Indonesia
NovelToon NovelToon
Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.

“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.

Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.

Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.

“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Suasana ruang makan itu masih dipenuhi ketegangan. Tak ada lagi yang benar-benar menikmati makanan. Semua orang tampak gelisah.

Sementara Deva justru terlihat jauh lebih tenang. Seolah setelah bertahun-tahun menahan semuanya sendiri akhirnya ada sesuatu di dalam dirinya yang hancur. Namun, anehnya itu membuat dadanya terasa lebih ringan.

Deva menyandarkan tubuhnya pelan ke kursi. Tatapannya bergantian memandang wajah keluarganya. Lalu dengan suara datar, ia berkata, “Aku akan jual rumah ini.”

Semua orang langsung membeku sesaat, kemudian memekik kompak, “Apa?!”

Suara Bu Hania paling keras. Sendok di tangan Iriana jatuh beradu dengan piring. Pak Dimas langsung menoleh karena kaget mendengar keputusan putra sulungnya.

Deva melanjutkan dengan tenang. “Bukan hanya rumah yang akan aku jual, mobil juga sama. Walau aku jual semua pun masih jauh dari kata cukup untuk membayar ganti rugi.”

Suasana langsung ricuh. “Deva, kamu gila?!” bentak Pak Dimas.

“Itu satu-satunya mobil yang kita punya!”

Bu Hania terlihat panik bukan main. “Kalau mobil itu dijual, kita sulit kalau mau pergi ke mana-mana! Terus kamu akan tinggal di mana?”

Tatapan Deva bergeser pelan pada ibunya. “Aku bisa cari motor bekas dan kontrakan murah.”

Kalimat itu membuat wajah Iriana langsung pucat. Kontrakan? Kata itu terdengar seperti mimpi buruk bagi dirinya. Selama ini ia hidup nyaman di rumah besar itu.

Iriana langsung berdiri.

“Kenapa mesti dijual rumah ini?!” “Kakak pinjam uang ke bank aja!”

“Iya!” sahut Bu Hania cepat. “Benar kata Iriana!”

Deva tertawa kecil dengan tatapannya menajam. “Pinjam uang ke bank? Jaminannya apa?”

Tak ada yang menjawab seorang pun.

“Lalu nanti siapa yang akan bayar cicilannya tiap bulan?” Nada suara Deva meninggi untuk pertama kalinya malam itu.

Membuat semua orang langsung diam. Karena selama ini Deva hampir tidak pernah bicara keras pada keluarganya. Malam ini berbeda. Tatapan laki-laki itu terasa asing.

Dia terlalu lelah, kecewa, dan sesuatu yang selama ini terus dipendam, akhirnya membludak.

“Bu, aku enggak mau ikut Kak Deva tinggal di kontrakan. Aku akan pindah ke rumah Ibu,” ujar Iriana merajuk manja, menatap sendu Bu Hania.

“Tentu saja. Kamar bekas Gavin masih kosong. Nanti Ibu bersihkan,” balas Bu Hania.

“Di kantor jabatan aku juga berubah.” Suara Deva kembali terdengar berat. “Dan pastinya gaji aku enggak akan sama lagi.”

Kalimat itu seperti petir kedua. Bu Hania langsung terduduk lemas. Kepalanya mulai dipenuhi berbagai hitungan. Arisan bulan depan. Iuran gathering sosialita. Belanja salon. Dan semua pengeluaran yang selama ini selalu bisa dibayar karena ada Deva.

Tangan Bu Hania mulai dingin. “Kalau penghasilan kamu turun, ibu dapat uang dari mana?” gumamnya pelan.

Deva langsung menangkap kekhawatiran itu. Lagi-lagi yang dipikirkan ibunya bukan dirinya, bukan kondisi mentalnya, juga bukan masa depannya, tetapi gaya hidup mereka yang takut berubah.

Dadanya terasa nyeri. Justru membuatnya semakin sadar. Selama ini dirinya memang diperas habis-habisan.

“Kak...” Suara Gavin terdengar pelan.

Deva menoleh.

Wajah adiknya terlihat tegang. “Lalu cicilan rumahku gimana?”

