Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Malam ini di luar ballroom, dengan langkah tertatih dengan suara sepatu hak tingginya.
Asri mengabaikan tatapan heran dan bingung dari petugas keamanan yang berjaga, mau bertanya pun rasanya sangat enggan.
Udara malam yang dingin seolah menerpa wajahnya yang basah oleh air mata, sekaligus makeup di matanya juga luntur akibat air mata.
Di area parkir depan gedung area luar, nampak di dalam mobil dua sepupu itu tengah membagi rasa kesedihan.
Setelah pintu mobil di tutup rapat, Putri terlihat heran dengan sepupunya----menutup mobil seperti habis di kejar-kejar setan.
"Asri lu kenapa? kaya abis di kejar setan gitu?" tanya Putri dengan kening berkerut.
Asri hanya menangis untuk menjawab pertanyaan dari sepupunya, pertahanannya seketika runtuh.
Wanita ini langsung mengeluarkan Isak tangis yang sejak tadi di tahan kini pecah, menjadi raungan yang sangat memilukan.
Tubuhnya yang masih terbalut kebaya kutu baru warna violet, dan tangannya mencengkram erat lipatan kain batik yang di bawahnya----seolah berusaha mengeluarkan emosinya.
Putri yang terduduk di samping tepat di depan kursi kemudi, langsung tersentak kaget tatkala melihat sang sepupu tiba-tiba menangis.
Tubuhnya mengenakan kaos lengan pendek warna merah cerah, di padukan kardigan rajut tebal warna biru denim, rambutnya di biarkan terurai.
Putri langsung memeluk sepupunya hanya demi menenangkannya, dan mengusap lembut punggungnya.
"As lu kenapa sih? coba lu cerita sama gua? lu di dalam, apa terjadi sesuatu?" tanya Putri dengan pertanyaan bertubi-tubi.
Setelah lebih tenang, Asri melepaskan pelukan sepupunya.
Putri langsung mengulurkan kedua tangannya, melingkarkan lengan di bahu Asri.
Sementara tangan kirinya memeluk dada Asri, berusaha memberikan ketenangan guna menyalurkan kekuatan fisik.
"Coba lu tarik napas dulu," pinta Putri.
Asri menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.
Setelah lebih tenang dengan napas yang tersengal-sengal di sela tangisnya yang parau, rasa perih di perutnya seolah kembali berdenyut, seperti di malam----dimana Angga, pria asing itu menyentuhnya dengan cara menjijikan.
Tekanan psikologis kembali menderanya yakni trauma, saat bertemu dengan orang yang telah memp*rkosanya.
Sungguh takdir yang kejam untuk Asri, wanita ini menghela napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
"Udah tenang 'kan?" tanya Putri sekali lagi.
Asri mengangguk meskipun matanya masih sembab, tangannya meremas lengan kardigan biru yang di kenakan sang sepupu, menenggelamkan wajah pucatnya di bahu sepupunya.
"Put...tadi gua ketemu cowok yang malam itu...memperkosa gua," bisiknya dengan suara parau, lalu di susul oleh isakan tangis.
Kalimat singkat itu langsung terasa bagai sambaran petir mengenai Putri, bibirnya langsung membentuk huruf 'O'.
"Apa?! Lu serius, As?!" seru Putri tertahan dengan suara naik satu oktav.
Putri sungguh tak percaya, matanya melebar dengan sempurna.
"Pria biadab itu ada di dalam sana tadi!" tunjuk Putri ke arah luar mobil, dengan amarah yang menggebu-gebu.
Asri hanya bisa mengangguk lemah, kilasan wajah pria yang mengenakan kemeja batik coklat tadi, seakan kembali terbayang malam-malam yang menjijikan itu.
Suara pria tadi---yang menyapanya, seolah suara pria yang mengenakan kemeja batik coklat tadi mengingatkannya akan malam itu dengan suara-suara menjijikan saat menikmati tubuhnya.
