**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**
Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.
Malam itu mengubah segalanya.
Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.
*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.
Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.
Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Ulang Tahun yang Berantakan
Rosa memasang spanduk ulang tahun lebih besar daripada ruang tamunya.
Di bawah tulisan `Selamat Ulang Tahun Benny`, meja plastik memenuhi halaman rumah Halim. Tetangga berdatangan, akun gosip lokal menyiarkan dekorasi, dan keluarga Chandra duduk di kursi utama seolah merekalah pemilik acara.
Benny berdiri di gerbang bersama Bryan. Keduanya datang dari ruko baru, bukan dari kamar lama mereka.
"Mama meminta pesta kecil," gumam Bryan.
"Ini bukan pesta untuk Papa," jawab Benny. "Ini panggung untuk dia."
Kayla dan Adrian tiba beberapa menit kemudian. Jack ikut bersama Michelle, yang sengaja mengenakan pakaian sederhana agar Rosa tidak punya alasan membicarakan harga.
Rosa menyambut mereka dengan senyum tegang. "Akhirnya datang. Dokumen toko dibawa?"
Benny berjalan melewatinya. "Hari ini ulang tahunku. Bukan rapat usaha."
"Tamu sudah menunggu. Jangan mempermalukanku."
"Kamu yang mengundang orang untuk mengambil toko."
Vera muncul dari ruang tamu. Matanya bengkak, tetapi gaunnya mahal. Wilson berjalan di belakangnya bersama Tante Fen.
"Kayla," kata Wilson sambil mengangkat gelas. "Lama tidak bertemu."
"Belum cukup lama."
Wilson tersenyum. Ia telah menandatangani surat larangan mendekat di Naga Emas, tetapi merasa aman di rumah Halim.
"Jangan tegang. Aku hanya ingin memberi selamat kepada ayahmu."
"Lakukan dari sana."
Adrian berdiri di samping Kayla tanpa menyentuh Wilson. Nico dan dua petugas keamanan menunggu di luar pagar.
Acara dimulai dengan doa dan pemotongan kue. Benny baru meniup lilin ketika Rosa mengambil mikrofon.
"Saya ingin mengumumkan bahwa keluarga kami segera membuka toko baru," katanya kepada tetangga. "Tentu usaha itu akan dikelola bersama sebagai milik keluarga."
Bryan berdiri. "Tidak. Toko baru dikelola Papa dan saya berdasarkan perjanjian usaha."
"Aku ibumu."
"Karena itu Mama tetap bisa menjalankan toko lama. Tapi uang toko baru bukan dana untuk Vera."
Vera membanting sendok. "Kenapa namaku dibawa?"
"Karena selama ini setiap kali toko punya uang, Mama membayar tagihanmu."
Rosa menunjuk Kayla. "Ini semua idenya. Sejak menikah dengan orang kaya, dia ingin memisahkan keluarga."
Kayla mengambil mikrofon dari tangan ibunya. "Saya tidak memiliki satu persen pun toko itu. Dokumennya bisa diperiksa pengacara. Papa dan Bryan yang memilih aturan agar uang usaha tidak lagi hilang tanpa catatan."
Tetangga mulai berbisik.
Tante Fen menyandarkan punggung. "Keluarga sederhana mendapat sedikit uang lalu langsung saling curiga. Vera tidak pernah mengalami masalah seperti ini sebelum adiknya merebut perhatian laki-laki kaya."
Jack menatap kakaknya. "Rosa, kenapa perempuan ini bicara tentang Kayla di rumahmu?"
Rosa menghindari matanya. "Tante Fen hanya membela Vera."
Wilson mendekati meja Kayla dengan gelas baru. "Mari berdamai. Kita pernah hampir menjadi lebih dekat dari keluarga."
Beberapa orang tertawa tidak nyaman.
Kayla menekan tombol rekam di ponselnya. "Kamu melanggar surat pernyataan."
"Surat dari klub suamimu tidak berlaku di sini."
"Rekaman ancaman tetap berlaku di mana saja," kata Adrian.
Wilson menenggak minuman. "Semua orang sudah tahu istrimu masuk kamar hotel laki-laki sebelum menikah. Kalau video itu keluar, siapa yang malu?"
Tante Fen tersenyum. "Kami menyimpan potongannya."
