Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Darah Sang Pewaris
Kamar utama Kepala Keluarga Ye kini tak ubahnya seperti miniatur neraka.
Tiga serangan dari Master tingkat Alam Ilahi (Divine Realm) menghantam ruang sempit itu secara bersamaan. Di belakang Ye Chen, formasi kubah cahaya yang melindungi Yuhan dan sang Kakek berkedip hebat menyerap energi langsung dari tubuh Ye Chen.
BAM! TRANG! SRETT!
Ye Chen menahan gelombang gravitasi dari Iblis Tanah dengan telapak tangan kanannya, sementara tangan kirinya memancarkan True Qi (Qi Sejati) untuk menangkis cambuk menyala milik Iblis Api. Namun, kecepatan Iblis Angin yang melesat dari titik buta tidak bisa dihindari sepenuhnya.
Bilah angin yang tajam merobek lengan kemeja putih Ye Chen, menggores bahu kirinya.
Darah segar berwarna merah gelap memercik ke udara!
"Ye Chen!" jerit Yuhan dari dalam kubah, air matanya tak terbendung melihat darah suaminya menetes ke lantai kayu yang hancur.
Ye Chen terdorong mundur setengah langkah, namun kakinya segera menancap kokoh di lantai, menolak untuk bergeser inci demi inci. Napasnya mulai memburu. Menahan gempuran tiga Master Alam Ilahi sekaligus membagi tiga puluh persen Qi-nya untuk mempertahankan formasi pertahanan benar-benar menguras batas fisiknya.
"Hahaha! Kudengar kau membunuh Jian Nantian, kupikir kau adalah monster gaib!" tawa Iblis Angin sambil menjilat darah Ye Chen yang memercik ke pedang melengkungnya. "Ternyata kau juga bisa berdarah! Kecepatanmu melambat karena harus melindungi dua beban di belakangmu itu!"
Zhao Xinlan, yang bersembunyi aman di balik puing-puing dinding koridor, tersenyum sinis. "Bunuh dia secara perlahan! Cincang dagingnya biarkan dia merasakan keputusasaan!"
Ye Chen menarik napas panjang, menstabilkan detak jantungnya yang berpacu liar.
Jika aku terus bertahan seperti ini, meridianku akan terbakar habis dan formasi pelindung ini akan pecah, batin Ye Chen, matanya dengan cepat memindai struktur otot dan aliran Qi dari ketiga musuhnya. Aku tidak bisa mengadu kekuatan murni. Aku harus menghancurkan sirkuit energi mereka.
"Maju lagi!" raung Iblis Tanah. Pria raksasa itu melompat tinggi, kedua tinjunya diselimuti aura batu yang padat, siap meremukkan kepala Ye Chen dari atas.
Di saat yang sama, Iblis Angin melesat dari sisi kanan, mengayunkan pedangnya ke arah leher Ye Chen.
Kali ini, Ye Chen tidak memblokir serangan mereka. Ia dengan sengaja mematikan pelindung Qi di sisi kanan tubuhnya.
Melihat celah besar itu, Iblis Angin menyeringai rakus. "Mati kau!"
Pedang angin itu menebas lurus ke arah dada kanan Ye Chen. Namun, tepat pada sepersekian detik sebelum bilah pedang itu membelah jantungnya, tubuh Ye Chen menekuk ke belakang dengan kelenturan ekstrem layaknya ular, membiarkan pedang itu merobek dangkal kulit dadanya, menghasilkan luka memanjang yang berdarah.
Sebagai gantinya atas luka mematikan itu, Ye Chen berhasil masuk ke zona pertahanan jarak dekat Iblis Angin!
"Apa?!" Iblis Angin terbelalak.
Tangan Ye Chen yang telah menjepit dua batang jarum perak melesat ke atas, menancapkannya tepat di titik Tiantu (pangkal leher) dan Shenmen (pergelangan tangan) sang Iblis Angin.
"Jarum Penyegel Meridian!"
Titik itu bukanlah titik mematikan, namun bagi seorang kultivator yang sedang memacu energi angin di dalam tubuhnya, titik itu adalah katup utama sirkulasi Qi.
Begitu jarum menancap, Iblis Angin seketika membeku. Matanya melotot. Energi angin yang dahsyat di dalam tubuhnya tidak bisa keluar, berbalik arah layaknya badai tornado yang terperangkap di dalam ruangan tertutup.
BOOOM!
"AAARRRGHHH!" Tubuh Iblis Angin meledak dari dalam! Urat-urat nadinya pecah serentak, menyemburkan kabut darah ke segala arah sebelum tubuhnya jatuh ke lantai tak bernyawa.
Satu Raja Iblis tewas!
