Indonesia
NovelToon NovelToon
I Love You Mas Mayor Galak

I Love You Mas Mayor Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.

Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Surat Pertama dan Ujian Kesetiaan di Mako

BAB 22: Surat Pertama dan Ujian Kesetiaan di Mako

Tiga bulan berlalu sejak keberangkatan Mayor Aris menuju kawasan perbatasan terluar Indonesia.

Suasana Mako Batalyon terasa jauh lebih sepi dan lengang tanpa kehadiran sosok Komandan yang tegas, disiplin, namun kini memancarkan kehangatan itu.

Bagi Mayang, setiap harinya adalah perjuangan lahir dan batin untuk menahan rindu yang membuncah.

Komunikasi yang sangat terbatas di daerah konflik membuat Mayang harus puas hanya dengan menunggu kabar lewat surat resmi militer yang dikirim lewat penerbangan logistik bulanan.

Pagi itu, cuaca di Mako Batalyon tampak begitu cerah. Mayang sedang berada di dapur umum Mess Perwira bersama ibu-ibu Persit, sibuk meracik ratusan bungkus makanan hangat untuk kegiatan bakti sosial warga sekitar.

Kacamata barunya sedikit meluncur di pangkal hidung karena peluh yang membasahi wajahnya.

Meski hatinya sering kali dihinggapi rasa cemas mendalam akan keselamatan Aris di tengah ancaman konflik perbatasan, Mayang selalu berusaha tampil tegar, ceria, dan penuh energi di hadapan semua orang.

"Mbak Mayang! Mbak Mayang!" panggil Sertu Bambang tergesa-gesa sambil berlari kecil memasuki area dapur umum.

Tangan kanan Sertu Bambang menjinjing sebuah amplop cokelat tebal berstempel dinas militer dengan label SURAT RADIO PENGHUBUNG.

"Ada surat khusus yang baru mendarat dari perbatasan! Dari Mayor Aris buat Mbak Mayang!"

Seketika itu juga, seluruh aktivitas potong-memotong sayur di dapur umum terhenti total.

Ibu-ibu Persit bersorak gembira dan menggoda Mayang. Mayang buru-buru mengelap tangannya yang basah dengan kain bersih, lalu menerima amplop cokelat itu dengan kedua tangan yang bergetar hebat.

Jantungnya berdegup kencang, memukul dadanya dengan ketukan bahagia yang tak tertahankan.

Mayang membawa surat itu menuju bangku kayu di bawah rindangnya pohon mahoni tua di pinggir lapangan.

Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, ia membuka segel amplop dan merentangkan dua lembar kertas bergaris di dalamnya.

Air mata bening mulai menggenang di sudut matanya saat mengenali goresan tinta hitam dan tulisan tangan Aris yang sangat khas, rapi, dan tegap.

Mayang, rumah dan tempat saya pulang...

Saat surat ini tiba di tanganmu, pasukan Batalyon sedang bertahan di Pos Komando Utama Sektor Utara.

Di sini, hujan deras turun hampir setiap malam, mengubah tanah menjadi lumpur pekat dan suhu udara merosot sangat dingin.

Medan di sini sangat terisolasi dari peradaban. Namun, setiap kali rasa lelah, dingin, dan tekanan tugas penugasan ini terasa membebani dada, saya cukup merogoh saku kiri seragam PDL saya dan mengeluarkan foto kamu yang tersenyum saat acara lamaran kita.

Foto sederhana itu selalu berhasil memberikan saya kehangatan, kekuatan, dan alasan paling kuat untuk terus berdiri tegap memimpin pasukan di garis depan. Saya selalu membayangkan senyumanmu di balik kacamata tebal itu.

Agar dirimu baik-baik di Mako, Mayang. Jangan terlalu memaksakan diri bekerja membantu Persit sampai kamu lupa makan atau jatuh sakit.

Ingatlah, ada seorang Mayor di perbatasan ini yang berjanji demi kehormatannya akan kembali pulang untuk memelukmu dengan selamat.

Salam rindu dan cinta paling dalam dari perbatasan,

Mayor Aris

Mayang membawa lembaran surat itu ke dadanya, memeluknya sangat rapat seraya memejamkan mata.

Air mata bahagianya menetes pelan membasahi kertas.

Tulisan tangan Aris yang sarat akan rasa cinta dan kerinduan mendalam itu menjadi penawar paling ampuh untuk mengobati rasa dahaga jiwanya selama tiga bulan terakhir.

Namun, kedamaian dan kebahagiaan Mayang di Mako Batalyon hari itu tidak bertahan lama.

Sore harinya, sebuah mobil sedan mewah berpelat nomor Jakarta berhenti mendadak di depan pelataran Gedung Komando Utama.

Dari dalam mobil, turun Rika wanita modis yang merupakan sepupu jauh sekaligus rekan bisnis keluarga Aris bersama seorang pria paruh baya bersetelan jas mahal yang menjinjing tas koper kulit tebal.

Rika melangkah dengan cepat dan penuh keangkuhan menyusuri koridor, menuju kantin perwira tempat Mayang dan Kapten Yoga sedang berdiskusi mengenai laporan logistik Batalyon.

