Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Dia Jalan, Kita Ditagih
t"Enak ya kamu... Ibu mertua lagi kesusahan di rumah, kamu malah enak-enakan liburan mewah ke Bali?!"
Amira menghentikan jarinya yang sedang memilah perhiasan perak. Ia menoleh perlahan ke sumber suara. Matanya menyipit mendapati wanita yang berdiri tegak di depannya dengan tas belanjaan di tangan.
"Mbak Lusi..." gumam Amira datar.
"Kamu benar-benar tidak tahu diri ya! Ibu di rumah lagi pusing dan kesusahan, kamu malah bersenang-senang di sini! Kamu pasti pakai uang Mas Adam, kan?!" tuduh Lusi dengan nada tinggi, tak peduli pada beberapa pengunjung pasar yang mulai menoleh.
Amira menatap kakak iparnya itu dengan pandangan dingin. "Yang membuat Ibu susah itu siapa, Mbak?"
"Kamu! Kamu yang buat Ibu susah, Amira!"
Amira mendecih sinis. "Meminta uang dengan alasan untuk bayar SPP anak, tapi tahu-tahu uangnya dipakai liburan ke Bali... Sebenarnya siapa yang bikin susah?"
Wajah Lusi mendadak pucat, namun ia buru-buru menutupi kekagetannya. "A-aku tidak pakai uang hasil gadai kalung Ibu buat ke sini!" sergah Lusi kesal.
"Oh... jadi kalung Ibu benar-benar digadaikan, ya?" ejek Amira dengan senyum tipis. "Aku malah baru tahu dari Mbak. Jadi uang hasil gadai itu sebenarnya buat siapa? Buat anak Mbak, atau buat gaya hidup Mbak sendiri?"
"Aku tidak mungkin pakai uang Ibu buat ke sini! Suamiku gajinya besar, asal kamu tahu!" bela Lusi tak mau kalah.
"Kalau gaji Kak Ridwan besar, kenapa Ibu terus-terusan merengek memintaku mengganti kalung itu? Kenapa Ibu merengek meminjam uang 5 juta padaku untuk SPP anak Mbak?" Amira melangkah semaju. "Sebaiknya hidup sederhana saja, Mbak... Jangan sok kaya kalau akhirnya cuma menyusahkan orang lain."
"Siapa yang menyusahkan, hah?! Kamu yang menyusahkan! Dasar menantu tidak tahu diri!" bentak Lusi murka.
"Aku yang 'tidak tahu diri' ini setiap bulan menyumbang hampir seluruh gajiku untuk keperluan rumah Ibu. Sedangkan Mbak?" Amira menaikkan sebelah alisnya. "Mbak cuma tahu cara meminta."
"Hentikan, Amira!"
"Mbak yang berhenti!" potong Amira tegas tanpa nada ragu. "Apa aku perlu mengunggah bukti rincian transferanku ke Kak Ridwan di Instagram? Katanya pinjam, tapi tidak pernah diganti sama sekali."
Lusi menatap Amira tak percaya. "Tega kamu, Amira..."
"Aku akan jauh lebih tega kalau Mbak terus-terusan mendesakku," balas Amira tenang.
"Awas kamu ya! Sampai di Jakarta nanti, aku akan buat perhitungan denganmu!" ancam Lusi menunjuk wajah Amira.
"Aku tunggu," jawab Amira sangat santai, lalu kembali memunggungi Lusi untuk melihat-lihat barang dagangan.
Sementara itu, suasana di rumah mertua Amira di Jakarta semakin kacau balau.
Dua orang petugas bank kembali berdiri di teras rumah. Ibu Mirna menyambut mereka dengan wajah pucat pasi.
"Bagaimana, Bu? Uangnya sudah ada?" tanya salah satu petugas bank.
"Nomor menantu saya masih tidak bisa dihubungi, Pak..." ratap Mirna.
Petugas itu menggeleng tegas. "Hari ini setidaknya harus masuk uang cicilan satu bulan sebesar 8 juta rupiah, Bu. Kalau tidak ada pembayaran sama sekali hari ini, terpaksa rumah ini kami beri papan penyitaan."
"Loh! Bukannya janjinya bulan depan, Pak?!" panik Mirna.
"Kalau Ibu kooperatif, tadinya bisa tunggu bulan depan. Tapi sepertinya Ibu sengaja mempermainkan kami."
"Saya tidak mempermainkan Bapak-bapak! Menantu sialan itu yang belum pulang-pulang!" omel Mirna menyalahkan Amira.
"Ada apa ini?" suara berat Pak Diki memecah ketegangan. Tumben sekali pria itu sudah pulang ke rumah di siang hari.
Petugas bank lantas menjelaskan duduk perkara tunggakan cicilan sertifikat rumah tersebut secara singkat. Mendengar penjelasan itu, Pak Diki menghela napas panjang.
"Bapak-bapak, tolong tunggu sebentar. Saya telepon anak saya dulu," ucap Pak Diki santun.
Sikap Pak Diki yang kooperatif dan bertanggung jawab membuat kedua petugas bank itu melunak dan bersedia menunggu di ruang tamu.
Pak Diki segera menekan nomor Mila. Beberapa kali nada dering berbunyi, namun tak kunjung diangkat. Tanpa buang waktu, Pak Diki mengambil foto kedua petugas bank yang sedang duduk di sofa, lalu mengimpresikannya langsung ke nomor WhatsApp Mila lengkap dengan pesan singkat:
[Dalam waktu 10 menit kamu tidak sampai di rumah, Bapak sendiri yang akan mengantar dua petugas bank ini ke rumah Doni.]
