Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Hati Berubah Arah

Ketika Hati Berubah Arah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:888
Nilai: 5
Nama Author: Fina Indri

Almeera Naela Al Rashid selalu hidup semaunya. Keras kepala dan tidak bisa diatur. Namun, benteng keangkuhannya runtuh saat lelaki yang paling ia percaya berbalik arah dan memilih perempuan lain.

Kehilangan itu menjadi tamparan keras. Almeera sadar, ia sudah terlalu jauh melangkah dan melupakan Rabb-nya.

Memilih jalan hijrah ternyata penuh liku. Di saat Almeera berjuang melepas luka masa lalu dan memperbaiki salatnya, takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki yang kehadirannya sama sekali tidak terduga.

Bukan sekadar obat patah hati, lelaki itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Apakah ini jawaban atas doa-doanya setelah memilih pulang, atau sekadar persinggahan lain dalam takdirnya?

Sebab bagi Almeera, tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, patah hati adalah cara Allah mengubah arah langkahnya menuju tempat yang seharusnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fina Indri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Kecil

Pagi itu, Almeera terbangun beberapa menit sebelum alarm ponselnya berbunyi. Ia membuka mata dan menatap langit langit kamar. Biasanya, ia akan langsung mengambil ponsel lalu memeriksa berbagai notifikasi.

Namun kali ini tidak. Almeera justru duduk di tepi tempat tidur dan menarik napas panjang.

Entah sejak kapan, pagi yang dulu selalu ia mulai dengan terburu buru perlahan berubah. Ia tidak lagi merasa harus langsung mengejar sesuatu.

Setelah merapikan tempat tidur, Almeera mengambil wudu dan menunaikan salat. Selesai berdoa, ia duduk sebentar. Tidak ada permintaan yang panjang. Hanya beberapa kalimat sederhana yang ia panjatkan dalam hati.

Almeera kemudian bersiap untuk pergi ke kampus. Saat turun ke lantai bawah, Mama sudah berada di meja makan.

“Pagi, Meera,” sapa Mama.

“Pagi, Mah,” jawab Almeera.

“Makan dulu sebelum berangkat,” ucap Mama.

“Iya,” jawab Almeera.

Almeera duduk dan mengambil sarapan.

Mama memperhatikannya sebentar.

“Sekarang sudah tidak terburu buru lagi ya,” ucap Mama.

Almeera tersenyum.

“Aku sedang mencoba berubah sedikit,” jawab Almeera.

“Bagus. Pelan pelan saja,” ucap Mama.

“Iya, Mah,” jawab Almeera.

Setelah selesai sarapan, Almeera berpamitan.

“Hati hati di jalan,” ucap Mama.

“Iya, Mah. Assalamualaikum,” jawab Almeera.

“Waalaikumsalam,” jawab Mama.

Sesampainya di kampus, Almeera langsung menuju kelas.

Eliza sudah duduk di tempat mereka.

“Kamu datang pagi sekali,” ucap Eliza.

Almeera meletakkan tasnya.

“Memangnya biasanya aku terlambat?” tanya Almeera.

Eliza menatapnya beberapa detik.

“Perlu aku jawab?” tanya Eliza.

Almeera tertawa.

“Tidak perlu,” jawab Almeera.

Kelas berlangsung seperti biasa.

Tidak ada tugas besar hari itu. Dosen hanya memberikan materi baru dan beberapa latihan yang harus dikerjakan.

Setelah kelas selesai, Almeera dan Eliza berjalan keluar bersama.

“Aku mau ke perpustakaan sebentar,” ucap Almeera.

“Ngapain?” tanya Eliza.

“Mau cari buku,” jawab Almeera.

“Buku kuliah?” tanya Eliza.

“Bukan,” jawab Almeera.

Eliza mengerutkan kening.

“Buku apa?” tanya Eliza.

“Belum tahu. Lihat nanti,” jawab Almeera.

Mereka akhirnya berjalan menuju perpustakaan.

Di dalam, suasananya cukup tenang.

Almeera berjalan menyusuri beberapa rak. Ia mengambil satu buku, membaca bagian belakangnya, kemudian mengembalikannya.

Setelah beberapa menit, ia menemukan sebuah buku yang menarik perhatiannya. Ia membukanya.

Belum sempat membaca lebih jauh, seseorang yang berdiri di sisi rak lain tiba tiba memanggil.

“Almeera?”

Almeera menoleh.

Rafael berdiri beberapa langkah darinya sambil membawa beberapa buku.

“Oh, Ka Rafael,” ucap Almeera.

“Kamu sedang mencari buku?” tanya Rafael.

“Iya,” jawab Almeera.

“Untuk tugas?” tanya Rafael.

“Bukan. Aku cuma ingin membaca sesuatu,” jawab Almeera.

Rafael mengangguk.

“Bagus,” ucap Rafael.

Almeera melihat buku yang dibawa Rafael.

“Kaka sendiri sedang cari apa?” tanya Almeera.

“Buku referensi untuk materi kuliah,” jawab Rafael.

“Pantas bawa banyak,” ucap Almeera.

Rafael tersenyum kecil.

“Sebagian untuk Daffa juga,” jawab Rafael.

“Ka Daffa di mana?” tanya Almeera.

“Masih di bagian jurnal,” jawab Rafael.

Almeera mengangguk.

Mereka kembali melihat rak buku masing masing. Tidak ada percakapan lebih lanjut.

Namun beberapa menit kemudian, Rafael kembali berbicara.

“Kalau kamu suka buku seperti itu, ada beberapa buku lain di rak sebelah,” ucap Rafael.

Almeera melihat ke arah yang ditunjuk.

“Serius?” tanya Almeera.

