Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Matahari pagi perlahan merangkak naik, menerobos cahaya keemasan yang menerobos jendela kaca besar di ruang tamu.

Rumah Mayor Angga Pratama, yang di beli dari hasil kerja kerasnya sendiri---rumah ini dulu di beli sebagai rasa seriusnya untuk menikahi Alina.

Baru saja Angga melangkah masuk ke dalam rumah dengan tubuh terasa lelah, dengan pikirannya yang kusut karena sepanjang malam dirinya tak tidur.

Pria itu tak tidur karena semalaman dirinya menghabiskan waktu berjam-jam di kosan anak buahnya----untuk menemui anak buahnya yang merupakan ahli IT dan intelijen militer terpercaya.

Hal ini di lakukan karena Angga mengumpulkan setiap kepingan informasi mengenai Asri Devantara dan meminta rekaman CCTV dari hotel bintang lima---dimana dirinya meniduri Asri.

Angga yang masih mengenakan kemeja batik lengan pendek bermotif klasik berwarna cokelat tua, dan celana bahan resmi hitam.

Alasannya simpel karena kemarin dirinya lupa membawa baju ganti, hanya baju ini saja----pakaian yang di kenakan pada acara kementerian semalam.

Angga menghembuskan napas panjang, baru saja dirinya duduk di sofa ruang tamu---Angga langsung tersentak kaget, dengan mata membulat saat melihat sosok wanita yang duduk dengan anggun di atas sofa tepat di depannya.

Wanita itu adalah Alina Barenyah---tunangannya, yang pagi ini tampil sangat berkelas dan elegan.

Tubuhnya yang tinggi semampai mengenakan baju berbahan satin warna hijau sage, rambutnya yang hitam di cepol rendah.

Sungguh dirinya memamerkan garis lehernya yang jenjang dan khas model internasional.

Di ruang tamu dengan latar belakang ruangan, dengan deretan bingkai foto keluarga yang berjejer rapi di atas rak kayu dinding.

"Aduh Sayang...," ucap Angga sembari mengelus dadanya, berusaha menenangkan jantungnya yang kaget.

"Kamu kok bisa ada di rumah aku sepagi ini?" tanya Angga dengan nada suara bergetar.

Alina hanya duduk seraya menyunggingkan senyuman manis yang sangat menawan, tatapan matanya terlihat lekat menatap tunangannya.

"Ya aku 'kan tunangan kamu," jawan Alina dengan nada manja yang menjadi ciri khasnya.

Alina segera berdiri dan melangkah anggun mendekati Angga, lalu merangkul mesra lengan kokoh sang perwira muda itu.

Deg.

Entah mengapa hati Angga merasa tak nyaman, padahal dulu dirinya yang mengejar-ngejar Alina---bahkan meminta ayahnya Alina untuk menjodohkan putrinya dengan dirinya.

Namun, kenapa tiba-tiba hatinya merasa tak nyaman saat wanita di depannya ini mulai bersikap mesra.

Aroma parfum mewah yang dari tubuh Alina semerbak memenuhi indra penciuman Angga, namun ingatan Angga malah terus memikirkan wajah Asri---bahkan parfum yang di kenakan Alina terasa tak nyaman.

Sikap mesra tunangannya justru bagai rantai yang mencekik leher Angga, dalam benaknya bayangan saat di kamar hotel masih teringat jelas.

Noda bercak darah dan wajah ketakutan Asri di acara pertemuan semalam, seolah menciptakan rasa bersalah yang amat dalam.

Namun, Angga merasa heran---kenapa dirinya merasakan hal ini, bukankah bukan pertama kali dirinya pernah tidur dengan wanita lain saat mabuk.

"Aku pesenin gofood ya," ucap Alina.

Dirinya memang tak bisa masak, karena sejak kecil dirinya tak pernah di suruh masak oleh orangtuanya---fokus utamanya adalah pendidikan dan karir.

