"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."
Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.
Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.
Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.
"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."
Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Biru 03
Tono melihat ke belakang melalui kaca spion. Matanya mengarah kepada Rhea dengan rasa penuh penasaran.
"Dia pingsan, Bos?" ucapnya.
Nayaka tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada wanita yang baru saja ia tarik dari bibir jembatan. Nayaka memastikan lebih dulu bahwa wanita itu baik-baik saja dengan memandanginya dengan seksama.
Nafas Rhea mulai teratur. Meski wajahnya masih basah karena bekas air mata, setidaknya wanita itu sudah tak lagi memberontak.
"Rhea Liharika...."
Nayaka membaca kartu identitas milik Rhea yang baru saja diambilnya dari tas kecil milik wanita itu. Ia harus melakukannya agar bisa tahu dimana Rhea tinggal, bukannya bertindak tidak sopan.
"Kita pergi ke alamat ini," ucap Nayaka sembari mengulurkan kartu identitas itu kepada Tono.
Sambil menerimanya, Tono bertanya, "Bos kenal?"
Nayaka menggeleng pelan. Ia lalu berkata, "Aku kebetulan lihat dia lagi nangis di pesta tadi. Terus karena penasaran aku ikutin dia yang lari ke arah jembatan."
Mata Tono langsung membulat sempurna. Dia juga menoleh ke belakang, menatap Nayaka dengan tajam.
"Mau bunuh diri?" tebak Tono. Hampir saja dia mengerem mobil secara mendadak.
"Mungkin," jawab Nayaka sambil menaikkan kedua bahunya. Dia sendiri tidak tahu apa yanh dilakukan oleh gadis itu.
Hembusan nafas yang dalam keluar dari bibir Tono. Pikiran Toni juga sedikit campur aduk sekarang. Tak pernah terpikirkan, mereka hanya ingin menghadiri pernikahan, tapi malah mendapat hal tak terduga.
"Oh Iya Ton, emang siapa tadi yang nikah?" tanya Nayaka. Pria itu mengusap dagunya, sesekali dia juga melihat ke arah Rhea. Nayaka lalu mengambil jas miliknya yang tergantung untuk dijadikan bantal bagi Rhea agar terasa lebih nyaman.
"Oza Meidiawan dan Trisna Purbani. Oza itu yang kabag baru. Kalau Trisna, dia karyawan biasa pada bagian pemasaran juga. Apa mungkin wanita ini ada hubungannya dengan mereka ya Pak Bos?" tebak Tono. Rasa penasarannya sangat besar sekarang.
"Kalau wanita ini menangis dan sampai melakukan ini karena hal itu, mungkin ... ."
Nayaka menggantungkan kalimatnya sendiri. Tapi otaknya terus saja berisik dan memunculkan banyak dugaan.
Ia lalu kembali menelisik wajah Rhea. Nayaka baru pertama kali melihat gadis ini, namun nalurinya sangat kuat untuk menolongnya.
"Kenapa ... hiks."
Nayaka dan Tono saling pandang. Nayaka yang ada di kursi penumpang lalu memeriksa Rhea, apakah wanita itu sudah tersadar. Tapi ternyata tidak, Rhea hanya mengigau, namun air matanya terus mengalir.
Dengan hati-hati, Nayaka mengusap air mata itu dengan tangannya. Hatinya sedikit berkecamuk ketika kembali melihat wajah wanita yang terbaring di kursi mobilnya.
Suasana dalam mobil menjadi senyap kembali, hanya deru mesin mobil saja yang terdengar. Lalu Tono, ia pun kembali fokus mengemudi.
Satu jam kemudian, alamat yang dituju akhirnya ketemu. Sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun juga tidak kecil diketahui adalah rumah Rhea, hasil dari memastikannya lewat bertanya kepada orang.
Tono berinisiatif turun lebih dulu dari mobil. Dia lalu berjalan menuju ke depan pintu rumah bercat putih bersih tersebut.
Tok tok tok
"Permisi, assalamualaikum," Tono mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah. Dia berharap si pemilik rumah segera keluar.
Di dalam rumah, dua orang yang tengah berada di dapur langsung saling pandang. Mereka merasa tak ada janji dengan siapapun.
Tok tok tok
Pintu kembali di ketuk. Alhasil satu diantara mereka pun bergegas untuk membukakannya.
"Waalaikumsalam, maaf cari siapa ya?" Seorang pria muncul dari dalam rumah. Wajahnya nampak sedikit terkejut dan bingung melihat kedatangan orang yang sama sekali belum dilihatnya.
"Oh begini, apa benar ini rumah Rhea Liharika?" Tono langsung mengucapkan nama Rhea. Wajah pria yang sekarang ada di depan nya dan berdiri diambang pintu menunjukkan curiga.
"Benar, ini rumah Rhea. Saya adalah kakaknya. Tapi ada apa ya, Rhea tidak ada di rumah sekarang," jawab Radit. Ia tidak membuka lebar-lebar pintu rumahnya, bahkan ia hanya sedikit menunjukkan tubuhnya.