Pertanyaan itu langsung membuat Deva ingin tertawa miris. Bahkan dalam kondisi seperti ininyang dipikirkan Gavin tetap rumahnya sendiri. Bukan masalah yang sedang dihadapi kakaknya.

Deva menatap Gavin cukup lama sampai pemuda itu salah tingkah sendiri. “Ya, kamu bicarakan sama Rosita.”

Rosita langsung menegang. “Kalau kalian masih mau tinggal di sana, ya, pikirkan sendiri cicilannya.”

Nada suara Deva terdengar tegas. Tidak lagi lembut seperti biasanya. “Kalau enggak sanggup bayar cicilan, tinggal over kredit aja ke orang lain.”

Wajah Gavin langsung berubah. Rosita juga tampak tidak terima.

“Kak, tapi—”

“Bukannya dulu kalian pengin hidup mandiri? Tapi, tidak mau tinggal di kontrakan sepetak.”

Kalimat Deva langsung memotong ucapan Rosita telak.

Deva bersandar pelan. Dia merasakan kepuasan aneh melihat wajah mereka berubah panik. Karena selama ini dirinya yang selalu panik sendirian. Dirinya yang pontang-panting mencari uang. Dirinya yang tidak bisa tidur memikirkan kebutuhan semua orang. Sementara mereka? Tinggal menikmati hasilnya.

“Kakak.” Suara Iriana mulai lirih.

Deva menoleh. “Ada apa?”

Perempuan itu menggigit bibirnya gugup. “Kakak masih kasih jatah aku tiap bulan kan?”

Deva langsung menjawab tanpa ragu. “Tidak.”

Mata Iriana langsung membulat. “Apa?!”

“Sudah saatnya kamu cari kerja, Iriana.”

Suara Deva terdengar datar. Tegas. “Lamar pekerjaan. Cari uang sendiri.”

“Apa?!” pekik Iriana. “Aku enggak mau!”

Iriana langsung memegang kepalanya dramatis. “Masa aku harus kerja kayak orang susah?!”

Kalimat itu langsung membuat rahang Deva mengeras. 'Orang susah.' Lucu sekali. Padahal selama ini siapa yang sudah bekerja mati-matian supaya mereka tidak pernah merasa susah?

“Memangnya selama ini aku enggak capek kerja?” Suara Deva pelan. Namun, cukup membuat semuanya diam lagi.

“Aku juga capek jadi satu-satunya orang yang mikirin hidup kalian.”

Mata Deva mulai memerah, tetapi tidak ada air mata, yang ada hanya kelelahan panjang.

“Aku bahkan kehilangan istri dan anak-anakku karena terlalu sibuk jadi penolong kalian!”

Ruangan langsung sunyi total. Tak ada yang berani bicara. Karena kalimat itu terlalu telak sebagai pukulan keras.

Deva menunduk sebentar. Dia mengusap wajah kasar. Lalu, kembali menatap keluarganya satu per satu.

“Aku enggak akan terus jadi ATM keluarga.”

Bu Hania langsung menangis. “Siapa yang menjadikan kamu ATM? Kamu tega ngomong begitu sama orang tua sendiri? Seolah kami adalah orang tua yang zalim.”

Biasanya kalimat itu selalu berhasil membuat Deva luluh. Namun, malam ini tidak lagi. Dia sadar sesuatu, mencintai orang tua bukan berarti harus menghancurkan keluarganya sendiri. Membantu saudara bukan berarti membiarkan hartanya diperas sampai habis.

“Aku tetap anak kalian.” Suara Deva rendah. “Tapi aku juga ayah buat anak-anakku. Dan aku suami Kartika.”

Tangan Dave mengepal kuat. “Aku gagal jadi suami dan ayah karena terlalu sibuk memenuhi semua mau kalian.”

Kalimat itu membuat tenggorokannya tercekat sendiri. Bayangan Kartika kembali muncul. Tatapan kecewa yang tidak pernah bisa ia lupakan.

Deva benar-benar merasa takut. Takut terlambat memperbaiki semuanya. Karena kalau kali ini ia masih bertahan memilih keluarganya, mungkin Kartika tidak akan pernah kembali lagi.