Wajah Rika tampak tegang, menyampirkan aura emosi dan sikap intimidatif yang sangat kuat.

"Yoga! Di mana semua berkas dan arsip dokumen aset yayasan purnawirawan?!" semprot Rika tanpa basa-basi sedikit pun, menggebrak meja kayu kantin hingga cangkir teh bergetar.

"Lahan peninggalan keluarga di Jakarta saat ini terancam disita oleh pihak bank karena ada dugaan sengketa sertifikat ganda yang dimainkan oleh mantan pengacara! Kita butuh tanda tangan basah, persetujuan penjamin, dan dokumen pendukung dari perwakilan keluarga Aris sekarang juga!"

Kapten Yoga seketika berdiri tegap dari kursinya, merapikan baju dinasnya.

"Mbak Rika, mohon menjaga ketenangan di area Mako Batalyon. Mayor Aris saat ini sedang memimpin operasi di perbatasan terluar dan berada di zona minim sinyal. Seluruh urusan dokumen, hukum, dan aset tidak bisa dikeluarkan sembarangan tanpa prosedur hukum militer dan izin resmi."

"Prosedur militer kalian itu terlalu lambat, berbelit-belit, dan tidak masuk akal!" potong Rika dengan nada suara tajam meremehkan. Mata Rika kemudian beralih, menatap Mayang yang duduk di samping Kapten Yoga dari atas ke bawah dengan pandangan penuh celaan.

"Dan kamu, Mayang... kamu ini cuma gadis sipil yang kebetulan jadi tunangan Aris. Kamu tidak tahu apa-apa soal hukum bisnis keluarga besar Aris yang rumit ini. Lebih baik kamu diam, jangan sok tahu, dan jangan ikut campur urusan kami!"

Mendengar gertakan tajam tersebut, Mayang menarik napas panjang. Ia berdiri dari kursinya secara perlahan, membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan yang sangat tenang.

Mayang membalas tatapan Rika lurus-lurus, memancarkan aura ketegasan dan keberanian yang amat kuat tanpa ada sedikit pun raut gentar di wajah cantiknya.

"Mbak Rika yang terhormat," ujar Mayang dengan nada suara yang sangat tenang, tertata, namun tajam menohok tepat di sasaran,

"Mayang memang hanya seorang warga sipil biasa. Tapi detik ini, Mayang adalah calon istri Mayor Aris yang memegang amanah penuh untuk menjaga kehormatan, nama baik, serta aset keluarga beliau selama Mas Aris mempertaruhkan nyawanya bertugas di perbatasan negara."

Mayang melangkah satu tapak mendekati Rika, melanjutkan kalimatnya dengan penuh penekanan.

"Mako Batalyon ini punya aturan dan hierarki hukum yang sah.

Kalau Mbak Rika memang berniat baik ingin menyelamatkan aset yayasan, tunjukkan surat kuasa resmi, sertifikat asal-usul, dan dokumen sanggahan secara transparan kepada Tim Hukum Batalyon di ruang sekretariat.

Jangan mencoba memakai gertakan, nada tinggi, atau kepanikan untuk menerobos aturan Mako dan memanfaatkan ketiadaan Mas Aris di sini!"

Rika terperangah total. Suaranya seolah tercekat di tenggorokan. Pria berjas di sampingnya terdiam tak berani menyanggah.

Rika sama sekali tidak menyangka bahwa gadis berkacamata yang selalu ia anggap polos, lugu, dan lemah itu memiliki mental baja, keberanian luar biasa, serta pemikiran hukum yang sangat rasional dan berwibawa.

Kapten Yoga menyunggingkan senyum bangga yang tersembunyi di balik raut wajah tegasnya. Kapten Yoga melangkah maju membentengi Mayang.

"Apa yang disampaikan oleh Mbak Mayang adalah keputusan mutlak Batalyon. Silakan serahkan seluruh dokumen Mbak Rika ke ruang sekretariat hukum sekarang untuk diteliti bersama."

Dengan wajah merah padam menahan rasa malu dan amarah yang meluap, Rika akhirnya tak punya pilihan lain selain menyerahkan map koper dokumen tersebut secara kooperatif kepada tim hukum Batalyon.

Keberanian dan ketegasan tegar Mayang berhasil menggagalkan potensi manipulasi aset yang bisa merugikan keluarga Mayor Aris.

Malam harinya, pendar cahaya rembulan menyinari teras Mess Perwira yang tenang. Mayang duduk sendirian di atas bangku kayu, mengusap lembut tulisan tangan Aris di atas lembaran kertas surat.

Mayang menyunggingkan senyum manis yang penuh keyakinan. Ujian perpisahan satu tahun ini mungkin terasa sangat berat, penuh badai, dan sarat tantangan.

Namun, Mayang tahu pasti bahwa hatinya dan jiwa Mayor Aris telah terikat abadi.

Ia siap berdiri paling depan menghadapi ancaman apa pun demi menjaga Mako dan menyambut kepulangan sang pujaan hati ke pelukannya.

1
pena putih
seru banget ditunggu updatenya ya
pena putih
Yuk mampir👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!