Indonesia
NovelToon NovelToon
Benih Jenius Sang Miliarder

Benih Jenius Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Mafia
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
​Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
​Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.

Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
​Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.

​"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Tiga hari menjelang malam pembukaan Jakarta Fashion Week, suasana di ruang kerja utama Alexio Van Der Berg seharusnya dipenuhi dengan antusiasme dan kelegaan.

Clara dan Ketty sedang berada di sana untuk mempresentasikan draf jadwal fitting final dari proyek debut global yang telah menyita seluruh energi mereka.

Sementara itu, Alexio duduk bersandar tenang di kursi kebesarannya, menatap sang istri dengan senyum tipis yang memancarkan kebanggaan mendalam.

Bagi Alexio, melihat Clara bersinar di bidang yang sangat dicintainya adalah sebuah pencapaian tersendiri yang jauh lebih berharga daripada kenaikan saham harian perusahaannya.

Namun, kedamaian itu terlampau rapuh untuk bertahan di tengah dunia penuh intrik yang mereka huni.

Tiba-tiba, pintu ganda ruangan berukir klasik itu didorong terbuka dengan kasar.

Reno, asisten pribadi Alexio yang selalu dikenal berdarah dingin, profesional, dan tak pernah kehilangan ketenangannya dalam situasi seburuk apa pun, melangkah masuk dengan napas memburu.

Kemeja putihnya tampak sedikit berantakan di bagian kerah, dan wajahnya sepucat kertas tanpa sisa darah. Di tangannya, sebuah tablet canggih menampilkan kedipan cahaya merah menyala, tanda darurat tingkat tinggi yang terhubung langsung ke pusat komando keamanan global Van Der Berg.

Ketty, yang berdiri paling dekat dengan pintu, terlonjak kaget hingga nyaris menjatuhkan map tebal di dadanya. Wanita itu melotot, menatap asisten sang bos dengan kening berkerut tajam.

"Reno? Ada apa denganmu? Mengapa kau mendobrak masuk seperti baru saja melihat hantu?"

Reno mengabaikan teguran Ketty. Pria itu mengabaikan etika profesional yang biasa ia junjung tinggi, berjalan cepat melewati meja presentasi, dan langsung menghadap sang bos besar tanpa memedulikan siapa pun di sekitarnya.

Alexio perlahan meletakkan cangkir kopi hitamnya ke atas piring lepek dengan gerakan yang terukur. Sorot mata abu-abunya yang tadinya hangat langsung berubah tajam, seketika memancarkan aura intimidasi murni yang membuat suhu di dalam ruangan mendadak terasa mencekam.

"Ada apa, Reno? Jaga sikapmu di depan istriku," tegur Alexio dengan suara rendah yang menggetarkan dinding ruangan.

Reno menelan ludah dengan susah payah, jakunnya naik-turun. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia menyerahkan tablet tersebut ke atas meja kerja Alexio.

"Maafkan kelancangan saya, Tuan Muda. Tapi ini... ini bukan sekadar masalah operasional biasa. Ini darurat tingkat satu."

Clara dan Ketty saling berpandangan. Firasat buruk yang sedari tadi merayap di dada mereka kini mendadak berubah menjadi cengkeraman es yang mencekik leher.

Keduanya refleks merangsek mendekat ke meja Alexio, menunduk untuk melihat layar tablet yang menampilkan data real-time dari satelit dan kamera pengawas.

"Pengiriman kargo utama yang berisi seluruh kain sutra couture langka dan material eksklusif pesanan Nyonya Muda Clara langsung dari Milan... baru saja dibajak oleh kelompok paramiliter bayaran di tengah laut lepas, wilayah perairan internasional," lapor Reno dengan suara tercekat, berusaha keras menstabilkan intonasinya di hadapan sang atasan.

"Dan... bukan itu saja, Tuan Muda. Sepuluh menit yang lalu, sistem pemantauan kita melaporkan bahwa seluruh gudang penyimpanan utama kita di pelabuhan, tempat sisa cadangan bahan dan gaun sample prototipe disimpan, mendadak meledak dan terbakar habis tanpa sisa."

Prang!

Ponsel pintar di tangan Ketty terlepas begitu saja, menghantam lantai marmer dengan suara nyaring yang memecah keheningan.

Wanita itu menutup mulutnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat, matanya terbelalak ngeri menatap siaran langsung di layar tablet milik Reno.

Di sana, kobaran api raksasa berwarna jingga kepekatan melahap habis seluruh gedung pelabuhan, mengubah seluruh kerja keras, air mata, dan mimpi Clara selama berbulan-bulan menjadi abu hitam yang beterbangan ditiup angin malam.

"T-tidak mungkin..." gumam Ketty syok, lututnya terasa lemas hingga ia harus mencengkeram tepi meja untuk menopang tubuhnya.

Sebagai seorang manajer dan sahabat, otaknya berputar gila-gilaan, mencoba mencari solusi atas mustahilnya situasi ini.

