Indonesia
NovelToon NovelToon
KISAH CINTA YANG BERACUN

KISAH CINTA YANG BERACUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

`KISAH CINTA YANG BERACUN`

Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.

Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.

Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.

Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.

Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`

Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.

Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.

Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.

Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21_Tamu Tak Diundang di Puncak Jakarta

^^^BAB 21_Tamu Tak Diundang di Puncak Jakarta^^^

Apartemen penthouse mewah berlantai marmer dingin itu mendadak terasa jauh lebih sempit dari biasanya. Udara di dalam ruangan seolah menipis, tersedot habis oleh kehadiran sosok pria yang berdiri di hadapan Lea tanpa peringatan apa pun.

`Julian.` Pria yang selama ini mengendalikan jaringan hukum VVIP dari benua seberang, kini berdiri nyata di tengah ruang tamu Jakarta dengan balutan kemeja kerja berlengan digulung sebatas siku dan tatapan mata setajam elang yang mengunci seluruh pergerakan Lea.

Lea masih terpaku di tempatnya. Sepatu hak tingginya seolah berakar di lantai. Otaknya yang biasanya bekerja cepat untuk merangkai ribuan skenario manipulasi mendadak mengalami error total. Di dalam tas jinjingnya, ponsel titanium yang menghubungkannya dengan `Ethan` terus bergetar tanpa henti, menciptakan dengungan konstan yang seolah ikut panik menyaksikan situasi berbahaya di hadapannya.

Bagi Lea yang terbiasa menjadi dalang dari setiap kekacauan, situasi ini adalah sebuah anomali yang mematikan. Dari sekian banyak pria dalam lingkaran kuasanya—mulai dari Ethan yang emosional hingga `Liam` yang penurut—Julian adalah pengecualian mutlak. Julian bukan sekadar penyandang dana atau sekutu hukum VVIP; Julian adalah pria paling posesif, dominan, sekaligus pria yang paling menuntut perhatian penuh di antara seluruh koleksinya.

Dan sekarang, singa paling berbahaya itu mendatangi kandangnya tanpa suara.

Sebelum Lea sempat menarik kembali napasnya atau menyusun ekspresi dingin khas ratunya, Julian melangkah mendekat. Gerakannya tenang, namun memiliki kecepatan absolut seorang predator yang tidak memberi celah mangsanya untuk kabur.

Dalam hitungan detik, tubuh jangkung Julian sudah merengkuh Lea erat-erat ke dalam dekapannya.

`Deg!`

Lea merasakan hempasan dada bidang Julian yang hangat dan aroma parfum maskulin berkelas langsung mendominasi indra penciumannya. Pelukan itu bukan pelukan biasa; itu adalah deklamasi kepemilikan yang mutlak. Lengan kekar Julian mengunci pinggangnya begitu rapat hingga tidak ada ruang udara tersisa di antara mereka. Belum sempat Lea pulih dari rasa terkejut karena dekapan tiba-tiba itu, Julian melepaskan pelukannya sedikit—hanya untuk menangkup kedua pipi Lea dengan kedua telapak tangannya yang besar dan kokoh. Ibu jari Julian mengusap lembut tulang pipi gadis itu dengan sentuhan yang membuai sekaligus mengintimidasi.

Dan sebelum Lea sempat berkedip, Julian menundukkan wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan singkat, tegas, namun sarat akan otoritas mutlak di bibir Lea.

Seketika itu juga, pikiran Lea benar-benar blank. Tubuhnya menegang kaku bagai patung porselen.

Bukan karena tersipu, melainkan karena tingkat syok yang luar biasa. Selama ini, Lea terbiasa memegang kendali penuh atas para pria di sekelilingnya—ia yang mengatur kapan mereka menelepon, kapan mereka diberi harapan, dan bagaimana mereka dimanfaatkan sebagai bidak catur. Tapi malam ini, di sarangnya sendiri, Julian membalikkan keadaan dengan cara yang sama sekali tidak masuk dalam perhitungannya.

Lea mengerjap beberapa kali, mencoba menarik kembali kesadaran dan topeng angkuhnya yang hampir runtuh. Dengan napas yang sedikit tercekat, ia mendorong pelan dada bidang pria itu dan menatapnya tajam.