Jadi wajar jika Alina tak bisa memasak, sementara Angga hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala---seolah menyembunyikan rasa tak nyamannya.

Alina hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu segera meraih ponselnya.

Di tempat lain, waktu bergeser menuju waktu siang yang cerah.

Di rumah kediaman Devantara, di dalam dapur minimalis bernuansa hijau sage.

Di dapur tercium harum aroma mentega cair, butter dan adonan tepung yang manis di tambah gula halus.

Seolah aroma itu menyeruak sampai di udara, setelah kejadian yang semalam----Putri sengaja mengajak Asri beraktivitas di dapur---agar bisa mengalihkan sepupunya sejenak dari rasa traumanya.

Trauma akan bayang-bayang ketakutan malam menjijikan itu.

Asri siang ini tampil dengan dengan santai, mengenakan kaos lengan pendek bahan rayon warna hijau sage, dengan gambar mickey mouse.

Bawahnya mengenakan celana pendek warna hitam sampai lutut.

Di samping, sang sepupu---Putri mengenakan kaos lengan pendek warna lavender atau ungu muda, bawahnya mengenakan celana pendek dengan motif abstrak perpaduan warna biru dan hitam.

Di atas meja kayu, sebuah mangkuk kaca besar berisi adonan pancake di letakkan tepat di samping kotak susu cair dan beberapa butir telur.

Di atas meja juga ada wajan datar pembuat pancake elektrik yang tengah menyala, memanggang beberapa adonan bulat sedang meletup-letup perlahan.

"As, ini pancakenya bentar lagi matang. Lu mau pakai sirup mapel atau madu?" tanya Putri, mencoba memancing reaksi dari Asri yang sejak tadi lebih banyak terdiam di sampingnya.

Asri mencoba tersenyum, tangannya bergerak perlahan untuk merapikan letak sudip kayu di dekat kompor.

"Gua madu aja," jawab Asri dengan senyum.

"Oke deh," sahut Putri.

Tiba-tiba kepala Asri merasakan sakit yang sangat luar biasa, entah karena banyak pikiran atau terus-menerus larut akan traumanya----seolah ada ribuan jarum yang menusuk pusat saraf kepalanya.

Ingatannya akan tekanan psikologis akibat pertemuan tak sengaja dengan Angga semalam, di tambah tekanan  batin yang menyiksanya.

"Aduhh... Put... kepalaku... sakit banget..." rintih Asri lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

Kedua matanya terpejam erat, lalu pandangannya mendadak gelap gulita.

Sudip di dekat tangannya terlepas lalu sedetik kemudian, tubuh Asri kehilangan seluruh keseimbangannya.

Asri merosot jatuh dengan bersandar lemah pada dinding kabinet dapur di bawah meja kompor elektrik.

"Asri lo kenapa?" tanya Putri dengan panik.

Putri langsung mematikan kompor elektriknya, lalu mendekati tubuh sepupu tersayangnya.

"As! Lo kenapa?! Asri, bangun, As!" teriak Putri histeris.

Putri langsung mengabaikan adonan pancake di atas wajan elektrik yang sudah di matikan.

Tangannya gemetar berusaha menopang kepala Asri yang terkulai ke samping, tangan kirinya bergerak cepat meraba nadi dan leher Asri.

"As bangun!" teriak Putri sambil menepuk-nepuk pipi sepupunya.

Putri dengan panik meninggalkan sepupunya, mencari ponselnya dirinya akan menghubungi dokter di klinik terdekat.

Wanita yang mengenakan kaos lavender itu berusaha memapah Asri, menuju mobil di garasi agar bisa membawanya ke klinik terdekat.

Untuk memapah Asri ke kamarnya tentu membutuhkan tenaga, karena letak kamar mereka di lantai atas.

Apa yang akan terjadi pada Asri, saat di bawa ke klinik.

*

*

*

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!