Indonesia
NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:478
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Kembali di Bawah Rintik Hujan

Duniaku serasa berhenti berputar. Tulisan tangan yang tegas dan tajam di atas sticky notes kuning itu bagaikan palu godam yang menghantam telak kesadaranku.

Dia... dia menemukanku!

Napasku memburu cepat. Keringat dingin seketika membanjiri pelipis. Aku menatap sekeliling pasar tradisional yang mulai ramai dengan tatapan liar. Setiap sosok pria bertubuh jangkung, setiap bayangan yang melintas di ujung gang, membuat jantungku berdegup tak karuan.

"Neng Gisel? Neng kenapa? Kok pucat gitu abis buka paket?" tegur Mang Ujang dengan nada cemas, melihatku gemetar hebat seraya meremas kotak beludru merah itu.

"E-eh, gak apa-apa, Mang. Makasih ya paketnya," sahutku tergagap, buru-buru memasukkan kotak itu ke dalam saku celemekku.

Tanpa menunggu balasan Mang Ujang, aku berbalik dan berlari kecil menuju ke bagian belakang warung sembako. Aku duduk di atas karung beras, mengatur napas yang tersengal.

Pikiranku berpacu sembarangan. Bagaimana Varro bisa melacakku sampai ke desa terpencil ini? Aku sudah tidak menggunakan ponsel, aku tidak membawa satu pun barang pemberiannya. Bahkan Brandon pun seharusnya kesulitan meretas data tiket karena aku membelinya on the spot.

Kecuali... pria keras kepala itu benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencariku, tak peduli berapa banyak waktu, tenaga, atau biaya yang harus ia korbankan.

"Gisel, lo harus kabur lagi," gumamku pada diri sendiri, air mata mulai menggenang di pelupuk mata. "Kalau Tuan Wijaya tahu Varro ada di sini, nyawa Mama dan adik-adik bisa dalam bahaya. Dan Varro... dia bisa terluka lagi gara-gara gue."

Aku melepaskan celemekku dengan tergesa-gesa, lalu berlari keluar warung, pamit setengah berteriak pada Bude Sri yang sedang melayani pembeli.

"Bude! Gisel pulang duluan ya! Perut Gisel mendadak sakit banget!"

"Lho, Gisel?! Ati-ati di jalan, Nduk!" seru Bude Sri dari kejauhan, tapi langkahku tak berhenti.

Aku menyusuri jalan setapak desa dengan langkah setengah berlari. Langit sore yang tadinya cerah mendadak mendung, seolah merespon kekacauan di dalam hatiku. Rintik hujan mulai turun, membasahi jalanan tanah dan daun-daun pepohonan.

Aku mempercepat langkahku, hampir berlari. Aku harus segera pulang, mengepak barang-barang, dan membawa keluargaku pergi lagi. Ke mana saja, asalkan jauh dari jangkauan Varro dan keluarga Wijaya.

Namun, baru sepuluh meter aku berbelok ke arah gang rumah Bude Sri, langkahku terhenti kaku.

Di ujung jalan tanah yang sempit itu, tepat di bawah guyuran hujan yang mulai menderas, terparkir sebuah mobil sport BMW M8 Coupe berwarna hitam legam yang sangat familier. Lampu hazard-nya menyala, berkedip menembus tirai hujan.

Di depan mobil itu, bersandar sesosok pria berpostur 183 sentimeter. Ia mengenakan kemeja hitam yang kini basah kuyup, menempel pada tubuh atletisnya. Rambutnya berantakan, dan wajahnya... Ya Tuhan, wajahnya terlihat begitu pucat, lelah, dan dihiasi sisa-sisa luka memar yang belum sepenuhnya sembuh.

Varro Aldrian Wijaya.

Darahku berdesir hebat. Napasku tercekat di tenggorokan. Seluruh persendianku serasa melebur. Pria yang selama dua minggu ini menghantui setiap malamku, pria yang kucoba lupakan dengan sekuat tenaga... kini berdiri nyata di hadapanku.

Mata cokelat gelapnya langsung terkunci padaku begitu aku muncul dari balik tikungan. Tidak ada senyum usil, tidak ada tatapan meremehkan. Yang ada hanyalah kilat kerinduan yang teramat dalam, bercampur dengan kelegaan dan... amarah yang tertahan.

"Varro..." bisikku, suaraku nyaris tak terdengar di antara derau hujan.

Aku melangkah mundur satu tindak, insting pelarianku kembali mengambil alih. Namun sebelum aku sempat berbalik, Varro sudah bergerak. Ia melangkah lebar-lebar dengan cepat, tak memedulikan rasa sakit yang mungkin masih menyiksa perutnya.