Namun, tidak ada waktu untuk bernapas. Tinju raksasa Iblis Tanah sudah tiba tepat di atas kepala Ye Chen.
Karena posisinya belum stabil setelah mengeksekusi Iblis Angin, Ye Chen terpaksa menyilangkan kedua lengannya untuk menahan hantaman itu.
BRAKKK!
Lutut kiri Ye Chen terpaksa ditekuk hingga membentur lantai akibat tekanan luar biasa seberat puluhan ton. Lantai di bawah lututnya hancur menjadi bubuk. Darah menetes dari sudut bibir Ye Chen akibat getaran yang merusak organ dalamnya.
"Matilah menjadi debu, Anak Haram!" raung Iblis Tanah, terus menekan tinjunya ke bawah.
Iblis Api yang melihat rekannya tewas kini menjadi liar. Ia tidak menyerang Ye Chen, melainkan melecutkan cambuk apinya dengan kekuatan penuh ke arah kubah emas yang melindungi Yuhan dan Kakek Ye!
TAR! TAR!
Kubah emas itu berkedip hebat. Setiap cambukan yang mengenai kubah membuat Ye Chen memuntahkan seteguk darah segar karena jiwanya terhubung langsung dengan formasi tersebut.
"YE CHEN!" Yuhan menjerit histeris dari dalam kubah. Ia memukul-mukul penghalang cahaya itu, mencoba keluar. "Hentikan! Ye Chen, lepaskan formasinya! Selamatkan dirimu sendiri!"
Mendengar tangisan istrinya, mata Ye Chen yang mulai meredup mendadak memancarkan kilatan keemasan yang begitu terang hingga menyilaukan seisi ruangan.
"Jangan pernah..." Ye Chen menggeram rendah, kepalanya perlahan mendongak menatap Iblis Tanah, "...membuat istriku menangis di hadapanku!"
Ye Chen menggigit bibir bawahnya keras-keras. Menggunakan sisa Qi terakhir di Dantian-nya, ia mengaktifkan teknik tabu dari Warisan Tabib Naga.
"Pembalikan Darah Naga!"
Seketika, seluruh pembuluh darah di tubuh Ye Chen menonjol keluar, berwarna keemasan menyala. Detak jantungnya terdengar seperti tabuhan genderang perang yang mengguncang gendang telinga semua orang di ruangan itu. Teknik ini membakar esensi darahnya sendiri untuk meningkatkan kekuatan fisik tiga kali lipat selama satu menit!
Hanya dengan satu sentakan lengan, Ye Chen melempar tubuh raksasa Iblis Tanah ke udara seolah melempar karung kapas.
Ye Chen bangkit berdiri dari lututnya. Ia melesat dengan kecepatan yang meninggalkan bayangan di udara, muncul tepat di bawah Iblis Tanah yang masih melayang di udara.
Tangan kanan Ye Chen membentuk kepalan lurus.
"Tinju Satu Inci... Penghancur Gunung!"
Tinju Ye Chen menghantam titik Dantian (pusat pusaran energi di bawah pusar) milik Iblis Tanah.
KRAK!
Tulang belakang Iblis Tanah menonjol ke luar dari punggungnya, patah menjadi beberapa bagian. Pusat kultivasinya hancur lebur seketika. Raksasa itu jatuh menghantam lantai bagaikan bongkahan daging mati tanpa sempat mengeluarkan suara.
Dua Raja Iblis tewas!
Melihat dua rekannya dibantai dalam hitungan detik oleh pemuda yang tubuhnya sudah berlumuran darah, kewarasan Iblis Api hancur lebur.
Ia membatalkan serangannya pada kubah pelindung, berbalik, dan lari terbirit-birit menuju pintu keluar! Ia tidak peduli lagi dengan bayaran dari Zhao Xinlan. Ia sedang berhadapan dengan inkarnasi dewa kematian!
Namun, kecepatan lari seorang kultivator ketakutan tidak akan pernah bisa mengalahkan amarah sang Naga.
Ye Chen menendang sebilah serpihan kayu jati tajam dari sisa reruntuhan pintu. Serpihan kayu itu melesat membelah udara layaknya peluru penembak jitu yang ditembakkan dari jarak dekat.
JLEB!
Serpihan kayu itu menembus tengkuk Iblis Api, menembus tenggorokannya, dan memaku tubuh pria itu ke pilar kayu di luar koridor paviliun. Iblis Api mengejang sesaat, cambuk apinya padam, dan ia tewas dengan mata melotot.
Tiga Raja Iblis... musnah!
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti Kediaman Ye. Di luar ruangan, para tamu elit Ibu Kota yang mengintip dari kejauhan menggigil ketakutan hingga menahan napas.
