Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DOMAIN HALAM RUMAH
Angin pagi menghembuskan aroma tanah basah dan wangi herbal yang menenangkan, beradu kontras dengan bau sangit mantel terbakar serta amis darah yang menguar dari luar pagar kayu. Di sana, tergeletak seorang pria berzirah emas yang tak lagi berkilau. Zirah plat baja tingkat tinggi yang seharusnya sanggup menahan tebasan monster kelas A itu kini retak di berbagai sisi, meninggalkan luka bakar membiru akibat sihir petir skala besar.
Kayy mengusap tengkuknya perlahan. Matanya menatap datar tubuh berdarah yang tak sadarkan diri di atas rumput liar pekarangannya.
"Kayy... dia terluka sangat parah," ujar Alya pelan. Matanya melirik cemas ke arah pedang suci yang tergeletak pasrah di tanah—pedang yang sudah patah setengah, namun masih memancarkan aura Holy Light yang sangat tipis dan meredup.
Alya tentu tahu siapa pria ini. Zirah bercorak elang emas dan sisa-sisa energi suci di pedang itu adalah ciri khas milik Arthur, Sang Pahlawan Utama Kerajaan. Seseorang yang dielu-elukan sebagai harapan terakhir umat manusia untuk menumbangkan Raja Iblis.
"Iya, aku lihat," sahut Kayy santai, seolah-olah yang tergeletak di sana hanyalah seekor karung beras yang bocor. "Tapi dia pingsan tepat di depan pintu pagar. Kalau mau pingsan, setidaknya agak geser sedikit ke kiri supaya tidak menghalangi jalan."
Alya menepuk pelan lengan suaminya, menahan senyum di antara rasa cemasnya. "Sayang, jangan begitu. Bagaimanapun dia bertempur untuk melindungi benua ini. Lagipula... kasihan kalau dibiarkan."
Kayy menghela napas panjang. Mengabaikan istrinya yang sedang memasang raut wajah memohon adalah hal paling mustahil di dunia ini. "Baiklah, baiklah. Tapi kita tidak bawa dia masuk ke dalam gubuk, ya. Zirahnya kotor sekali, nanti karpet tenun buatanmu jadi berlumpur."
Kayy berbalik menuju petak kebun di samping teras. Ia berlutut sebentar, lalu mencabut sebatang wortel keemasan dari dalam tanah yang baru saja ia siram tadi pagi. Tanpa repot-repot mencucinya dengan air bersih—hanya mengibaskan sisa tanah yang menempel pada celemek kusamnya—Kayy melangkah santai menuju pagar kayu.
Ia membungkuk, berlutut di samping tubuh Arthur yang napasnya sudah sangat patah-patah.
[Aktivitas: Memilih Bahan Pangan]
[Objek: Wortel Kebun Domain - Kualitas: Melampaui Batas]
[Efek Skill Tambahan: Fortify Vitality (Pasif)]
Tanpa ragu sedikit pun, Kayy mematahkan wortel itu menjadi dua bagian. Suara KREK yang renyah terdengar jelas. Ia menekan dagu Sang Pahlawan sampai mulut pria itu terbuka, lalu menyodorkan separuh wortel tersebut tepat ke dalam tenggorokannya.
"Makan ini. Jangan sampai tersedak," gumam Kayy singkat.
Alya yang berdiri di belakang Kayy hanya bisa menepuk dahinya sendiri. Cara suaminya merawat orang sakit benar-benar tidak ada di dalam standar buku medis mana pun—baik di dunia ini maupun di dunia asal Kayy.
Namun, keajaiban yang terjadi beberapa detik kemudian adalah sesuatu yang sanggup meruntuhkan pemahaman seluruh penyihir di dunia.
GULP.
Refleks menelan Sang Pahlawan bekerja secara otomatis. Begitu sari wortel itu menyentuh lidah dan mengalir ke kerongkongannya, aura keemasan murni mendadak meledak keluar dari dalam dada Arthur!
SWOOOOOSH!
Luka bakar berwarna hitam keunguan di dada Arthur mulai menguap. Daging yang terobek mendadak beregenerasi dengan kecepatan yang merindingkan mata. Retakan pada tulang belulangnya menyatu kembali dengan suara KLEK-KLEK yang intens, dan wajah pucat pasi bagai mayat itu langsung kembali memerah, memancarkan vitalitas yang sangat bugar.
