Indonesia
NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuni93

Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang Kebohongan

Angin pagi yang masuk lewat jendela kamar Yena terasa sejuk, namun tak mampu mendinginkan kepala gadis itu yang masih berdenyut pelan. Kakinya masih terasa nyeri setiap kali digerakkan, membuatnya harus beristirahat total dan tidak bisa pergi ke kampus seperti biasa. Pagi itu berlalu dengan lambat, hingga bel pintu berbunyi nyaring tepat saat jam menunjukkan pukul dua siang.

Bik Ina mengantar dua sahabatnya masuk tak lama kemudian. Vivien dan Zara langsung menghampiri Yena yang sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur, wajahnya masih terlihat sedikit pucat.

"Yen, gimana keadaan kamu? Udah membaik? Kaki kamu masih sakit ya? " tanya Zara sambil meletakkan kantong berisi buah dan camilan di meja samping tempat tidur, lalu menyentuh pelan selimut di bagian kaki Yena.

"Aku baik-baik aja kok. Kaki ku masih sakit sih sedikit, tapi udah jauh lebih baik dari semalam " jawab Yena sambil tersenyum tipis, mencoba meyakinkan mereka.

Vivien yang sejak tadi menatapnya dengan cemas langsung menimpali sambil menepuk pelan punggung tangan Yena:

"Lain kali hati-hati ya, jangan pulang terlalu malam. Kamu tahu sendiri kan, malam-malam di luar itu bahaya banget. Jalanan sepi, pencahayaan minim... untung aja semalam kamu selamat."

Kalimat itu membuat Yena tertegun sejenak sebelum mengangguk pelan.

" Iya, aku tahu. Untung aja semalam ada Arga yang nolongin aku " ucapnya pelan, seolah kata-kata itu terasa berat untuk diucapkan.

"Hah? ARGA?! " seru Vivien dan Zara berbarengan, mata mereka membelalak tak percaya.

Yena mengerutkan kening, bingung melihat reaksi berlebihan kedua sahabatnya itu.

"Kenapa kok kaget gitu? " tanyanya.

"Eh, gak apa-apa Yena... aku cuma... aku kira Juvan yang nolongin kamu " jawab Vivien gugup, matanya beralih ke arah Zara seolah memberi isyarat.

Nama itu "Juvan "langsung membuat napas Yena tertahan sejenak. Dadanya terasa sesak mendengar nama remaja itu disebut, seketika membanjirkan kembali segala rasa rindu sekaligus rasa bersalah yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Wajah Juvan, tatapannya yang terluka saat ia memintanya menjauh, suara lembutnya... semuanya berputar cepat di kepala Yena.

"Yen... aku mau nunjukin sesuatu ke kamu " ucap Zara tiba-tiba, nada bicaranya berubah serius dan berat. Ia merogoh ponsel dari tasnya, jemarinya bergerak cepat di layar sebelum menyodorkan benda itu ke arah Yena. " Kamu liat ini, Yen."

Yena menatap layar ponsel itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Di sana tercetak jelas sebuah foto — Arga sedang berpelukan erat dengan seorang perempuan yang wajahnya tidak dikenalinya. Pelukan itu terlihat begitu intim, begitu dekat, seolah mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Foto itu diambil dari kejauhan, namun wajah Arga sangat jelas terlihat — senyum yang sama, tatapan yang sama yang dulu selalu ditujukan padanya.

" Ini kiriman dari Ardo, Yen " Zara menarik napas panjang, suaranya lembut namun tegas.

"Dia bilang foto ini diambil tiga hari lalu. Semenjak hubungan kamu sama dia hancur, kayaknya dia sekarang suka main perempuan deh, Yen."

Zara berhenti sejenak, menatap Yena yang wajahnya perlahan berubah pucat pasi.

" Apa jangan-jangan... udah dari lama Arga main perempuan di belakang kamu? " lanjutnya pelan, namun kata-kata itu terasa seperti belati yang menembus dada Yena.