`"Kenapa kamu bisa ada di sini tanpa memberitahuku lebih dulu?"` tanya Lea, nadanya bergetar tipis antara rasa kaget dan protes yang tertahan.

Julian menatap Lea dengan mata menyipit gemas. Alih-alih menjawab pertanyaan logis itu atau memberikan penjelasan profesional soal urusan bisnisnya di Asia, pria matang yang biasanya ditakuti oleh para pengusaha global itu justru mendadak menunjukkan sisi kontras yang sangat kontras dengan wibawanya.

Julian kembali menunduk, dan dengan gerakan cepat, ia kembali mengecup bibir Lea singkat—satu kecupan kilat yang sukses membuat Lea kembali terperanjat dalam kebisuan.

`"Karena aku sangat merindukan pacarku,"` bisik Julian manja, nada suaranya berubah menjadi begitu lembut namun menuntut perhatian mutlak. Pria itu sedikit mengerucutkan bibirnya, sengaja memasang wajah cemberut yang tampak begitu kontras dengan rahang tegas dan garis wajahnya yang maskulin. `"Apa hanya aku yang tersiksa karena merindukanmu selama berminggu-minggu ini, sweetheart?"`

Lea mematung, menatap ekspresi di wajah Julian dengan rasa tidak percaya. Jika ada orang luar—atau bahkan para petinggi hukum internasional yang tunduk pada Julian—melihat sisi manja dan posesif dari sang milyarder ini, mereka pasti mengira pria itu sedang mengalami halusinasi berat. Julian, pria dingin yang terkenal kejam di meja perundingan korporat global, berubah menjadi sosok yang merajuk layaknya anak kecil yang kehilangan mainannya hanya karena Lea mengabaikan panggilannya selama beberapa jam.

`"Julian... ini bukan di Melbourne,"` bisik Lea kaku, mencoba menguasai kembali suaranya yang hampir hilang. `"Aku sedang di tengah misi penting. Mengurus keluarga Ozawa tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kalau kamu tiba-tiba muncul di Jakarta seperti ini, semua rencanaku bisa..."`

`"Bisa apa?"` potong Julian lembut namun telak. Tangan pria itu kembali mengusap rahang Lea dengan ibu jarinya, menatap manik mata kembar dua gadis itu dengan intensitas yang membakar. `"Bisa terganggu karena kamu terlalu sibuk mempermainkan bocah SMA bernama Teo Ozawa itu? Atau karena kamu lebih memilih meladeni panggilan si bodoh Ethan dari Melbourne?"`

`Degh!`

Darah Lea seolah tersedot turun ke ujung kaki. Jantungnya berdegup kencang menghantam tulang rusuk. Matanya yang biasanya memancarkan superioritas mutlak kini melebar sepersekian detik karena rasa syok yang teramat sangat.

`Julian tahu tentang Ethan?` Bagaimana bisa?! batin Lea menjerit panik.

Selama ini ia merasa sangat rapi mengatur jadwal telepon, menyembunyikan identitas, dan memisahkan lingkaran pria-prianya antara Melbourne dan Jakarta. Tapi ia lupa, di hadapannya saat ini berdiri seorang predator puncak yang menguasai jaringan informasi global. Bagi Julian, mencari tahu riwayat komunikasi seorang gadis mahasiswi sepertinya semudah membalikkan telapak tangan.

Keringat dingin mendadak merayapi tengkuk Lea. Otaknya berputar seribu keliling, berusaha mencari alasan yang masuk akal sebelum Julian membongkar bukti-bukti perselingkuhannya yang lain. Yang paling mengerikan dari semua itu bukan hanya tentang Ethan... melainkan `Liam`. Mahasiswa tingkat atas di Melbourne yang kerap memanjakannya dengan tas-tas mewah bermerek dan pesan-pesan manis setiap malam. Kalau sampai Julian tahu keberadaan Liam, riwayatnya tamat! Julian yang posesif akut ini pasti akan menghabisi Liam tanpa ampun dan mengurung Lea di pulau terpencil.

Nama Ethan disebut dengan nada rendah yang sarat akan kecemburuan beracun. Meskipun Julian mengatakannya dengan senyum tipis di bibirnya, sorot mata setajam elang itu tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa ia tahu persis setiap detail kecil tentang kehidupan Lea di Jakarta maupun Australia. Julian memegang kendali atas informasi, dan tidak ada satu pun pria yang bisa mendekati Lea tanpa sepengetahuannya.

