Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.
Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.
Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.
Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.
Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Kerja
Tiga hari kemudian, setelah keluar dari rumah sakit, Zevanna kembali bekerja.
Perusahaan sudah mengetahui kejadian yang menimpanya.
Zevanna masih sedikit lelah, tetapi ia tetap masuk karena merasa tidak mau terus-terusan dianggap lemah.
"Lo jangan sok kuat lagi, inget lo baru keluar dari rumah sakit." Omel Tisha.
Zevanna mendengus kecil. "Gue cuma sakit, bukan kehilangan kaki. Tisha!"
"Ya tapi nanti lo sakit lagi gimana, hah?" Kata Tisha mulai kesal.
Beberapa karyawan diam-diam memperhatikan Zevanna karena kabar dirinya pingsan sudah tersebar.
Zevanna merasa risih dan mendengus.
"Apa kalian lihat-lihat hah? Sana kerja!" Tegur Zevanna membuat karyawan pergi ngacir.
"Nah, gini dong. Baru Zevanna yang gue kenal." Ucap Tisha malah bangga.
Zevanna menatap Tisha sinis. "Berisik lo juga!"
Tisha mendecih. "Dih, kayak gitu banget lo, baru keluar dari rumah sakit udah kumat lagi sifatnya."
"Diem lo!”
Namun matanya justru tertuju ke meja kerjanya.
Ia merasa ada sesuatu yang berbeda.
Zevanna membuka tasnya. Benda kecil milik Zoyya masih ada.
Ia mengingat kejadian ketika posisi tasnya berubah tiba-tiba.
Zevanna mulai berpikir, lalu menatap Tisha. "Eh, waktu itu ada orang yang dateng ke meja gue nggak, Tis?"
Tisha mengerutkan kening lalu menggeleng. "Nggak tau, soalnya gue waktu itu ke toilet."
Zevanna terdiam, ia mulai menyadari bahwa seseorang mungkin memang pernah menyentuh barang-barangnya.
***
Zevanna sedang mengambil dokumen ketika Ravenzo menghampirinya.
Ravenzo menegur karena Zevanna terlihat masih lelah.
"Kalau belum pulih, jangan memaksakan diri."
Zevanna mendongak. "Saya nggak selemah itu, Pak."
"Kamu baru saja pingsan." Kata Ravenzo datar.
Zevanna langsung terdiam.
Ravenzo memberikan makanan kepada Zevanna.
"Ini, makan."
Zevanna tersentak kecil. "Nggak usah, Pak."
Ravenzo mengerutkan kening. "Kenapa? Masih takut sama makanan dari Andrew?"
Zevanna terdiam dan menunduk.
Ravenzo menghela napas. "Kalau kamu tidak mau, jangan. Tapi jangan sampai tidak makan sama sekali."
Zevanna terpaku karena sikap Ravenzo kali ini berbeda dari biasanya.
Zevanna mengangguk pelan. "Iya, Pak. Makasih banyak."
Zevanna meraih makanan tersebut. "Nanti saya makan, Pak. Kalau gitu saya mau pergi dulu."
"Pergi kemana?" Tanya Ravenzo.
"Ke toilet, Pak. Bapak mau ikut?" Jawab Zevanna polos.
Ravenzo menggeleng. "Enggak."
Zevanna tersenyum kecil, lalu ia pergi meninggalkan meja kerjanya.
Saat Zevanna pergi, Ravenzo tanpa sengaja melihat jam tangan yang selalu dipakai Zevanna.
Ravenzo hanya menatapnya sebentar.
Namun dari kejauhan, seseorang juga memperhatikan jam tersebut. Kemudian pergi.
***
Tisha mendapat tugas mengantarkan beberapa dokumen ke bagian administrasi.
Ia melewati sebuah ruangan yang jarang digunakan.
Tisha mendengar percakapan dari dalam.
Ia tidak sengaja berhenti.
Ada suara Elsa dan Meisya.
"Kok ada suara Mbak Elsa dan Mbak Meisya ya?" Gumamnya.
Ia tidak mendengar semuanya.
"Mereka ngomongin apa sih?" Tisha menempelkan telinganya ke pintu.
"...jangan sampai masalah itu dibuka lagi."
Tisha langsung terdiam.
"Maksud mereka berdua apa ya?"
Kemudian pintu terbuka.
Tisha langsung pura-pura sedang membaca dokumen.
Elsa dan Meisya keluar. Mereka menatap Tisha.
Tisha tersenyum canggung. "Hai Mbak Elsa, Mbak Meisya."
Elsa dan Meisya saling lirik, kemudian pergi.
"Lah kenapa mereka berdua langsung pergi, dah?" Tisha menggaruk kepalanya—bingung.
Tisha mengeluarkan ponselnya. "Halo, Zev. Tadi gue denger Mbak Elsa dan Mbak Meisya lagi ngomongin sesuatu."
