Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?
Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.
Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Kehadiran Alexander dan Aturan Baru di Mansion Vane
Kehadiran Alexander Vane mengubah atmosfer Mansion Vane secara total. Kediaman megah yang dulunya dipenuhi oleh aura dingin, penjagaan taktis yang mencekam, serta keputusan-keputusan bisnis bernilai triliunan rupiah kini memiliki pusat gravitasi baru: seorang bayi mungil berambut hitam tebal dengan mata bulat yang sangat mirip dengan ibunya.
Pagi itu, sinar matahari hangat menerobos masuk melalui gorden tinggi kamar utama. Aura duduk bersandar di atas ranjang dengan gaun tidur katun yang nyaman, menimang Alexander yang sedang menyusu dengan tenang. Wajah Aura memancarkan pendar keibuan yang begitu lembut—sisi lain dari Ratu Logistik Selatan yang dulu tak segan menumbangkan musuh di bursa saham maupun di jalanan.
Pintu kamar bergeser pelan tanpa suara. Adrian melangkah masuk dengan kemeja putih yang lengannya tergulung hingga sikut, tanpa dasi, dan rambut hitamnya sedikit berantakan. Pria yang biasanya memimpin rapat direksi dengan tatapan membekukan itu kini berjalan jinjit, sangat berhati-hati agar tak menimbulkan suara kekehan lantai kayu.
Aura melirik suaminya lalu tertawa kecil tanpa suara. "Adrian, kamu berjalan seperti penyusup di rumah sendiri."
Adrian menghela napas lega saat sampai di tepi ranjang. Ia mengecup kening Aura dengan hangat, lalu menunduk menatap wajah mungil Alexander yang mulai mengantuk.
"Aku tidak mau membuat Alexander terbangun," bisik Adrian dengan suara bass-nya yang sengaja diperhalus. "Proses menidurkannya tadi malam butuh waktu dua jam, Aura. Kalau dia terbangun sekarang, seluruh jadwal rapat Vane Group hari ini harus aku batalkan lagi."
Aura tersenyum manis, mengusap pipi lembut bayinya sebelum membenahi pakaiannya setelah Alexander selesai menyusu dan tertidur pulas di pelukannya. "Tuan CEO Mafia yang ditakuti seluruh Asia Tenggara... sekarang takut dengan tangisan bayi berumur satu bulan?"
"Bukan takut," elak Adrian cepat sambil dengan hati-hati mengambil alih Alexander dari dekapan Aura, menyangga kepala kecil itu dengan telapak tangannya yang kokoh. "Ini namanya penghormatan taktis terhadap penguasa baru mansion ini."
Aura menatap pemandangan di depannya dengan perasaan hangat yang meluap-luap. Adrian Vane—pria tegap yang biasanya memegang laras senjata atau menandatangani kontrak triliunan—kini tampak begitu cekatan dan penuh kelembutan saat memindahkan Alexander ke dalam boks bayi berukir kayu mahoni di samping ranjang mereka.
Namun, ketenangan pagi itu tidak berlangsung lama tanpa sedikit bumbu kekonyolan khas pasangan penguasa ini.
Tok, tok, tok.
Ketukan pintu kamar terdengar agak terburu-buru. Asisten pribadi Adrian berdiri di luar dengan wajah tegang, memegang satu set dokumen tebal dan iPad kerja.
"Tuan Besar, Nyonya Muda... mohon maaf mengganggu," bisik sang asisten setengah berbisik begitu Adrian membuka pintu sedikit. "Delegasi utama dari Konsorsium Eropa sudah hadir di ruang rapat utama mansion. Mereka meminta konfirmasi terkait pembaruan kontrak ekspor jalur selatan."
Adrian menyipitkan matanya, raut wajah dinginnya langsung kembali dalam sekejap. "Suruh mereka menunggu sepuluh menit lagi. Aku akan turun."
"Tunggu dulu," potong Aura yang sudah berdiri dari ranjang, merapikan gaun luarnya dengan gerakan cepat khas mantan agen. "Aku ikut turun."
Adrian langsung berbalik, menatap istrinya dengan dahi berkerut protes. "Aura, kamu baru selesai masa pemulihan. Dokter bilang kamu harus banyak istirahat."
"Aku cuma duduk di ruang rapat, Adrian, bukan ikut latihan tembak," jawab Aura secepat peluru, bicaranya yang lancar kembali meluncur seperti biasa. "Pembaruan kontrak ekspor jalur selatan itu ada klausa retensi 5% yang harus aku cek sendiri! Kalau tidak dicek, tim Eropa pasti mencoba menyisipkan pasal penyesuaian inflasi otomatis!"
Adrian menatap istrinya dengan perpaduan antara rasa gemas dan kagum. Sifat taktis dan ambisius Aura memang tidak pernah hilang, hanya tertidur sebentar selama masa kehamilan.
"Baiklah, Nyonya Vane," ujar Adrian pasrah. "Tapi dengan satu syarat: maksimal tiga puluh menit. Setelah itu, kamu kembali ke kamar."
