Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Gelas kaca di tangan Adrian terlepas, menghantam lantai marmer dan pecah berkeping-keping.

"Apa?!" jerit Adrian, membanting dirinya berdiri dari kursi hingga terpental ke belakang.

Matanya menyalang liar, memerah oleh kombinasi antara terkejut, ketakutan luar biasa, dan amarah yang mendidih seketika.

"Bagaimana keadaan Sasi, Dok?! Siapa penjahat itu?!"

"Pria itu menyamar memakai baju dokter dan masker! Dia hampir mencekik Sasi sampai mati jika saya tidak masuk!" bentak Dokter Maya histeris di seberang telepon.

"Cepat ke sini sebelum pria jahanam itu kembali!"

Panggilan terputus. Udara di dalam rumah mewah itu mendadak terasa pekat dan panas.

Adrian tidak perlu berpikir dua kali. Nama Hendrik Prasetyo langsung terngiang seperti dentuman meriam di kepalanya.

Semua potongan teka-teki yang tadinya kabur kini menyatu menjadi sebuah kenyataan mengerikan yang membakar habis seluruh akal sehatnya.

Dengan napas memburu bagai serigala terluka, Adrian memutar tubuhnya dan menerjang pintu kamar utama tempat Fitria mengunci diri.

BRAM! BRAM! BRAM!

"FITRIA! BUKA PINTUNYA!" teriak Adrian dengan suara menggelegar yang menggetarkan seluruh isi rumah.

Di dalam kamar, Fitria yang sedang menggenggam ponsel rahasianya menjerit ketakutan.

"M-Mas, kamu kenapa, Mas?! Jangan gila!"

"AKU BILANG BUKA!!"

Tanpa memedulikan rasa sakit di telapak kakinya yang terbalut perban, Adrian mengambil langkah mundur lalu mendobrak pintu kayu jati tebal itu dengan bahunya!

BRAAANGGG!

Engsel pintu terlepas, hancur berantakan. Fitria memekik histeris, menyudutkan tubuhnya ke tepi lemari sambil gemetar hebat.

Adrian melangkah masuk dengan aura membunuh yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Matanya menatap Fitria lurus-lurus—bukan lagi dengan tatapan seorang suami yang penuh kasih, melainkan dengan tatapan iblis yang siap mencabik mangsanya.

"Mas Adrian, dengarkan aku dulu—"

"Siapa yang kamu suruh ke rumah sakit, Fitria?!" bentak Adrian seraya mencengkeram kedua bahu Fitria dan menghempaskannya ke dinding dengan keras.

DUAGH!

"Aaghh!" Fitria merintih kesakitan, matanya membelalak ketakutan melihat kilatan membunuh di mata suaminya.

"A-aku tidak menyuruh siapa-siapa! Mas, kamu sudah gila?!"

"JANGAN BOHONG!!" raung Adrian tepat di depan wajah Fitria hingga urat-urat di lehernya menonjol ke permukaan.

"Ada seseorang yang membunuh Sasi! Oleh seorang pria! Kamu pikir aku bodoh?! Kamu yang menelpon Hendrik, 'kan?! Kamu yang merencanakan semua penyerangan ini sejak awal!"

Wajah Fitria seketika pucat pasi bagai mayat. Ponsel rahasia tua yang disembunyikan di balik genggamannya terlepas dan jatuh membentur lantai.

Layar ponsel itu masih menyala, menampilkan riwayat panggilan terakhir ke nomor Hendrik Prasetyo.

Adrian menunduk. Matanya mengunci benda kecil di atas lantai tersebut.

Udara di paru-parunya serasa dihembus keluar secara paksa saat melihat kebenaran telanjang terpampang di depan matanya.

"Benda apa ini, Fitria?" bisik Adrian dengan suara rendah yang jauh lebih menakutkan daripada teriakannya tadi.

"M-Mas, aku bisa jelaskan." gagap Fitria, air mata ketakutannya kini benar-benar pecah.

Adrian memungut ponsel itu, menatap nama Hendrik di layarnya, lalu mencengkeram ponsel tersebut hingga remuk di dalam kepalan tangannya.

Ia menatap Fitria dengan rasa jijik dan murka yang teramat sangat.