[Proses Pemulihan: 100% Selesai]
[Efek Pembersihan: Seluruh Sihir Kutukan & Racun Dihapus]
"UH-UHAK!"
Arthur mendadak terduduk tegak! Matanya terbuka lebar, memancarkan binar keemasan yang penuh daya kejut. Ia memegangi dadanya sendiri, membelalak tak percaya. Napasnya yang tadi tersengal kini berembus sangat lancar. Rasa sakit luar biasa akibat sihir Dark Thunderbolt milik Raja Iblis lenyap total tanpa menyisakan bekas luka sedikit pun!
"A-Apa yang terjadi?! Tubuhku... rasanya seperti baru selesai bertapa di Mata Air Keabadian?!" Arthur terengah-engah, menatap kedua tangannya sendiri yang kini bersih dari darah.
Ia melirik ke bawah, mendapati sisa potongan wortel keemasan yang masih dipegang Kayy.
"Sebuah... bahan penyembuh tingkat Divine?!" bisik Arthur gemetar. Matanya beralih menatap pemuda di depannya—seorang pemuda bersahaja yang mengenakan celemek kusam dan memegang separuh wortel renyah. "Si-Siapa Anda? Apakah Anda seorang Dewa Penyembuh yang menyamar?!"
Kayy memutar matanya malas. "Aku cuma petani di sini. Dan kamu baru saja menghabiskan setengah dari jatah sayur makan siangku."
"Pe... Petani?!" Arthur tertegun. Ia mencoba berdiri, tetapi begitu kakinya menapak tanah di dalam area pekarangan tersebut, sensasi dingin yang sangat dahsyat menghantam jiwanya.
Mana di sekitar tempat ini begitu pekat, padat, dan sangat stabil. Begitu stabilnya hingga sihir pemusnah paling kuat sekalipun rasanya akan padam seketika jika memasuki batas wilayah ini. Ini bukan sekadar pekarangan gubuk; ini adalah sebuah Domain suci yang hanya bisa diciptakan oleh entitas di atas batas mortals!
Saat Arthur masih terpaku dalam keterkejutannya, pandangannya tak sengaja bergeser ke sosok wanita yang berdiri di teras rumah.
Wanita berambut pirang keemasan dengan gaun sederhana, memegang nampan teh kayu.
Mata Sang Pahlawan membelalak maksimal. Lututnya yang baru saja pulih mendadak lemas kembali.
"LADY ALYA?!" jerit Arthur histeris, suaranya sampai pecah. "S-Saintess Utama Kerajaan?! Bagaimana bisa... Anda bukanya sudah dinyatakan tewas dalam insiden Ledakan Mana tiga tahun lalu?!"
Alya menghela napas pendek. Ia memberikan senyuman tipis yang sedikit canggung, lalu menempelkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri.
"Pelankan suaramu, Arthur. Nanti tetangga desa sebelah bisa mendengar," bisik Alya lembut.
"T-Tapi... tapi seluruh Kerajaan berduka atas kematian Anda! Raja mendirikan patung peringatan, dan Yang Mulia Paus menangis selama tiga hari tiga malam!" Arthur benar-benar linglung. Logikanya sebagai pahlawan terkuat runtuh satu per satu di pekarangan gubuk ini.
Ia melihat Alya—sosok suci yang dulu selalu dipuja di atas altar emas Kerajaan—kini menyandarkan tubuhnya dengan sangat alami di samping Kayy. Tidak ada aura kebangsawanan yang kaku, hanya seorang istri yang menatap suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Aku memalsukan kematianku, Arthur," aku Alya sejujurnya. "Kehidupan di istana sangat menyesakkan. Semua orang menuntutku menjadi wadah dewa, tanpa peduli bahwa aku hanya manusia biasa yang ingin merasakan ketenangan."
Alya menatap Kayy, dan pandangan matanya melembut secara drastis. "Dan di tempat inilah... aku menemukan kehidupan yang sebenarnya. Bersama Kayy."
Arthur menatap Kayy dengan tatapan yang sangat kompleks—perpaduan antara syok, takjub, dan horor murni.
