Indonesia
NovelToon NovelToon
Segalanya Kamu (Kontrak Pernikahan Dengan Sahabatku) Part Of Rafa Dan Aluna

Segalanya Kamu (Kontrak Pernikahan Dengan Sahabatku) Part Of Rafa Dan Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hasriani

“Nikah sama aku saja, Aluna.”

Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.

Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.

Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal

mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemarahan Abra

"Kamu jadi sering keluar pagi deh, Al." Tegur Mamanya saat mereka sedang sarapan.

Tentu saja Aluna sudah berpakaian rapi, barang bawaannya sudah ia simpan dimobil sebelum ia masuk sarapan.

"Aluna bosen dirumah Ma, lagian juga cuma main keluar kok." Jawabnya cuek berusaha agar tidak gugup.

"Main mulu kerjaan Lo." Cibir Andrew membuat mood Aluna langsung turun.

"Andrew!." Tegur Abra

"Aku kenyang deh." Ucap Aluna

Ia kemudian berdiri dari tempatnya dan mengalungkan tasnya di lengannya.

"Aku pergi duluan yah Ma Pa, kak Abra." Pamitnya lalu beranjak dari sana.

"Jangan malam-malam pulangnya."

Aluna melangkah pergi meninggalkan keluarganya yang masih melanjutkan sarapan pagi mereka.

Tatapan Abra langsung tertuju pada Andrew yang duduk didepannya.

"Ngapain sih lo selalu cari gara-gara sama Aluna?."

Abra yang selama ini hanya diam tiba-tiba mengeluarkan suaranya.

"Emang yang gue bilang salah?." Tanya Andrew bersikap cuek.

"Salah." Jawab Abra tegas.

"Bukan lo yang kasih Aluna fasilitas dan Aluna juga gak perlu izin sesuatu sama Lo kalau dia mau beli ini itu, kenapa jadi Lo yang sewot setiap Aluna bicara?."

Tatapan Abra terlihat sangat kesal, ia juga muak melihat perlakuan Andrew yang tidak pernah baik ke adik bungsunya itu.

"Abra..Andrew sudah."

Mama mereka pun berusaha menjadi penengah, namun emosi Andrew tiba-tiba memuncak.

"Terus kenapa? Gue juga bagian dari keluarga. Gue gak boleh ikut campur hidup dia?." Kesal Andrew yang merasa selalu dipojokkan jika mulai mengomentari hidup Aluna.

"Sebelum Lo ikut campur urusan Aluna, mending Lo tanya sama diri lo sendiri, pernah gak Lo sedikit aja berbuat baik sama dia?."

Abra yang sudah kehilangan kesabarannya pun turut meninggikan suaranya.

"Ngapain gue harus berbuat baik sama anak manja itu hah!..dia yang gak punya kontribusi apa-apa malah dapat jumlah yang besar tanpa ada usaha, sedangkan gue? Gue..."

"Andrew sudah!."

Papa mereka pun angkat suara memotong ucapan Andrew yang belum selesai.

"Kalian selalu aja belain dia, gak pernah ada yang peduli sama perasaan aku!."

Andrew berdiri dan mendorong kursi dengan keras menggunakan kakinya lalu pergi dari sana.

"Andrew..."

Andrew terus berjalan keluar tanpa menoleh lagi, rasanya tumpukan emosinya akan lepas kendali jika ia masih terus tinggal disana.

***

Mobil Aluna terlihat memasuki area perusahaan, lalu menuju ke basement untuk memarkirkan mobilnya.

Setelah berganti baju, ia turun dari mobil dan berjalan menuju lift dengan satu cup kopi yang tadi ia beli ditangannya.

Lift yang ia gunakan sampai dilantai tujuh dimana ruangan timnya berada.

"Masih sepi ternyata." gumamnya dan berjalan menuju ke mejanya.

Ia meletakkan barang bawaannya dengan perlahan dan duduk disana.

"Mimpi apa aku ini hari kedua aku kerja hehe. Aku punya komputer yang isinya berkas, aku punya id card. Aaa seneng banget."

Batinnya berteriak kegirangan didalam sana.

Ia lalu menyalakan komputernya sembari menunggu tugas apa yang akan diberikan lagi padanya hari ini.

Satu persatu karyawan sudah memenuhi ruangan tersebut, mereka duduk di meja kerjanya masing-masing.

"Ayo tim, kita meeting pagi ini." Ajak Bu Sinta selaku ketua Tim.

Semua refleks berdiri begitupun dengan Aluna dan Mia.