Selama ini ia membela wanita ini, mengasihaninya karena tidak memiliki rahim, dan mengorbankan gadis polos seperti Sasi demi memenuhi keinginan wanita ini—namun ternyata, ia sedang memelihara ular berbisa di dalam rumahnya sendiri.

"Kamu bukan manusia, Fitria." bisik Adrian, suaranya bergetar menahan ledakan emosi yang nyaris membuat dadanya meledak.

"Kamu adalah monster terkejam yang pernah aku temui."

Adrian menghempaskan tubuh Fitria hingga tersungkur di lantai.

Tanpa memedulikan jeritan dan tangisan istrinya yang memohon ampun, Adrian berbalik, menyambar kunci mobilnya di meja, dan berlari menerobos pintu keluar.

Ia tidak akan membiarkan Hendrik menyentuh Sasi lagi.

Malam ini, Adrian bersumpah akan membunuh pria itu dengan tangannya sendiri jika terjadi hal buruk pada istri mudanya.

Adrian menerobos koridor rumah sakit dengan langkah cepat yang menyengat perih, mengabaikan balutan perban di kakinya yang kembali merembeskan noda darah.

Pikirannya melayang liar pada keselamatan Sasi, dibakar rasa bersalah dan amarah yang belum padam.

Begitu sampai di depan kamar VIP, ia mendapati Dokter Maya baru saja keluar seraya menutup pintu perlahan.

"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Adrian dengan napas memburu, suaranya parau menahan kecemasan yang membuncah.

Dokter Maya menatap Adrian dengan raut wajah kaku dan lelah, lalu menghela napas panjang.

"Sasi baru saja tidur setelah saya beri obat penenang. Traumanya sangat berat, Adrian. Jantungnya sempat tidak stabil karena panik dan kekurangan oksigen."

Dokter Maya menepuk bahu Adrian dengan tatapan tajam Penuh penekanan.

"Masuklah. Tapi jangan ganggu tidurnya."

Adrian mengangguk kaku. Ia memutar gagang pintu dan melangkah masuk tanpa suara ke dalam kamar yang temaram.

Suara teratur dari mesin pemantau detak jantung berbunyi konstan di keheningan malam.

Adrian berjalan mendekati tempat tidur, mengikis jarak hingga berdiri tepat di samping Sasi.

Mata Adrian terpaku pada sosok wanita yang terbaring lemah di atas ranjang.

Wajah Sasi pucat pasi, kelopak matanya terpejam rapat dengan sisa jejak air mata yang masih mengering di pipi.

Namun saat mata Adrian turun ke area leher Sasi, badannya seketika membeku.

Di kulit leher Sasi yang putih bersih, membayang bekas cengkeraman jari-jari tangan yang menghitam kebiruan—sebuah memar lebam yang sangat jelas dan mengerikan, bukti kejahatan keji yang baru saja hampir merenggut nyawa istrinya.

Dada Adrian serasa dihantam batu besar. Rahangnya mengeras rapat, urat-urat di lehernya menonjol saat jemarinya mengepal begitu kuat hingga memutih.

Amarah yang membakar jiwanya makin membumbung tinggi, beradu dengan rasa sakit yang luar biasa melihat wanita yang seharusnya ia lindungi kini terbaring hancur akibat ular-ular di sekelilingnya.

Dengan tangan gemetar, Adrian perlahan mengulurkan jemarinya, hendak menyentuh memar lebam di leher Sasi dengan penuh penyesalan, namun ia menahannya di udara—takut bahkan kehangatan tangannya sendiri akan kembali menyakiti Sasi.

Dokter Maya kembali masuk ke dalam kamar, menutup pintu rapat-rapar agar suara mereka tidak mengganggu istirahat Sasi.

Langkah kakinya melambat saat melintasi Adrian yang masih berdiri membeku di samping tempat tidur.

"Adrian, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Dokter Maya dengan nada rendah, menatap pria itu lurus-lurus.

Adrian menganggukkan kepalanya pelan, matanya tak lepas dari wajah pucat Sasi.

"Kenapa kamu menikahi Sasi? Bukankah kamu sudah menikah dengan Fitria?"

Adrian menghela napas panjang yang terasa menyiksa dadanya.

"Fitria yang memintaku untuk menikahi Sasi. Fitria ingin punya anak setelah ia tidak mempunyai rahim."