"Gua tadi...lagi ngobrol ama anggota kementerian budaya, Put. Gua syok banget tiba-tiba dia dateng," jelas Asri di sertai isak tangis yang memilukan.
Putri mempererat pelukannya pada sang sepupu, lalu mengusap punggungnya demi menenangkan Asri.
Kini kemarahan di dadanya sangat luar biasa, rasanya ingin memukul pria yang sudah menodai sepupunya ini.
"Tapi lu tahu namanya? Ada nametag atau tanda pengenal yang lu lihat tadi?" tanya Putri lagi.
Mendengar pertanyaan itu, Asri menatap Putri dengan mata yang sembab---perlahan menyandarkan punggungnya pada jok kulit hitam.
Asri menjawab pertanyaan Putri, hanya dengan gelengan kepalanya pelan.
"Gua...nggak tahu Put, tadi gua langsung pergi karena....gua syok banget tiba-tiba ketemu dia lagi," aku Asri dengan suara lirih.
Terlihat Asri sudah ketakutan dan tubuhnya gemetar.
"Saat dia mendekat dan ngomong ama Pak Budi, semua bandan gua langsung kaku. Gua bahkan sempat nggak ngomong sepatah kata pun sama dia, apalagi liat nametag dia....saat itu gua udah ketakutan Put. Malah ingatan gua jadi ngebayangin malam itu," tutur Asri, sementara Putri memejamkan matanya karena sangat miris akan takdir yang menimpa sepupunya ini.
"Tapi Pak Budi pasti kenal dia 'kan? dari cerita lu dia sempet ngomong ama tuh cowok biadab?" tanya Putri seraya menghela napas.
"Iya, kayaknya sih gitu...tapi gua takut Put dia punya jabatan penting dan punya bekingan," jawab Asri dengan ketakutan.
Putri mengusap sekali lagi bahu sepupunya, demi menenangkan isi pikiran Asri yang masih sangat syok.
"Tapi gua buru-buru pamit sebelum sempat ngomong lebih lanjut, gua bilang asem lambung gua kambuh dan harus ke Dokter. Karena gua nggak sanggup...nggak sanggup bertahan semenit aja," tuturnya.
"Bertahan semenit lagi gua disana, bisa-bisa gua pingsan di depan semua orang," lanjut Asri yang menuturkan rasa traumanya akibat malam menjijikan itu.
Putri menganggukkan kepalanya, meletakkan tangan kirinya di atas kemudi, dirinya bisa mengerti akan kondisi Asri---hal alami kondisi trauma berat akan reaksi biologis bagi korban pelecehan seksual.
Asri tidak tahu------Angga sudah membuka sebuah tabir misteri bidadari berkemeja putih itu, kini telah tersingkap sepenuhnya.
Pria itu tak sadar, kenapa tuhan mempertemukannya dengan Asri kembali.
Begitu juga dengan Asri, dirinya juga heran kenapa di pertemukan dengan pria itu----pria yang mengambil mahkotanya secara paksa.
Asri berpikir apa mungkin ini hanya kebetulan saja, dirinya tak mau memikirkan soal pria biadab itu lebih jauh.
Putri memejamkan matanya, lalu segera mengambil keputusan---setelah menghela napas demi menetralkan emosinya.
"Yaudah, sekarang kita pulang dulu ya, As," bisik Putri lembut, memutar kemudi untuk membawa mobil mereka membelah dinginnya jalanan kota malam itu.
"Di rumah... kita pikirkan langkah selanjutnya bersama-sama. Kita punya laporan polisi, dan cepat atau lambat, bajingan itu pasti akan terseret ke pengadilan."
Asri hanya menghela napas dan menganggukkan kepalanya, saat ini dirinya hanya bisa pergi menjauh dari pria yang sudah menodainya malam itu.
Namun, dirinya tak sadar jika takdirnya semakin dekat.
*
*
*
*