King Narendra Richard tumbuh menjadi cowok tampan. Ia juga menjadi idola semua cewek-cewek yang ada di sekolahnya. Bukan hanya tampan, putra dari Kenan dan Alexa itu juga pintar.
Sama dengan saudara kembarnya, Queenza Narendra Richard tumbuh menjadi gadis yang cantik. Walaupun kembar, tapi sifat keduanya jauh berbeda. Yang satu lebih kalem, dan yang satunya lagi lebih banyak aksi.
Bagaimana keseruan kisah mereka, yuk kepoin. Jangan lupa tinggalkan jejak cinta kalian untuk King dan Queenza.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon feby_mb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuntuti
Jam sekolah telah usai, murid-murid SMA Tunas Bangsa bersiap untuk pulang. Begitu juga dengan King dan kedua sahabatnya. Setelah guru keluar dari kelas sepuluh A, barulah murid-murid keluar secara bergantian.
Aaaaaaa.
Para murid cewek berteriak saat ketos tiba-tiba datang dan memukul King.
"Apa-apaan sih Lo?!. Main pukul aja" kata Bagas.
King yang tidak tau kesalahannya apa, langsung memukul balik Gilang. Kebetulan ia sudah lama nggak latihan.
Pukulan King berhasil mengenai mulut Gilang. Mulut Gilang pun mengeluarkan darah.
"King, tahan-tahan" kata Aaron sambil menahan tubuh sepupunya.
Aaron melakukan itu karena tadi ia melihat mata King sudah berubah merah. Jadi ia harus cepat bertindak, sebelum Gilang menghilang dari dunia ini.
Radit temannya Gilang juga membantu menahan Gilang. Karena mulut sahabatnya sobek sedikit akibat kena pukulan King tadi.
"Lo kenapa sih, main pukul sahabat gue " tanya Bagas lagi.
"Bilang sama sahabat Lo itu, jangan pernah deketin Queen. Karena Queen itu milik gue!" kata Gilang.
"Ck, sejak kapan Queen jadi milik Lo" kata King.
"Sejak dia sekolah di sini" kata Gilang.
"Aneh banget Lo mengeklaim Queen itu milik Lo" kata King.
"Emang dia milik gue. Gue ketua OSIS di sekolah ini, jadi kalian harus mematuhi titah dari gue" kata Gilang.
"Cuma ketua OSIS kan, bukan pemilik sekolah ini" kata King.
"Asal Lo tau, papa gue salah satu donatur sekolah ini" kata Gilang.
"Terus?" tanya King.
"Ya Lo harus patuh sama gue. Kalau gue bilang Queen itu milik gue, maka Lo harus jauhin Queen" kata Gilang.
"Kalau gue nggak mau, Lo mau apa?" tanya King.
"Kalau Lo nggak mau, maka gue akan melakukan hal lebih dari ini" kata Gilang dengan nada mengancam.
"Lo pikir gue takut" kata King.
"Terserah Lo, yang penting gue sudah memperingatkan Lo. Jangan nangis kalau nanti Lo dikeluarkan dari sekolah ini" kata Gilang.
"Kita lihat siapa yang akan menangis, Lo atau gue" kata King.
"Ok, coba aja kalau Lo ingin mencobanya. Kalau gue sudah menginginkan sesuatu, pasti gue akan mendapatkannya. Termasuk Queenza" kata Gilang.
"Coba saja kalau Lo bisa. Lo pikir Queen itu gampang dideketin " kata King.
"Tentu saja, apalagi kalau dengan uang. Lagipula cewek mana yang nggak suka dengan uang " kata Gilang dengan bangganya.
Selama ini cewek-cewek yang berpacaran dengan Gilang memang suka dengan uangnya. Bahkan mereka mau melakukan apa aja demi mendapatkan uang. Termasuk menyerahkan tubuh mereka.
"Gimana kalau kalian berdua bertaruh aja" kata Radit.
"Nggak!. Gue nggak mau" kata King.
"Kenapa?. Apa jangan-jangan Lo takut kalah " kata Gilang.
"Gue nggak takut" kata King.
"Terus kenapa Lo nggak mau?" tanya Radit.
"Karena itu sama aja dengan berjudi. Orang tua gue nggak pernah ngajarin gue berjudi " kata King.
"Alasan banget Lo. Bilang aja takut " kata Gilang.
King benar-benar kesal dengan Radit temannya Gilang.
"Kalau Lo biasa main judi, jangan pernah ajak orang untuk ikut ajaran sesat Lo itu" kata King.
"Ya udah, kalau gitu kalian tanding tinju aja" kata Radit.
"Setuju" kata Gilang.
"Lo berani nggak?, atau mau cari alasan lagi" kata Radit.
"Ok, gue terima tantangan Lo " kata King.
King juga sudah lama nggak latihan, jadi lumayan buat samsak tinjunya.
"Kalau Lo kalah, Lo harus jauhin Queenza" kata Gilang.
"Kalau gue yang menang?" tanya King.
"Nggak mungkin Lo menang melawan gue" kata Gilang.
"Kalau gue menang gimana?" tanya King lagi.
"Gue akan turutin kemauan Lo " jawab Gilang
"Ok, deal" kata King.