Dengan sisa-sisa akal sehat dan akting kelas dunianya, Lea segera menepis rasa paniknya. Ia memaksa bibirnya melengkung membentuk senyum tipis—paling manis, paling manja, dan sedikit terlihat tersinggung untuk mengalihkan kecurigaan.

`"Ethan?"` ucap Lea dengan nada suara yang sengaja dibuat terdengar jengkel dan merajuk, menatap lurus ke dalam mata elang Julian tanpa gentar. `"Kamu menyelidikiku, Julian? Kamu tidak percaya padaku?"`

Julian tidak langsung menjawab. Pria itu menatap tajam manik mata Lea, seolah sedang membaca setiap inci kebohongan yang coba dirangkai oleh kekasihnya itu. Senyum miring di bibir Julian semakin melebar, penuh dengan aura bahaya yang mencengkeram.

`"Menyelidiki? Tidak, sweetheart,"` bisik Julian rendah, ibu jarinya kembali mengusap bibir Lea dengan penekanan yang menyiratkan ancaman terselubung. `"Aku tidak perlu membuang waktu untuk menyelidiki. Informasi itu datang sendiri ke mejaku, karena tidak ada satu pun hal tentang kekasihku yang boleh terlewat dari pandanganku."`

Julian mendekatkan wajahnya lagi, napas hangatnya menyapu permukaan bibir Lea.

`"Bocah bernama Ethan itu... terus menerus menghubungi nomor internasionalmu yang tidak aktif sejak kemarin, menelepon orang-orang di Melbourne, dan mencarimu seperti anak anjing yang kehilangan induknya. Menggelikan sekali,"` lanjut Julian dengan nada dingin yang sarat akan cemburu beracun. `"Tapi tenang saja, aku sudah mengurusnya. Ethan tidak akan lagi berani mengganggu waktumu di Jakarta... untuk saat ini."`

Lea menelan ludah dengan susah payah. Bulu kuduknya meremang hebat. Ucapan Julian barusan adalah peringatan keras bahwa pria itu memegang kendali penuh atas hidupnya.

`Syukurlah...` batin Lea menghela napas panjang penuh kelegaan di dalam hati, `Julian baru tahu soal Ethan. Dia belum menyebut nama Liam.`

Di dalam tas jinjingnya yang tergeletak di atas meja konsol dekat pintu, ponsel titanium berenkripsi khusus itu kembali bergetar pelan. Pesan baru dari `Liam`: `“Lea, kamu di mana? Besok aku belikan apartemen baru di Sydney kalau kamu mau pulang cepat.”`

Lea mati-matian menahan diri agar tidak melirik ke arah tas tersebut. Ia harus ekstra hati-hati. Berada satu atap dengan Julian yang posesif dan pencemburu akut membuat setiap detik terasa seperti berjalan di atas sehelai benang tipis di atas kawah gunung berapi. Satu salah langkah saja, rahasia tentang Liam akan terbongkar, dan ia akan berhadapan langsung dengan murka sang singa Australia.

`"Aku cuma fokus padamu, Julian,"` bisik Lea manja, sengaja melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu, merapat ke dada bidangnya untuk mengalihkan perhatian dan menyembunyikan wajahnya yang pucat. `"Kamu tahu kan, cuma kamu satu-satunya pria yang ada di hatiku..."`

Julian mendengus pelan—sebuah tawa kecil yang terdengar pasrah namun tetap menyimpan dominasi mutlak. Ia merengkuh pinggang ramping Lea semakin erat, mengangkat tubuh gadis itu sedikit hingga menempel pada tubuhnya.

`"Bagus kalau kamu tahu posisimu, sweetheart,"` bisik Julian posesif, mendaratkan kecupan lama di pucuk kepala Lea. `"Karena kalau sampai ada pria lain yang berani menyentuhmu... aku pastikan dunia mereka hancur sebelum sempat melihat matahari terbit."`

 

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
suka cwek badasss gini
Park ha: ini versi kebalikannya kinara wkwkkw... kinara sana rian dah mau tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!