Di dalam ruangan yang telah hancur berantakan itu, Ye Chen berdiri dengan napas terengah-engah. Kemeja putihnya kini diwarnai oleh merahnya darah. Luka di dada dan bahunya terus meneteskan darah ke lantai. Efek Pembalikan Darah Naga memudar, meninggalkan rasa sakit yang merobek seluruh urat sarafnya.
Ia menjentikkan jarinya, membatalkan formasi kubah pelindung.
Begitu kubah itu hilang, Yuhan langsung berlari menerjang puing-puing, menghambur memeluk Ye Chen dari belakang. Ia tidak mempedulikan darah yang mengotori gaun mahalnya.
"Kau bodoh... kau sangat bodoh," isak Yuhan, menyembunyikan wajahnya di punggung Ye Chen yang hangat. "Kau berjanji tidak akan membahayakan nyawamu..."
Ye Chen tersenyum tipis, menepuk tangan Yuhan yang melingkar di pinggangnya. "Aku harus memegang janjiku untuk melindungimu, Yuhan. Aku masih hidup, jadi aku tidak melanggar janji."
Ye Chen melepaskan pelukan istrinya dengan lembut, lalu membalikkan badannya menghadap ke luar ruangan.
Di koridor, Zhao Xinlan jatuh terduduk dengan wajah sepucat kertas HVS. Tubuh wanita angkuh yang selama ini mengendalikan Ibu Kota dari balik tirai itu kini gemetar hebat. Empat Raja Iblis... kartu as terkuatnya, dibantai habis dalam waktu kurang dari sepuluh menit!
Tap... Tap... Tap...
Ye Chen melangkah perlahan mendekati Zhao Xinlan. Setiap tetes darah yang jatuh dari ujung jarinya ke lantai seolah menjadi pengingat detik-detik terakhir kehidupan wanita itu.
"Tiga tahun lalu, kau meracuniku. Malam ini, kau meracuni Kakek dan mencoba membunuh istriku," ucap Ye Chen, suaranya sangat serak dan kelelahan, namun niat membunuhnya begitu absolut hingga udara di sekitarnya membeku.
"J-Jangan... Ye Chen... A-Aku ini Ibumu! Secara hukum, aku ini Ibumu!" Zhao Xinlan mundur mengesot di lantai, air mata ketakutan merusak riasan wajahnya. Ia menoleh ke arah halaman, berteriak putus asa. "Penjaga! Siapa saja! Selamatkan aku!"
Namun, tidak ada satu pun pengawal yang berani mendekat. Para tamu elit bahkan memalingkan wajah mereka.
Ye Chen berhenti tepat di depan Zhao Xinlan, menatap wanita itu seperti melihat tumpukan sampah yang menjijikkan. Ia mengangkat tangan kanannya, bersiap menghancurkan tengkorak wanita yang telah menghancurkan hidupnya dan membunuh ibu kandungnya.
"Malam ini, aku akan mencabut nyawamu untuk membalas dendam ibuku."
Namun, tepat ketika tangan Ye Chen hendak diturunkan untuk memberikan pukulan mematikan, sebuah suara tua yang sangat berwibawa, diiringi oleh ketukan tongkat kayu yang menggema kuat, menghentikan gerakannya.
TUK... TUK... TUK...
"Hentikan tanganmu, Anak Muda. Mengotori tanganmu dengan darah anggota keluarga di malam perayaan keluarga adalah pantangan terbesar klan ini."
Suara itu tidak keras, namun mengandung tekanan jiwa (Soul Pressure) yang jauh lebih murni dan menakutkan daripada gabungan Empat Raja Iblis tadi.
Ye Chen mengerutkan dahi, menoleh ke arah pintu masuk taman paviliun.
Kerumunan tamu otomatis terbelah.
Seorang pria tua berjubah abu-abu sederhana, dengan janggut putih panjang menyentuh dada, berjalan perlahan menggunakan tongkat kayu biasa. Matanya tertutup rapat, seolah ia buta. Namun, setiap langkahnya selaras dengan detak jantung bumi.
Melihat pria tua itu, seluruh anggota Keluarga Ye, termasuk para pengawal, langsung bersujud serentak menyentuh tanah.
"Kami menyambut Tetua Agung!"
Bahkan Kakek Ye Tianlong yang terbaring lemah di atas ranjang terbelalak kaget. "Paman Besar...?"
Ye Chen memicingkan matanya. Tetua Agung Keluarga Ye. Sang Pelindung Bayangan yang dikabarkan telah hidup lebih dari seratus tahun, sosok yang telah mencapai tingkat Master Alam Ilahi Puncak dan nyaris menyentuh gerbang alam legendaris.