Di ruang rapat megah Mansion Vane, lima utusan senior dari Konsorsium Eropa duduk dengan tegap. Mereka sudah menyiapkan deretan argumen hukum dan data keuangan rumit untuk menekan negosiasi harga ekspor, memanfaatkan momentum karena menganggap Adrian dan Aura sedang lengah setelah kelahiran anak pertama mereka.
Namun, anggapan itu hancur berantakan dalam sepuluh detik pertama.
Pintu ruang rapat terbuka. Adrian dan Aura melangkah masuk secara berdampingan. Aura tampil sangat anggun dengan setelan formal berwarna biru dongker, sementara Adrian berdiri di sisinya bagaikan pelindung mutlak.
Begitu duduk di kepala meja, Aura tidak membuang waktu satu detik pun. Sebelum ketua delegasi Eropa sempat membuka mulut untuk menyampaikan pidato pembukanya, Aura sudah menggeser dokumen analisis di depan mereka!
"Selamat pagi, Tuan-tuan," cecar Aura secepat senapan mesin, suaranya jernih dan penuh dominasi. "Draft kontrak baru yang kalian kirim tadi malam pukul dua dini hari sudah aku periksa. Pasal 12 ayat 3 tentang biaya jaminan pengiriman laut harus dihapus total! Jalur selatan sekarang berada di bawah kendali tunggal V-Core Investments, yang artinya seluruh risiko pengamanan sudah ditanggung oleh armada internal Vane Group! Jangan coba-coba membebani kami dengan biaya asuransi ganda sebesar dua juta dolar per kuartal!"
Seluruh delegasi Eropa membelalakkan mata kaget! Pimpinan delegasi sampai berkeringat dingin, memandang dokumen di tangannya dengan tangan agak gemetaran. Mereka tidak menyangka seorang ibu yang baru melahirkan satu bulan lalu masih memiliki ketajaman analisis data setingkat ini!
Adrian bersandar santai di kursinya, melipat tangan di dada dengan senyuman tipis yang sangat berbahaya. "Kalian mendengar apa yang dikatakan istriku? Tanda tangani draf revisi tanpa pasal itu, atau seluruh akses kapal kalian di Pelabuhan Selatan kami bekukan mulai sore ini."
Tanpa berani membantah satu patah kata pun, pimpinan delegasi Eropa langsung menyambar pena dan menandatangani dokumen persetujuan revisi tersebut dalam hitungan menit!
"Urusan selesai," ujar Aura puas sambil menutup map dokumen. "Terima kasih atas kerja samanya, Tuan-tuan."
Saat mereka melangkah keluar dari ruang rapat menuju koridor utama, suara tangisan nyaring Alexander tiba-tiba terdengar dari arah lantai dua melalui baby monitor di saku kemeja Adrian.
OEEEKKK! OEEEKKK!
Seketika itu juga, aura dingin dan dominasi mutlak yang baru saja meratakan delegasi Eropa sirna tanpa sisa dari wajah pasangan penguasa tersebut!
"Alexander bangun!" seru Aura panik, refleks membalikkan badannya secepat kilat.
"Pelan-pelan, Aura! Jangan berlari pakai sepatu tumit tinggi itu!" seru Adrian tak kalah panik, langsung mengejar istrinya dan merangkul pinggang Aura agar wanita itu tidak terpeleset di lantai marmer yang licin.
Di depan pintu kamar bayi, para pengawal pribadi yang bersenjata lengkap hanya bisa menunduk menahan senyum menyaksikan dua orang paling ditakuti di dunia bisnis itu berlomba-lomba membuka pintu kamar bayi hanya untuk menjadi orang pertama yang menggendong Alexander.
Adrian berhasil mendahului Aura setengah langkah, mengangkat Alexander dari boksnya dengan sangat lembut dan menimangnya di dada tegapnya. Ajaibnya, begitu berada di dalam dekapan Adrian, tangisan Alexander perlahan mereda, berganti menjadi celotehan halus dan hisapan kecil pada jemari ayahnya.
Aura melangkah mendekat, menyandarkan kepalanya di bahu Adrian, menatap buah hati mereka dengan senyuman paling bahagia di dunia.
"Lihat kan..." bisik Aura lembut, menggenggam jemari kecil Alexander. "Dia tahu kalau Ayahnya adalah pelindung terkuatnya."
Adrian menunduk, mencium kening Aura dan puncak kepala Alexander bergantian. "Dan Ibunya adalah Ratu paling cerdas yang tak akan pernah bisa dikalahkan oleh siapa pun."
Di bawah pendar cahaya siang yang hangat di Mansion Vane, pertempuran demi pertempuran telah usai. Tak ada lagi musuh yang berani mengusik, tak ada lagi keraguan dalam jiwa. Kehidupan baru telah dimulai, dipimpin oleh cinta, kekuatan, dan sebuah janji setia yang bertahan selamanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘
semoga gak terlalu ceroboh lagiii yaa...bisa bahaya kalau lagi hamil 😁👍