Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:769
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11: Hari Biasa Bersama Sahabat

Satu minggu setelah menolak hadiah Damar, aku memutuskan mencoba menjadi perempuan biasa selama satu hari.

Perempuan biasa pergi ke bioskop bersama teman-temannya, berdebat soal film, lalu membeli cireng meski baru menghabiskan berondong jagung ukuran besar. Perempuan biasa tidak memeriksa sedan hitam di setiap lampu merah.

Setidaknya itulah teori Tania.

"Kalau hari ini kamu melamun lagi, kami denda," katanya sambil mengait lenganku di mal. "Satu kali melamun, traktir es kepal."

"Itu aturan yang kamu buat supaya dapat makanan gratis."

"Jangan menuduh tanpa bukti. Wulan, catat. Sekar sudah satu kali melamun."

Wulan mengangkat ponsel seperti sekretaris rapat. Gita tertawa, sedangkan Nadia sibuk membaca ulang pesan yang katanya berasal dari grup kampus, padahal nama Pak Mukti terlihat jelas di bagian atas layar.

"Yang harus didenda Nadia," kataku. "Dia senyum sendiri sejak parkiran."

Nadia langsung mematikan layar. "Bukan apa-apa."

"Semua skandal besar dimulai dengan kalimat itu," ujar Tania.

Kami masuk bioskop masih saling mengejek. Filmnya komedi romantis yang mudah ditebak. Gita menangis pada adegan lamaran. Wulan mengeluh tokoh laki-lakinya terlalu bodoh. Tania sibuk mengirim pesan kepada Choi Min-jae dan mendengus setiap dua menit.

Aku berhasil tertawa sampai seseorang lewat di belakang kursiku.

Tangannya tak sengaja menyentuh sandaran dekat bahuku.

Tubuhku langsung merunduk. Gelas minum terlepas dan jatuh, es berserakan di lantai.

"Kar?" bisik Wulan.

"Nggak apa-apa. Kaget."

Orang itu sudah meminta maaf dan pergi. Tak ada bahaya. Namun telapak tanganku dingin sampai film selesai.

Di toilet, Tania berdiri di sampingku saat aku mencuci tangan terlalu lama.

"Kamu akhir-akhir ini sering kaget kalau ada orang mendekat dari belakang."

"Kurang tidur."

"Ibumu bikin masalah lagi?"

"Kapan Ibu nggak bikin masalah?"

Aku tersenyum agar kalimat itu terdengar seperti lelucon. Tania tidak ikut tertawa, tetapi ia tak memaksa.

"Kalau butuh tempat tidur, apartemenku sempit tapi sofa masih muat," katanya.

"Min-jae bagaimana?"

"Dia di luar kota. Dan hubungan kami sedang bikin kepalaku meledak. Ibunya menganggap aku terlalu berisik, keluargaku menganggap dia terlalu asing." Tania menghela napas, lalu mengoleskan lipstik. "Cinta ternyata butuh lebih banyak rapat keluarga daripada perusahaan."

"Kamu masih mau lanjut?"

"Hari ini masih. Besok tanya lagi."

Kami keluar dan bergabung dengan yang lain di area jajanan. Gita menunjukkan foto Panji yang mengirim bunga ke kantornya. Nadia menyangkal senyumnya ada hubungan dengan dosen tertentu. Wulan menyusun ulang CV-ku sambil mengunyah cireng.

Riuh mereka menutup ruang kosong di kepalaku.

"Pengalaman magangmu jangan ditaruh paling bawah," kata Wulan. "Kamu yang mengatur proyek survei itu, kan?"

"Timku yang mengatur."

"Kamu ketua timnya. Berhenti mengecilkan diri sebelum pewawancara sempat menilai."

Gita mengangguk sambil membuka laptop. Ia menemukan tiga lowongan baru, lalu Nadia menawarkan diri memeriksa surat lamaran. Tania memotret kami dan menulis di grup bahwa operasi penyelamatan karier Sekar resmi dimulai.

Ponselku berbunyi pada saat yang sama. Pesan dari Ibu.

Pulang sebelum malam. Besok bantu Laras urus daftar tamu. Jangan keluyuran terus.

Senyumku memudar. Tania yang duduk paling dekat sempat membaca layar.

"Kamu sudah dua puluh dua, bukan dua belas," katanya.

"Di rumahku, umur hanya angka. Perintah Ibu itu konstitusi."

"Kalau dapat kerja, langsung cari kos," ujar Wulan. "Kami bantu uang muka kalau perlu. Patungan."

Aku menatap empat wajah di sekeliling meja. Mereka tidak kaya. Gita masih mencicil laptop, Wulan menabung untuk sertifikasi, Nadia membantu adiknya, dan Tania baru saja membayar sewa apartemen. Namun mereka menawarkan bagian kecil dari hidup masing-masing untuk membantuku berdiri.

"Aku nggak akan ambil uang kalian," kataku.

"Siapa bilang gratis?" Tania menyeringai. "Bayar dengan masakan dan gosip."

Untuk pertama kalinya, rencana meninggalkan rumah memiliki lebih dari satu jalan keluar.

Menjelang sore, Rangga datang dengan jaket pengantar dan rambut berantakan. Ia baru selesai mengirim stok makanan ke katering dekat mal.

"Ini rapat organisasi korban Sekar?" tanyanya.

"Kamu anggota kehormatan," jawab Tania. "Duduk dekat pacarmu."

"Bukan pacar," bantahku.

Rangga menarik kursi di sebelahku. "Benar. Belum ada gaji dan tunjangan."

Teman-temanku bersorak. Aku menendang kakinya di bawah meja.

Seorang laki-laki membawa baki penuh minuman lewat di belakangku. Bahuku menegang sebelum ia sampai. Rangga melihat gerakan itu dan tanpa komentar menukar posisi kursi, menempatkan tubuhnya di sisi lorong.

"Kenapa pindah?" tanya Gita.

"AC-nya lebih dingin di sini."

Ia tidak menyentuhku, tidak bertanya, hanya menjadi penghalang antara punggungku dan orang-orang yang lewat.

Aku mengambil satu cireng dari piringnya.

"Itu punyaku," protesnya.

"Biaya keamanan."

"Kamu benar-benar kriminal."

Tawa kembali pecah. Bahkan Nadia ikut meletakkan ponsel. Untuk satu sore, kami membicarakan hal biasa: pekerjaan, film buruk, harga makanan, dan siapa yang paling mungkin menikah duluan.

Saat pulang, teman-temanku berpelukan satu per satu. Tania menahan tanganku sedikit lebih lama.

"Jangan menghilang kalau ada masalah."

"Aku nggak akan."

Rangga mengantarku ke pintu keluar mal. Di tengah kerumunan, seseorang kembali berjalan terlalu dekat di belakang. Sebelum sempat menoleh, aku sudah bergerak ke sisi Rangga.

Tubuhku melakukannya tanpa berpikir.

Rangga memperlambat langkah agar bahunya tetap sejajar denganku.

Aku bisa berbohong kepada teman-temanku. Bisa berkata hanya kurang tidur, sedang pusing, atau terlalu banyak pikiran.

Namun tubuhku mengingat malam itu dengan cara yang tak bisa diajak berbohong.

1
ceuceu
ga jelas lah,maaf thor aku skip
ceuceu
membungungkan antara cerita dan dialog
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!