Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 Gerbang Keluarga Sabit
Kereta kuda yang membawa keluarga Angel perlahan melambat. Di kejauhan, perlahan terlihat sebuah bangunan yang begitu megah dan agung — dikelilingi tembok tinggi yang menjulang ke langit, seakan tak tertembus. Di depan gerbang utama yang besar itu, berdiri dua sosok penjaga raksasa bertubuh kekar dan besar — para algojo yang menjaga pintu masuk. Wajah mereka tegas dan dingin, seakan tak ada satu pun orang yang bisa lewat tanpa izin.
Kereta itu berhenti tepat di hadapan kedua penjaga itu. Salah satu algojo melangkah maju, suaranya berat dan menggelegar.
"Berhenti! Tunjukkan identitas kalian! Siapa yang berani mendekati kediaman Tuan Efraos?"
Mendengar itu, Kael dan Lazark yang sedari tadi menunggangi kuda di sisi kereta segera turun dan menghampiri kedua penjaga itu. Tanpa perkenalan lebih dulu, Lazark justru melebarkan senyum lebar, menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk, lalu berseru dengan nada bangga namun terdengar lucu dan dibuat-buat.
"Wah wah wah! Sambutlah aku, Raja kalian! Hahahaha!"
Kedua algojo itu saling bertukar pandang dengan tatapan jijik dan tak terhibur.
"Jangan bercanda," ucap salah satu algojo dengan nada dingin dan mengancam. "Jika kau bermain-main di sini, kami akan menyerangmu tanpa ragu. Di sini tidak menerima orang yang lemah maupun pelawak yang tak berguna."
Kael yang mendengar kata-kata itu langsung menatap Lazark — dan tatapan itu bukan tatapan seorang keponakan terhadap pamannya. Tatapan itu penuh rasa hormat, kesetiaan, dan pengakuan — tatapan seorang murid kepada gurunya. Di matanya, Lazark bukan sekadar kerabat, melainkan sosok yang jauh lebih tinggi, sosok yang pernah mengajarinya segala hal yang ia miliki.
Seketika, wajah ceria Lazark lenyap. Ia perlahan menundukkan kepalanya, aura di sekelilingnya berubah drastis. Udara di sekitar mereka tiba-tiba menjadi berat dan dingin.
"Cukup," suara Lazark terdengar rendah namun berat, seakan berasal dari dasar bumi. "Sepertinya aku sedang dalam kondisi tidak mood, Kael. Mundurlah. Biar aku yang akan mengatasi ini sendirian."
Kael tidak membantah sedikit pun. Ia hanya menundukkan kepalanya pelan, sepenuhnya tunduk pada perintah itu.
"Baik, Guru," jawab Kael pelan namun tegas, penuh penghormatan. "Saya mundur. Silakan Guru menyelesaikannya."
Gerakannya begitu patuh dan hormat, seakan kata-kata itu adalah perintah mutlak yang tak bisa dibantah — bukan keponakan kepada paman, melainkan murid setia kepada gurunya.
Dari tubuh Lazark tiba-tiba memancarkan aura gelap yang pekat. Kabut hitam muncul dari tanah, perlahan menyelimuti tubuhnya, semakin padat dan semakin gelap, hingga akhirnya kabut itu berubah membentuk sebilah jubah besar yang hitam legam — seakan menyerap seluruh cahaya di sekitarnya. Sosoknya kini tampak mengerikan, penuh kekuatan yang luar biasa namun terkendali.
Di dalam kereta, Rebeca melihat perubahan itu dengan cemas. Ia menoleh kepada suaminya.
"Sayang… sepertinya Lazark akan membuat masalah lagi."
Yofaith justru tampak tenang, bahkan sedikit tersenyum.
"Biarkan saja, Rebeca. Kau tahu sendiri Lazark itu orangnya lucu. Tidak mungkin dia benar-benar akan menyerang penjaga itu. Dia hanya… menegaskan siapa yang datang. Dan lihatlah Kael — baginya, Lazark bukan sekadar paman. Bagi Kael, Lazark adalah gurunya. Selayaknya murid menghormati gurunya, begitu pun Kael."
Namun di saat itu, pintu kereta terbuka. Angel melangkah keluar, menatap sosok pamannya yang kini diselimuti jubah gelap itu dengan tatapan tak takut, justru penuh perhatian.
"Ayah, Ibu… aku ingin keluar untuk menemui Paman Lazark. Apakah boleh?"
Yofaith tersenyum lembut dan mengangguk.
"Boleh saja, Putriku. Pamanmu itu hanya sedang bercanda kok. Tidak ada yang perlu ditakuti."
Rebeca justru menahan napas, hatinya berdebar cemas. Ia tahu betul kekuatan yang baru saja dikeluarkan Lazark itu — itu adalah salah satu kekuatan yang mengerikan, yang bisa membahayakan siapa pun di dekatnya. Ia takut putrinya terluka. Namun Yofaith meletakkan tangannya di bahu istrinya, menenangkan.