Rosa memandang Kayla dengan marah, bukan membela. "Kamu membawa aib itu ke pesta Papa?"
Jack meletakkan piringnya. "Aib siapa?"
Adrian menatap Kayla, meminta izin tanpa kata.
Kayla mengangguk.
"Putar bagian yang membuktikan mereka membawaku," katanya. "Jangan tampilkan apa pun setelah pintu kamar tertutup."
"Tidak ada file dari dalam kamar di perangkat ini," jawab Nico.
Kayla menarik napas. Selama berminggu-minggu, ancaman video membuat keluarganya bertingkah seolah rasa malu itu miliknya. Malam ini ia tidak akan membela diri dengan membuka kembali seluruh luka. Ia hanya akan menunjukkan siapa yang membawanya ke sana.
"Sebelum diputar," katanya kepada para tetangga, "saya ingin kalian tahu satu hal. Orang yang diberi obat bukan orang yang harus malu. Orang yang merekam, merencanakan, dan mengancamlah yang harus menjawab."
Seorang ibu di baris depan menurunkan ponselnya. Beberapa orang lain ikut mematikan kamera, meski akun gosip di dekat pagar tetap menyiarkan suara.
Nico masuk membawa laptop dan sebuah map. Layar televisi ruang tamu tersambung, tetapi video yang diputar hanya menampilkan restoran dan koridor hotel.
Dalam rekaman pertama, Vera mendorong minuman merah muda kepada Kayla. Sepuluh menit kemudian, kepala Kayla jatuh di meja. Tante Fen datang, memeriksa sekeliling, lalu membantu Vera membawanya ke lift.
Tidak ada suara jelas, tetapi waktu dan gerak tubuhnya tidak bisa disangkal.
Rekaman kedua menunjukkan kartu akses Tante Fen digunakan menuju lantai dua puluh. Kamera koridor merekam dua perempuan menyeret Kayla yang nyaris tidak mampu berjalan ke kamar 2001.
"Matikan!" teriak Vera.
"Kenapa?" Jack berdiri. "Takut orang melihat caramu memperlakukan adikmu?"
Nico membuka halaman transaksi. Kamar 2010 dipesan atas nama perusahaan yang terhubung dengan Wilson. Pembayaran katering ruang privat berasal dari kartu tambahan Vera. Pesan hotel menunjukkan nomor 2010, lalu catatan manual berubah menjadi 2001 setelah akses kamar Adrian dimanipulasi oleh Amanda.
"Kami belum menyatakan siapa memasukkan zat ke setiap gelas," kata Nico. "Namun sampel sisa minuman menunjukkan zat yang tidak seharusnya ada, dan hotel telah memecat Amanda karena memanipulasi daftar tamu serta berbohong dalam pemeriksaan internal."
Adrian menambahkan, "Tidak ada rekaman dari kamar yang akan kami putar. Privasi Kayla bukan bahan hiburan. Bukti asli disimpan pengacara dan siap diserahkan kepada penyidik jika Kayla memutuskan melanjutkan laporan."
Semua kamera ponsel kini mengarah kepada Vera dan Tante Fen.
Tetangga yang tadi berbisik tentang Kayla mulai bergeser menjauh dari Rosa. Seorang perempuan yang pernah berutang di toko menggeleng kepada Vera.
"Adikmu membayar obat ibumu waktu sakit," katanya. "Bagaimana kamu bisa melakukan itu?"
Rosa mencoba mengambil mikrofon. "Kalian tidak mengerti masalah keluarga kami."
"Justru karena masalah keluarga terus ditutup, Kayla tidak pernah dibela," jawab Bryan. Ia berdiri di samping kakak angkatnya. "Saya ada di rumah selama ini. Saya melihat Mama mengambil gajinya dan Vera memakai namanya. Saya diam. Saya juga salah."
Kayla menoleh. Bryan tidak meminta dimaafkan saat itu juga. Ia hanya berdiri terbuka di bawah tatapan tetangga dan mengakui bagiannya.
Vera menangis. "Aku dipaksa! Tante Fen bilang Wilson akan menceraikanku kalau aku tidak membantu."
Tante Fen berdiri. "Jangan lempar kesalahan kepadaku. Kamu sendiri takut suamimu menyukai Kayla."