"Acara kita tinggal tiga hari lagi! Kita tidak punya waktu untuk mendatangkan bahan baru dari Eropa, apalagi menjahit ulang puluhan gaun haute couture berstandar internasional dari awal! Semua desain, detail sulaman tangan, dan struktur gaun itu musnah!"

Clara terkesiap hebat. Wajahnya pias tak berdarah. Kakinya terasa lumpuh seketika. Ia mundur selangkah, namun sebelum tubuhnya limbung dan jatuh ke lantai akibat hantaman mental yang luar biasa, lengan kokoh Alexio sudah bergerak secepat kilat.

Pria itu bangkit, melingkarkan tangan kuatnya di pinggang ramping Clara, menahan dan merengkuh istrinya erat-erat ke dalam dekapannya yang hangat dan kokoh.

"Aku di sini, Clara. Tarik napas," bisik Alexio di dekat telinga istrinya, berusaha menyalurkan ketenangan di tengah badai kehancuran.

Namun, di balik ketenangan luar biasa itu, ada sesuatu yang jauh lebih menakutkan yang sedang bangkit dari dalam diri Alexio Van Der Berg.

Suhu di dalam ruangan kerja itu mendadak anjlok drastis, seakan seluruh oksigen di dalam ruangan baru saja disedot paksa hingga mencapai titik beku.

Alexio menatap tayangan video kebakaran gudang di layar tablet dalam keheningan yang mematikan. Tidak ada amarah yang meledak-ledak lewat teriakan, tidak ada bantingan barang.

Namun, bagi siapa pun yang mengenal siapa Alexio, keheningan mutlak ini adalah pertanda bahwa malaikat maut sedang mengetuk pintu.

Urat-urat halus tercetak sangat jelas di rahang dan leher Alexio yang mengeras. Sudut bibir pria itu perlahan terangkat, membentuk sebuah seringai gelap yang jauh lebih mengerikan dan berbahaya daripada iblis mana pun di dasar neraka.

Sementara itu, di belahan gedung lain di dalam mansion megah itu, di dalam laboratorium pribadi seluas lapangan basket yang dipenuhi cahaya monitor raksasa, si kembar Ken dan Key sedang memantau kekacauan tersebut melalui jaringan kamera tersembunyi yang mereka pasang di ruang kerja ayah mereka.

Ken menghentikan kunyahannya pada biskuit gandum organik yang ada di tangan.

Jari-jari kecilnya yang biasanya lincah mengetik kode kini terhenti sejenak, sementara mata tajamnya di balik kacamata kecilnya memicing dalam.

"Analisis ancaman selesai," gumam Ken dengan nada datar yang kelewat tenang untuk ukuran anak seusia Ken.

"Ada pihak luar yang sengaja mensabotase rantai pasokan logistik dan membakar aset fisik Mama. Kerugian finansial mencapai puluhan juta dolar, tapi dampak psikologis terhadap Mama adalah target utama mereka."

Key, yang tadinya sedang merakit sayap drone, langsung meletakkan alat-alatnya.

Wajah manisnya berubah dingin dalam sepersekian detik. Aura dominan dan kejam yang diwarisi dari garis keturunan Van Der Berg terpancar jelas dari mata abu-abunya.

"Berani sekali mereka merusak gaun karya Mama," suara Key berbisik tajam, terdengar mengerikan.

"Kak Ken, lacak siapa dalang di balik kelompok paramiliter pembajak kargo di laut itu. Gunakan satelit militer swasta kita. Aku ingin nama, alamat, nomor rekening, hingga riwayat kesehatan mereka sepuluh tahun ke belakang terpampang di layar utama sekarang juga."

"Sedang diproses," jawab Ken dingin, jemarinya kembali menari di atas keyboard dengan kecepatan kilat.

"Dalam waktu kurang dari dua menit, kita akan tahu siapa tikus got yang berani menggali kuburan mereka sendiri di hadapan Papa."

Kembali ke ruang kerja utama, Alexio perlahan melepaskan dekapannya pada Clara, menyerahkan wanita itu sejenak kepada Ketty yang langsung memeluk sahabatnya dengan air mata berlinang. Alexio melangkah maju satu langkah, menatap lurus ke arah asisten pribadinya.

"Reno," panggil Alexio. Suaranya terdengar sangat pelan, nyaris seperti berbisik, namun getaran otoritas di dalamnya sanggup meruntuhkan nyali siapa saja yang mendengarnya.

"Saya, Tuan," jawab Reno sigap, menegakkan tubuhnya meski keringat dingin masih membasahi pelipisnya.

"Siapkan jet pribadiku malam ini juga. Hubungi komandan unit pasukan taktis bayangan kita di Eropa dan Asia Pasifik.

Aktifkan status siaga tempur level merah," titah Alexio, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti palu hakim penentu kematian.

"Dan kumpulkan seluruh otoritas hukum negara: kunci seluruh akses penerbangan, pelabuhan, dan jalur perbatasan keluar dari negara ini untuk petinggi perusahaan mana pun yang terindikasi berafiliasi dengan musuh kita. Tidak boleh ada satu pun tikus yang lolos."

