Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Sebelum Badai

Pria yang diperkenalkan sebagai ahli forensik membuka map Larasati di depan kamera.

"Saya telah memeriksa ulang foto autopsi, catatan suhu, dan pakaian korban yang disimpan keluarga," katanya. "Kesimpulan lama terlalu terburu-buru. Perkiraan kematian seharusnya dimajukan hampir empat jam."

Layar menampilkan sebuah garis waktu.

Pada rentang baru itu, nama Ratri ditempatkan tepat di bawah waktu kematian.

"Kami juga menemukan pola pada pakaian yang konsisten dengan pemindahan tubuh setelah kematian," lanjutnya. "Menurut analisis kami, korban kemungkinan meninggal di tempat lain sebelum diletakkan di lokasi penemuan. Orang terakhir yang diketahui bertemu korban memiliki kesempatan untuk melakukan itu."

Sekar berdiri di sisi panggung. "Orang terakhir itu Ratri Kusuma."

Suara gaduh kembali memenuhi aula.

Suryani berbicara cukup keras agar kamera mendengar. "Jadi selama ini dia memang lolos karena waktu kematian dibuat salah."

Ahli itu mengangkat tangan seolah menenangkan sidang. "Saya tidak menyebut nama pelaku. Namun, secara ilmiah, temuan ini membuka kemungkinan yang dahulu diabaikan."

Kata ilmiah membuat beberapa tamu mengangguk. Mereka tidak memahami tabel suhu, istilah livor mortis, atau angka dalam laporan. Namun, grafik yang rapi dan jas laboratorium sudah cukup untuk membentuk keyakinan.

Komentar siaran langsung berubah semakin kasar.

Tangkap lagi perempuan itu.

Ternyata uang memang bisa membeli putusan.

Larasati harus mendapat keadilan.

Baskara bergerak hendak berdiri.

Ratri menahan pergelangan tangannya.

"Belum," katanya.

"Mereka menggunakan orang mati untuk menyerangmu."

"Karena itu biarkan mereka selesai menggali lubangnya."

Baskara menatap jari Ratri di pergelangan tangannya. Sentuhan itu singkat, tetapi cukup membuatnya kembali duduk.

Di sisi lain ruangan, Ganendra tidak lagi menyentuh minumannya. Ia memperhatikan laporan pada layar dan kemudian wajah Ratri. Perempuan itu tidak terlihat terkejut. Ia justru membaca setiap angka seperti sedang memeriksa pekerjaan seorang murid yang buruk.

Setelah pemaparan berakhir, Sekar mengangkat mikrofon.

"Mbak Ratri sudah mendengar penjelasan seorang ahli. Masih ingin diam?"

Ratri bangkit dari kursi.

"Saya punya tiga pertanyaan."

Ahli forensik itu tersenyum tipis. "Silakan. Saya akan menjelaskan dengan bahasa sederhana."

"Tidak perlu disederhanakan. Pertama, laporan Anda menyebut livor mortis menetap pada bagian punggung dan sisi kanan tubuh. Dalam foto penemuan, posisi Larasati tertelungkup dengan sisi kiri lebih rendah. Pada jam berapa tubuh dipindahkan, dan mengapa Anda tidak menghitung tahap fiksasi lebam mayat sebelum menyimpulkan lokasi kematian?"

Senyum ahli itu memudar.

Beberapa tamu saling memandang. Ganendra perlahan meletakkan gelasnya.

"Data foto memiliki keterbatasan," jawab pria itu. "Distribusi lebam dapat dipengaruhi banyak faktor."

"Faktor mana yang Anda catat?"

"Suhu, kondisi jaringan, tekanan pakaian."

"Tunjukkan halamannya."

Pria itu membalik beberapa lembar. "Rinciannya ada dalam catatan kerja tim."

"Jadi tidak ada dalam laporan yang Anda pakai untuk menuduh waktu kematian dimanipulasi."

Sekar menyela. "Jangan memutar kata!"

Ratri tidak memandangnya.

"Pertanyaan kedua. Anda memundurkan waktu kematian dengan perhitungan penurunan suhu tubuh. Di mana suhu inti pertama dicatat, berapa suhu lingkungan saat pengukuran, dan faktor koreksi apa yang dipakai untuk pakaian serta berat tubuh?"

Ahli itu menatap layar.

"Kami memakai data dalam berkas lama."

"Angkanya?"

"Saya tidak menghafal semua angka."

"Namun, Anda menghafal kesimpulan empat jam."

Seseorang di dekat panggung tertawa pendek, lalu segera diam.

Keringat mulai terlihat di pelipis ahli tersebut.