Pria di depannya ini bukan hanya memelihara kebun berisi tanaman Divine, tinggal di dalam Domain pemusnah sihir, tetapi juga secara santai "menculik" dan menjadikan Saintess Agung Kerajaan sebagai istrinya!
Siapa sebenarnya pemuda NPC ini?!
"Wahai Yang Mulia Pertapa Agung!" Arthur mendadak berlutut secara resmi, menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas tanah pekarangan Kayy. "Hamba mohon! Pasukan Pahlawan di barat daya sedang dibantai oleh Raja Iblis! Sihir pemusnahnya telah menghancurkan setengah benteng pertahanan kami! Jika Anda mau meminjamkan kekuatan Anda—"
"Tidak mau," potong Kayy cepat tanpa ragu sedikit pun.
Arthur membeku di posisi berlututnya. "A-Apa?"
"Aku bilang, aku tidak mau," ulang Kayy sambil mengibaskan tangannya, seolah mengusir lalat. "Urusan perang kalian itu urusan kalian. Aku punya jadwal yang sangat padat hari ini."
"Jadwal padat?!" Arthur mendongak, matanya memancarkan rasa tidak percaya. "Dunia sedang diambang kiamat, Yang Mulia! Jadwal apa yang lebih penting dari nasib seluruh benua?!"
Kayy menghitung dengan jarinya satu per satu dengan wajah sangat serius. "Pertama, aku harus memperbaiki engsel pintu belakang yang agak berdecit. Kedua, aku harus menyiram tanaman herbal Alya sebelum matahari terlalu terik. Dan yang paling utama..."
Kayy merangkul pinggang Alya secara alami, membuat Alya terkekeh pelan dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
"...kami punya janji untuk minum teh sore bersama jam empat nanti. Tidak ada satu pun iblis, dewa, atau pahlawan yang boleh mengganggu jam teh sore kami."
Arthur melongo. Jawaban itu begitu konyol hingga rasanya ingin membuat Sang Pahlawan menangis di tempat. Dunia terancam hancur, dan alasan pria terkuat ini menolak menyelamatkannya adalah karena teh sore?!
"Tapi... tapi jika Raja Iblis menang, tempat ini juga akan hancur!" seru Arthur panik.
Kayy hanya tertawa kecil. Ia menunjuk ke arah batas pekarangannya. "Lihat bola api raksasa yang meluncur tadi? Sudah jadi debu sebelum sempat menyentuh daun tehku. Kalau Raja Iblis itu berani melangkah ke pekarangan ini dan mengotorinya... baru aku akan memikirkannya."
Kayy memutar tubuhnya, mengajak Alya kembali ke teras. "Nah, Pahlawan. Kamu sudah sembuh total. Wortel tadi gratis, tapi tolong ambil pedang patahmu dan segera pergi dari sini. Dan ingat, kalau kamu membeberkan keberadaan Alya ke Kerajaan... aku akan memastikan kamu tidak bisa makan wortel lagi seumur hidupmu."
Ancaman itu diucapkan dengan nada santai, tetapi membuat bulu kuduk Arthur berdiri tegak.
Arthur berdiri perlahan. Ia mengambil patahan pedang sucinya, lalu menatap gubuk kayu tersebut dengan rasa hormat yang teramat sangat. Meski ditolak, ia tahu satu hal: tempat ini adalah Sanctuary terakhir bagi dunia.
"Hamba mengerti..." bisik Arthur seraya membungkuk dalam-dalam. "Terima kasih atas bantuan sayuran ajaib ini, Yang Mulia Kayy, Lady Alya. Hamba akan merahasiakan tempat ini sampai hembusan napas terakhir."
Arthur berbalik dan melangkah pergi keluar dari pekarangan dengan tubuh yang kini bugar sepenuhnya, meninggalkan gubuk kecil itu dengan pemikiran baru tentang skala kekuatan di dunia ini.
Di teras rumah, Kayy kembali menyesap cangkir tehnya yang sempat tertunda.
"Sayang," panggil Alya pelan sambil membelai lengan suaminya.
"Ya?"
"Kira-kira... apa Arthur akan kembali membawa teman-temannya?"
Kayy mendengus santai, lalu meminum tehnya hingga tandas. "Kalau mereka datang cuma untuk pingsan lagi di depan pagar... aku benar-benar akan memasang papan tarif berobat menggunakan koin emas."