"Tidak perlu khawatir, Sayang. Angel tidak akan terluka. Dan ini juga untuk kebaikan putri kita — biarkan dia melihat, memahami, dan menghadapi hal-hal seperti ini sejak dini. Lagipula…" suaranya melembut, "ini juga seperti persiapan bagi apa yang akan dihadapinya nanti di ujian lanjutan akademik. Biarkan dia belajar berdiri di hadapan kekuatan besar tanpa rasa takut."
Rebeca menarik napas panjang, perlahan melepaskan kekhawatirannya. Ia tahu suaminya benar. Dan di dalam hatinya, ada ketakutan lain — ujian lanjutan di akademik itu… ia takut apa yang akan dihadapi putrinya kelak. Namun melihat Angel yang melanggar mantap mendekati sosok jubah hitam itu, ia merasa sedikit lebih tenang.
Angel berjalan mendekati Lazark yang berdiri di tengah kabut hitam itu, lalu dengan suara yang jernih dan tegas, ia memanggil:
"Paman Lazark… aku di sini."
Mendengar suara itu, kabut hitam perlahan menyusut, dan jubah gelap itu perlahan menghilang, menyisakan sosok Lazark yang kembali menatapnya dengan senyum lembut — namun kali ini, tatapannya penuh wibawa seorang pelindung. Dan di belakangnya, Kael tetap berdiri dengan kepala tertunduk hormat, menunggu perintah selanjutnya dari gurunya.
Penjaga algojo yang melihat perubahan itu terbelalak, tubuh mereka gemetar ketakutan — mereka baru saja menyadari siapa sosok yang berdiri di hadapan mereka.
Kedua algojo itu tiba-tiba berlutut dengan tubuh gemetar hebat. Wajah mereka pucat pasi, penuh ketakutan sekaligus rasa hormat yang mendalam.
"Mohon ampuni kami, Sang Tangan Kanan Dewa Penghancur, Lazark von Frazec!" seru mereka serempak dengan suara bergetar. "Kami adalah algojo yang baru saja ditempatkan sebagai penjaga gerbang! Kami baru saja menjadi bagian dari Keluarga Sabit dan belum sempat mengenali wajah Tuan! Ampuni kami, Tuan!"
Mendengar panggilan itu, wajah Lazark yang tadinya serius dan mengerikan seketika berubah menjadi merah padam. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu tertawa canggung sambil melambaikan tangan berulang kali — kembali menjadi sosok yang ceria dan sedikit malu-malu.
"Ah, tidak perlu berlebihan begitu tahu! Jadi malu dengarnya, hahahaha!" serunya sambil tertawa renyah, lalu berbalik badan menunjuk dirinya sendiri dengan bangga ke arah Kael dan Angel. "Lihatlah, Kael! Dan lihatlah juga keponakanku, Angel! Lihatlah aku — aku diakui! Hahahaha!"
Angel yang melihat tingkah pamannya itu langsung tertawa lepas, tawa yang jernih dan penuh kegembiraan. Selama ini ia hanya mengenal Lazark sebagai paman yang ceria dan suka bercanda — namun hari ini, ia baru menyadari bahwa di balik kelucuannya, tersembunyi nama yang begitu agung dan ditakuti.
Kael tersenyum tipis melihat perubahan sikap gurunya itu, lalu menundukkan kepala sedikit seakan ikut bangga. "Benar, Guru. Nama Tuan Lazark von Frazec tidak akan pernah terlupakan oleh siapa pun yang pernah mendengarnya."
Suara Kael terdengar tulus dan penuh hormat — bukan hanya sebagai murid, melainkan sebagai orang yang tahu betul seberapa besar kekuatan dan pengorbanan yang dimiliki gurunya itu.
Di dalam kereta, Rebeca dan Yofaith ikut tersenyum melihat pemandangan itu. Kekhawatiran Rebeca perlahan hilang, berganti dengan rasa syukur dan kehangatan.
"Selalu saja begitu…" gumam Rebeca sambil tersenyum lembut. "Seriusnya bisa mengerikan, tapi lucunya bisa membuat siapa pun tertawa."
Yofaith mengangguk setuju. "Itulah kelebihannya. Ia tidak membiarkan kekuatan menguasai hatinya. Dan justru karena itulah ia begitu dihormati — bukan hanya karena kekuatannya, tapi karena hatinya."
Sementara itu, kedua algojo masih berlutut dengan kepala tertunduk. Lazark menyadari hal itu, lalu melambaikan tangan dengan ramah.
"Sudah, sudah — bangunlah! Tidak perlu takut padaku. Aku tidak akan memakan kalian kok! Hahahaha! Kalian hanya melakukan tugas kalian dengan baik. Dan itu hal yang patut dipuji. Sekarang… bukankah seharusnya kalian membukakan gerbang itu untuk keluarga kami?"
