Diana melihat suaminya mencium atasannya di mobil, kala hujan deras di depan rumah. Alih-alih minta maaf, Geo malah menceraikan Diana saat istrinya itu minta penjelasan. Bahkan kedua orang tua Geo menghina dan mengusir Diana dari rumah itu.
Tak hanya itu, Sandra wanita selingkuhan suaminya, yang ternyata adalah salah satu putri orang terpandang di kota itu, membayar orang untuk membakar toko orang tua Diana. Memaksa Diana mempercepat perceraian dan menyerahkan hak asuh anak mereka pada Geo.
Saat Diana merasa sangat putus asa dan terpuruk, karena tak punya sepeser pun untuk membayar biaya rumah sakit ibunya dan operasi ayahnya. Seorang pria datang mendekat dan berkata,
"Kamu Diana kan? mau menikah denganku? aku akan bayar semua pengobatan ayah dan ibumu. Juga mengambil kembali hak asuh putrimu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Ravi sungguh melakukan apa yang dia katakan, tak sampai 20 menit, pria itu sudah berlari ke arah lobby rumah sakit. Dengan cepat menekan tombol lift dan masuk dengan tergesa-gesa begitu pintu lift terbuka. Seolah tak ingin membiarkan Diana menunggu lebih lama.
Diana masih melihat dari balik dinding kaca, ayahnya yang kembali tak sadarkan diri. Meski sudah dikabarkan kondisinya membaik, tapi dokter bilang memang beberapa waktu ini memang akan seperti itu. Tidak bisa sadar dan bicara secara langsung seperti ibunya.
Ayahnya dipukuli, lukanya lebih parah dari ibunya. Menghirup asap pembakaran juga lebih banyak. Akan butuh lebih banyak waktu bagi Arman untuk bisa pulih seperti semula.
Ting
Pintu lift terbuka, Ravi membenarkan jasnya dan tampak berjalan dengan langkah tegap menghampiri Diana.
"Diana!" panggil Ravi yang sudah melihat sosok Diana sejak keluar dari dalam lift.
"Tuan..."
"Katakan, apa yang bisa aku bantu!"
Diana melihat Ravi berjalan dari lift di lantai itu memang cukup santai. Tapi dia bisa melihat keringat di pelipis Ravindra Wiratama itu. Diana mengeluarkan sapu tangan dari dalam tas, dan menyeka keringat pria itu. Itu tidak direncanakan, hanya gerakan spontan karena Diana berpikir, dalam waktu yang sangat cepat, pria itu sudah sampai di rumah sakit. Sepintar apapun Ravi mencoba menyembunyikan ngos-ngosan nya. Tapi Diana bisa tahu dari bahu Ravi yang naik turun dengan cepat.
"Tuan berlari?" tanya Diana.
Ravi terkekeh.
"Ketahuan ya?" tanya Ravi berkelakar.
Diana menyeka keringat Ravi dan menatap pria itu. Kalau di lihat dengan tatapan santai tanpa ada rasa gelisah dan curiga seperti itu, sepertinya Diana juga merasa cukup akrab dengan tatapan Ravi.
"Apa kita pernah bertemu sebelum di rumah sakit ini, Tuan?" tanya Diana.
"Sebenarnya pernah, tapi kamu mungkin lupa. Sudah lama sekali. Katakan, apa yang bisa aku lakukan untukmu!"
"Tadi, bibi Mela menghubungi ku. Mela adalah ibunya Kinan. Kinan adalah sahabat yang sudah banyak membantuku selama ini..."
Ravi mengangguk, karena dia memang sudah menyelidiki Diana. Ravi tentu saja tahu bahwa Kinan adalah sahabat paling baik Diana.
"Dan bibi Mela bilang Kinan hilang. Teman Kinan yang ikut mencari pekerjaan bersama dia tadi siang, mengatakan bahwa Kinan bertemu dengan Sandra. Kinan memukul Sandra karena mereka terlibat pertengkaran. Tuan, aku rasa..."
Ravi menyentuh kedua lengan Diana. Dan itu membuat Diana menjeda ucapannya.
"Maafkan aku!" Ravi segera menarik kembali kedua tangannya.
Tadinya dia bermaksud untuk menenangkan Diana yang bicaranya sudah mulai panik. Tapi, dia juga sadar diri bahwa tidak boleh sebenarnya menyentuh sembarangan seperti itu. Meski sejak awal, dia sudah banyak menahan diri.
"Kamu tenang saja, aku akan suruh orang mencari Kinan. Kinan pasti ditemukan!"
Ucapan Ravi terdengar sangat meyakinkan. Dan entah kenapa, Diana memang merasa sangat percaya. Dia yakin kalau Kinan pasti akan di temukan oleh Ravi.
Diana mengangguk perlahan.
"Terima kasih!"