1
Anre1201
Ada yg gantung, kok ga ada bab tentang Bu Hanin tahu kalau Kartika bukan sekedar anak yatim piatu miskin?? Ga ada cerita tentang saat Bu Hanin tahu kalau Kartika anak orang kaya, punya rumah tingkat 3 dan CEO dari perusahaan besar, ga ada cerita tentang reaksi Bu Hanin saat tahu Deva yang gantiin Kartika
Anre1201
Bersyukur di sini Deva bisa jadi laki-laki waras, walaupun keluarga nya agak Stress tapi dia tidak ikutan Stress. Deva bisa melihat mana yg baik dan benar.
Anre1201
Dari cerita ini dapat pelajaran :

Jangan pernah bergantung sama pasangan / orang lain. Bikin repot!!
Kalau Pingin sesuatu ya Kerja!!!
Dari kecil, anak-anak jangan di manja tapi di ajarkan untuk berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan, jangan dibiarkan cara instan!!!
Dari kecil anak-anak harus terbiasa bekerja di rumah, entah merapikan mainan, tempat tidur, kursi makan, sepatu, baju kotor, buku, dll biar ga kaget kalau saat besar nanti 🙏🙏
Anre1201
Berpisah baik untuk koreksi + Introspeksi diri masing-masing, kalau masalah benar-benar tidak bisa di selesaikan, tidak ada yang mau mengalah, menurunkan ego, berpikir jernih, melihat jauh ke depan..
Lebih baik berpisah dulu, sebulan - dua bahkan 1 tahun.. Tidak masalah...
Maka kalau harus bercerai.. Mungkin sudah final 🤔
Anre1201
Mending Kartika pura-pura bodoh dan bilang : ya sudah mas, ganti pakai simpanan kita dulu 35jt, tapi Gavin harus bayar setiap bulan karna itu di anggap Hutang
Anre1201
Banyak orangtua yang bilang, setelah nikah, anak-anak wajib bantu orangtua. Malah keluarga pihak suami / istri kadang jadi parasit dan benalu.
Kalau tidak ada ketegasan, maka rumah tangga akan hancur
Anre1201
Bucin ga salah, yg salah tuh kalau jadi Goblok karna Bucin
Anre1201
Jadi inget waktu Ibu-ibu Konoha Bilang kalau gaji 3 juta itu cukup buat keluarga dengan 2 anak. Jadi harus bersyukur. Jangan banyak nuntut😃
sherly
novel yg bagus, alur ceritanya menarik...
sherly
cerita yg luar biasa, sampai ngk bisa coment ditiap bab karna terlalu fokus... tq untuk kisah hidup mereka yg begitu nyata dengan segala masalahnya, apalgi dikisah ini Deva yg sangat setia dan Kartika yg penuh pengertian dan perhatian... 👍👍
sherly
sejauh ini aku suka ceritanya sebab TDK ada pelakor seperti di novel2 lain ...hanya keluarga yg toxic... 👍
Umi Fitriani
mampir Thor
yuni ati
Mantap
Mama lilik Lilik
ceritanya bagus kak Santi,suka banget, terimakasih buat ceritanya🙏
🌸 Sunshine 🌸: Sama-sama, Kak. Terima kasih sudah baca karya aku ini ❤️
total 1 replies
Wirly Pena
karya yang bagus thor 👍

halo kakak2, jangan lupa mampir di karya pertamaku.
judul : aku istrimu bukan babu mu

terimakasih 🙏
Wirly Pena
semangat thor 💪

halo temen2, dukung dam baca karya pertamaku.
judul : Aku istrimu bukan babu mu

terimakasih 🙏
Alfia Amira
orang ketiga dalam rumah tangga tuh bukan hanya pelakor , tpi dari keluarga sendiri juga
Alfia Amira
selama ini istrimu adalah CEO dari keluarga Santoso , dia menyamar sebagai cleaning service di perusahaan nya sendiri 😂😂😂
Tatan Utari
cerita nya bagus banget, bukan perselingkuhan, suami idaman, semoga keluarganya tidak merongrong lagi
Tatan Utari
Bab 36 sedih banget aku sampai nangis, terharu semoga mereka kumpul lagi bersama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!