Setelah kesepakatan dibuat, Gilang pun meninggalkan kelas sepuluh A. Ia akan kasih paham King, siapa dia sebenarnya. Jadi bocil itu tidak akan menggangu Queen lagi.
"Lo liat cara si ketos itu ngomong. Kaya orang yang paling jago " kata Bagas.
"Banget, nggak tau aja siapa yang dia tantang" kata Aaron.
"Biarkan aja, lumayan kan untuk teman latihan" kata King.
Murid-murid yang lain juga penasaran dengan pertandingan besok. Mereka bingung mau pilih yang mana, karena mereka tau kalau Gilang jago. Tapi murid cewek tetap mendukung King. Terutama cewek kelas sepuluh A.
"Itu Queen " kata Bagas.
"Kenapa lagi dia?" tanya King.
"Ayo kita samperin" kata Bagas.
King dan kedua sahabatnya menghampiri Queenza.
"Kenapa?" tanya King pada Queen.
"Ini, ada yang otak-atik motor aku" kata Queen.
"Coba aku liat" kata King.
King memeriksa motor saudara kembarnya. Apa yang dikatakan Queen benar, motor itu sudah di otak-atik. Rem belakangnya juga nggak berfungsi.
"Ya udah pulang sama aku aja" kata King.
"Aku sama Amelia" kata Queenza.
"Ya sekalian ajak dia juga" kata King.
"Jangan!, nanti dia liat kita dekat" kata Queenza.
"Ya nggak apa-apa lha" kata King.
"Aku belum mau mengungkapkan identitas ku. Jadi aku pulang naik angkot aja" kata Queen.
"Yakin?" tanya King.
"Yakin" jawab Queen.
"Ya udah, nanti kalau ada apa-apa kabarin" kata King.
"Ok"
"Kita duluan ya Queen" kata Bagas.
"Iya Gas, hati-hati di jalan" pesan Queen.
"Makasih, Lo juga hati-hati " kata Bagas.
King dan kedua sahabatnya pergi ke parkiran untuk mengambil mobil.
"Perasaan gue kok nggak enak gini ya" kata King.
"Kenapa?" tanya Aaron.
"Nggak tau, kaya bakal ada kejadian besar" kata King.
"Ya udah, kita iringi angkot yang ditumpangi Queen" kata Aaron.
"Hhmmm"
Entah kenapa King merasa kalau saudara kembarnya dalam bahaya. Jadi hari ini dia akan mengawal angkot yang akan di tumpangi sama saudara kembarnya.
"Itu Queen udah jalan " kata Bagas.
"Kita ikuti dari belakang, tapi jaga jarak. Jangan sampai ketahuan sama Queen" kata King
"Ok siap" kata Aaron dan Bagas.
King dan kedua sahabatnya masuk ke dalam mobil. Ia akan menjaga jarak dari angkot yang akan di tumpangi sama Queen.
Semoga saja nggak ketahuan sama dia. Kalau ketahuan bisa ngamuk dia nanti.
King melihat saudara kembarnya sudah naik ke atas angkot. Begitu juga dengan temannya. King dan kedua sahabatnya pun mengikuti angkot itu dari jarak yang cukup jauh.
...***...
Dirman bingung kenapa bosnya memanggilnya. Apa dia melakukan kesalahan, sehingga bosnya marah. Tapi dia bekerja seperti biasa.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya. Dirman langsung menemui sang bos.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk" kata bos ayah Amelia.
"Permisi tuan" kata ayah Amelia.
"Silakan duduk Pak" kata bos ayah Amelia.
Dirman duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Ini kedua kalinya ia duduk di sofa mewah itu. Pertama waktu dia melamar kerja di sana dan yang kedua karena dipanggil bosnya.
"Dirman mulai besok kamu nggak usah datang lagi ke sini" kata sang bos
"Maksudnya tuan?" tanya Dirman ayah Amelia.
"Kamu saya berhentikan" jawab bosnya Dirman.
"Maksud tuan, saya dipecat?" tanya Dirman ayah Amelia.
"Iya" jawab sang bos.
"Kenapa tuan?. Apa saya melakukan kesalahan?" tanya ayah Amelia.
"Tidak, kamu tidak melakukan kesalahan" jawab sang bos.
"Terus kenapa saya di pecat, tuan" kata ayah Amelia.
"Saya juga tidak ingin memecat kamu, tapi saya terpaksa melakukannya" kata sang bos.
"Ya Allah, setelah ini saya mau kerja dimana tuan?" tanya Dirman.
Sang bos juga tidak tega melihat pak Dirman. Karena ia tau pak Dirman orang yang baik dan juga jujur. Tapi dia juga tidak ingin melawan keluarga Sanjaya.
"Ini gaji kamu saya bayar dua bulan" kata sang bos.
"Kenapa dua bulan tuan?" tanya ayah Amelia.
"Anggap saja itu pesangon untuk kamu" jawab sang bos.
"Terima kasih tuan" ucap Dirman.
Dirman tidak bertanya lagi. Ia mengambil amplop berwarna coklat itu. Kemudian ia pamit undur diri.
Ya Allah, setelah ini mau kerja apa.
Dirman bingung bagaimana cara mengatakan pada istrinya kalau ia sudah di pecat. Semoga saja istrinya bisa mengerti.
To be continued.
Happy reading guys 🤗 🤗
pov Amelia...the best friend forever Queen 🫶🫶🫰🫰