" Yena, saran aku sih... kamu jauhin dia. Jangan ada niatan buat balikan sama dia, soalnya aku lihat si Arga ini berubah banget — 90 persen, Yen. Udah gak bener ni laki. Matanya gak jujur, caranya bertindak... semuanya terasa salah."

Yena menatap foto itu lagi, matanya memburam namun ia tak berkedip. Ia menatap wajah laki-laki yang dulu dicintainya lebih dari apapun — laki-laki yang dulu ia kira paling setia, paling penyayang, paling bertanggung jawab. Laki-laki yang pernah menjadi seluruh dunianya. Dan sekarang? Sosok itu sudah berubah drastis menjadi seseorang yang asing, yang bahkan tidak ia kenal lagi.

"Za... aku boleh minta foto itu gak? " tanya Yena, suaranya bergetar namun matanya tetap menatap layar ponsel itu.

"Tentu saja "dengan senang hati Zara langsung mengirimkan foto itu ke ponsel Yena. " Simpan aja, Yen. Biar jadi pengingat."

Yena tersenyum pahit saat ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Ia menatap foto yang baru saja masuk ke galerinya, menyadari satu hal dengan sangat jelas: "Foto ini bisa jadi bahan agar aku bisa menjauh dari dia."

Ia benar-benar tak percaya. Arga yang dulu — laki-laki yang dulu mengenalnya sampai ke jari kakinya, yang tahu setiap kebiasaannya, yang berjanji akan selalu ada — kini sudah lenyap. Digantikan oleh seseorang yang penuh kebohongan, yang memanfaatkan segala hal termasuk rasa takut dan kelemahannya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

"Makasih ya, Za, Vi. "ucap Yena pelan, matanya masih terpaku pada foto itu sebelum akhirnya ia menekan tombol kunci layar dan meletakkan ponselnya di samping tubuh. " Kalian berdua... udah bantu aku buka mata yang selama ini tertutup oleh kenangan lama."

Zara dan Vivien saling bertukar pandang, lalu keduanya bergerak memeluk Yena dengan lembut.

"Kami cuma mau kamu bahagia, Yen "bisik Vivien di telinganya. "Bersama orang yang benar-benar pantas untuk kamu."

"Orang yang pantas..."

Kata itu berputar di kepala Yena seketika membawa bayangan wajah lain — wajah seorang remaja berusia tujuh belas tahun yang selalu menatapnya dengan mata jujur dan tulus. Yang tak pernah meminta apapun selain keberadaannya. Yang bahkan saat ia menyuruhnya menjauh, tetap berharap yang terbaik untuknya.

Juvan...

Dadanya terasa perih. Rasa bersalah yang mendalam kembali menyerang. Ia tahu, di antara semua kebohongan dan kepalsuan yang mengelilinginya saat ini, hanya ada satu hal yang nyata — perasaan tulus seorang anak laki-laki yang jatuh cinta padanya dengan cara yang paling murni.

Dan sekarang, ia harus berani mengambil keputusan. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk melindungi satu-satunya hal murni yang tersisa dalam hidupnya.

Vivien menatap wajah sahabatnya itu dengan tatapan penuh tanya, lalu perlahan membuka suara:

"Oh iya Yen, kamu sama Juvan gimana? Udah baikan kah?" tanyanya polos, namun matanya tak lepas dari ekspresi wajah Yena.

Yena menggelengkan kepalanya pelan, pandangannya jatuh ke arah jendela kamar yang terbuka sedikit, memperlihatkan langit yang mulai mendung.

"Udah satu bulan lebih aku gk liat dia... dia juga udah gk chat aku lagi," jawabnya lirih, suaranya bergetar menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dada.

Vivien tertegun sejenak, matanya membelalak sedikit. "Lah? Aku kirain itu bocah langsung nyamperin Yena pas aku udah kasih tau semua kebenarannya,"batinnya tak habis pikir. Ia sempat berpikir Juvan akan berjuang, akan datang menemui Yena, akan membuktikan bahwa perasaannya itu nyata. Tapi ternyata... tidak ada apa-apa.