"Tidak perlu berterima kasih, aku akan pergi dan mengurus semuanya. Kamu disini jaga ayah dan ibumu, disini kamu aman"
Tentu saja aman, ada empat orangnya Ravi yang berjaga di depan pintu observasi ayahnya Diana. Dan dua lagi ada di depan kamar ibunya.
Ravi segera berbalik dan pergi setelah memastikan Diana tenang. Langkah pria itu benar-benar cepat, menuju ke arah lift lagi.
Diana menatap punggung Ravi yang menghilang ketika pria itu masuk ke dalam lift. Dia itu siapa? seseorang yang sama sekali tidak dekat dengan Diana dan keluarganya, bahkan seingat Diana, dia idak pernah melakukan sesuatu yang baik pada Ravi. Yang bisa membuat pria itu sampai berbuat sebanyak ini untuknya.
Berpura-pura tidak berlari, padahal keringatnya tidak bisa menipu. Lalu satu kalimat dari Diana, pria itu mendengarkan dengan seksama dan segera membantu Diana.
Rasanya Diana belum pernah mendapatkan ketulusan seperti itu dari Geo. Perbedaan besar ini membuat dia merasa selama 7 tahun ini benar-benar seperti orang yang sudah menyia-nyiakan waktu dan tenaganya.
Diana berjalan ke arah ruang rawat ibunya. Ibunya tampak sudah tidur. Diana duduk di salah satu sofa yang memang ada di ruangan itu. Dia terus mencoba menghubungi nomor Kinan, dan sungguh tak bisa di hubungi.
"Kinan, aku harap kamu baik-baik saja!" ucap pelan Diana sambil menyatukan kedua telapak tangannya. Dia sungguh berharap sahabatnya tidak kenapa-kenapa.
**
Sementara itu di tempat berbeda. Di sebuah gudang tua, sebuah mobil mewah tampak berhenti di depan gudang yang letaknya cukup jauh dari kota itu. Di belakangnya ada sebuah hutan lebat. Terdengar suara lolongan serigala dari arah sana.
Dan seorang wanita, turun dengan dagu yang terangkat begitu tinggi. Wanita itu berjalan ke arah beberapa penjaga yang berjaga di depan pintu gudang besi itu.
"Nona..."
"Dimana dia?"
"Di ikat di dalam!"
Wanita itu tersenyum menyeringai. Langkahnya terdengar begitu pasti. Mendengar pintu gudang di buka, wanita yang berada di dalam, di ilang di kursi segera menoleh.
"Brengsekkk!" pekik wanita itu.
Wanita itu adalah Kinan. Dia berusaha meronta melepaskan ikatan di tangan dan kakinya. Dia di ikat di kursi besi yang cukup kokoh.
"Ha ha ha"
Tawa wanita yang baru datang itu terdengar sangat puas.
"Sandra, kamu itu perempuan yang sangat jahat. Bagaimana bisa dalam keadaan hamil kamu melakukan semua kejahatan itu, bagaimana kalau bayimu kena karma nya!" pekik Kinan.
Ya, wanita yang di ikat itu adalah Kinan. Dia diculik oleh anak buah Sandra. Karena di perusahaan milik teman ayahnya, berani menampar Sandra.
"Apa kamu pikir aku percaya pada hal tabu seperti itu? Aku Sandra Hartawan! salahkan dirimu sendiri karena berani menyinggung aku! kamu selalu bilang anakku ini anak haramm kan? kamu salah, anakku ini punya ayah yang jelas. Geo adalah ayahnya. Akan berbeda tentunya denganmu..."
Brekk
"Brengsekkk! mau apa kamu?" pekik Kinan ketika Sandra merobek lengan baju yang di pakai Kinan.
"Ha ha ha, apalagi? tentunya akan membiarkan mu mengandung anak haramm, ada 7 orang di luar. Tebak, mana yang akan jadi ayah anakmu!"
"Sandra, wanita kejam seperti mu akan mati mengenaskan...!"
Srett
Sandra menjambakk rambut Kinan, dan menarik kepala Kinan ke belakang.
"Kamu butaa? yang akan mati mengenaskan sebentar lagi adalah kamu!"
***
Bersambung...
mana pemilik nya lagi🤣
karyawan aja pada sok ngehina pemilik 🫣
ni orang kepalanya kepentok kali ya
Trus amnesia
eh liat kita sangkanya kita orang yg paling dicintainya 🤣🤣
lah kalau tetibaan dia inget lagi,gimana donk😔
pasti bingung..
ini orang ,mesti gimana ya balesnya?
pandai ny cuma mengeluh aj dy
hitung2 pembalasan dari diana
dia aja bisa seenaknya ngerebut ank lu dengan ga tau malu nya
bisa ngapain lagi ntar nya..
tebak aja
seruu kan hidup lo🤣🤣
marah?
lah emang fakta,gimana donk
udah mokondo ga tau malu lagi🫣🤣
apa yg kau harapkan ketika dia harus Jadi pemimpin banyak orang
ya...ga bakalan mampu lah