Tak sampai satu menit, pesan balasan dari Mila masuk: [Iya, iya! Mila ke sana sekarang!]
Pak Diki menarik napas lega. "Mohon tunggu ya, Bapak-bapak. Sepuluh menit lagi anak saya sampai."
Di warung sembakonya, Mila bersungut-sungut panik. "Ini pasti gara-gara Amira sialan itu!" umpatnya sambil terburu-buru mengenakan helm dan bersiap memutar kunci gembok warung.
Tiba-tiba, Doni—suaminya—datang menghampiri. "Mau ke mana kamu, Mila?"
"Aku... aku mau ke rumah Ibu, Mas," jawab Mila gugup.
"Mau ngapain? Maaf ya, Mas lagi buru-buru, jadi tidak bisa ikut ke sana."
Mila memutar otak mencari alasan. "Bapak... bapak ambeiennya kambuh, Mas! Jadi aku mau antar Bapak ke rumah sakit."
"Astagfirullah... Bagaimana ya? Mas juga lagi ada urusan mendadak."
"Sudah, Mas fokus kerja saja! Biar ini jadi urusanku. Bapak dan Ibu memang selalu saja mengandalkanku... Tidak apa-apa kok, Mas," pamer Mila berakting sebagai anak berbakti.
"Tidak masalah?" Doni merasa iba. Ia mengeluarkan dompetnya dan mengambil tiga lembar uang ratusan ribu. "Ini tolong berikan ke Bapak buat tambahan berobat, ya."
Mila meraup uang itu dengan cepat. "Terima kasih banyak, Mas."
"Sekalian kamu bawakan beras sama minyak goreng dari toko buat Mamah."
"Tidak usah, Mas! Ini saja sudah cukup!" tolak Mila panik.
"Eh, kamu ini bagaimana... Cepat bawakan!"
"Tidak usah, Mas! Sudah ya, aku buru-buru takut Bapak kenapa-napa!" potong Mila memutar gas motornya dan melesat pergi.
Doni menggeleng-gelengkan kepala melihat istrinya yang tampak sangat terburu-buru.
Di sepanjang jalan, Mila membatin sinis, Enak saja uang ini mau dikasihkan ke Bapak! Ya buat akulah! Lagipula ngapain memberi sembako ke Ibu? Ibu kan uangnya sudah banyak!
Mila memacu motornya kencang. Ia sangat takut jika petugas bank benar-benar mendatangi rumahnya dan bertemu Doni. Jika Doni tahu cicilan bank yang selama ini rutin ditransferkan kepadanya justru menunggak empat bulan demi modal toko sembako, rumah tangganya bisa hancur seketika.
Begitu sampai di rumah ibunya, Mila langsung mendorong pintu dan berteriak murka. "Mana si Amira, Mah?! Mana dia?!"
"Duduk!" perintah Pak Diki dengan suara menggelegar.
Mila terlonjak kaget. Dengan bibir cemberut, ia terpaksa duduk di hadapan kedua petugas bank.
"Bu Mila, tolong kerjasamanya. Walau belum bisa melunasi seluruh tunggakan 32 juta, hari ini Ibu harus membayarkan cicilan satu bulan sebesar 8 juta rupiah terlebih dahulu. Minggu depan kami akan kembali lagi," tegas petugas bank.
Mila memasang raut wajah kasihan. "Pak... toko usaha saya lagi sepi banget. Sepertinya saya tidak sanggup bayar..."
"Kalau tidak sanggup bayar, berarti rumah ini terpaksa kami proses untuk disita," balai petugas itu dingin.
"Mila!" bentak Pak Diki tajam. "Bayar sekarang!"
"Suruh Amira saja yang bayar, Pak! Amira kan banyak uang! Dia pasti punya tabungan! Masa dikasih uang puluhan juta sama Mas Adam tidak ada sisa sama sekali?!" cerocos Mila melemparkan kesalahan.
"Kamu yang pakai uangnya, kamu yang harus bayar! Kamu harus belajar bertanggung jawab atas perbuatanmu sendiri!" tegur Pak Diki menohok.
"Mila tidak mau, Pak!" bersikeras Mila mendelik.
Pak Diki berdiri dari kursinya. "Oke. Kalau kamu tidak mau, Bapak-bapak petugas bank... mari saya antar sekarang juga ke kantor suaminya Mila."
"Bapak! Jangan!" teriak Mila panik setengah mati.
"Makanya bayar!"
Dengan tangan gemetar dan wajah menekut kesal, Mila akhirnya merogoh tasnya.mengeluarkan posel kemudian mentransfer cicilan bank di hadapan para petugas bank. hatinya amat dongkol sekali, rasanya sayang sekali mengeluarka uang untuk bayar hutang
Setelah menerima pembayaran dan memberikan bukti kuitansi, petugas bank itu berdiri. "Minggu depan kami akan datang lagi untuk cicilan berikutnya. Ini kami sudah memberikan keringanan yang sangat besar."
"Iya, Pak. Datang saja minggu depan ke sini lagi," sahut Pak Diki mantap.
Sepeninggal petugas bank, pintu rumah mendadak didobrak dari luar. Sonia yang baru pulang dari kampus berlari masuk sambil berteriak histeris.
"Kurang ajar si Amira, Bu! Bener-bener kurang ajar!"
Pak Diki mengernyitkan dahi. "Kenapa lagi kamu, Sonia?!"
Tanpa memedulikan ayahnya—yang ia tahu selalu membela Amira—Sonia melangkah lebar menghampiri ibu dan kakaknya.
"Bu! Mbak Mila! Lihat nih kelakuan si Amira!" seru Sonia berapi-api sambil menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan laman Instagram.