Dokter Maya mengerutkan dahinya rapat-rapat, membelalak terkejut.

"Tidak mempunyai rahim?"

Dokter Maya menggelengkan kepala dengan raut wajah tidak percaya.

"Adrian, sepertinya kamu dibohongi oleh Fitria."

Adrian mendongak seketika, dadanya bergemuruh.

"Maksud Dokter?"

"Dua bulan yang lalu Fitria ke dokter kandungan periksa dan dia hamil," jawab Dokter Maya tegas.

"H-hamil?" bisik Adrian dengan tenggorokan tercekat.

"Seharusnya bukankah itu berita bahagia? Tapi kenapa dia malah memintamu menikahi Sasi?" Dokter Maya menatap Adrian penuh tanda tanya besar.

Adrian menatap wajah Sasi yang terlelap lemah. Bibirnya mengukir senyum kepahitan yang menyedihkan, lalu ia tertawa kecil—sebuah tawa parau yang penuh dengan penghinaan pada dirinya sendiri.

"Aku orang bodoh, Dok," bisik Adrian dengan suara gemetar.

"Maksud kamu?"

"Fitria sedang berencana menukar bayinya dengan bayi Sasi jika Sasi berhasil hamil," ujar Adrian dengan napas memburu.

"Jadi yang dikandungnya sekarang adalah anaknya dengan Hendrik."

Semua teka-teki busuk itu mendadak benderang di benak Adrian.

Namun satu hal yang masih menyisakan kepedihan mendalam.

"Tapi apa motif Hendrik memperkosa Sasi?" tanya Adrian lirih, matanya menyala oleh kebingungan dan amarah.

Dokter Maya mendesah berat, lalu menjelaskan secara panjang lebar dengan raut wajah penuh keseriusan.

"Adrian, jika semua potongan ini disatukan, motif Hendrik sangat masuk akal dari sudut pandang psikologis dan kriminalitas manipulatif. Pertama, Hendrik butuh 'umpan sempurna'. Fitria dan Hendrik tahu kamu pria terpandang yang punya otoritas tinggi. Mereka butuh wanita polos tanpa latar belakang keluarga kuat yang bisa dengan mudah kalian tekan dan kendalikan. Hendrik sengaja mendekati Sasi, menghancurkannya lewat pemerkosaan, agar jiwa Sasi hancur total dan dia tidak punya kekuatan untuk melawan saat diseret ke dalam skenario pernikahan ini."

Dokter Maya membasahi bibirnya sebelum melanjutkan.

"Kedua, ini soal alibi dan investasi masa depan mereka. Fitria hamil anak haram Hendrik saat masih menjadi istri sahmu. Jika Fitria tiba-tiba mengaku hamil tanpa ada alasan medis—padahal selama ini dia mengaku padamu tidak punya rahim—kamu pasti akan langsung mencurigai kesetiannya dan melakukan tes DNA. Maka dibuatlah skenario gilaku ini: Fitria pura-pura menyuruhmu menikahi Sasi yang sudah dinodai Hendrik, dengan harapan Sasi hamil anakmu. Ketika saatnya tiba, Fitria akan menukar bayinya yang merupakan darah daging Hendrik dengan bayi Sasi. Dengan begitu, anak Hendrik akan tumbuh sebagai pewaris tunggal seluruh kekayaanmu, sementara anak kandungmu dan Sasi entah akan dibuang atau dihilangkan oleh mereka. Sasi sengaja dijadikan korban ganda: dinodai oleh Hendrik, dijadikan mesin pencetak anak, lalu dibuang begitu saja."

Penjelasan Dokter Maya menghantam kesadaran Adrian bagai petir di siang bolong.

Tubuhnya bergoyang, nyaris kehilangan keseimbangan.

Kejadian demi kejadian keji itu dirancang begitu halus dan dingin hanya untuk merampas seluruh hidupnya dan menghancurkan Sasi.

"Rahasiakan ini, Dok," bisik Adrian dengan rahang yang mengeras rapat, memancarkan niat pembalasan yang amat dingin.

Dokter Maya menganggukkan kepalanya mantap. "Aku mengerti. Aku akan menjaga Sasi dan memantau kondisinya ketat di sini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!