"Ngomongin apa?" Tanya Zevanna.
"Gue juga nggak tau mereka ngomongin apa." Kata Tisha. "Tapi kayaknya mereka tau sesuatu deh, Zev."
"Jangan asal nuduh orang. Kita cuma punya percakapan yang nggak jelas." Ujar Zevanna pelan.
"Iya sih."
"Nanti kalau lo dapet sesuatu yang mencurigakan langsung kasih tau gue ya." Kata Zevanna pelan.
"Siap, komandan." jawab Tisha mantap.
"Tapi lo harus hati-hati ya, jangan sampai ketahuan."
"Iya Zevanna yang cantik."
Tisha mematikan teleponnya dan kembali menatap koridor yang dilewati Elsa dan Meisya tadi.
***
Di bagian lain ruangan, Henry sedang berbicara dengan Vera mengenai urusan pekerjaan.
Percakapan mereka awalnya normal.
Kemudian Vera mengatakan.
"Kamu yakin nggak ada yang berubah?"
"Selama nggak ada yang membuka kembali masalah lama, semuanya aman." Jawab Henry.
Vera bersedekap dada. "Kalau sampai dia tau gimana?"
Henry terdiam sejenak. "Dia nggak mungkin tau, asal nggak ada yang membocorkannya."
Vera menatapnya intens. "Tapi aku takut kalau masalah ini bakal ada yang tau. Kamu tau sendiri kita udah nutupin ini lama. Dan kalau dia sampai tau dan nemu buktinya, kita bisa habis!"
"Ya makanya kamu diam, nggak mungkin ada yang tau masalah ini kecuali dia." Jawab Henry tegas.
Lalu ia pergi meninggalkan Vera sendirian.
Henry masuk ke sebuah ruangan yang sekarang jarang digunakan.
Ia memandang ke arah pintu. Memastikan tidak ada orang lain.
Ia membuka sesuatu yang tersimpan di sana.
Henry menatapnya lalu menutupnya kembali.
Masa lalu tetap masa lalu.
***
Zevanna sedang mencari sesuatu di area kerja.
Ia kemudian melihat sebuah kartu akses tergeletak di tempat yang agak tersembunyi, dekat area yang biasanya tidak dilewati banyak staf.
Zevanna mengambilnya. Ia menatap kartu tersebut.
Bukan miliknya.
Dan yang membuatnya semakin penasaran, kartu itu memiliki izin akses ke lantai enam.
Zevanna terdiam. "Lantai enam...?"
Ia langsung teringat pesan anonim.
Besok, jangan datang ke lantai enam.
Zevanna membolak-balik kartu itu.
Tidak ada nama yang bisa langsung ia kenali.
Namun ada kode identifikasi pemilik kartu.
Zevanna mulai berpikir untuk mencari tahu siapa pemiliknya.
"Kenapa kartu ini bisa punya akses ke lantai enam?” Gumamnya kembali menatap kartu akses itu.
Tanpa disadari Zevanna, dari kejauhan seseorang melihat kartu tersebut berada di tangannya.
Ekspresi orang itu langsung berubah tegang.
Ia kemudian pergi sebelum Zevanna menyadarinya.
Zevanna kembali ke mejanya.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Ting!
Pesan dari nomor tak dikenal.
Unknown: Berhenti mencari tahu tentang kematian kakakmu.
Zevanna membeku, matanya membesar. Lalu ia mengetik balasan.
Zevanna: Siapa lo?
Pesan tidak dibalas.
Beberapa detik kemudian muncul pesan kedua.
Unknown: Kamu nggak perlu tahu aku siapa. Kalau tidak, orang berikutnya bukan cuma kamu.
Zevanna langsung menatap sekeliling kantor. Ia berdiri dan berjalan menuju koridor.
Ia merasa seperti sedang diawasi.
Saat melewati salah satu sudut kantor, ia melihat seseorang berdiri jauh di ujung koridor.
Orang itu seperti sedang memperhatikannya.
Zevanna mempercepat langkahnya.
Orang tersebut langsung berbalik dan menghilang ke belokan.
"Tunggu!" Zevanna mengejarnya.
Namun ketika sampai di sana...
Tidak ada siapa-siapa.
Zevanna menatap koridor kosong.
"Kok nggak ada sih?" Gumamnya heran.
Kemudian terdengar suara notifikasi dari ponselnya.
Ting!
Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka layar.
Pesan baru masuk dari nomor tak dikenal.
Unknown: Kartu itu bukan untukmu.
Zevanna langsung menatap kartu akses lantai enam yang masih ada di tangannya.
***
Malam harinya, suasana jauh lebih tenang daripada kantor.
Di dinding kamarnya terdapat beberapa foto.