“Iya. Coba lihat,” jawab Rafael.

Almeera berjalan ke rak tersebut.

Ia menemukan beberapa buku yang memang terlihat lebih menarik.

“Yang ini sepertinya bagus,” ucap Almeera.

Rafael melihat judulnya.

“Sepertinya cocok untuk dibaca santai,” jawab Rafael.

Almeera mengangguk.

“Aku ambil yang ini saja,” ucap Almeera.

Setelah memilih buku, Almeera dan Rafael berjalan menuju meja baca.

Tidak lama kemudian, Daffa datang.

“Akhirnya ketemu juga,” ucap Daffa.

Rafael menoleh.

“Lu dari tadi ke mana?” tanya Rafael.

“Cari jurnal. Susah banget menemukan yang sesuai,” jawab Daffa.

Almeera tersenyum.

“Semangat,” ucap Almeera.

Daffa melihat buku di tangan Almeera.

“Kamu beli?” tanya Daffa.

“Belum. Baru mau pinjam,” jawab Almeera.

“Oh, kirain beli,” ucap Daffa.

Almeera tertawa kecil.

“Aku belum sampai rajin beli buku,” jawab Almeera.

Rafael tersenyum.

“Yang penting mulai membaca,” ucap Rafael.

Almeera mengangguk.

“Iya,” jawab Almeera.

Tidak lama kemudian, Eliza menghampiri mereka.

“Meera, sudah selesai?” tanya Eliza.

“Sudah,” jawab Almeera.

“Kita pulang sekarang?” tanya Eliza.

“Iya. Sebentar lagi,” jawab Almeera.

Almeera mengembalikan buku yang tidak jadi dipinjam, kemudian membawa satu buku pilihannya ke meja peminjaman.

Setelah semuanya selesai, ia kembali menghampiri Eliza.

“Sudah?” tanya Eliza.

“Sudah,” jawab Almeera.

Mereka kemudian berpamitan kepada Rafael dan Daffa.

“Sampai besok,” ucap Daffa.

“Sampai besok,” jawab Eliza.

“Hati hati,” ucap Rafael.

“Iya. Kalian juga,” jawab Almeera.

Almeera dan Eliza meninggalkan perpustakaan.

Di sepanjang jalan, Eliza melirik buku yang dibawa Almeera.

“Kamu benar benar mau mulai rajin membaca?” tanya Eliza.

“Mau,” jawab Almeera.

“Tumben,” ucap Eliza.

Almeera tertawa.

“Aku juga bisa berubah, tahu,” jawab Almeera.

Eliza mengangguk.

“Aku tahu,” ucap Eliza.

Sesampainya di rumah, Almeera langsung masuk ke kamar.

Ia meletakkan buku tadi di atas meja.

Sebelum membuka buku tersebut, ia mengganti pakaian dan beristirahat sebentar.

Sore hari, Almeera kembali duduk di meja belajarnya.

Ia membuka buku yang tadi dipinjam.

Beberapa halaman pertama ia baca dengan perlahan.

Tidak ada yang luar biasa.

Namun ia merasa nyaman.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menemukan kegiatan yang membuat pikirannya tidak terus kembali kepada masa lalu.

Tidak ada Kaizan.

Tidak ada kenangan lama.

Tidak ada pertanyaan tentang mengapa semuanya harus berakhir seperti itu.

Hanya dirinya, sebuah buku, dan waktu yang berjalan perlahan.

Menjelang malam, Mama mengetuk pintu kamar.

“Meera,” panggil Mama.

“Iya, Mah?” jawab Almeera.

“Sudah makan?” tanya Mama.

“Belum,” jawab Almeera.

“Turun dulu,” ucap Mama.

“Iya. Sebentar,” jawab Almeera.

Almeera menutup bukunya lalu turun ke ruang makan.

Setelah makan, ia kembali ke kamar.

Sebelum tidur, Almeera mengambil buku catatannya.

Ia menulis beberapa kalimat.

Hari ini aku melakukan sesuatu yang sederhana.

Membaca buku.

Tapi ternyata hal sederhana seperti ini bisa membuat pikiranku jauh lebih tenang.

Ia berhenti sebentar.

Kemudian melanjutkan.

Aku mulai mengerti bahwa memperbaiki diri tidak selalu dimulai dari perubahan besar.

Kadang cukup dengan mengubah satu kebiasaan kecil.

Datang tepat waktu.

Belajar menahan emosi.

Membaca.

Menjaga ucapan.

Dan mencoba mendekat kepada Allah setiap hari.

Almeera menutup buku catatannya.

Ia menatap meja sebentar.

Perjalanan itu memang masih panjang.

Ia belum menjadi seseorang yang sepenuhnya berubah.

Masih ada kebiasaan lama yang terkadang muncul.

Masih ada emosi yang sulit dikendalikan.

Masih ada masa lalu yang sesekali datang tanpa diundang.

Namun sekarang Almeera tidak lagi ingin menyerah hanya karena prosesnya terasa lambat. Ia percaya bahwa langkah kecil tetaplah langkah. Selama arahnya benar, tidak masalah jika ia harus berjalan perlahan. Karena yang terpenting bukan seberapa cepat ia sampai. Melainkan ke mana ia sedang menuju.

Malam itu, Almeera mematikan lampu kamar.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pikirannya terasa cukup tenang. Dan tanpa ia sadari, langkah langkah kecil yang sedang ia lakukan hari demi hari perlahan akan membawanya kepada sebuah fase baru dalam hidupnya.

Sebuah fase yang akan mempertemukannya dengan lebih banyak orang, lebih banyak pelajaran, dan mungkin juga sebuah pertemuan yang tidak pernah ia rencanakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!