Mendengar itu, kedua algojo segera bangkit berdiri dengan sigap, wajah mereka tampak lega sekaligus penuh hormat.
"Baik, Tuan! Mohon tunggu sebentar — gerbang akan segera terbuka!"
Mereka berdua berbalik dan memberi isyarat kepada penjaga di balik tembok. Perlahan namun pasti, gerbang raksasa yang kokoh itu mulai berderit terbuka — menampakkan halaman yang luas, dihiasi bunga-bunga langka dan pohon-pohon besar yang menjulang gagah. Di kejauhan, berdiri sebuah rumah besar yang megah namun sederhana — bukan berkilauan emas atau permata, melainkan terbuat dari batu hitam dan kayu tua yang memancarkan kekuatan sekaligus kehangatan. Itulah kediaman Keluarga Sabit — rumah kakek dan nenek Angel.
Angel menatap ke dalam dengan mata berbinar, jantungnya berdebar kencang. Di sana… di balik gerbang itu, kakek dan neneknya sedang menunggu.
Kereta kuda itu perlahan bergerak melewati gerbang yang terbuka lebar, memasuki halaman luas yang dipenuhi pepohonan rindang dan bunga-bunga bermekaran yang harum semerbak. Di depan pintu utama kediaman yang megah namun hangat, sudah berdiri sesosok wanita paruh baya yang wajahnya masih memancarkan keanggunan serta kelembutan — dialah Rosalia de Erum, atau yang akrab disapa Rosa, ibu kandung Rebeca, sekaligus nenek dari Angel.
Begitu kereta berhenti, pintunya segera terbuka. Rebeca, Yofaith, dan Angel turun satu per satu. Sementara itu, Lazark dan Kael yang menunggangi kuda pun turun dan berdiri dengan rapi di samping kereta.
Rosa menyambut mereka dengan senyum lebar, namun matanya langsung tertuju pada Rebeca. Tanpa peduli siapa yang melihatnya, ia berlari menghampiri putrinya dan merangkulnya erat-erat, seakan takut jika melepaskan pelukan itu Rebeca akan menghilang kembali.
"Putriku…! Aku sudah begitu lama tidak bertemu denganmu! Aku sangat merindukanmu!" suaranya bergetar penuh haru. "Bagaimana kabarmu, Nak?"
Rebeca membalas pelukan itu dengan sama erat, air mata bahagia menetes di pipinya.
"Iya, Ibu… aku juga sangat merindukan Ibu. Aku baik-baik saja, Ibu."
Rosa masih memeluk putrinya, namun perlahan ia melepaskan pelukannya dan menatap ke arah ketiga orang lainnya — Yofaith, Lazark, dan Kael. Ia tersenyum malu namun tetap ramah.
"Selamat datang kalian semua! Maafkan perilakuku yang tiba-tiba ini, hahahaha…" ucapnya sambil tertawa kecil, terdengar begitu tulus dan hangat.
Namun saat pandangannya jatuh pada sosok kecil yang berdiri di samping Rebeca — Angel — senyumnya perlahan berubah menjadi tatapan bingung sekaligus kagum. Ia menatap gadis kecil itu lekat-lekat, lalu bertanya dengan lembut kepada Rebeca.
"Putriku… siapakah anak kecil yang lucu dan cantik ini?"
Rebeca tersenyum indah, lalu meletakkan tangan di bahu putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Ibu… izinkan aku memperkenalkan. Ini adalah Angel — putriku, sekaligus cucu Ibu."
Angel menatap wanita itu dengan mata berbinar, lalu dengan sopan dan lembut ia membungkuk sedikit.
"Halo, Nenek… salam kenal, aku Angel."
Rosa terpaku sejenak, matanya perlahan berkaca-kaca. Perlahan ia mengulurkan tangan, menyentuh wajah kecil itu dengan gemetar penuh kasih sayang.
"Angel… cucuku…" bisiknya pelan, tak percaya. "Ternyata… kau benar-benar ada."
Rosa tersenyum bahagia, tangannya masih lembut mengusap pipi Angel, lalu menoleh kepada seluruh keluarga dengan tatapan hangat dan penuh keramahan.
"Mari masuk, semuanya. Kalian pasti sudah lelah setelah perjalanan yang begitu jauh. Biarkan para penjaga di sini yang mengurus kuda dan kereta kalian — kalian tidak perlu khawatir."
Ia berbalik dan memimpin jalan menuju pintu utama yang besar namun terasa hangat. Begitu melangkah masuk, Angel merasa seolah-olah memasuki dunia yang berbeda — ruangan itu luas, dengan lantai batu yang halus dan dinding yang dihiasi lukisan-lukisan kuno serta lambang sabit yang terukir indah di mana-mana. Udara di dalamnya terasa harum bunga dan kayu tua, serta dipenuhi cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan suasana damai dan penuh kehangatan.