"Kita juga ikut Bu?." Tanya Mia sungkan

"Iyalah, kedepannya kalian punya banyak tugas yang harus dikerjakan." Jawabnya lalu berjalan lebih dahulu ke ruang pertemuan.

Aluna yang sudah antusias dengan meeting pertamanya langsung menyambar buku dan pulpen untuk ia gunakan dirapat nanti.

***

Selama meeting berlangsung, satu persatu karyawan sudah memaparkan ide yang akan digunakan untuk pemasaran produk berikutnya.

Tiba giliran Siska yang sejak penjelasan pertamanya membuat Aluna merasa janggal dengan bahan yang dipaparkan oleh Siska.

"Demikian pemaparan ide dari saya." Ucap Siska menutup presentasinya.

Idenya mendapat sambutan hangat dan tepuk tangan dari para karyawan yang ada diruangan tersebut, namun tidak dengan Aluna, Ia lalu mengangkat tangannya untuk bertanya.

"Maaf Bu, boleh saya bicara?." Pinta Aluna dengan sopan dan menjaga profesionalisme nya.

"Silahkan Aluna." Jawab Bu Sinta mempersilahkan.

"Maaf sebelumnya mbak Siska, tapi ide yang mbak Siska paparkan sangat mirip dengan ide saya yang sudah saya serahkan pada Bu Sinta kemarin."

Jelasnya tidak bisa tinggal diam saat ide yang ia buat digunakan oleh orang lain atas namanya. Ia senang idenya dipuji, tapi ia tidak bisa menerima jika ide itu di klaim oleh orang lain.

"Maksud kamu apa? Kamu pikir kamu saja yang punya ide? Mana tau konsepnya sama."

Siska berusaha tetap tenang agar ia tidak terlihat bersalah, padahal ide tersebut memang adalah ide Aluna yang ia ambil kemarin dari Bu Sinta.

"Saya tidak akan mengklaim ide tadi kalau seandainya bahkan penempatan titik dan koma pun sama semua dipresentasi Mbak Siska tadi." Aluna masih tetap mempertahankan haknya pada ide tersebut.

"Cukup!. Rapatnya selesai, kita pakai ide Siska." Kata Bu Sinta kemudian

Aluna merasa sangat tidak adil dengan keadaan ini, ia pun mencoba memprotes pada Bu Sinta.

"Tapi Bu..."

"Berikan saya bukti kalau ide yang dipaparkan Siska tadi memang ide kamu, baru saya proses semuanya."

Kata Bu Sinta membuat Aluna terdiam. Peserta rapat pun satu persatu keluar dari ruangan meeting tersebut menyisakan Aluna dan Mia disana.

Mia yang duduk disamping Aluna merasa kasihan melihat Aluna yang hanya duduk dengan tatapan kosong.

"Memangnya benar yah itu ide kamu?." Tanya Mia

Tatapan kosong Aluna tadi kini beralih menatap Mia.

"Aku yakin Mia, bahkan titik komanya pun sama." Jawabnya sangat yakin

"Masalahnya kita baru dua hari kerja disini Aluna, mana ada yang percaya anak baru bisa buat ide sebagus tadi."

Mia berusaha membuat Aluna membiarkan masalah ini saja karena ia takut dan sadar posisi mereka masih sangat baru diperusahaan ini.

"Apa yang salah dengan anak baru? Selagi kita punya ide yang bagus kenapa gak di masukkan juga sebagai bahan?."

Aluna yang tidak tahan dengan semuanya tiba-tiba saja ingin meledek rasanya.

***

Setelah merasa tenang, Aluna dan Mia keluar dari ruang pertemuan tersebut.

Saat mereka keluar, Siska langsung menghampirinya bersama Rani dan dua rekan kerja mereka yang lain.

"Maksud Lo apa nuduh gue pakai ide Lo hah?."

Mia yang terkejut melihat Aluna di serang oleh empat senior mereka langsung berdiri didepan Aluna.

"Maaf mbak, mungkin Aluna salah lihat saja tadi." Ucap Mia tidak ingin memperpanjang masalah ini.

"Lo diam." Siska menunjuk Mia dengan telunjuknya.

"Saya sudah bilang mbak, bahkan titik koma di presentasi mbak semuanya sama."

Tidak mau kalah, Aluna pun maju selangkah mendekat ke arah Siska.

"Apa buktinya kalau itu punya Lo?."

Siska mendesak Aluna agar ia memberikannya bukti, padahal dalam hatinya ia berharap Aluna tidak memiliki bukti apapun.

"Mbak Siska sendiri punya bukti kalau itu ide mbak?." Tantang Aluna menatap tajam ke arah Siska.

1
Mira Hastati
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!