Sekar turun satu anak tangga. "Dia sengaja membuat pertanyaan rumit agar orang mengira dia tahu sesuatu."

"Kalau ahlinya tahu dasar kesimpulannya, pertanyaan ini tidak rumit," kata Ganendra.

Semua kepala menoleh kepadanya.

Ganendra tidak menarik ucapannya.

Ratri mengangkat tiga jari.

"Pertanyaan terakhir. Pakaian yang Anda sebut sebagai barang bukti disimpan di mana selama tiga tahun? Siapa yang menerima dari penyidik, siapa yang membuka segel, bagaimana suhu dan kelembapannya, dan mengapa nomor segel pada foto lama berbeda dengan kantong yang ada di meja ini?"

Kini bukan hanya ahli itu yang pucat.

Priyo menatap Sekar. Sekar menatap salah satu anggota tim di belakang meja. Tidak ada yang segera menjawab.

"Keluarga menyimpannya dengan aman," kata Priyo akhirnya.

"Rumah pribadi bukan ruang penyimpanan forensik," jawab Ratri. "Tanpa catatan perpindahan yang utuh, Anda tidak bisa membuktikan benda itu sama, tidak terkontaminasi, dan tidak diubah."

"Mbak bukan penyidik," kata Sekar. "Mbak juga bukan ahli. Berdiri di sana dan mengucapkan istilah asing tidak menghapus fakta bahwa kakak saya mati setelah bertemu Mbak."

"Kalau begitu, berhenti bersembunyi di balik istilah ahli dan izinkan saya memeriksa apa yang Anda bawa."

Aula bergemuruh.

Sekar tertawa, terlalu cepat. "Anda mau memeriksa barang bukti? Dengan kemampuan apa?"

"Kemampuan yang cukup untuk mengetahui ahli Anda tidak membaca laporannya sendiri."

"Silakan," kata Sekar. "Biar semua orang melihat Mbak mempermalukan diri sendiri."

Ahli forensik itu merapikan kerah jasnya. "Saya perlu mengingatkan bahwa pemeriksaan tanpa kewenangan dapat merusak barang."

"Segel yang berbeda sudah merusak nilai pembuktiannya," jawab Ratri. "Saya hanya akan memeriksa laporan, foto, dan permukaan kantong. Tidak ada sampel yang dibuka. Semua direkam."

Ia menunjuk kamera utama. "Ambil gambar meja dari empat sisi sebelum saya mendekat. Pastikan jam dan posisi setiap benda terlihat."

Petugas dokumentasi yang dibawa tim forensik ragu. Wira mengeluarkan ponsel dan mulai merekam sendiri. Beberapa wartawan menyesuaikan posisi, membuat meja pemeriksaan terlihat jelas dalam siaran mereka.

Komentar yang semula penuh makian mulai terpecah.

Kenapa ahlinya tidak bisa jawab angka dasar?

Perempuan itu bicara seperti dokter forensik.

Nomor segelnya benar-benar beda.

Sekar melihat perubahan arus tersebut. "Tidak usah merekam terlalu dekat. Ini barang pribadi kakak saya."

"Anda yang membawanya ke panggung dan menyiarkan tuduhan," kata Ratri. "Jangan minta privasi hanya ketika bukti mulai melawan Anda."

Tepuk tangan terdengar dari satu sudut, lalu berhenti ketika Priyo menoleh tajam.

Ratri menatap Wira.

Wira mendekat. Ratri melepaskan mantel tipis putihnya dan menyerahkannya. Gaun tanpa lengan di bawahnya tetap sederhana, garis tubuhnya tegak meski wajahnya sedikit pucat.

Baskara hendak mengikuti.

"Tetap di sana," kata Ratri.

Ia berjalan menuju panggung.

Hak sepatu putihnya mengetuk lantai marmer, satu bunyi jernih setiap langkah. Percakapan berhenti sedikit demi sedikit. Orang yang mengerti dunia medis mulai memperhatikan cara ia mendekati meja, tidak menyentuh apa pun sebelum memeriksa segel dan lingkungan sekitar.

Seorang petugas hotel menyerahkan kotak sarung tangan. Ratri memilih ukuran yang tepat, memeriksa bungkusnya, lalu mengenakan sepasang sarung tangan lateks dengan gerakan yang terlalu terbiasa untuk ditiru.

Di dekat pintu samping, Reza telah tiba tanpa rombongan besar. Ia berjalan ke sisi meja pemeriksaan dan berdiri dengan kedua tangan tertata di depan tubuh, menunggu.

Ratri berhenti di hadapan map Larasati.

Ujung jarinya menyentuh halaman pertama laporan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!