"Baik, Tuan! Akan saya laksanakan sekarang juga!" seru Reno dengan nada penuh kepatuhan mutlak.

Alexio berbalik perlahan. Ia melangkah menghampiri Clara yang masih terguncang, berlutut satu kaki di hadapan istrinya, lalu mengangkat wajah wanita itu agar menatap langsung ke dalam iris abu-abunya yang menyala bagai bara api.

"Clara," panggil Alexio lembut namun penuh penekanan mutlak.

"Dengarkan aku. Acara Jakarta Fashion Week akan tetap berjalan sesuai jadwal. Gaun-gaun itu akan tetap dipamerkan, dan kau akan tetap berdiri di atas panggung itu sebagai ratu yang tak terkalahkan. Percayalah padaku."

Clara menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Ada ketakutan, namun ada pula keyakinan luar biasa saat melihat kilatan kekuasaan dan perlindungan mutlak di mata pria yang kini menjadi suaminya itu. Ia mengangguk perlahan.

Alexio berdiri, lalu menoleh tajam ke arah Reno.

"Musuh kita tidak sedang mencoba bermain-main lagi di balik bayang-bayang. Kali ini, mereka keluar dari sarang dan datang untuk menyatakan perang terbuka terhadap keluarga Van Der Berg," desis Alexio, suaranya sarat akan vonis kematian yang mutlak.

"Dan aku akan pastikan, mereka membayarnya bukan hanya dengan kebangkrutan, melainkan dengan darah dan kehancuran total."

Di saat yang bersamaan, suara dering pelan bernada kemenangan berderit pelan dari komputer utama di laboratorium si kembar. Ken menatap layar dengan senyum miring yang menyeramkan.

"Ketemu," ucap Ken pelan. "Data dalangnya sudah terkirim otomatis ke surel pribadi Papa. Permainan dimulai."

Bersambung...

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Happy reading semua semoga karya sederhana ini dapat mengisi waktu senggang kalian ya terima kasih 💞🤗

1
Umi Zein
waalaikumsalam... Alhamdulillah baik kak Ri🤗 sehat2 selalu juga buat kak othornya 🥰Ok ka siaap 🫡😄
Rani R.I
gpp byk musuh tapii jgn biarkan si terkalahkan,,membaca sambil bersitegang 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rani R.I
sgtt Seruuu dan menegangkan thourr 🤣🤣🤣🤣🤣,, terimakasih thourr 👍💪🔥,, semangat up thourr dan sehat slalu 🤲🤲🤲🔥🔥🔥
Siti Nurhayati
cerita y sangat menarik sprti d film
Ariany Sudjana
waduh kok bisa Alexio kecolongan dan pergi ke eropa? semoga si kembar bisa menangani kejadian di mansion dan menangkap pelakunya
Siti Nurhayati
hebat bner si kembar bsa melindungi keluarga y Mantappp
Umi Zein
kak maaf kyanya kalo umur 4th agak aneh klo anak seusia mereka bisa mengendalikan komputer seorang hacker suhu. walau cm Novel, klo usia 7th masuk akal😄😄
Rani R.I
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 duhhh Dimitri nama mu bagus tapii syg harus jadi musuh yang harus di musnah kan oleh si kembar,,hmmm Baru permulaan yea 🤣🤣🤣,,, kita lihat sampai mana kemampuan mu tuan Dimitri 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Munas Tuti
gaaaaass teroooos 💪💪
Munas Tuti
buseeeet...dasar bocil genius
Rani R.I
wowww musuh sudah mulai mendekat,, Ayuk ken dan key jgn biarkan siapapun mendekati mama dan adek kalian 🔥🔥🔥🔥💪💪💪💪
Rani R.I
wowww kerennn ken dan key,, lindungi mamah dan adek bayi 💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Munas Tuti
perang pewaris di mulaiii
Munas Tuti
👍👍👍👍👍
Ariany Sudjana
puji Tuhan, si kembar bisa mengatasi gangguan di rumah sakit. fixed mereka keturunan Alexio yang sangat jenius dan calon mafia masa depan. tapi kok Alexio Dan Reno bisa kecolongan ya?
Bu Kus
sih kembar emang ada aja akalnya cerdas dan jenius
Bu Kus
senangnya bisa berkumpul dan hidup penuh kebahagian semoga semakin bahagia Clara
neny
keren cerita nya,,seru banget
Rani R.I
Wihh seperti nya ini lawan yg tangguh,,ken dan key harus hati-hati,, thourr gpp byk musuh tapii jgn buat si kembar kalah dan lengah,,biar SERUUU
Rani R.I
hahaha jgn lupa thourr bila perlu kembar tiga thour 🤣🤣🤣🤣🤣
semoga cepat hamil lg agar keluarga Alexio semakin ramai 💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰🥰
semangat up thourr,, slalu setia menunggu 💪💪💪🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥
riniandara: Terima kasih kakak, happy reading/Applaud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!