"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPUTUSAN DAN JEJAK LUKISAN MALAM
Cahaya keemasan matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah tirai tipis kamar utama, membiaskan sinar ke atas lantai marmer dan tempat tidur berukuran king-size. Elara perlahan membuka matanya. Rasa pening yang luar biasa langsung menyerang kepalanya, menyisakan ketidaknyamanan yang asing di sekujur tubuhnya. Efek obat perangsang yang semalam membakar aliran darahnya kini telah sepenuhnya hilang, meninggalkan ingatan samar-samar yang menghantam kesadarannya bagai petir di siang bolong.
Saat Elara menoleh ke samping, dadanya mendadak sesak dan napasnya tertahan.
Di sebelahnya, terbaring seorang pria berparas tampan dengan rahang tegas dan rambut sedikit berantakan. Pria itu tertidur lelap tanpa mengenakan atasan, memperlihatkan dada bidang serta bahu kokoh yang dipenuhi beberapa bekas luka tipis. Mereka berada di bawah satu selimut yang sama. Seketika itu juga, memori malam sebelumnya berputar kencang di kepala Elara—suasana klab, kejaran dua pria, tembakan senjata di tengah hutan, dan keputusan nekat yang ia ambil di kamar ini.
Rasa panik dan malu yang luar biasa membakar wajahnya. Tanpa membuang waktu, Elara mencoba menyibak selimut dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara. Jemarinya yang gemetar meraba-raba pakaiannya yang berserakan di tepi tempat tidur, berniat untuk merapikan diri dan melarikan diri sesegera mungkin dari tempat berbau bahaya tersebut.
Namun, sebelum Elara berhasil menegakkan tubuhnya, sebuah gerakan kilat terjadi.
Tangan kekar berurat milik Haidar bergerak cepat memotong jarak. Cengkeraman jemarinya yang hangat namun erat melingkari pergelangan tangan Elara, menarik tubuh mungil gadis itu kembali merapat ke atas kasur tanpa kesulitan sedikit pun.
Elara terperanjat, membelalakkan matanya saat tubuhnya kembali terhempas pelan ke atas bantal. Ia mendongak dan langsung bersatunya tatapan matanya dengan manik mata tajam bernuansa gelap milik Haidar. Pria itu kini sudah sepenuhnya terbangun, menatap Elara dengan pandangan dingin yang sulit dibaca dari balik jarak mereka yang begitu dekat.
"Kau mau pergi ke mana?" suara Haidar terdengar berat dan serak khas bangun tidur, menggempa di dalam heningnya kamar pagi itu.
Suasana di dalam kamar tidur yang luas itu mendadak menjadi begitu berat dan mencekik. Elara mencoba menarik pergelangan tangannya dari cengkeraman Haidar, namun lingkaran jemari pria itu masih begitu kokoh, seolah menahannya dalam orbit dominasi yang tak terelakkan. Dengan napas yang masih tidak teratur dan mata yang menampung genangan air mata menahan panik, Elara memberanikan diri menatap tepat ke dalam manik mata tajam milik pria di hadapannya.
"A-aku harus pulang..." bisik Elara dengan suara gemetar, berusaha sekuat tenaga mempertahankan keutuhan harga dirinya yang tersisa.
Haidar tidak menyela. Ia hanya diam mematung, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari bibir gadis itu dengan tatapan yang semakin dingin dan tak tersentuh.
"Orang tuaku... perusahaan Ayahku hancur. Mereka telah menjodohkanku dengan seorang pria tua kaya raya demi menyelamatkan bisnis keluarga," Elara menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya, nada suaranya terdengar pasrah dan penuh keputusasaan. "Jika aku melarikan diri atau menolak pernikahan ini... orang tuaku akan benar-benar bangkrut dan hancur. Aku tidak punya pilihan lain."
Kalimat itu melayang di udara, membawa kenyataan pahit yang harus ia hadapi setelah malam kebebasan yang kelam. Elara menundukkan kepalanya, menunggu reaksi dari bos mafia yang baru saja membagikan malam dengannya. Apakah pria ini akan marah? Menahannya? Atau justru menertawakan kemalangannya?
Namun, Haidar sama sekali tidak memberikan respons verbal. Tidak ada raut terkejut, kasihan, apalagi amarah di wajahnya yang bak pahatan marmer. Tatapannya tetap datar, memancarkan aura dingin yang tak terekspresikan. Perlahan, cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Elara mengendur, lalu terlepas sepenuhnya.
Haidar memalingkan wajahnya, mengubah posisi duduknya di tepi ranjang membelakangi Elara tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan itu adalah izin implisit—sebuah penolakan dingin untuk mencampuri urusan hidup sang gadis lebih jauh.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Elara segera memungut pakaiannya, membenahi penampilannya dengan jemari yang gemetar, dan melangkah keluar dari kamar utama tersebut. Sepanjang lorong mansion hingga melewati gerbang tinggi, tak satu pun pengawal yang menghentikannya; perintah tacit sang bos telah melapangkan jalannya.
Elara melangkah meninggalkan mansion megah itu menuju jalan raya, kembali ke dalam pelukan takdir mengerikan yang telah menunggunya di rumah, tanpa menyadari bahwa jejak kehadirannya telah membakar sesuatu yang tak pernah ada sebelumnya di dalam dada seorang Haidar.