Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Langkah Baru di Atas Roda Kemenangan
Pagi hari yang cerah menaungi pelataran diler mobil mewah di kawasan pusat kota. Sedan tua milik Dimas terparkir di sudut area parkir pengunjung. Dimas keluar dari mobilnya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, memandangi dinding kaca tinggi bangunan diler bertuliskan logo pabrikan otomotif ternama asal Jerman. Bayu Anggara, yang mengenakan kemeja korduroi cokelat terawat dan kacamata berbingkai titanium tipis, melangkah santai menyongsong sahabatnya.
"Bay! Lu ngapain ngajak gue ke diler mobil impor begini pagi-pagi?" tanya Dimas heran seraya menunjuk papan nama diler bertuliskan huruf emas. "Jangan bilang lu cuma mau servis AC mobil tua gue di diler kelas atas begini?"
Bayu tersenyum tenang, merapikan lengan kemejanya. "Mobilmu baik-baik saja, Dim. Aku mengajakmu ke sini karena ada sesuatu yang harus kita ambil bersama hari ini."
"Sesuatu? Mengambil apa, Bay?" pancing Dimas penuh rasa penasaran.
Seorang manajer diler berpakaian setelan jas hitam rapi melangkah keluar dari pintu kaca utama, membungkuk hormat ke arah Bayu dengan sikap yang sangat santun.
"Selamat pagi, Pak Bayu Anggara. Seluruh dokumen balik nama dan unit kendaraan pesanan Anda telah siap seratus persen di area penyerahan privat," sapa manajer diler itu ramah.
Dimas membelalakkan matanya, menatap Bayu dan manajer diler tersebut bergantian dengan raut terperangah. "P-Pesanan Anda?! Bay! Lu beli mobil di diler ini?!"
"Mari ikut aku ke dalam, Dim," sahut Bayu lembut seraya menepuk bahu Dimas.
Keduanya melangkah memasuki ruang pamer privat berpenyejuk udara yang begitu adem. Di tengah ruangan berlapis keramik marmer kilap, terdapat sebuah mobil coupe empat pintu berukuran besar berwarna biru gelap metalik yang sangat anggun. Desain garis bodi yang aerodinamis dan tajam, pelek paduan titanium dua puluh satu inci, serta interior berbalut kulit nappa kualitas tertinggi memancarkan kemewahan kelas atas yang memukau.
Dimas melangkah mendekati mobil tersebut dengan mulut terbuka lebar, memandangi setiap lekuk bodi kendaraan kilap tersebut tanpa berkedip.
"Bay... sumpah..." bisik Dimas seraya memegangi kepalanya. "Ini... ini Porsche Panamera Turbo seri terbaru kan?! Mobil sport mewah yang harganya empat miliar rupiah lebih?!"
Bayu mengangguk pelan, membetulkan letak kacamatanya dengan senyum hangat. "Benar, Dim. Ini mobil pesanan kita."
"Gila! Gila banget, Bay!" teriak Dimas antusias sambil berputar mengelilingi bodi mobil yang mengkilap mulus. "Warna midnight blue ini elegan banget! Pelek titaniumnya pas banget sama gaya lu yang sekarang! Gue mimpi apa coba bisa berdiri di samping mobil sekeren ini!"
"Ini bukan mimpi, Dim," kata Bayu santai namun berwibawa. "Setelah seluruh portofolio investasi saham kita berjalan sukses dan rumah Ibu selesai disiapkan, aku berpikir kita butuh kendaraan operasional yang jauh lebih aman, nyaman, dan cepat untuk mobilitas harian kita."
Ponsel Bayu di saku berkedip lembut, menyalurkan suara halus Jarvis melalui pengeras suara mikro jam tangan titanium Bayu.
"Selamat pagi, Dimas," panggil Jarvis terstruktur. "Unit kendaraan ini telah dilengkapi dengan sistem navigasi terenkripsi, kaca tahan peluru tingkat empat, serta modul terintegrasi yang terkoneksi langsung ke jaringan kecerdasan buatan saya."
Dimas tertawa lepas, mengelus kap mesin mobil yang dingin dan berkilau. "Jarvis! Lu bener-bener luar biasa! Lu ikut andil merancang keamanan mobil ini juga?!"
"Seluruh spesifikasi keamanan tambahan diintegrasikan tanpa mengubah estetika orisinal pabrikan, Dimas," jawab Jarvis presisi. "Sistem suspensi udara dan mesin V8 twin-turbo kendaraan ini siap memberikan kenyamanan ekstra bagi Pengguna Bayu dan Anda."
"Terima kasih atas pengerjaannya, Jarvis," ujar Bayu tulus.
Manajer diler menyerahkan sebuah kotak beludru hitam berisi dua pasang kunci mobil berlogo resmi kepada Bayu. "Selamat atas kepemilikan armada baru Anda, Pak Bayu. Seluruh Pajak Penjualan atas Barang Mewah dan asuransi untuk lima tahun ke depan telah lunas terbayar."