Wilson menatap istrinya dengan jijik. "Kalian bahkan salah kamar."
"Kamu ikut merencanakan!" balas Vera. "Kamar itu dipesan oleh perusahaanmu."
"Aku tidak menyuruhmu menghancurkan semuanya."
Jack berjalan ke depan Vera. Wajahnya pucat karena marah.
"Kayla membayar sekolah dengan jaga malam. Dia mengirim uang untuk rumah ini. Dan kalian membalasnya dengan menjual tubuhnya?"
Rosa mencoba memegang lengan adiknya. "Jack, dengarkan dulu. Vera juga korban pernikahan buruk."
Jack melepaskan tangannya. "Kakak tahu?"
Rosa tidak menjawab.
Diamnya cukup.
"Mulai hari ini, jangan hubungi aku untuk meminta uang atau bantuan," kata Jack. "Kaya atau miskin bukan masalahnya. Orang yang memperlakukan keluarga seperti barang dagangan adalah masalahnya."
Michelle berdiri beberapa langkah di belakang. Jack menatapnya sesaat, seolah baru menyadari betapa mudahnya ia memakai kekayaan sebagai ukuran dosa.
Benny berjalan ke sisi Kayla.
"Ini anak saya," katanya kepada seluruh halaman. "Anak yang paling banyak membantu rumah ini dan paling sedikit menerima perlindungan. Mulai hari ini siapa pun yang menyentuh atau menghina dia bukan keluarga saya."
Rosa gemetar. "Jadi kamu memilih dia daripada istrimu?"
"Saya memilih berhenti diam."
Wilson meraih kunci mobil. "Aku muak. Besok pengacaraku mengurus cerai."
Vera memegang lengannya. "Kamu tidak bisa meninggalkanku setelah semua yang kulakukan untuk mempertahankan pernikahan!"
"Justru karena itu aku pergi. Kamu tidak berguna bahkan saat berbuat jahat."
Tamparan Wilson lebih kejam karena disampaikan di depan semua orang. Tante Fen menarik putranya keluar sebelum pertengkaran berubah fisik.
Seorang tetangga bertanya siapa sebenarnya Adrian hingga Grand Regalia menyerahkan arsip dan pengacara hotel bergerak begitu cepat.
Adrian tidak menjawab panjang.
"Saya cucu tertua Herman Gunawan, pemegang saham Argatama, dan salah satu pemilik Naga Emas. Tapi malam ini saya datang sebagai suami Kayla. Itu seharusnya sudah cukup."
Bisik-bisik meledak. Potongan ucapannya masuk ke akun gosip lokal dalam hitungan menit.
Adrian menggandeng Kayla keluar. Benny, Bryan, Jack, dan Michelle mengikuti. Tidak ada seorang pun membawa dokumen toko untuk Rosa.
Di dalam mobil, Kayla baru menyadari kuku jarinya menekan telapak sampai meninggalkan bekas merah.
Adrian tidak mengatakan bahwa semuanya sudah selesai. Ia hanya membuka tangannya di antara mereka.
Kayla menaruh telapak tangannya di sana.
"Aku takut mereka tetap menyalahkanku," katanya.
"Sebagian orang mungkin akan mencoba."
"Jawabanmu buruk untuk menenangkan istri."
"Aku tidak bisa menjanjikan semua orang menjadi waras. Aku bisa menjanjikan bukti tetap aman dan kamu tidak menghadapi mereka sendirian."
Kayla menyandarkan kepala ke bahunya. Jawaban itu tidak manis, tetapi bisa dipercaya.
Di mobil belakang, Jack duduk diam di samping Michelle. Setelah beberapa kilometer, ia berkata, "Aku salah menilai semua orang kaya dengan ukuran satu keluarga."
Michelle menatap lurus ke depan. "Itu permintaan maaf?"
"Permulaan."
"Aku belum tentu menerimanya."
"Itu adil."
Setelah halaman kosong, lilin ulang tahun yang jatuh terinjak di dekat gerbang.
Vera memungutnya. Krim dan tanah menempel di jarinya.
Ia membuka nomor yang selama ini disimpan tanpa nama.
"Keluarga Halim, keluarga Gunawan," bisiknya ketika panggilan tersambung. "Mereka pikir sudah menang. Bantu aku membuat mereka menyesal."