"Kami hendak mengantarkan Rhea, tadi kami~"
Kalimat Tono terpotong saat Nayaka keluar dari mobil dan langsung menjawab pertanyaan dari Radit.
"Tadi dia ingin lompat dari jembatan setelah melihat pernikahan orang yang bernama Oza dan Trisna," ucap Nayaka dengan lugas.
Degh!
Wajah Radit seketika memucat tapi matanya membulat sempurna. Pandangannya mendadak gelap dan tubuhnya menjadi limbung. Pria itu nyaris ambruk.
"Mas Radit!"
Beruntung seorang wanita muncul dari dalam rumah, ia memekik keras melihat suaminya yang hampir jatuh. Dengan sigap, wanita itu menahan tubuh Radit dengan wajah yang penuh kepanikan
"Bapak-bapak ini siapa, terus ada apa? Saya mendengar nama adik kami disebut. Ada apa dengan Rhea?"
Pertanyaan beruntun muncul dari mulut wanita itu. Dia hanya mendengar saat nama Rhea yang disebut, namun ia tidak mendengar sepenuhnya ceritanya.
Tono yang sedari tadi berdiri mematung mengambil nafasnya dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Dengan penuh kehati-hatian, Tono menjelaskan tentang apa yang terjadi pada Rhea di jembatan.
"Astagfirullah, l-lalu. Dimana adik kami sekarang?" ucap Radit.
"Sebelah sini," jawab Tono sambil menunjukkan keberadaan Rhea. Radit yang tadi terlihat linglung kini bangkit dan menguatkan dirinya. Ia lalu mengikuti Tono.
Saat pintu mobil dibuka, terlihat Rhea yang tertidur di sana. Wajahnya yang sedikit bengkak, rambut berantakan dan baju yang kusut, membuat Radit meneteskan air matanya.
Tapi dengan cepat pria itu menghapusnya. Ia lalu mengangkat Rhea dan menggendongnya.
"Maafin Mas, Rhea."
Baru kali ini Radit merasa sangat takut, dia takut kalau kembali kehilangan keluarganya. Semenjak kedua orang tuanya meninggal, Rhea adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya, tentunya bersama Lavia sang istri.
Air mata yang kembali ditahannya itu ternyata lepas lagi saat tubuh Rhea yang ada di pelukannya terasa begitu kecil.
"Ya Allah Rhea," ucap Lavia sambil menyibakkan rambut Rhea yang memenuhi wajah. Air mata nya pun ikut luruh.
Radit mencium wajah adiknya berkali-kali.
"Terimakasih, terimakasih karena sudah menyelamatkan nyawa adik saya," ucap Radit dengan suara yang sangat parau. Tenggorokannya terasa begitu sakit, bak menelan duri.
"Dengan senang hati," jawab Tono. Ia tak mampu tersenyum di tengah situasi keluarga ini.
Radit lalu membawa masuk Rhea, disusul dengan Lavia yang membawa barang milik Rhea.
Tono bergerak, membantu Lavia membawa koper milik Rhea hingga di depan pintu rumah. Setelah itu ia dan Nayaka berpamitan.
"Saya mengucapkan terimakasih atas kebaikan Anda sekalian. Saya tidak tahu jika tidak ada Anda, adik kami pasti~"
Lavia tak bisa melanjutkan perkataannya. Membayangkan hal buruk menimpa Rhea, dia merasa tidak sanggup.
"Tidak masalah, sesama manusia pastilah harus membantu. Kami permisi."
Nayaka menundukkan kepalanya sejenak, lalu membalikkan badan dan masuk ke mobil. Diikuti oleh Tono yang meninggalkan senyuman sebelum menyusul tuannya.
Mobil Nayaka perlahan meninggalkan halaman rumah tersebut. Pria itu tak sekali pun menoleh ke belakang.
Baginya, urusan mereka telah selesai. Menolong orang, itu adalah hal yang lumrah. Namun Nayaka tak pernah menyangka, wanita yang baru saja ia selamatkan itu kelak akan datang lagi, dan membuat hidupnya yang selama ini dirasa baik-baik saja menjadi berubah.
Di dalam rumah, Radit dengan perlahan merebahkan tubuh Rhea di atas ranjang. Dia mengusap lembut wajah dan rambut adik nya itu.
"Pas berangkat kamu sangat semangat. Tapi kenapa kamu pulang dalam keadaan begini, Rhe?" ucapnya lirih.
Radit mengusap wajahnya kasar. Dia masih ingat betul ketika mengantarkan sang adik saat berada di bandara. Rhea tersenyum dengan sangat bahagianya. Tapi sekarang sang adik pulang dalam kondisi yang sangat berbanding terbalik.
TBC
dpt laki yg bner menghargai mlh gk mau di akui istri sdng dng oza smp mau bunuh diri.
🤣🤣. woman Mang bgitu.
Rhea ga berhasil kekejar eeh yg kau dapat hanya penyesalan mendalam, lu kira kamu guanteng bangett gitu sampe2 mikir Rhea msh mau sm kamu?? percaya diri kali kau 😆😆
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