisa digoyahkan lagi seumur hidupnya.
Slmt buat klian brdua....ga mst nunggu lma,clon pewaris udh hdir....
xavier pst mkin posesif.....
Elena slalu luarrrrr biasa....mreka pnts jd raja dn ratu brkuasa,scra spa pun yg mau mnjtuhkn mreka pst akan kalh...
yg 1 pnya kuasa,yg 1 otaknya emng jenius....
btw...slmt jd gembel buat mreka yg awlnya songong.....😛😛😛
aku udh mmpir...slm knal....
btw,aku ngebut bcanya krna pgn cpt komen.....😁😁😁....
brskap songonglh slagi klian bsa,abs tu siap2 mmhon sm orng yg klian hina....🙄🙄🙄