"Udah ih jangan bahas dia terus!" potong Yena tiba-tiba, nada bicaranya sedikit meninggi meski penuh kepedihan. Ia memalingkan wajah, menyeka cepat sudut matanya yang mulai terasa hangat. "Aku gak mau dengar namanya lagi... tolong ya."

Suasana di kamar pun seketika menjadi hening. Zara dan Vivien saling bertukar pandang, sama-sama menyadari betapa besar rasa sakit yang sedang dipendam gadis di hadapan mereka ini. Yena berusaha terlihat tegar, berusaha menutupi segala rindu dan rasa bersalah yang menumpuk di hatinya dengan sikap dingin, namun matanya tak bisa berbohong — di sana terpancar kerinduan yang mendalam, sekaligus kekecewaan yang tak terlukiskan.

"Maaf ya Yen..." ucap Zara lembut, tangannya menyentuh punggung Yena pelan. "Kami gak bermaksud bikin kamu sedih."

Yena menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum menoleh kembali ke arah mereka dengan senyum tipis yang penuh kepura-puraan.

"Gak apa-apa... cuma... capek aja, tau?" ucapnya pelan. "Capek selalu jadi yang tersakiti. Baik sama Arga... maupun sama Juvan. Aku pikir... mungkin memang aku gak pantas untuk dicintai dengan tulus."

"Jangan ngomong gitu Yen!" seru Vivien tak terima, tangannya menggenggam tangan Yena erat. "Kamu pantas dapet yang terbaik, jauh lebih baik dari mereka berdua! Percaya sama aku, kalau Juvan beneran sayang sama kamu... dia pasti akan cari cara buat nemuin kamu. Kalau dia cuma pergi begitu saja tanpa berusaha... berarti dia belum cukup berani untuk kamu."

Kata-kata itu menembus jantung Yena. Ia tahu Vivien bermaksud baik, tapi entah kenapa... hatinya justru berteriak membela Juvan. Dia pergi karena aku yang menyuruhnya menjauh... karena aku takut Arga menyakitinya... batin Yena menjerit, namun ia tak bisa mengucapkannya. Rahasia itu harus ia simpan sendiri, demi keselamatan satu-satunya orang yang tulus menyayanginya.

"Mungkin memang sudah takdirnya begitu..." gumam Yena pelan, matanya kembali menatap langit yang kini mulai menurunkan rintik hujan. "Semua orang yang datang ke hidupku... pada akhirnya akan pergi juga."

Di tempat lain, di sudut ruangan yang sepi, Juvan menatap layar ponselnya yang gelap. Sudah tiga puluh hari. Tiga puluh hari tanpa satu pesan pun dari Kak Yena. Tiga puluh hari ia menahan diri untuk tidak berlari ke rumahnya, ke toko kuenya, ke mana pun tempat ia bisa melihat wajah itu. Setiap hari ia lewat di depan toko kue itu, berharap sekilas melihat sosoknya, namun ia selalu menahan diri — karena ingat betul bagaimana tatapan Yena saat menyuruhnya pergi. Tatapan yang memohon, yang penuh rasa sakit, namun tegas. Jauhi aku.

"Kak Yena..." bisiknya lirih ke ruangan kosong, jemarinya menyentuh layar ponsel seolah menyentuh wajah yang ia rindukan. "Apakah kamu benar-benar bahagia di sana... tanpa aku?"

Hujan di luar semakin deras, membasahi bumi sama seperti air mata yang tak henti-henti jatuh dari mata dua orang yang saling merindukan, namun terhalang oleh kebohongan dan rasa takut yang tak terucapkan.

1
Visitor3579
Kagak perlu didengerin, klo udah ketahuan selingkuh ya ketahuan ajah. ga usah pake sok nyesal
Visitor3579
Cowok bloooon
Visitor3579
Gilak, dari sini Yena trauma sih buat jatuh cinta lagi. Plisss Yena kuat kan gak menye2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!