Salah satunya adalah foto Zevanna bersama Zoyya.
Orang tersebut berdiri di depan foto.
Tatapannya lama. Tangannya menyentuh bagian foto.
"Kalian seharusnya tidak pernah menemukan ini. Apalagi kamu Zevanna." Batinnya.
***
Pagi hari telah tiba, Tisha masih memikirkan percakapan Elsa dan Meisya.
Ia menoleh. "Maaf, ruangan yang digunakan, Mbak Elsa dan Mbak Meisya dimana ya?" Tanyanya pada staf lain.
"Oh itu saya kurang tau, Mbak. Saya baru disini." Jawab staf tersebut.
Tisha mengangguk. "Oke, makasih ya."
Tisha pergi kembali menuju ke mejanya.
***
Setelah makan siang di pantry, Tisha pergi ke toilet.
Saat keluar, ponselnya berbunyi.
Ting!
Pesan dari nomor tak dikenal.
Unknown: Berhenti ikut campur.
Tisha membeku membaca pesan tersebut.
Kemudian pesan kedua masuk.
Ting!
Unknown: Kalau tidak, kamu akan bernasib sama.
Tisha gemetar, ia langsung teringat Zevanna. Ia mencoba berjalan mencari Zevanna.
Namun tubuhnya tiba-tiba terasa sangat tidak enak dan ia kehilangan kesadaran.
Bruk!
Ia pingsan, beberapa karyawan yang melihat itu langsung memberitahu Zevanna.
Beberapa saat kemudian, Zevanna berlari dan panik melihat temannya sudah tidak sadarkan diri.
"Tisha!"
Zevanna menatap beberapa karyawan. "Jangan bengong! Panggil bantuan cepat!"
***
Ravenzo datang setelah mengetahui Tisha ditemukan tidak sadarkan diri.
Suasana perusahaan kembali berubah serius.
Sebelumnya Zevanna jatuh sakit setelah menerima makanan dari Andrew. Sekarang Tisha juga mengalami kejadian yang membuat semua orang mulai waspada.
Ravenzo menatap Arvin. "Arvin, cari tahu kronologi lengkapnya. Jangan cuma cari siapa yang berada di pantry. Cari tahu apa yang terjadi sebelum Tisha masuk ke sana sampai dia ditemukan tidak sadarkan diri."
"Baik, Rav."
Beberapa waktu kemudian, Arvin kembali membawa hasil pemeriksaan awal.
"Rav, gue udah cek rekaman CCTV."
Ravenzo menatapnya. "Terus?"
"Empat nama muncul di sekitar area pantry pada rentang waktu yang sama. Elsa, Meisya, Henry, sama Vera."
Ravenzo mengerutkan kening. "Mereka melakukan apa?"
"Nggak ada yang kelihatan melakukan sesuatu secara langsung ke Tisha."
Ravenzo terdiam.
Arvin melanjutkan, "Elsa dan Meisya sempat masuk ke area pantry lebih dulu. Henry terlihat melewati koridor dekat sana. Vera juga sempat berada di sekitar area tersebut."
"Berapa lama mereka berada di sana?"
Arvin membuka catatannya. "Nggak lama. Dan dari rekaman yang gue lihat, nggak ada satu pun yang terlihat mendekati makanan Tisha."
Ravenzo mengangguk pelan. "Berarti mereka belum bisa dicurigai sebagai pelaku."
"Tapi tetap aneh, Rav. Empat orang itu kebetulan ada di sekitar pantry."
"Aneh bukan berarti bersalah."
Arvin terdiam.
Ravenzo kemudian mengambil laporan tersebut. "Jangan beri tahu siapa pun kalau mereka sedang diperiksa."
"Kenapa?" Tanya Arvin.
"Kalau memang ada seseorang yang sengaja melakukan semua ini, dia mungkin akan mengubah caranya kalau tahu kita sedang mencarinya."
Arvin mengangguk. "Baik. Gue bakal cari tahu diam-diam."
Ravenzo kembali melihat rekaman CCTV. "Tapi jangan cuma fokus ke empat nama itu."
Arvin mengerutkan kening. "Maksud lo?"
"Cari tahu siapa saja yang punya akses ke pantry, siapa yang terakhir menggunakan area itu sebelum Tisha datang, dan apakah ada bagian rekaman yang terlewat."
Arvin mengangguk. "Oke. Gue cari semuanya."
Setelah Arvin pergi, Ravenzo kembali menatap layar CCTV. Wajahnya terlihat semakin serius.
Dua orang jatuh sakit dalam waktu berdekatan.
Namun sampai sekarang, belum ada satu pun bukti yang cukup untuk menunjuk pelakunya.
Dan justru itu yang membuatnya semakin curiga.
Ada seseorang di dalam Verion Group yang mungkin sedang bermain dari balik layar.
Bersambung…