Dalam hitungan detik, ia sudah berdiri menjulang di hadapanku. Hawa dingin dari tubuhnya yang basah kuyup menyergapku.

"Mau lari ke mana lagi lo, Gisella?" suara baritonnya bergetar pelan, sarat akan emosi yang menggebu. "Lo pikir lo bisa sembunyi dari gue selamanya?"

Aku menundukkan kepala, tak sanggup menatap matanya. "Pergi, Varro. Lo harus pergi dari sini."

"Gue gak bakal pergi tanpa lo," sahut Varro tegas. Ia meraih lenganku, cengkeramannya kuat namun tak menyakiti.

"Lepasin gue!" seruku histeris, berusaha melepaskan diri. Air mata mulai tumpah, menyatu dengan rintik hujan di wajahku. "Lo gak ngerti, Varro! Kita gak bisa sama-sama! Bokap lo yang ngebunuh Papa gue! Darah dia mengalir di tubuh lo! Gimana gue bisa tatap muka lo setiap hari tanpa ingat kejadian itu?!"

Varro terdiam. Rahangnya mengeras. Ia melepaskan cengkeramannya di lenganku, lalu dengan gerakan perlahan, ia menarik ritsleting kemeja hitamnya ke bawah, memperlihatkan perban putih yang melilit perutnya. Perban itu kini bernoda merah segar, menandakan luka jahitannya belum sepenuhnya mengering.

"Lo lihat ini, Gisel?" suara Varro merendah, menahan perih. "Luka ini... gue dapat gara-gara ngelindungin lo. Dan gue rela mati berkali-kali asal lo selamat."

Varro menatapku lekat-lekat, matanya yang memerah memancarkan ketulusan yang merobek-robek hatiku.

"Gue tahu dosa bokap gue gak termaafkan. Gue tahu lo hancur pas tahu kenyataan itu. Tapi apa lo pikir gue gak hancur?! Apa lo pikir gue mau lahir jadi anak dari pria brengsek itu?!" suara Varro mulai meninggi, terbawa emosi. "Gue udah buang nama keluarga gue, Gisel! Gue hancurin bisnis bokap gue pakai tangan gue sendiri! Gue bikin dia berlutut dan kehilangan segalanya, cuma buat nebus dosa dia ke keluarga lo!"

Aku terbelalak, menatapnya tak percaya. "Lo... lo yang bikin Wijaya Corp hancur?"

"Gue rela kehilangan semuanya, asal gue gak kehilangan lo," bisik Varro, suaranya kembali melembut. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. Tangannya yang dingin menyentuh kedua pipiku, menangkupnya dengan lembut.

"Tolong, Gisel... jangan siksa gue lagi. Jangan suruh gue pergi," pinta Varro, matanya menyiratkan keputusasaan yang teramat dalam. "Biarin gue ada di samping lo. Biarin gue gantiin kebahagiaan keluarga lo yang dirampas bokap gue. Gue janji... gue bakal habisin sisa hidup gue cuma buat lo."

Kata-kata Varro menghancurkan seluruh sisa pertahananku. Tembok yang kubangun selama dua minggu ini runtuh berkeping-keping. Pria ini telah mengorbankan segalanya, darahnya, keluarganya, masa depannya hanya demi satu orang, yaitu aku.

Bagaimana mungkin aku bisa terus membencinya, sementara hatiku menjerit merindukannya?

Tangisku pecah. Aku memajukan tubuhku, mengalungkan lenganku di lehernya, dan membenamkan wajahku di dadanya yang basah. Varro menyambut pelukanku dengan erat, melingkarkan lengannya di pinggangku, seolah takut aku akan menghilang lagi jika ia melepaskannya.

Di bawah guyuran hujan sore itu, di tengah keheningan desa yang sunyi, kami saling berpelukan erat, meleburkan segala rasa sakit, kerinduan, dan cinta yang tak terbendung.

Namun, di tengah momen haru itu, sebuah notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel Varro yang berada di saku celananya.

Varro melepaskan pelukannya perlahan, merogoh ponselnya dengan dahi berkerut. Begitu ia membaca pesan tersebut, raut wajahnya seketika menegang.

"Ada apa, Varro?" tanyaku cemas, melihat perubahan drastis di wajahnya.

Varro menelan ludah, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Raka... dia tahu gue ada di sini, Gisel."

Firasat buruk kembali menghantamku. Pelarianku ternyata tidak hanya membawa Varro kepadaku, tapi juga membawa bahaya besar yang selalu mengikutinya. Raka... musuh bebuyutan Varro yang licik dan tak kenal ampun itu, rupanya tak akan pernah membiarkan kami hidup tenang.

Permainan maut yang baru, kembali dimulai.

Bersambung……

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!