Indonesia
NovelToon NovelToon
SESALMU YANG TERLAMBAT

SESALMU YANG TERLAMBAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

gadis di kedai kopi

Tiga hari setelah pertemuan di kedai kopi itu, Raka mendapati dirinya kembali datang ke tempat yang sama—kali ini sendirian, tanpa alasan pekerjaan yang bisa dijadikan tameng. Ia memesan kopi yang sama, duduk di meja yang sama, lalu menyadari betapa konyolnya dirinya menunggu seseorang yang bahkan belum tentu datang.

Tapi Laras datang. Seperti biasa, dengan langkah tergesa dan rambut yang belum sempat dirapikan.

"Kamu ke sini lagi?" tanyanya, sedikit terkejut melihat Raka sudah duduk di sana.

"Kamu juga."

"Aku kerja di sini, inget nggak? Aku part time di kasir." Laras menunjuk ke arah meja kasir dengan dagunya. "Kamu yang aneh, bolak-balik padahal rumahmu jauh dari sini."

Raka tidak langsung menjawab. Ia mengaduk kopinya yang sebenarnya sudah tidak perlu diaduk lagi. "Kopinya enak."

"Bohong. Kamu sendiri yang bilang kemahalan buat rasa segitu, minggu lalu."

"Aku nggak pernah bilang gitu."

"Kamu bilang gitu ke temenmu, terus aku denger karena kebetulan lagi nganterin pesanan ke meja sebelah."

Raka terdiam sebentar, lalu tertawa kecil, menyerah. "Oke, itu emang aku."

"Nah kan." Laras tersenyum puas, lalu menaruh nampan kosong di meja kasir sebelum kembali menghampiri Raka, kali ini duduk tanpa diminta seperti sudah menjadi kebiasaan. "Terus kenapa masih ke sini kalau katanya kemahalan?"

"Karena ada yang bikin aku penasaran."

"Kopinya?"

"Bukan."

Laras mengerutkan kening, pura-pura tidak mengerti, meski semburat merah samar muncul di pipinya. "Terus apa?"

Raka tidak langsung menjawab. Ia menatap Laras lama, seperti sedang menimbang apakah kalimat berikutnya layak diucapkan atau lebih baik disimpan saja. Pada akhirnya ia memilih jalan aman.

"Cara kamu ngomong. Aneh aja, kamu ngomong sama pelanggan lain nggak securiga ini."

"Curiga gimana?"

"Kamu selalu nanya balik ke aku. Ke pelanggan lain kayaknya cuma senyum, catat pesanan, udah."

"Ya soalnya kamu pelanggan yang aneh. Duduk lama-lama padahal cuma pesan satu kopi."

"Berarti aku spesial dong."

"Ge-er banget," Laras memutar bola mata, tapi tidak menyangkal.

Percakapan mereka terhenti sebentar ketika seorang pelanggan lain memanggil untuk memesan. Laras berdiri, kembali ke posisinya di kasir, dan Raka memperhatikan dari kejauhan—caranya tersenyum ke setiap orang, caranya menghitung kembalian dengan cepat, caranya sesekali menguap kecil ketika mengira tidak ada yang memperhatikan.

Ketika Laras kembali, ia membawa sepiring kue kecil yang tidak dipesan Raka.

"Ini apa?"

"Gratis. Kue yang udah mau kedaluwarsa besok, daripada dibuang."

"Jadi aku dapet kue basi?"

"Bukan basi, cuma udah mau lewat tanggalnya. Masih enak kok." Laras duduk lagi, menopang dagu dengan kedua tangan. "Lagian kamu nggak berhak protes, wong gratis."

Raka mengambil satu potong, mengunyahnya perlahan. "Enak juga."

"Nah kan."

"Kamu kerja di sini udah lama?"

"Setahun. Sambil kuliah." Laras menjawab santai, tapi ada jeda sedikit sebelum ia melanjutkan. "Lumayan buat bantu-bantu di rumah."

"Kuliah di mana?"

"Kenapa? Mau nyari tau lebih jauh?"

"Boleh aja kalau kamu mau cerita."

Laras menatapnya sejenak, seperti mengukur seberapa jauh pertanyaan itu bisa dipercaya. Kemudian ia bercerita—tentang jurusan yang diambilnya, tentang ayahnya yang bekerja serabutan sejak pabrik tempatnya dulu bekerja tutup, tentang bagaimana ia membagi waktu antara kuliah pagi dan kerja sore hingga malam.

Raka mendengarkan tanpa menyela, sesuatu yang jarang ia lakukan bahkan pada orang-orang di kantor keluarganya sendiri.

"Kamu kenapa diem aja?" tanya Laras, tiba-tiba sadar sudah bicara panjang lebar.

"Nggak. Cuma dengerin."

"Kamu nggak bosen?"

"Kenapa harus bosen?"

Laras tidak menjawab, hanya menunduk sedikit, entah menyembunyikan senyum atau sesuatu yang lain. Di luar, langit mulai gelap lebih cepat dari biasanya, awan mendung berkumpul seperti hendak menumpahkan hujan lagi.

"Kamu belum cerita soal kamu sendiri," kata Laras akhirnya, mencoba mengalihkan topik dari dirinya. "Kerja di mana?"

"Bantu-bantu usaha keluarga."

"Usaha apa?"

"Macem-macem." Raka menjawab singkat, sengaja tidak spesifik. "Nggak terlalu menarik buat diceritain."

"Kamu yang aneh sekarang. Aku cerita panjang lebar, kamu jawab 'macem-macem'."

"Nanti aja aku cerita lebih detail. Sekarang belum waktunya."

"Kamu suka banget bilang 'nanti aja'."

"Karena beberapa hal emang lebih enak diceritain nanti."

Laras memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan—antara penasaran dan sedikit kesal karena tidak mendapat jawaban yang ia mau. Tapi ia tidak memaksa. Ada sesuatu dari cara Raka bicara yang membuatnya percaya, bahwa "nanti" itu bukan penolakan, hanya soal waktu yang belum tepat.

"Ya udah," katanya, berdiri dari kursi. "Aku balik kerja dulu. Jam segini biasanya rame."

"Aku tunggu sampai kamu selesai?"

"Ngapain?"

"Nganterin pulang. Ini udah mau hujan."

Laras terdiam sejenak, terkejut dengan tawaran yang terdengar sederhana tapi entah kenapa membuat dadanya berdebar sedikit lebih cepat. "Nggak usah repot-repot."

"Nggak repot. Lagian aku juga nggak buru-buru."

Ia tidak membantah lagi, hanya mengangguk kecil sebelum kembali ke meja kasir, meninggalkan Raka yang menatap punggungnya dengan senyum yang tidak ia sadari sendiri muncul di wajahnya.

Dan di sanalah semuanya mulai—bukan dengan pengakuan besar atau momen dramatis, hanya dengan kopi yang terlalu mahal, kue yang hampir kedaluwarsa, dan seorang gadis kasir yang tanpa sengaja membuat seorang pewaris perusahaan besar rela menunggu berjam-jam hanya untuk mengantarnya pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!