"Terima kasih atas pelayanan profesional Anda," sahut Bayu seraya menerima kotak tersebut.
Bayu mengambil salah satu kunci bernuansa hitam-perak dari dalam kotak beludru, lalu mengulurkannya langsung ke telapak tangan Dimas.
Dimas tertegun membisu, memandangi kunci bernilai miliaran rupiah di tangannya dengan raut wajah bingung. "Bay... maksudnya apa? Kunci satu lagi kenapa dikasih ke gue?"
"Kunci itu untukmu, Dim," jawab Bayu tegas dengan binar mata yang jujur dan hangat. "Mulai hari ini, mobil ini adalah mobil operasional kita berdua. Kamu yang akan menyetirnya kapan saja kamu mau."
Tenggorokan Dimas mendadak tercekat. Matanya berkaca-kaca menatap kunci mobil di tangannya, lalu menatap Bayu lurus-lurus. "Bay... lu bercanda kan? Ini mobil empat miliar rupiah, Bay! Lu percayakan kunci mobil semahal ini ke gue?!"
"Aku tidak pernah bercanda soal persahabatan kita, Dim," tutur Bayu dengan nada suara yang penuh rasa hormat. "Beberapa bulan lalu, saat aku tidak punya uang sepeser pun untuk membeli obat Ibu lima ratus ribu rupiah, kamu dengan sukarela mengantarkan aku ke mana saja menggunakan mobil tua milikmu tanpa pernah meminta imbalan bensin satu liter pun. Kamu adalah orang yang selalu berdiri di sampingku saat aku berada di titik terendah."
Dimas mengusap sudut matanya yang basah, menahan rasa haru yang membuncah di dadanya. "Bay... sumpah, gue nggak tahu harus ngomong apa lagi... Lu temen terbaik yang pernah gue punya seumur hidup."
"Kamu berhak menikmati keberhasilan ini bersama denganku, Dim," balas Bayu hangat. "Ayo, kita lakukan pengujian jalan pertama."
Keduanya melangkah masuk ke dalam kabin mobil. Aroma kulit nappa baru yang khas memenuhi udara interior yang sunyi kedap suara. Dimas duduk di kursi pengemudi, memegang lingkar kemudi berbalut kulit murni dengan tangan yang sedikit bergetar saking bersemangatnya. Bayu duduk di sampingnya di kursi penumpang depan.
Dimas menekan tombol penyamaran mesin.
VROOOOOM!
Deru mesin V8 twin-turbo meraung halus namun sangat bertenaga, mengisi kabin sebelum akhirnya kembali stasioner dalam dengungan yang amat halus dan tenang.
"Dengernya saja bikin merinding, Bay!" seru Dimas dengan tawa bahagia yang menggelegar. "Respon pedal gasnya halus banget!"
"Silakan jalan, Dim. Kita menuju jalan tol luar kota," instruksi Bayu seraya menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang sangat nyaman.
Mobil meluncur mulus keluar dari area diler, membelah arus lalu lintas kota dengan kelincahan dan kemewahan yang menarik perhatian setiap pengendara di sekitarnya. Pengalaman berkendara yang begitu kedap, stabil, dan bertenaga membuat perjalanan terasa sangat menyenangkan.
"Bay," panggil Dimas seraya memegang kemudi dengan mantap, matanya memandang lurus ke jalan tol yang membentang luas.
"Iya, Dim?" sahut Bayu menoleh.
"Gue seneng banget melihat perubahan hidup lu sekarang," bisik Dimas tulus dengan senyuman hangat di wajahnya. "Ibu lu sudah dirawat di rumah mewah yang aman, lu punya kebebasan finansial, lu berhasil bikin Melisa makin kagum, dan sekarang lu punya mobil impian ini. Lu bener-bener membuktikan bahwa orang baik dan jujur bisa berhasil sampai di puncak."
Bayu membetulkan letak kacamata titaniumnya, memandangi pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang melintas cepat di balik kaca mobil.
"Keberhasilan ini bukan milikku seorang, Dim," jawab Bayu dengan kepribadiannya yang tetap rendah hati dan bijaksana. "Ini adalah hasil dari kerja keras kita, dukungan Jarvis, dan doa tulus dari Ibu. Mobil ini hanyalah sarana kecil agar kita bisa terus berbuat baik dan melindungi orang-orang yang kita sayangi."
"Analisis rute tol jernih," sela Jarvis ramah melalui sistem audio mobil. "Kecepatan dan performa kendaraan berada dalam batas keamanan ideal. Selamat atas pencapaian baru Anda, Bayu dan Dimas."
Dimas tertawa lepas, menginjak pedal gas sedikit lebih dalam, menikmati sensasi kecepatan dan kemewahan mobil baru sahabatnya. Di atas roda kemenangan itu, Bayu Anggara dan Dimas merayakan buah dari perjuangan mereka, mengukuhkan ikatan persahabatan sejati yang kian tak tergoyahkan oleh zaman.